.Rabu, 03 September 2014. Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Juknis tentang Pemanfaatan Portal Tambayun Online | (29/8)
PENGUMUMAN : Penilaian SIMPEG dan E-Doc Tahun 2014 | (29/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 20 | (29/8)
PENGUMUMAN : Naskah Pidato Ketua MA dalam Rangka Peringatan HUT ke-69 MA [Revisi]
PENGUMUMAN : Undangan Mengikuti Profile Assessment
| (18/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 19 | (18/8)
PENGUMUMAN : Kenaikan Pangkat Tenaga Teknis Peradilan Agama Periode 1 Oktober 2014
| (15/8)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Usul Kenaikan Pangkat (KP) Dengan Pencantuman Gelar Pendidikan | (11/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 18 | (8/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 17 | (7/8)
VIDEO : Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H | (28/7)
PENGUMUMAN : Pemberitahuan Kenaikan Pangkat Reguler Tenaga Teknis Periode Oktober 2014
| (25/7)
PENGUMUMAN : Penetapan Hak Akses dan Admin SIMPEG Online di Lingkungan Peradilan Agama | (25/7)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 16 | (24/7)
PENGUMUMAN : Contoh Pembuatan SKP | (24/7)
PENGUMUMAN : Pengiriman Softcopy Berkas Perkara/Putusan Untuk Lomba Pemberkasan Perkara | (23/7)
PENGUMUMAN : Ralat Laporan Sidang Keliling, Prodeo, Posbakum dan pelayanan terpadu | (21/7)
PENGUMUMAN : Petunjuk Teknis Pedoman Pelayanan Hukum | (21/7)




Tambahkan ke Google Reader
Anak Lahir Diluar Nikah (Secara Hukum) Berbeda Dengan Anak Hasil Zina | Oleh : Drs. H.Chatib Rasyid, SH., MH. (KPTA Semarang) | (17/04) PDF Cetak E-mail
Selasa, 17 April 2012 11:43

ANAK LAHIR DILUAR NIKAH (SECARA HUKUM)

BERBEDA DENGAN ANAK HASIL ZINA[1]

Kajian Yuridis Terhadap Putusan MK NO. 46/PUU-VII/2012.

Oleh : Chatib Rasyid.

  1. 1. Pengantar

Bismillâhirrahmânirrahîm

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga saya dapat menulis makalah yang berjudul “ Anak Lahir Diluar Nikah Secara Hukum Berbeda Dengan Anak Hasil Zina.“ Judul ini dipilih karena alasan praktis saja. Artinya, pemahaman yang keliru terhadap putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 terutama terhadap kalimat “ anak yang dilahirkan di luar perkawinan ” membawa kepada perdebatan panjang.

Tulisan ini disajikan sebagai sumbangan pikiran, terhadap pemahaman atas Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 di tinjau dari segi yuridis, karena memang yang diuji materi itu materi hukumnya, bukan materi lainnya.


Selengkapnya, Klik Disini


TanggalViewsComments
Total7024111
Sel. 0240
Ming. 3120
Sab. 3020
Jum. 2930
Kam. 2810
Sel. 2610
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# ayep sm PA Tasikmalaya 2012-04-17 12:18
Karena itu kita tetap berpedoman kepada, perinsip hukum, dimana harus ada sangsi, kenapa anak yang lahir dalam perkawinan dengan anak lahir di luar perkawinan bahkan anak hasil zina, disamakan dengan anak sah, karena itu berarti tidak ada sangsi hukum bagi pelaku zina dan anak di luar nikah.
Reply
 
 
# zueb 2012-05-01 12:57
berarti ...para wanita udah ndak takut lagi untuk diajak kumpol kebo .... lha wong hak hak nya sama dengan yang kawin syah ...LALU GUMAMYA APA .KAWIN SYAH .. :cry: :cry:
Reply
 
 
# Fakir Ilmi 2012-04-17 14:15
setelah membaca kajian ini, inti yg didapat bahwa nikah sirri berarti diakui di Indonesia sebagai pernikahan yg sah yang tidak tercatat, apakah seperti itu ??? padahal msyrkt sudah tahu klo nikah di Indonesia secara hukum hrs tercatat, klo dia tidak mematuhi hkum yg ada, berarti scr tidak langsung dia hrs berani menanggung resiko dikmdian hari dan konsekwensinya melahirkan anak yg berstatus dilahirkan di luar perkawinan yang sah, upaya hukumnya bisa dilakukan pengesahan nikah, untuk menguji sah atau tidaknya suatu pernikahan, kalau dikabulkan brrti tidak ada masalah mengenai status anak yg dilahirkan tsbt, namun klo tidak terbukti nikahnya sah maka konsekwensinya anak yg dilahirkan tsbt dinsabkan kpd ibunya dan apabila trdpt alat bukti yg kuat ttg siapa ayah biologisnya dapat diajukan penetapan asal-usul anak di pengadilan agama.itu menurut pendapt yg sederhana dari sy tanpa memihak siapa pun. :roll:
Reply
 
 
# iqbal mungkid 2012-04-17 14:19
Pro dan kontra putusan MKno46/2010 ygpebuari2012 terletak perbedaan memahami anak diluar perkawinan dlmps 43 UU no 1 th1974 .Pro ,anak diluar perkawinan adalah perkawinan sirri secara agama saja tapi tdk tercatat sedangkan anak zina itu adalah anak tanpa perkawinan. Bagi kontra, memahami anak diluar perkawinan adalah diluar perkawinan baik secara sirri(Agama saja)tdk tercatat atau non sirri kawin yg tercatat.Karena ada qorinah pasal 2 UU no 1 th 1974 sebelumnya maka di maknai demikian.Maka anak diluar perkawinan adalah anak zina . Wallahu alamu bisshshowab.
Reply
 
 
# pitirramli /PA.Jambi 2012-04-17 15:10
suatu bahasan yang sangat tepat dan pas tentang putusan MK nomor:46/PUU/-VII/2012 yang dianggap kontraversial,tapi setelah membaca bahasan pak Khatib, semuanya sangat jelas. Terima kasih, semoga termasuk ilmu kategori " yuntafa'u bih" Insya Allah....
Reply
 
 
# Zulkifli Siregar/Kabanjahe 2012-04-17 15:35
Alhamdulillah, bagi kami jadi jelas sekarang. Namun, dalam pembuktiannya menimbulkan keraguan. Yang dibuktikan anaknyakah atau perkawinan sirrinya. Menelaah putusan MK tersebut sepertinya yang dibuktikan adalah si anak. Kalimat, "..dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi..". Demikian pula yang menjadi fokus masalah adalah nasib si anak. Bagaimana nasib anak zina yang tidak berdosa, yang sama statusnya dengan anak lain, sama-sama suci dan fitri? Apakah ia harus menanggung kesalahan orang tuanya?
Reply
 
 
# Muh. Irfan Husaeni/PA Painan 2012-04-17 16:15
Tulisan Abah sangat menyejukkan, terimakasih
Reply
 
 
# ishak PA mjl 2012-04-17 17:37
terima kasih pak telah memberikan pencerahan baru tentang terminologi anak di luar perkawinan, namun demikian menurut saya keberadaan pasal 43 ayat 1 UU No. 1 tahun 1974 sebelum di rubah oleh putusan MK, disediakan untuk melindungi nasab anak zina, anak itu dalam silsilah masih dapat dihubungkan nasabnya dengan ibu dan keluarga ibunya, bila yang dimaksud anak dalam pasal ini adalah anak yang lahir sebagai akibat dari perkawinan sirri, akibat hukumnya menjadi anak zina tidak dapat dihubungkan nasabnya baik terhadap ibu demikian pula terhadap ayahnya secara mutlak, sedangkan dalam hukum Islam (kifih) anak zina masih dapat dihubungkan nasabnya dengan ibunya sesuai tek pasal tersebut.
Reply
 
 
# Syekh Sanusi PA-Jakbar 2012-04-17 18:56
Sebgai karya ilmiah tentu saya ucapkan slmt kepda Abah Rosyid, krn dgn tulisan tsb saya mnjdi tercerahjkan.Namun kmi ttp berpegang kpd "slma didasrkan pada agama dan tidak bertabrakan dgn syariat Islam". Ingat peraturan UU itu hnya pelengkap saja demi terlaksananya hukum Tuhan Allah Swt. jgn sampai Anak Manusia yg mulia ini disamakan nasabnya dgn hewan....
Reply
 
