|
Penilaian Website PA dan PTA se wilayah PTA Gorontalo |
|
|
|
|
Oleh Helmi Indra Mahyudin
|
|
Kamis, 14 April 2011 21:12 |
|
Berikut hasil penilaian website PA dan PTA se-wilayah PTA Gorontalo
{flexpaper}http://www.badilag.net/data/e-dokumen/penilaian-pa-septa-gorontalo.swf{/flexpaper} Klik disini untuk mengunduh dalam versi PDF
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Kunker Dirjen ke : Reformasi Peradilan Harus Didukung Seluruh Aparat Peradilan (14/4) |
|
|
|
|
Oleh Hirpan Hilmi
|
|
Kamis, 14 April 2011 09:13 |
|
Kunker Dirjen ke Manado:
Reformasi Peradilan Harus Didukung Seluruh Aparat Peradilan
Peran Pimpinan Sangat Menentukan

Manado, Badilag.net |13-04-2011|
“Hakim dalam mengonsep putusan masih berminggu-minggu. Demikian pula, panitera pengganti dalam menyusun berita acara persidangan masih berlama-lama. Bagaimana solusinya agar tidak demikian, Pak Dirjen?”
Pertanyaan itu disampaikan oleh seorang hakim senior dari suatu pengadilan agama, kepada Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, dalam sesi diskusi tentang Pelaksanaan Reformasi Peradilan, di Manado, tadi pagi (13/4).
Walaupun sebagian peserta mencemooh penanya dengan mengucap “..uuuh”, Dirjen sangat mengapresiasi pengakuan yang jujur, yang mengemukakan apa yang terjadi di pengadilan tempatnya bekerja. Kepada Badilag.net, Dirjen menyatakan keyakinannya bahwa masih ada aparat dan pimpinan peradilan agama -malah mungkin masih banyak, red.- yang kurang peduli dengan reformasi yang selama ini digulirkan oleh Mahkamah Agung dan digaungkan oleh Badilag.
“Makanya, saya sangat mengapresiasi pertanyaan, sekaligus pernyataan jujur, dari seorang hakim senior tersebut, walaupun oleh sebagian peserta pertemuan dicemooh”, tutur Dirjen, di depan peserta pertemuan yang terdiri dari pimpinan & para hakim PTA, serta Ketua, Pansek dan PP dari PA se provinsi Sulut ini. Di samping menghadiri pertemuan tersebut, Dirjen juga menghadiri ‘launching’ Posbakum PA Manado yang diselenggarakan cukup meriah dengan mengundang Walikota, para Camat dan kepala desa, instansi terkait dan para advokat serta tokoh masyarakat.
Pelaksanaan Reformasi Tidak Mudah, Kecuali Didukung Oleh Semua Pihak.
Dirjen menjelaskan apa yang ditulis pada buku “Courting Reform” karya Cate Sumner dan Tim Lindsey, dari Australia. Dalam buku itu, kata Dirjen, peradilan agama dianggap telah banyak melakukan capaian positif dalam melakukan reformasi peradilan.
Penulis buku itu, lanjut Dirjen, berpendapat bahwa keberhasilan yang dicapai antara lain karena kepemimpinan yang solid, komunikasi yang intens, komitmen institusi yang kuat, dan pemanfaatan teknologi informasi yang tepat dan merata.

“Oleh karena itu, reformasi peradilan dalam rangka meningkatkan pelayanan yang baik, menuju peradilan yang agung, akan sulit berhasil, tanpa dukungan seluruh jajarannya”, tegas Dirjen. “Komitmen institusi, seperti disebutkan dalam buku itu, harus dibangun dengan kuat”, lanjutnya.
Menurutnya lagi, jika hakim tidak berkomitmen, dia akan ‘berleha-leha’ saja dalam menyusun konsep putusan. Demikian pula, panitera pengganti akan santai-santai saja dalam membuat berita acara persidangan.
Padahal sekarang, peraturan perundang-undangan menentukan bahwa maksimal 14 hari setelah pembacaan putusan, salinannya harus segera (siap) diserahkan kepada para pihak.
