|
Peluang dan Tantangan Sarjana Syari’ah dalam Pemberian Bantuan Hukum dan Mediasi di Lingkungan Peradilan Agama | Oleh : Oleh : Drs. H. Habiburrahman , SH., S.IP., M. Hum (Hakim Agung MA RI) | (10/2) |
|
|
|
|
Jumat, 10 Februari 2012 11:22 |
|
Untuk mendownload dalam bentuk PDF, KLIK DI SINI
| Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 687 | 10 | | Kam. 17 | 1 | 0 | | Rab. 16 | 2 | 0 | | Sel. 15 | 1 | 0 | | Sen. 14 | 1 | 0 | | Jum. 11 | 1 | 0 | | Rab. 09 | 1 | 0 |
|
Comments
Mendamaikan itu bukan sekedar menjalankan Peraturan MA no:01 tahun 2008 saja, tapi juga menjalankan perintah Allah SWT..menjalankan hukum-hukum Allah yang termaktub dalam banyak ayat dalam alqur'an..maka filosofi dari Mediator adalah orang yang mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa yang hukumnya adalah wajib...
Al-Hujurat ayat 10 Allah berfirman:
Sesungguhnya org2 mukmin itu bersaudara, maka sebab itu damaikan/perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu, dan takutlah kepada Allah, agar kamu mendapat Rahmat.kepekaan spiritualitas religiusitas dari para mediator merupakan suatu keharusan...karena berpengaruh kepada orang yang didamaikan...antara mau atau enggan berdamai,,,persoalan Sarjana Syari'ah atau non Syari'ah...saya pikir tidak ada masalah...hanya saja tentunya orang-orang yang tahu syari'ah lah yang sangat tepat menjadi seorang Mediator....wassalam...