 
# Hanbal Ahmad di Bumi Mina Tani 2012-04-18 06:03
Saya tidak sependapat dg tulisan KPTA Semarang di atas. Perlu dibaca lagi Putusan MK bagian Pendapat Mahkamah (3.13) sbb: Secara alamiah, tidaklah mungkin seorang perempuan hamil tanpa terjadinya pertemuan antara ovum dan spermatozoa baik melalui hubungan seksual (coitus) maupun melalui cara lain berdasarkan perkembangan teknologi yang menyebabkan terjadinya pembuahan. Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil manakala hukum menetapkan bahwa anak yang lahir dari suatu kehamilan karena
hubungan seksual di luar perkawinan hanya memiliki hubungan dengan perempuan tersebut sebagai ibunya. Adalah tidak tepat dan tidak adil pula jika hukum membebaskan laki-laki yang melakukan hubungan seksual yang menyebabkan terjadinya kehamilan dan kelahiran anak tersebut dari tanggung jawabnya sebagai seorang bapak dan bersamaan dengan itu hukum meniadakan hak-hak anak terhadap lelaki tersebut sebagai bapaknya. Lebih-lebih manakala berdasarkan perkembangan teknologi yang ada memungkinkan dapat dibuktikan bahwa seorang anak itu merupakan anak dari laki-laki tertentu.
Akibat hukum dari peristiwa hukum kelahiran karena kehamilan, yang didahului dengan hubungan seksual antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki, adalah hubungan hukum yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban secara bertimbal balik, yang subjek hukumnya meliputi anak, ibu, dan bapak. Berdasarkan uraian di atas, hubungan anak dengan seorang laki-laki sebagai
bapak tidak semata-mata karena adanya ikatan perkawinan, akan tetapi dapat juga didasarkan pada pembuktian adanya hubungan darah antara anak dengan laki-laki tersebut sebagai bapak. Dengan demikian, terlepas dari soal prosedur/administrasi perkawinannya, anak yang dilahirkan harus mendapatkan perlindungan hukum. Jika tidak demikian, maka yang dirugikan adalah anak yang dilahirkan di luar perkawinan, padahal anak tersebut tidak berdosa karena
kelahirannya di luar kehendaknya. Anak yang dilahirkan tanpa memiliki kejelasan status ayah seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan stigma di tengah-tengah masyarakat. Hukum harus memberi perlindungan dan kepastian hukum yang adil terhadap status seorang anak yang dilahirkan dan hak-hak yang
ada padanya, termasuk terhadap anak yang dilahirkan meskipun keabsahan perkawinannya masih dipersengketakan;
Reply
 
 
# baidhowi.hb. Ms-Aceh 2012-04-18 08:07
saya setuju pemisahan pengertian antara anak di luar perkawinan dengan anak zina, tapi persoalannya apakah pelanggaran terhadap pasal 2 ayat 2 UU NO.1/1974 hanya divonis dg sangsi tidak ada kepastian hukum bagi kedua orang tuanya termasuk anak yang dilahirkan dari perkawinan itu,lalu bagi kedua orang tua yang melakukan perzinaan pula tidak ada peluang hukum memberikan sangsi lalu sangsi pezina di al quran hanya dikesampingkan saja.
Reply
 
 
# Syahid PA Cianjur 2012-04-18 08:22
setelah membaca tulisan bapak H. Syamsul dan bapak Isak Munawar (KPA+Hakim PA Majalengka) dan tulisan bapak Chatib rasyid semakin menambah pencerahan pikiran kita mengenai topik yang dibahas sehubungan Putusan MK dan semakin terang permasalahan status nasab dan hak-hak Anak luar nikah/anak zina. Semoga kedepan MK tidak begitu mudah berijtihad atau menetapkan sesuatu hukum sebelum didiskusikan dengan ahlinya, karena hanya akan menambah beban/ keresahan masyarakat.
Reply
 
 
# H.Syamsul Anwar PA.Mjlk. 2012-04-18 09:19
H.Syamsul Anwar.PA.Majalengka.pada prinsipnya saya setuju dengan tulisan pa Ketua PTA Semarang, namun demikian perlu diingat bahwa yang bisa dihubungkan nasab dengan ayahnya itu yaitu apabila perkawinan yang dilakukan secara monogami(satu istri satu suami )tentu adalah berbeda untuk perkawinan poligami yang seperti kasus Murdiono sebab dalam poligami tetap adanya larangan yaitu ketika pada saat perkawinan dilakukan masih ada keterikatan dengan perkawinan yang lain.
Reply
 
 
# Dodi_PA.Kolaka 2012-04-18 09:30
inspiratif.....
tulisan ini benar-benar menambah khazanah keilmuan dalam memahami permasalahan hukum di lingkup kewenangan kita,
"terima kasih telah membagi ilmu pk"..
Reply
 
 
# R. A. Said 2012-04-18 10:09
Nyatanya putusan MK tersebut tidak mengakhiri masalah, malah justru menambah masalah.
Reply
 
 
# Suhadak PA Mataram 2012-04-18 12:03
Perbedaan pendapat merupakan rahmat, pro kontra sebagai hal yg lumrah. Tetapi dg pencerahan Tulisan Pak Khotib Rasyid semua jadi gamblang, terlepas ada yg kontra. yg jelas bagus dan sy sependapat. Tks pak.
Reply
 
 
# Ela Jpr 2012-04-18 14:00
Sy setuju tentang kenyataan anak di Indonesia ada 3 macam kelahirannya,tp posis anak yg ke 3 ( anak zina ) bgmn kelanjtannya terutama yg berkaitan dg perlindunganny. Apakah perlu UU baru tentang perlindungan anak zina ?
Reply
 
 
# Nurmadi Rasyid. PA.BKL 2012-04-18 14:08
Bertambah jelaslah mengenai topik yang dibahas setelah membaca tulisan yang ditulis oleh Bp. Chotib rasyid sehubungan dengan putusan MK mudah mudah apa yang disampaikan oleh KA PTA Semarang ini Allah memberikan pahala kepada beliu karena ilmu yang bermamfaat adanya. Amin
Reply
 
 
# Ela malik PTA 2012-04-18 15:47
Terima kasih atas semua komentarnya baik yg pro maupun yg kontra thd tulisan bpk KPTA Smg.Disinilah pemtingnya ketika sebuah karya telah di publikasikan itu berarti sudah milik publik sehingga semua boleh berapresiasi...... Ok TQ ALL
Reply
 
 
# Tamim PA bjm. 2012-04-18 14:31
diriwayatkan "ketika seorang penzina hamil karena hubungan sex dengan beberapa orang laki-laki yang dia tidak tahu "air mani" siapa yang menghamilinya, maka boleh dia memilih salah seorang dari para lelaki yang menzinahinya sebagai ayah dari anak yang dilahirkannya.dan lelaki yang dipilih tersebut ditetapkan sebagai ayah biologis anak tersebut dengan segala akibat hukumnya". kontra terhadap riwayat tersebut adalah lembaga "li'an" seorang suami dapat menyangkal anak yang dilahirkan isterinya dengan acara sumpah li'an. persoalan kekinian adalah alat bukti atau pembuktian tidak hanya sekedar pemilihan dan sumpah tetapi teknologi (tes DNA) lebih akurat.?????? 8)
Reply
 
 
# Malik Ibrahim, SH. MH 2012-04-18 14:36
setelah membaca artikel yang ditulis oleh Bapak Drs. H. Chotib Rasyid, SH. MH. memberikan penjelasan yang gamplang kepada masyarakat. inilah KPTA yang mempunyai ilmu yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi pengadilan.
pencerahan yang luar biasa bagi warga peradilan. semoga bermanfaat, dan Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan kekuatan kepada Bapak.
Reply
 
 
# Hanbal Achmad 2012-04-19 06:00
klo sy melihat sebaliknya. tulisan ini menunjukkan penulisnya berwawasan sempit, tidak bisa melihat sisi-sisi yg lain. shg kurang obyektif. penulis perlu mendalami ilmu muqoranatul madzahib atau fiqh muqorin, dan juga perlu membaca muwafaqot karya syatibi
Reply
 
 
# Ilham Depok 2012-04-22 16:15
Secara etika, tidak pas begitu saja memberi cap seseorang 'berwawasan sempit'. Saya yang jauh berwawasan lebih sempit juga tidak tahu ada apa dengan muqoranatul madzahib dan muwafaqot tanpa dijelaskan. untuk itulah gunanya menulis secara sistematis untuk menyampaikan pemikiran kita dan mengkomunikasikan dengan orang lain. Tidak sekedar puas merasa berfikir luas tanpa berkarya.
Reply
 