Mungkin mereka tidak tahu, malas, atau karena beban pekerjaan yang sangat berat. “Di sinilah peran pimpinan sangat menentukan, baik dalam memberikan informasi, arahan atau instruksi-instruksi yang harus dilakukan, termasuk memonitor jalannya reformasi”, tegas Dirjen.
Salah satu dari 7 area yang harus diperhatikan dalam ‘Court Excellence’ yang menjadi salah satu kajian dalam proses penyusunan Cetak Biru Mahkamah Agung, kata Dirjen, adalah peran pimpinan. “Bahkan disebutkan, pemimpin merupakan ‘driver’, yang menentukan”, ungkap Dirjen.
Oleh karena itu, Dirjen minta seluruh aparat peradilan agama, terutama para pimpinannya, agar selalu mengikuti perkembangan jalannya reformasi peradilan dan ikut berperan dalam mencapai keberhasilannya.
“Sempatkanlah untuk membuka badilag.net dan mahkamahagung.go.id setiap hari, agar tidak ketinggalan informasi”, pinta Dirjen, seperti yang sering diulangnya dalam berbagai kesempatan.
Dirjen Mengapresiasi Capaian yang Diraih PTA dan PA se Sulut.
Di awal ceramahnya, Dirjen sempat berterima kasih kepada seluruh jajaran peradilan agama se Indonesia yang telah bekerja keras melaksanakan reformasi, termasuk PTA dan PA se Sulut. “Saya gembira atas capaian-capaian ini. Saya mengucapkan terima kasih. Mari kita jaga dan tingkatkan prestasi ini”, katanya.
Dirjen juga mengapresiasi atas kerja keras PTA dan PA-PA dalam meningkatkan keterbukaan informasi, sebagaimana diperintahkan Undang-Undang dan KMA 144/2007.
Hasil penilaian terhadap situsweb pengadilan yang dilakukan NLRP, diinformasikan juga secara detail. Dirjen mengapresiasi atas kemajuan yang diraih PA-PA se Sulut. “Kelengkapan konten dan ‘update’ situsweb PA-PA se Sulut mendapat kemajuan pesat”, kata Dirjen.
Semua situsweb yang dimiliki PA di provinsi ini menunjukkan kenaikan kualitas. PA Kotamubagu merupakan “the best court” di antara PA se provinsi ini, dengan memperoleh nilai 25 dari nilai maksimal 32. Lengkapnya dapat dilihat di table di bawah ini.

Rata-rata nilai PA se provinsi, tahun 2010 adalah 13,00. Di tahun 2011 naik menjadi 20,20. Nilai rata-rata tahun 2011 ini di tingkat nasional merupakan rata-rata ‘papan atas’. “Selamat”, kata Dirjen, yang disambut tepuk tangan para peserta.
Namun demikian, Dirjen tetap mengajak PTA dan PA-PA untuk meningkatkannya lagi. “Apalagi di Sulut ini hanya ada 5 PA, jadi pembinaannya relatif mudah. Saya yakin, nilai tiap PA dapat meningkat lagi. Kalau kita mau, pasti bisa.”, kata Dirjen memotivasi para peserta.
“Bagaimana, sanggup berapa lama untuk dapat meningkatkan nilai?”, tanya Dirjen, kepada setiap KPA dan Pansek PTA, satu persatu.
Akhirnya, semua sepakat, dalam waktu 2 minggu PTA dan seluruh PA akan melakukan update data dan melengkapi fitur yang belum ada. “Kami siap dilakukan penilaian oleh tim TI Badilag setelah 2 minggu dari sekarang”, kata Pansek PTA, Ma’sum Umar, mewakili PTA dan seluruh PAnya, penuh rasa yakin.
“Wah hebat nih, wilayah lain pada umumnya minta satu bulan, ini hanya 2 minggu. Baiklah, setelah 2 minggu dari sekarang, saya akan minta tim Badilag untuk melakukan penilaian yang kriterianya sama dengan kriteria yang digunakan NLRP. Saya yakin, pasti ada kenaikan”, kata Dirjen memberi semangat. (Adli Minfadli Robby).
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
|
Dirjen Mengapresiasi Semangat PTA & PA-PA Sulsel (12/4) |
|
|
|
|
Oleh Hermansyah
|
|
Rabu, 13 April 2011 00:06 |
|
“Beri Kami Waktu Satu Bulan,
Nilai Rata-Rata Situsweb PA-PA Bisa Mencapai 27”

Makassar, Badilag.net |12-04-2011|
“Kami bergembira mendapat pecutan manis dari Pak Dirjen. Kami akan berupaya sebaikbaiknya untuk meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat melalui situsweb. Beri kami waktu satu bulan, nilai rata-rata situsweb PA se Sulawesi Selatan semoga mencapai angka 27”
Itulah kata-kata H.M.Hasan H. Muhammad, Ketua PTA Makassar, ketika menutup acara pertemuan seluruh jajaran PTA dan Ketua PA-PA sekitar Makassar dengan Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, tadi pagi (12/4), di ruang pertemuan PTA Makassar.
Pertemuan itu merupakan rangkaian kunker Dirjen ke Makassar dan Manado. Setelah pertemuan di PTA Makassar, Dirjen sengaja berkunjung ke PA Makassar untuk melihat pelaksanaan pelayanan dan penyelenggaraan Posbakum di PA kelas I ibu kota Sulsel ini.
Apresiasi Dirjen Atas Capaian yang Diraih Jajaran Peradilan Agama.
Dirjen menginformasikan penilaian-penilaian orang terhadap capaian yang telah diraih oleh peradilan agama selama ini. Buku “Courting Reform” tulisan Cate Sumner dan Prof. Tim Lindsey dari Australia dan buku “Sebuah Penilaian Atas Website Pengadilan” karya LSM NLRP (National Legal Reform Program) yang difasilitasi pemerintah Belanda, diinformasikan secara detail.
Dirjen menyatakan, pemaparan ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sombong dengan hasil yang telah dicapai. “Namun, agar kita dapat mempertahankan prestasi yang telah diraih, dan dapat lebih meningkatkannya lagi”, tegasnya.
Oleh karena itu, lanjut Dirjen, kita jaga kekompakan dan semangat untuk terus meningkatkan prestasi, serta menjaga kualitas dan integritas. “Kita malu, kalau orang bilang peradilan agama baik dan maju, tahu-tahu keadaan sebenarnya sebaliknya”, ungkapnya.

Kepada para pimpinan dan hakim, Dirjen minta agar “keep in touch” terhadap informasi dan kebijakan dari Jakarta. “Membuka situs ‘badilag.net’ dan ‘mahkamahagung.go.id’ setiap hari adalah suatu keharusan, agar kita tidak ketinggalan informasi dan perkembangan”, katanya.
Pelaksanaan reformasi birokrasi dan pelayanan secara umum, termasuk program sidang keliling, pelayanan perkara prodeo dan penyelenggaraan posbakum, harus menjadi perhatian semua. “Peradilan agama harus menjadi teladan, namun tetap santun dan ‘lowprofile’”, tutur Dirjen.
Pengembangan TI Dapat Meningkatkan Kualitas Pelayanan dan Putusan.
Dirjen gembira melihat perkembangan dan semangat pemanfaatan teknologi informasi di kalangan peradilan agama se Sulsel ini meningkat. “Pemanfaatan teknologi kita arahkan dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan pelayanan kepada masyarakat”, ungkapnya.
Dengan pemanfaatan teknologi yang baik, lanjut Dirjen, pelayanan pengadilan yang sederhana, cepat dan biaya murah akan tercapai. Bahkan, karena transparansi, maka celah untuk melakukan penyimpangan akan tertutup sama sekali.
Lebih jauh dari itu, kata Dirjen lagi, komitmen untuk menggunaan website secara konsisten, dapat meningkatkan kualitas putusan. Komitmen untuk memublikasikan putusan akan meningkatkan kualitas putusan itu sendiri.