 
# kang ujang ti kawali 2012-04-18 22:30
Hemat saya, Putusan MK yang sedang diperbincangkan merupakan respons dan bentuk rekontruksi terhadap hukum yang hidup dalam masyarakat. Coba kita lihat KHI, dan didalamnya telah lebih maju merespons status anak dari seorang ibu yang hamil duluan. KHI hanya membedakan antara yang dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya dan yang tidak, atau yang dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya sebelum anak lahir dan yang sesudah lahir.
Reply
 
 
# Deni Ahmadi Solo Raya 2012-04-19 05:53
saya kira KPTA Semarang perlu membaca hadits dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim ketika ada anak ditanya, "man abuka ya ghulam?" anak itu menjawab, "ar-Raa'i" maksudnya ayah saya pezina. dan hadits-hadits lainnya yg menyebutkan bahwa anak zina itu dinasabkan ke ayah biologis. kenapa selama ini dipahami anak zina dinasabkan ke ibunya karena ibunyalah yg melahirkan. tapi FAKTANYA anak itu tercipta juga berkat sperma dari laki-laki. maka lebih baik anak dinasabkan ke laki-laki daripada kepada perempuan. belum lagi kalau mengingat maqoshid syar'iyyah
Reply
 
 
# Nur Bumi Atlas 2012-04-19 08:02
Pencerahan yang diberikan oleh Pak Chatib merupakan wawasan yang sangat luas bagi pemahaman maksud Undang-undang Nomor 1 tahun 1974. Terima Kasih Pak Chatib.
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-04-19 10:37
Di dalam Al-Qur'an Nabi Isa dinasabkan ke Ibunya...
Reply
 
 
# abdoerrahman 2012-04-19 08:05
saya sependapat dgn tulisan YM.Chatib Rasyid, jelaslah mana yg halal dan mana yg haram, tidak usah dipertentangkan lagi putusan MK, karena melalui tulisan beliau ini sudah jelas apa yg dimaksud dengan anak luar perkawinan tsb. :-)
Reply
 
 
# Usman S PA Watansoppeng 2012-04-19 08:31
Seorang hakim dituntut untuk selalu berijtiuhat mencari dan menggali hukum terutama dari sumber alsinya ( Alqur'an) karena baik undang-undang, ataupun putusan MK., adalah hasil ijtihad para pembuatnya tidak ada yang abadi kecuali dari Aallah. Undang-Undang saja bisa dikontra apabila punya alasan yang kuat.
Reply
 
 
# Tmr Gitu Looh 2012-04-19 09:32
Anak lahir diluar nikah dengan Anak Hasil Zina, hanya beda tipis dan tranparan, jika UU No. I Tahun 1974 masih berlaku.....!!!! :-)
Reply
 
 
# Rahman - Singaraja 2012-04-19 10:04
Zina memang jelas haram. Lalu anak yg lahir akibat perbuatan zina itu apakah pantas dibebani hukum anak haram, sehingga tidak bisa dinasabkan ke bapak biologisnya, apa bedanya Islan dengan Kristen, katanya Islam tidak kenal dosa keturunan, tapi kenapa dalam kasus seperti ini, seolah-olah orang Islam menganut dosa turunan seperti yang diajarkan dalam ajaaran Kristen. Kalau anak yang dilahirkan akibat perbuatan zina itu tidak bisa dinasabkan ke bapak biologisnya, berarti bila anak hasil perbuatan zina itu berkelamin perempuan, maka bapak biologisnya bisa mengawininya .. sungguh sangat absurd ketentuan semacam itu.
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-04-19 10:30
Tulisan yg sangat Briliant...
Mampu menafsir Putusan MK tanpa satu pertentangan...
Patut diacungi Jempol... Dan layak menjadi Rujukan bagi kita semua...
super sekaliii...
Reply
 
 
# Zulkifli PA Polewali 2012-04-19 11:06
Saya setuju dengan pemisahan antara anak diluar perkawinan karena belum tercatat perkawinannya di KUA dengan anak diuar nikah karena perbuatan zina....tetapi dalam kasus machica sepertinya kasusnya adalah anak diluar nikah karena perkawinannya tidak dicatat...tidak tercatatnya perkawinan Machica bisa jadi karena: 1.Calon suaminya masih terikat perkawinan dengan wanita lain, oleh karena itu KUA tidak bersedia mencatatnya karena tidak ada izin Poligami dari Pengadilan agama. 2. Kedua belah pihak calon mempelai memang tidak mendaftarkannya ke KUA karena tidak mau urusannya berbelit-belit sehingga menyulitkan mereka untuk menikah. 3.Kedua belah pihka memang tidak mau pernikahannya diketahui khalayak ramai.
Sepertinya putusan MK tidak memperhatikan apakah anak diluar nikah itu akibat tidak tercatatnya karena calon suaminya masih terikat perkawinan dengan wanita lain? atau anak diluar nikah itu yang ayahnya tidak terikat perkawinan dengan wanita lain
Reply
 
 
# Sidki Ghozali. O817113901.HT PTA. 2012-04-19 13:20
Syukron ya Akhi, tulisannya di website semarang dan badilag. Ana cocok dalam kesimpulannya, semoga jadi amal jariyah, dari akhi wong asrama IAIN Ciputat.
Reply
 
 
# Hamba Allah, dari Kota Santri 2012-04-19 13:32
Setelah dianalisa dan dibaca makalah dari Bapak Chatib, maka jelas dan paham, bahwa anak ada 3 macam, yaitu 1. anak sah, dari perkawinan sah secara agama dan negara, 2. anak sah secara agama namun belum / tidak tercatat di negara, dan 3. anak hasil zina. Untuk anak hasil zina.
Reply
 
 
# ikhsanuddin, pa magelang 2012-04-19 14:15
Machica dan Moerdiono menikah poligami tanpa izin pengadilan, bagaimana status pernikahannya, Pak ? coba artikel Bapak dikomparasi dengan artikel Drs. Syamsul Anwar, SH, MH dan Drs. Iskak Munawar, MH. dalam bahasan yang sama.
Reply
 
 
# Izzami PA.Ma-Bulian 2012-04-19 16:31
Terimakasih pak atas makalahnya, sangat bermamfaat buat saya khususnya dan buat seluruh pembaca umumnya untuk menambah ilmu karena terus terang masyarakat awam banyak yang meminta penjelasan tentang tema makalah yang bapak buat, salam dari saya sekeluarga.
Reply
 
 
# lukman 2012-04-21 06:00
fiqih moqarin dan muwafaqot karya syatibi jika diulas dalam artikel dengan halaman terbatas justru hanya akan menimbulkan multi tafsir dan under estimate. kitaq harus melihat, tema, paradigama dan metode pendekatan serta jumlah halaman. bacalah metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam menulis suatu karya ilmiah. tidak selalu kitab bermutu tinggi dapat diletakkan di sembarang tema.
Reply
 
 
# Syaifuddin Zuhri, pengamat 2012-04-21 15:01
setelah menelaah tulisan sdr chatib rasyid, saya melihat tulisan itu sudah menjawab secara netral, obyektif, ilmiah terhadap putusan MK. sayangnya tulisan ini terlalu singkat sehingga istilah-istilah yang dilontarkan kurang jelas. alangkah baiknya ketika mengulas nikah tercatat hendaknya mengulas juga dari sudut kHI. namun sebagai artikel sudah sangat memuaskan. saya kira alangkah baiknya jika tulisan sdr rasyid dibaca oleh MK dan menjadi sebuah buku
Reply
 
 
# DR. abdul mannan ngalian semarang 2012-04-21 16:12
saya salut dan memuji acungan jempol pada tulisan KPTA Semarang, mudah dibaca dipahami, kalimatnya lugas dan jelas, isinya dari latar belakang mencerminkan penulis terbaik di tahun 2012. saya kira KPTA menulis artikel lanjutan dijabarkan seriap anak dalam satu artikel. saya tunggu. semoga artikel anda menjadi amal jariah kelak di akhira. mohon KPTA menjabarkan anak zina dari sudut hukum adat, UU, PP, KHI, Fiqih secara komprehensif, terurai terinci. tulisan anda akan kami himpun untuk jadi buku dan penelitian
Reply
 
 
# Drs. Budihardjo, pemgamat hukum 2012-04-21 16:21
penulis chatib rasyid, punya wawasan hukum yang sangat luas, bijak dan mampu mengakomdir perbedaan pendapat. jika di Amerika tulisan anda bisa mendapat penghargaan. tulisan the best from the best, anda layak diperhitungkan seperti Prof Dr. Sacipto Rahardjo. teruskan anda menulis ebagai amal ibadah
Reply
 
 
# Al Fitri Pengadilan Agama Tanjungpandan - Bangka Belitung 2012-04-21 20:49
yang jelas bapak dan ibu pezinanya harus didera 100 kali jika bujang gadis dan jika pernah kawin rajam sampai mati... :lol:
Reply
 
 
# Arifinal Chaniago 2012-04-22 01:27
kami nantikan artikel selanjutnya yang menjabarkan masing-masing anak dalam tiga atau empat artikel. thanks pak semoga tulisan bapak mendapat pahala
Reply
 
 
# ane warga serang banten 2012-04-22 01:33
ane bangga punya putra banten pak chatib rasyid. teruskan tulisannya pak. biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berjalan. tulisan bapak mampu berkompetisi dengan para pakar. ane lihat ada di hirarki satu sebagai tulisan yang toooop
Reply
 
 
# dr. Amalia Lestari, Pedurungan 2012-04-22 01:40
bpk chatib rasyid, saya minta anda menerangkan kembali lebih rinci dan dalam tentang sejarah nikah tercatat dan tidak tercatat sejak zaman belanda. terus terang saya tertarik pada seluruh paragraf tentang nikah tidak tercatat dengan segala konsekuensi hukumnya. bila berkenan tolong dianalisis masing-masing pasal UU No. 1 tahun 1974 dalam bentuk makalah bersambung. bapak jangan lihat honornya karena memang tidak ada tapi yang di atas akan membalas kebaikan bapak terhadap masyarakat yang belum tafsir dari setiap undang-undang.
Reply
 
 
# Abd. Choliq, PTA Mataram 2012-04-22 13:30
Good Your analysis Pak KPTA Semaramg,ada 2 hal yg perlu sy sampaikan : 1.Pada tulisan halaman 5 yaitu kalau perkawinan hrs di catat maka semua pria berkeberatan terutama yg sudah beristeri. di DEL saja ya karena tdk berdasar data survey yg akurat, okey ? 2.Barangkali salah satu fungsi hukum utk menertibkan kehidupan masyarakat, bagaimana dgn dilonggarkan ketentuan pasal 2 ayat (2) UU No. 1 Th 1974 ? mohon di analysis lagi Pak KPTA,terima kasih.
Reply
 
 
# abdullah amin - uin suka 2012-04-22 20:35
tidak masalah ngasih komentar dan mengkritik tulisan dg melibatkan soal pribadi (integritas or moralitas). malah ulama-ulama terdahulu menganggap penting sirah penulis, shg ada buku-buku tarajim (biografi tokoh). ulama perlu diketahui riwayat hidupnya. siapa gurunya dan dimana ia belajar jg perilaku akhlaqnya. ilmu jarhi wa ta'dil juga diperlukan untuk tahu apakah si periwayat hadits cukup adil (memenuhi syarat) atau tidak untuk meriwayatkan hadits. ada sebuah riwayat, seorang santri melihat gurunya (ulama besar dan terkenal) mau menaiki seekor keledai tapi binatang itu ga mau bangkit dari duduknya. ulama itu lalu mengambil makanan untuk memancing keledai itu supaya bangkit. setelah keledai bangkit, makanan ga jadi dikasihkan. itu hanya akal-akalan ulama tadi untuk membuat keledai mau berdiri. melihat kejadian itu si santri berkata:" mulai saat ini aku nggak mau lagi berguru dg dia. nggak mau ambil hadits dari dia. terbukti ia telah berani berbohong. kalau kepada keledai saja, ia berani bohong apalagi thd ilmu". inilah contoh betapa moralitas, integritas seorang penulis menjadi penting. maka, ga usah dipersoalkan orang2 yg mengungkap sisi lain dr penulis artikel diatas
Reply
 
 
# Mazharuddin_Blg 2012-04-23 10:52
Unzur ma qala wa la tanzur man qala...
Reply
 
 
# Johan Phillips, wisatawan 2012-04-23 03:28
رأيت كتابة جيدة جدا خطيب راشد. لقد قرأت والتفكير، وأنا أحفظ أفهم كل طفل. وأثني مشاركاتك
Reply
 
 
# Musbihatun, mahasiswi sastra Inggris 2012-04-23 03:29
I am amazed at the writing on target for Chatib Rashid, logical, rational, scientific and based on Islam. Badilag best writing and must be recorded. natural sentences, the language is clear and unequivocal and objective. Your insightful and highly intelligent
Reply
 
 
# asep dadang pa depok 2012-04-23 07:15
tulisan bpk sangat baik hanya saja tetap dimasyarakat implementasinya harus secara rinci dan detil karena masih banyak berpandangan bahwa anak diluar nikah (istilah umumnya disebut anak Haram)hanya mempunyai nasab kepada ibunya
Reply
 
 
# Yuliana 2012-04-23 08:02
Suara kaum ibu mendambakan tulisan bapak chatib selanjutnya tentang hukum dan jender terkait anak dan perkawinan.
Reply
 
 
# Tim TI-PA.Taikmalaya 2012-04-23 09:27
Pemahaman Pamungkas yang dijelaskan oleh Bpk Chotib Rasyid terhadap pemahaman atas Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 ditinjau dari segi yuridis, mantaaaaaap.. Harus dibedakan antara yang salah dan yang benar yang haram dengan yang Halal, jangan sampai terjadi Qiamat sebelum Qiamat, Na'udzu billah...
Reply
 
 
# fahrurrozi zawawi 2012-04-23 10:18
saya lihat para komentator disini terbelah dalam dua madzhab. antara Muktiyah (pengikut YM Bapak Mukti Arto) dan Chatibiyah (pengikut YM Bapak Chatib Rasyid. ikhtilaf-u ummati rahmah.
Reply
 
 
# Ka PA Pati 2012-04-23 11:34
1. Setelah membaca dengan seksama tulisan Bapak Chotib Rasyid,. dengan judul : Anak lahir di luar nikah (sucara hukum)berbeda dengan anak hasil zina, (Kajian Yuridis terhadap Putusan MK No.46/PUU-VII/2012), bila difahami dan direnungkan dengan akal sehat, maka tulisan tersebut amat bagus sekali, dengan bahasa yang mudah difahami dapat menyejukkan hati bagi yang membacanya dan haus untuk membaca karya2 ilmiah beliau berikutnya, sehingga bagi yang telah membaca Putusan MK No. 46/PUU-VII/2010 tanggal 27 Februari 2012, akan lebih jelas dan faham apabila telah membaca tulisan/makalah Bpk.Chotib Rasyid ini, dengan kata lain dan tidak mengurangi apa yang telah tertuang dalam Putusan MK dan tidak berlebihan apabila saya mengatakan : setelah membaca putusan MK tersebut maka penjelasannya ada pada tulisan / Makalah Bapak Chotib Rasyid ini. Oleh karenanya saya setuju dan sudah sepatutnya Bpk. Chotib Rasyid ini sabagai salah satu kandidat Doktor yang sebentar lagi akan diraihnya, semoga kita do'akan dan Amiiin.
2. Dengan Putusan MK. No. 46/PUU-VII/2010 tanggal 27 Februari 2012 ini. Bapak Drs. H. Chotib Rasyid,SH.MH. sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang telah memberi petunjuk teknis kepada Para Ketua / Hakim se-jawa Tengah yang berupa Surat Edaran No.W11-/863/HK.00.8/III/2012 tanggal 19 Maret 2012 sebagai pedoman untuk melaksanakan tugas sehari-hari, bahkan sesuai petunjuk labih lanjut agar para Ketua / Hakim se-jawa tengah untuk membaca makalah tersebut sebagai lampirannya, dan tidak berlebihan apabila para hakim se- Indonesia membaca makalah tersebut, sehingga bila ada permasalahan yang seperti ini kita tidak dikatakan belum siap menerima, mememeriksa dan mengadilinya, sebagaiamana yang dilontarkan oleh Pengacara pada hakim yang sedang menangani perkara Machicha muchtar saat ini "hakimnya belum siap dg putusan MK tsb."
Reply
 