“Kita akan malu jika putusan yang dipublikasikan itu jelek, baik dari segi penulisannya, formatnya atau substansinya. Putusan yang disimpan pada website akan dapat dibaca oleh siapa saja dan sampai kapan saja. Oleh karena itu, putusan itu tidak boleh jelek. Konsekwensinya, diperlukan pelatihan, bimtek, peningkatan wawasan dan sebagainya”, jelas Dirjen.
Perkembangan dan Semangat PTA dan PA se Sulsel Meningkat.
Dirjen juga gembira melihat hasil penilaian NLRP tentang situsweb pengadilan yang telah dua kali dilakukan: pertengahan 2010 dan awal 2011. Dari kedua penilaian ini situsweb PA-PA se Sulsel mengalami kenaikan.
Jumlah nilai dari 24 PA di wilayah Sulsel, tahun 2010 adalah 203, sedangkan tahun 2011 adalah 376. Jadi ada kenaikan 173 point, sama dengan kenaikan 85%. Nilai rata2 per PA pun meningkat, dari 8,46 menjadi 15,65 . “Kenaikan yang luar biasa, apalagi jumlah PAnya banyak”, apresiasi Dirjen.
Dari hasil penilaian 2011, terlihat ada 19 PA yang mengalami kenaikan nilai, 1 PA tetap dan 4 PA turun. Tujuh PA mempunyai nilai 20 dan di atasnya, yaitu PA Mamuju (25,), PA Majene (22), PA Jeneponto (21), PA Masamba (21), PA Senkang (20), PA Sinjai (20) dan PA Soppeng (20).
Nilai ketujuh PA di atas pada tahun 2010 masih rendah, seperti terlihat berikut:

Dirjen memahami kesulitan melakukan pembinaan terhadap PA yang jumlahnya banyak dengan tingkat keterbatasan yang tinggi. Namun demikian, Dirjen tetap memberi semangat dan motivasi untuk dilakukan perbaikan data dan konten situs.
Para peserta sepakat untuk melakukannya. Dan setelah dibahas, disepakatilah “kontrak kerja” itu. “Beri kami waktu satu bulan, nilai rata-rata seluruh PA akan meningkat, mudah-mudahan mencapai 27”, kata Ketua PTA.
Wakil KPTA, Bahrussam Yunus, mengamininya, “Iya Pak, dalam waktu dekat akan kumpul para Ketua PA. Kami akan informasikan dan sosialisasikan tentang rencana peningkatan kualitas situsweb ini”, katanya penuh semangat.
“Insya Allah Pak, kita bisa. Yang penting tekad dan perhatian yang konsisten dari para pimpinan PA dan PTA”, tutur Dirjen. “Insya Allah, satu bulan lagi, saya akan minta tim TI Badilag untuk melakukan penilaian terhadap situsweb PA-PA se Sulsel ini. Saya optimis, di antara PA di Sulsel ini ada yang bisa menjadi ‘the best of the best’. Mudah-mudahan”, lanjut Dirjen sambil senyum. (Adli Minfadli Robby).
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Pesan Penting Waka MA Bidang Non Yudisial (12/4) |
|
|
|
|
Oleh Hermansyah
|
|
Selasa, 12 April 2011 10:06 |
Wakil Ketua MA Bidang Non Yudisial:
Hakim Harus Jujur dan Disiplin
Manado l badilag.net
Hakim bukanlah profesi biasa. Menjadi hakim berarti melakoni pekerjaan mulia yang tidak semua orang bisa melakukannya. Karena itu seorang hakim tidak hanya dituntut memiliki kualitas intelektual yang baik, tetapi juga harus mempunyai kepribadian yang tidak tercela.
Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial, Dr. H. Ahmad Kamil, SH.,M.Hum, menyatakan hal itu ketika membuka acara Bimbingan Teknis Pedoman Perilaku Hakim dan Orientasi Pola Bindalmin bagi Hakim, Panitera/Panitera Pengganti sewilayah PTA Manado, Senin (11/4/2011).
|
|
LAST_UPDATED2 |
|