 
# Uswatun 2012-04-23 12:15
Semakin banyak yang memuji tulisan Chatib Rasyid akan semakin banyak pula yang mencari titik lemah jantungnya tulisan tersebut. Sehebat apa pun tulisan itu pasti sangat mudah dicari titik lemahnya, meskipun sebenarnya bukan kelemahan melainkan di situlah kelebihannya si penulis
Reply
 
 
# Umi Hajar 2012-04-23 12:18
Popularitas seseorang sering terdongkrak oleh banjirnya kritik dan pujian yang langsung ditujukan pada behavior, attitude, karakter penulisnya. Pedas tapi nikmat
Reply
 
 
# Tri Utami 2012-04-23 12:22
Tulisan KPTA Smr yang berbobot dalam evaluasi saya akan berimbang mendapat pujian dan cercaa, serta akan dibikin berhadap-hadapan dengan penulis lain. Sikap jujurlah yang akan menghantarkan seseorang untuk berat hati mengakui popularitas tulisan KPTA Smr. Terlepas dari kelemahan yang prinsif atau furu
Reply
 
 
# Sunardi, pengamat hukum dan politik 2012-04-23 12:27
Setiap pembaca boleh mengkritik dan menuduh originalitas suatu tulisan, dan itu indikator tulisan yang paling banyak dibaca. Tanpa baca bagaimana mungkin tahu cacadnya. Salut untuk KPTA Smr yang berani menembus badai
Reply
 
 
# Ulil Haq, pembaca kritis 2012-04-23 12:33
karya ilmiah KPTA Semarang ada di puncak pohon. Wajarlah derasnya terpaan angin besar. Anda penulis masa kini yang tidak terjebak pada ribuan referensi. Anda tidak terjepit pada referensi yang besar or kecil. tapi anda penulis selektif dalam memilih daftar pustaka. anda tampaknya lebih melihat pada relevan tidaknya daftar pustaka itu. Ana salut dengan kesederhanaan referensi anda tapi menghasilkan tulisan yang tajam, terarah dan tertata apik.
Reply
 
 
# LUTFI 2012-04-23 13:15
Sangat setuju denga gagasan diatas
Reply
 
 
# andre 2012-04-23 13:17
setuju Pak...
Reply
 
 
# Iqbal mungkid 2012-04-23 13:18
Jika pengertian anak diluarperkawinan itu sbg dimaksud pasal 43 ayat 1 itu adalah kawin sirri maka untuk anak tanpa nikah (anak zina) tidak terdapat atau belum diatur oleh Undang- Undang no 1 tahun 1974 ,hanya mengatur anak dalam perkawinan atau akibat perkawinan sah dan anak diluar nikah .Apakah undang perkawinan itu perlu direvisi lagi,untuk mengatur anak tanpa nikah ?
Reply
 
 
# Ahmed Zein al-Qudsyi 2012-04-23 14:11
يطلق عليها اسم خطيب راشد المجتهد الذي يستحق الخروج من ثقب إبرة صغير
Reply
 
 
# Suratmo 2012-04-23 15:25
HILANGKAN TRADISI TIDAK MAU MENERIMA KEKALAHAN, BUDAYAKANLAH TRADISI MENGAKUI KELEBIHAN TULISAN KPTA SMR TANPA MENGURANGI SIKAP KRITIS. MENCIPTA YANG TAK SEMPURNA MASIH LEBIH BAIK DARIPADA STERILITAS YANG SEMPURNA. UNTUK KPTA SMR INILAH NASIBNYA SEORANG PENULIS.BERUNTUNGLAH TULISAN ANDA YANG ADA DI BIDUK KECIL MAMPU MELAWAN KAPAL LAUT RAKSASA. SAYA ANGKAT TOPI PADA TULISAN ANDA YANG SANTUN DAN FLEKSIBEL
Reply
 
 
# Suprapti, ibu rumah tangga 2012-04-23 15:34
Mas Chatib Rasyid, saya panggil anda mas karena saya lebih tua. Karya anda sepatutnya digelar dalam TV one. Utamanya saya dapat mengambil hikmah tentang dampak nikah tidak tercatat bagi wanita. Anak saya setelah membaca tulisan anda mengurungkan niatnya untuk nikah syirri. Makalah telah menyelamatkan anak saya dari rayuan gombal pria beristri yang mau ngajak nikah sirri. mau bahasa saya tak teratur karena saya orang awam
Reply
 
 
# AAm Muhammad Purnama, peneliti 2012-04-23 16:23
SAYA PUNYA PENILAIAN,KEUNGGULAN TULISAN CHATIB RASYID KARENA PADA LATAR BELAKANGNYA SANGAT KUAT MEMUNCULKAN MASALAH DIMULAI KATA BAGAIMANA? DI SINI CHATIB TAMPAKNYA MENGKOMBINASIKAN PENDEKATAN YURIDIS NORMATIF DAN YURIDIS EMPIRIS/SOSIOLOGIS. HIPOTESA SAYA, CHATIB RASYID SANGAT MENGUASAI METODE PENELITIAN, KARYA LEXY MOLEONG, NOENG MUHADJIR, SOEGIYONO, DENZYN, GUBA, BURHAN BUNGIN. INI BARU DUGAAN, WALLAHU A'LAM. TAPI DARI GAYA PERMAINAN KALIMAT DI LATAR BELAKANG DAN DI BAGIAN PERKAWINAN TIDAK TERCATAT MERUPAKAN KOMBINASI YANG MANIS SEHINGGA ENAK DIBACA. SAYA KIRA SEMUA KITA BISA ASAL MAU BELAJAR DAN BELAJAR, JUJUR, OBYEKTIF, FAIR, APA ADANYA TANPA HARUS MENURUNKAN KITAB DARI RAK-RAK BUKU
Reply
 
 
# Abdullah Sirojuddin, NTT 2012-04-23 22:17
Pak Chatib Rasyid, terus dalam menulis, sangat bermanfaat. Untuk Pak Raihan Ali saya salut dengan anda atas tanggapannya terhadap Pak Chatib Rasyid. Saya menunggu tulisan anda orang pintar, cerdas,mungkin ahli berbahasa asing (Inggris, Arab dll)namun perlu anda tahu diatas langit ada langit....makanya jadilah orang yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Maaf dan terimakasih.
Reply
 
 
# DR. Abdullah Ali, SH.MH 2012-04-24 00:47
Yth Bpk Chatib Rasyid, tulisan halaman 5 seperti dikatakan Yth.Abd. Choliq PTA Mataram yaitu ...kalau perkawinan hrs di catat maka semua pria berkeberatan terutama yg sudah beristeri....itu sudah benar jangan di DEL karena tanpa survey dan tanpa pake angka (kuantitatif)/statistik, kita sudah tahu bahwa syarat poligami memang sangat berat. Seorang suami yang akan mengajukan permohonan izin berpoligami kepada pengadilan harus memenuhi dahulu Pasal 4 UU No. 1/1974 dan Persyaratan yang tercantum dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ini bersifat kumulatif
Dari ketentuan-ketentuan peraturan tersebut tampak jelas bahwa untuk melakukan poligami dibutuhkan persyaratan yang sangat berat, tidak hanya kesanggupan berlaku adil, tetapi diperlukan pula persetujuan dari istri terdahulu.Sudah tepat saya beri nilai tulisannya A
Reply
 
 
# machyat pa slawi 2012-04-24 01:05
Insya Allah bermanfa'at
Reply
 
 
# Harmaily IBRAHIM 2012-04-24 11:08
Meskipun tulisan Chatib Rasyid paling terbanyak mendapat pujian dan acungan jempol, tapi banyak juga kekurangannya; uraiannya terlalu singkat, tidak semua segi dijamah,ada kata yang harus dipisah namun disambung, rujukan hanya buku-buku modern, kaidah ushul fiqih kurang pas, kesimpulan hanya mengulang tidak ada yang baru. kelebihannya hanya orsinil tanpa jiplak sedikitpun dan sangat memenuhi etika menulis serta kalimat yang lancar pada backround, nikah tercatat, dan nasab anak perspektif fiqih. kelebihannya cuma itu sehingga dapat menutupi kekurangannya dalam mengurai pengelompokan anak.Pada pengelompokan dan pengertian masing-masing anak tidak ada yang patut dipuji, analoginya pun kurang bervariasi
Reply
 
 
# Ali, pencinta buku 2012-04-24 13:55
ketidakkonsistenan chatib rasyid adalah pada catatan kaki, menggunakan h dan tanpa penerbit pada kit-ab al-bayan, sedangkan sebelumnya hlm dan lengkap penerbit. Amir Syarifuddin tidak ada dalam teks tapi ada dalam Daftar Pustaka. Walaupun begitu saya beri nilai tulisan anda B plus
Reply
 
 
# Wijaya Kusumadiningrat, pemerhati 2012-04-24 14:15
Koreksi terhadap makalah chatib rasid. Strategi chatib sangat cantik pada halaman 1 s/d5; sub c halaman 8 s/d13; sub e 15 s/d 18 Kalimatnya kompak dan beraturan tertata lancar. Mulai sub-4 halaman 19 s/d kesimpulan terlalu normatif dan rigid serta mengulang Kalimat yang agak kaku kurang kompak. demikian tinjauan saya sebagai ahli bahasa. Atas dasar itu saya memberi nilai pada Bpk chatib rasyid B plus.
Reply
 
 
# Prof.DR.Sri Adiningsih 2012-04-24 16:12
Yth.Bpk KPTA Smr, kami segenap warga masyarakat Jawa Tengah memohon bpk sudi kiranya membuat kembali artikel tentang kedudukan wali, dan mahar dalam perkawinan dari sudut Hukum Adat, agama, UUmenjadi dan KHI. Karena di masyarakat masalah ini masih berkutat pada kebingungan untuk mengambil mana pegangan yang paling bisa merefleksikan asas maslahah mursalah dan urf. Terimakasih tulisan bpk sudah saya baca dengan seksama. Semoga bpk menjadi penulis produktif sampai akhir hayat tanpa melihat aspek finansial melainkan amal ibadah semata di sisa umur bapak. Selamat atas pujian dari berbagai lapisan pembaca.
Reply
 
 
# Fadilah Amanwinata, mahasiswa 2012-04-24 16:18
Saya belum pernah menemui artikel dengan suara pembaca yang demikian antusiasnya mulai dari menilai, menghina sampai memuji dan memohon. Ini menjadi tantangan berat KPTA Smr untuk terus berkiprah dalam menulis. Anda jangan sombong karena mendapat pujian, karena belum tentu tulisan anda selanjutnya bisa mengalahkan tulisan pertama.
Reply
 
 
# Syaroni 2012-04-24 21:55
Tolong jangan cuma tulisan Chatib rasyid yang mendapat sejuta pujian,tulisan YM.Bpk DR.Mukti Arto,SH.,MH dan YM Bpk DRS Syamsul,SH.,MH dkk hanya mendapat penilaian kecil. itu ega adil
Reply
 
 
# Munawwar 2012-04-24 22:04
Yth Bpk Roihan Ali orang paling pinter menulis se Indonesia, anda pernah ngarang buku apa? ana si kutu buku belum pernah lihat ada karangan buku anda. Kalu ada judulnya apa? Kalau artikel atau jurnal judulnya apa? kalau belum pernah nulis, gimana bisa bilang tulisan orang lain, lumayan, bagus atau jelek? Anda menggunakan metode penilaian apa dan apa barometernya? Metode karangan siapa? Anglo Saxon, Eropa Kontinental, Timur Tengah? Tolong jawab. Mengakui kelebihan orang itu berat!!!!!!
Reply
 
 
# cahyanti 2012-04-25 05:06
Selamat untuk chatib rasyid atas artikelnya,kami menanti artikel selanjutnya sebagai pencerahan yang signifikan
Reply
 
 
# pa. kota 2012-04-26 07:58
ya. alhamdullilah sudah tercerahkan yang slalu menjadi pertanyaan
Reply
 
 
# eska tmg. 2012-04-25 13:06
8) Terlepas dari pro kontra dengan amandemen psl 43 UU perkawinan, rasanya tdk logis juga, kalau nikahnya saja dilakukan dengan sengaja melanggar undang undang negara, tapi menuntut perlindungan negara.
Reply
 
 
# Abd. Salam, PA. Watansoppeng 2012-04-25 15:19
Yang perlu di garis bawahi bahwa Putusan MK a quo tidak dimaksudkan untuk anak dari hasil perzinahan.Tulisan Pak Khatib Rasyid bermanfaat untuk pencerahan atas kesalahpahaman banyak orang atas putusan MK.Okey lah,,,
Reply
 
 
# Sodiq 2012-04-25 23:28
Selesai dan tuntas sudah mengakhiri perdebatan panjang dan melelahkan masalah anak lahir di luar nikah setelah disiram air yang sejuk dari secercah tulisan Chatib Rasyid. Kami sependapat bila ada salah satu KPTA di Indonesia berkenan mengupas judul tentang wali dan mahar dari berbagai sudut mengingat dua item ini menjadi wacana di masyarakat ad-infinitum. Insya Allah menjadi pahala di yaumil akhir nanti.
Reply
 
 
# zulfadli-PA,Natuna 2012-04-26 09:11
tulisan yg bagus..... dari kesimpulanny saya dapat memahami bahwa bapak KPTA Semarang melegalkan pernikahan siri..... padahal dalam kompilasi yg merupakan fikihnya orang Indonesia dan telah diambil alih oleh Pemerintah untuk menetapkan bahwa rukun nikah selain harus dilakukan menurut agama dan kepercayaannya, juga harus dilakukan di hadapan Pegawai Pencatat Nikah.... dan selaku org yg mengaku beriman... salah satu kewajiban kita adalah mentaati ulil amri....
Dalam al-qur'an dan hadis tidak mengatur secara tegas tentang rukun nikah, semuanya yg berkembang adalah hasil pemikiran ulama.... sedangkan di Indonesia telah diundangkan oleh pemerintah...
pertanyaanya adalah wajib mana kita dari mentaati peraturan pemerintah dari pada mengikuti pendapat para ulama-ulama???
Reply
 
 
# Syarif Mappiase PTA Jkt 2012-04-26 09:31
Stlh membaca tulisan Bp Chatib yg terkesan bagi sy dari tulisan itu tentang kebenaran matriiil dan formil dr suatu perkawinan dan ternyata tulisan Bapakmelumpuhkan tulisan Bpk Muktiarto yg tdk mampu membedakan nilai benar dan salah ( empirik) serta nilai baik dan buruk (metafisik)-tidak empirik.
Reply
 
 
# Abd. Salam, PA. Watansoppeng 2012-04-26 09:32
Dengan tulisan P. Chatib ini semua yang semula cemberut terhadap putusan MK kini menjadi "ploong";
Saya hanya ingin sampaikan,Nabi bersabda : Al-waladu lil firaasyi wal 'aahiru lil hajari, artinya : Anak (dari perkawinan sah) itu nisbahkan pada ayahnya sedangkan anak (dari hasil zina) nisbahkan pada batu". Hadits ini tidak mensejajarkan anak yang sah dengan anak dari perzinahan. Hal tersebut terkandung maksud agar manusia menjahui perzinahan karena akibat buruknya jauh menimpa sampai kepada anaknya, walaupun dosa zinanya hanya ditanggung oleh orang tua yang melakukannya.Akibat buruknya adalah tidak dapat dinisbahkannya "anak-zina" kepada ayah biologisnya.
Reply
 
 
# Marsiddi 2012-04-26 10:39
Sedikit koreksi pada karya ilmiah Chatib rasyid, apa tidak lebih baik, nama pengarang pada Daftar Pustaka di balik, biar diawali nama sukunya dahulu. Tulisan anda layak diberi nilai A
Reply
 
 
# Budiman Siregar 2012-04-26 10:55
Urun saran koreksi sedikit thd makalah KPTA Smr, kami tertarik dan khusu mengkaji kata-demi kata artikel anda, bahkan setiap kutipan satu persatu kami cek. Sampai kami pada kongklusi bahwa artikel anda mentaati kaidah dasar menulis, jelas, tepat, dan simpel. Kejujuran anda sangat tampak dalam menggunakan sumber pustaka apa adanya. sementara banyak pengarang menggunakan sumber pustaka berderet kitab dan bahasa asing (Inggris) tapi bohong karena sebenarnya dia tidak membuka aslinya tapi mengutip dari pengarang Indonesia yang sudah mengalihkan bahasa. Jadi bergaya pakai kitab namun dia sendiri ngambil dari buku yang pengarangnya ngutip dari kitab asli. Ini kenyataan selama saya menjadi pembimbing selama 20 tahun di program Pascasarjana. Saya lebih suka penulis jujur daripada ribuan pustaka ternama tapi hanya menipu pembaca.
Reply
 
 
# Mukti Roihan 2012-04-26 11:54
Harapan kami, Bpk KPTA Smr menyumbangkan ilmunya bahkan untuk semua KPTA, para hakim, dan para pegawai peradilan. Seperti tulisan bapak banyak dibaca orang, berapa pahala yang bpk dapatkan sepanjang ikhlas. Saya sedih membaca tulisan Roihan Ali yang menedaskan: untuk ukuran kpta, ya sudah lumayan bisa nulis. Kita ambil hikmah dari pernyataan Roihan Ali. Itu artinya menunjukkan betapa sedikitnya KPTA yang menghasilkan karya tulis berbobot sehingga begitu muncul karya tulis yang amat berbobot/bagus dari KPTA Smr tersentak kaget. Saya yakin Roihan Ali tidak bermaksud menjatuhkan secara personal/individual tetapi ia melihat secara general/makro bahwa selama ini sangat jarang KPTA yang gemar menulis apalagi berbobot seperti tulisan Chatib Rasyid.
Reply
 
 
# Abdullah PA Kraksaan 2012-04-26 12:36
Saya salut dan bangga pada Bpk. Chatib Rasyid ( KPTA Semarang ),artikel yang sangat bagus, tegas, lugas, mudah difahami, mejawab secara netral dan ilmiyah. patut menjadi rujukan kita semua. kami tunggu karya karya Bapak berikutnya.
Reply
 
 
# abdul ghoni PA Sintang 2012-04-26 13:38
Alhamdulillah, sedikit pencerahan buat kita semua....
Namun yang terpenting coba kita renungkan kembali tentang larangan Allah untuk mendekati zina, karena dampaknya cukup komplek.....
Sungguh kasihan nasib anak2 yang tidak berdosa akibat kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Mari kita sama-sama berdoa semoga bangsa di negri ini selalu menjaga diri dan dijauhkan dari perbuatan zina......
Reply
 
 
# Kamali 2012-04-26 17:16
WAlaupun tulisan Chatib Rasyid the best, namun dia belum doktor baru kandidat. sedangkan YM.Bpk Mukti Arto sudah Doktor sudah pernah disertasi dan sudah diuji kapasitas ilmunya serta sudah mengarang buku praktek perkara perdata. Sedangkan Khatib Rasyid belum mengarang buku. Dengan demikian nilai lebih ada pada YM. Bpk Mukti Arto sebagai Doktor.
Reply
 
 
# Ema 2012-05-01 08:56
Oh Pa kamali belum tahu ya buku karangan Bpk Chatib Rasyid,jauh sblm beliau kandidat Doctor, silakan Bapak cari di toko,Buku yg berjudul Hukum Acara Peradilan Agama Dlm Teori dan praktek,dan banyak lagi tulisan yg dimuat dlm mimbar hukum dan varia peradilan...ga pamer lho cuma sekedar kasih info...
Reply
 
 
# Habib al-Atas 2012-04-26 18:40
Saya tidak hanya tertarik dengan artikel KPTA Smr tapi juga komentar para pembacanya yang dengan cerdik dan piawai mengkoreksi, menilai, memuji, menghina, membunuh karakter penulis, dan mengharap. Terlihat suara pembaca hetrogen, beradu argumentasi, mulai dari yang subjektif sampai objektif dan sebaliknya. Kondisi ini terlepas dari segala kekurangannya artikel tsb memberi arti bahwa karya Chatib Rasyid sangat komunikatif, persuasif komunikatif. Yang paling diuntungkan adalah dunia peradilan tidak lagi dipandang sebelah mata, namun terdiri dari para hakim yang berkualitas. hal itu dibuktikan oleh artikel KPTA Smr yang refresentativie dunia para hakim. Jadi melalui tulisan Chatib Rasyid tidak ada pihak yang dikalahkan, direndahkan apalagi dipojokkan.Itulah barangkali yang bisa saya tangkap dari tulisannya
Reply
 
 
# Ambara 2012-04-26 20:27
Kami salut dengan badilag net yang bersifat terbuka/transfaran,obyektif, dan memberi kebebasan pada komentator mengeluarkan pikirannya, baik yang manis maupun yang pahit, baik offensif maupun defensif.
Reply
 
 
# sodiq 2012-04-26 23:13
Selamat untuk KPTA SMR dan seluruh jajarannya dalam menciptakan terobosan baru dalam menginterpretasikan makna anak yang lahir di luar nikah dan atau nikah tercatat.
Reply
 
 
# Artaguna 2012-04-27 06:37
Sekarang,jangan mengira badilag net hanya dibaca orang peradilan agama dan ahli hukum. Masyarakat awam pun membaca dan tahu butiran mutiara ilmu di badilag net dan informasi lainnya.
Reply
 
 
# Murad Harahap, SH.,MH., LLM., MCL 2012-04-27 17:32
Di antara kita boleh berbeda pendapat,ketika masuk dalam problem ijtihad. Karena ijtihad merupakan suatu proses menafsirkan dan yang namanya menafsirkan boleh jadi benar dan boleh jadi juga salah. Kita harus berani membuat terobosan dengan tetap mengacu pada sumber-sumber hukum Islam. Banyak masalah yang harus dijawab karena tidak ada dalam buku atau kitab seiring perubahan masyarakat yang demikian cepat. Perubahan itu harus dijawab tanpa harus takut dan panik. Setiap perubahan membutuhkan kedewasaan kita dalam berpikir untuk berpikir posotif. Demikian pula KPTA sudah waktunya berani menafsirkan sesuatu yang masih multi tafsir menjadi monotafsir.
Reply
 
 
# AHP. MS ACEH 2012-04-27 21:17
Bukan basa basi tapi dengan sejujurnya harus saya katakan tulisan KPTA Semarang sangat berbobot, lugas dan tegas. Saya menunggu tulisan bapak berikutnya untuk pencerahan bagi hakim di Indonesia. Pesan saya, orang boleh bilang apa saja, tapi tulisan Bapak layak diberi nilai A.
Reply
 
 
# Aris Munandar 2012-04-28 05:49
Marilah kita tingkatkan peradilan agama sebagai peradilan berwibawa dan dapat merespon masyarakat pencari keadilan, ketertiban dan kepastian hukum. Biarkan perbedaan mengalir seperti air, namun kita bersaudara.Kebenaran yang hakiki hanyalah ilmu Allah SWT. Manusia dengan segala keterbatasannya harus mengakui kekurangan dan kehilafan.Sisi lain dari dimensi perbedaan adalah dituntutnya kedewasaan untuk menerima pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat pribadi. Membenarkan pendapat orang lain jauh lebih sulit daripada membenarkan pendapat sendiri. Kebijakan, kelembutan hati, dan sikap menerima suatu kenyataan yang jauh dari harapan adalah cermin pribadi yang stabil dan sehat. Hidup peradilan agama dan tetap berjaya.
Reply
 
 
# Andi Muliany Hasyim 2012-04-29 02:11
pro kontra Putusan MK baik dalam beberapa tulisan tanggapan ormas, ucapan wakil kementrian agama dengan judul kemenag jadi berat jalankan putusan MK maupun sikap penolakan Mui ditambah bumbu komentar disetiap tulisan, semuanya dapat menambah keseriusan melihat dari berbagai aspek atas putusan MK,
Reply
 
 
# Tahrir-PA.Kebumen 2012-05-01 11:22
Pro dan kontra masalah pendapat itu masalah yang sudah biasa, yang paling penting bagi kita dengan adanya tulisan dari YM Bapak Drs. H. Chatib Rasyid---minimal---kita sudah mendapat tambahan referensi untuk pencerahan. Kebenaran yang mutlaq hanya ada pada yang Maha Tahu. Kepada Bapak saya mengapresiasi dan menunggu tulisan-tulisan Bapak yang selanjutnya.
Reply
 
 
# Arifin Singadamejo 2012-05-01 19:28
Setelah membolak balik artikel Yth Bpk Chatib Rasyid, Yth Bpk Mukti Arto, Yth. Bpk Syamsul Anwar, dkk. Pada prinsifnya 3 artikel tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu kita dukung kepada beliau-beliau untuk terus membuat artikel dan memajukan badilag net sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
Reply
 
 
# Ema 2012-05-02 15:21
Insya Allah dalam waktu dekat akan dimuat lagi tulisan Bpk Chatib Rasyid, silakan tunggu, dan terima ksih atas yudisiumnya
Reply
 
 
# Atiqatur Rosyidah 2012-05-01 23:37
Rekomendasi:1. Para hakim dan para pegawai Peradilan agama seyogiayanya makin lebih cepat merespon setiap masalah yang baru muncul yang tidak ada dalam peraturan perundang-undangan; 2. Artikel merupakan salah satu instrumen yang paling primer untuk merespon dan meluruskan kesalah pahaman serta meningkatkan ilmu pengetahuan hukum masyarakat; 3. Aparat peradilan agama yang gemar menulis artikel dan buku merupakan insan yang besar investasinya dalam meningkatkan citra peradilan agama.4. Penulis artikel terbaik seperti Chatib Rasyid yang kami nilai 9,5 tidak boleh merasa puas diri tetapi harus lebih meningkatkan produktifitas dan kualitasnya, demikian juga kepada penulis artikel lainnya bahwa kemenangan terbesar bukan dari seberapa banyak tulisan itu mendapat pujian dan seberapa besar nilainya dari pembaca tetapi kemenangan terbesar adalah bahwa anda semua telah menulis dan berani menghadapi segala koreksi dan kritik. Terimakasih pada seluruh penulis artikel badilagnet. Melalui artikel-artikel tersebut kami mendapat masukan yang berharga.
Reply
 
 
# Asgaf 2012-05-03 00:32
Kepada Yth.YM.Bpk Drs,Chatib Rasyid,SH.,MH. Kami memohon YM berkenan membuat artikel kembali. Kami sudah rindu artikel anda. Kapan kira-kira anda meluncurkan kembali artikel. Harapan, biar kami makin semangat membuka badilag net. Kami sudah berusaha mencari buku anda tentang hukum perkawinan di Indonesia, namun penerbit belum menjumpai karangan anda yang berjudul seperti itu, kecuali hukum acara. Jika anda sudi kiranya menyusun buku hukum perkawinan dalam pandangan hukum adat, Fiqih empat mazhab, UU, PP, KHI. Saya cocok tulisan anda dinilai A., itu sudah sepantasnya terhadap karya yang hanya terbuat dari peluru senapan angin bisa melumpuhkan gajah raksasa di tengah kompetisi artikel lain yang terbuat dari rudal basoka namun luput dari sasaran. Anda sangat strategis dan metodologis dalam menggunakan referensi. Menjadi pelajaran bahwa referensi segudang dan ternama namun belum tentu isinya mampu melumpuhkan berbagai argumentasi. Anda termasuk orang yang ingin mempribumisasikan karya ilmiah karena tidak terpukau dan tidak silau dengan pengarang ternama yang nota bene belum ada relevansinya dengan artikel anda yang singkat. Untuk artikel selanjutnya buktikan bahwa anda dapat saja mensitir mazahibil arba'ah, fiqih muqarin, al-Muwafaqat, I'lamul muwaqi'in, Falsafatut tasysri, bidayatul mujtahid, al-Muwatta', al-Uum, al-Muhazzab. Kami yakin anda akan membuat kejutan yang lebih dahsyat dari artikel perdana. Kami wait and see......!!!
Reply
 
 
# CHATIB 2012-05-06 15:17
Terima kasih kepada semuanya yang telah memberi komentar, semangat, tantangan dan sebagainya. ?.... Saya juga ingin belajar dari teman-teman semuanya.
Reply
 
 
# Asrori Hijab 2012-05-03 22:45
Point penting yang dapat dicatat dari artikel sdr Chatib Rasyid sbb: 1. versi Chatib, nikah tidak tercatat sah secara agama asalkan memenuhi syarat dan rukun agama ybs, namun Chatib tidak melegalkan nikah yang demikian secara hukum positif, bahkan ia menilai nikah yang demikian adalah nikah yang tidak dikehendaki UU. 2. Makna anak yang lahir di luar perkawinan berbeda dengan makna dalam fiqih. Fiqih tidak mengenal istilah nikah tercatat atau tidak tercatat, sedangkan UU No.1 tahun 1974 mengenal istilah itu dengan akibat hukum yang berbeda. Akibatnya: makna anak lahir di luar nikah dalam arti fiqih adalah anak zina, sedangkan versi UU adalah anak yang lahir dari perkawinan yang sah secara agama tapi tidak sah secara UU. Hal ini tidak berarti tubrukan antara fiqih dengan UU, melainkan karena akibat yang satu tidak mengenal nikah tidak tercatat dan yang satu lagi mengenal dan membedakan. 3. Sdr. Chatib sama sekali tidak menciptakan pertentangan antara fiqih dan UU melainkan justru menganggap perbedaan dalam kesamaan dan kesamaan yang berbeda namun bukan sebuah dihotomi atau antagonis. 4. Sdr Chatib tidak memakai rujukan kitab langsung adalah tampaknya karena tidak ingin memunculkan pertentangan antara Imam mazhab. Estimit kami kelihatannya Chatib sangat paham betul bahwa pada internal fiqih dan mazhab masih bergumul dalam perbedaan. Di sini Sdr Chatib sangat jeli dan cerdas tidak mau masuk dalam domain perdebatan mengingat yang ditafsirkan pun tengah ada dalam perbedaan. Jadi Chatib tidak mau menambah lagi dengan perbedaan antara Imam. Rupanya garis tengah dan netralitas menjadi acuan logika berpikir Chatib tatkala menarik dalil deduktif dan induktif artikelnya. Logika berpikir Chatib sangat dipengaruhi Kitab al-Risalah karya Imam Syafi'i, dan Chatib lebih larut pada pemikiran Syeikh Ali Ahmad al-Jurjawi, Hikmah al-Tasyri' wa Falsafatuh. Tampaknya Chatib lebih mencari hikmah dari substansi artikelnya daripada mempertentangkan hukum. Itulah sebabnya ia menyatakan Putusan MK tidak bisa dinyatakan bertentangan atau sesuai dengan syari'ah. Dari sini pula titik tolak Chatib mengapa ia tidak menukil satu hadis pun baik dari sahih Bukhari atau Kutubusittah. Kecerdikan Chatib dalam menyusun sistematika dan untaian kalimat di pengantar, latar belakang dan tinjauan fiqih menyelamatkan uraian selanjutnya tentang penggolongan anak. Jadi Chatib ibaratnya seperti Kancil... binatang kecil tapi cerdik dan lincah sehingga bisa keluar dari lubang jarum yang kecil. Chatib penulis artikel yang sebetulnya sangat tidak suka dengan bentuk pernikahan tidak tercatat, terbukti ia menggunakan pendapat M. Quraish Shihab pakar Tafsir di Indonesia dan Dadang Hawari Psikiater terkemuka di Indonesia. Kedua orang ini termasuk yang sangat membenci nikah sirri dan sangat mempengaruhi pola berpikir Chatib dan Chatib termasuk barisan kedua pakar itu. Demikian tanggapan kami setelah mengkaji seluruh artikel yang membahas putusan MK.
Reply
 
 
# Ali Mhtrm@Tj. Redeb 2012-05-04 09:11
Semakin jelas.. Kami sependapat Pak..
Trima Kasih...
Reply
 
 
# Bambang Supriastoto PA Ngawi 2012-05-07 11:22
Andai saja maksud putusan MK dan pemahaman masyarakat sama dengan pemahaman yg Bapak tulis, tentu tidak ada masalah. Namun putusan MK tersebut menyatakan 'Adanya anak itu pasti adanya hubungan laki-laki dan perempuan dan dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan',disini zinapun dapat dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan bahwa itu ayah biologisnya, selain itu masyarakat memehami diluar perkawinan itu ya zina,sedangkan nikah sirri ya termasuk perkawinan dan sah cuma dilakukan secara sirri atau tidak di catat. nuwun.
Reply
 
 
# Fajar 2012-05-28 15:32
Saran: sepatutnya ada salah seorang KPTA atau hakim di Indonesia yang cepat merespon masyarakat pembaca yang menginginkan terbitnya buku hukum perkawinan multi disipliner hasil karya institusi peradilan. Apakah resultansi individual atau kolektif.

Kami sangat berterimakasih jika badilag menyusun tim khusus penyusunan buku hukum perkawinan versi komparasi hukum adat, fiqih mazahibil arba'ah, UU, dan KHI terlengkap. Buku ini bisa menjadi kebanggaan badilag
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1037 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS