Undangan Ke Kejaksaan Negeri Riyadh

Riyadh | Badilag.net
Semua kunjungan, baik yang bersifat resmi maupun biasa telah diatur oleh pihak Ma’had sesuai dengan jadwal mereka, waktu dan tujuan kunjungan paling lambat sehari sebelum hari H telah diberitahukan kepada seluruh peserta diklat hukum ekonomi syari’ah MA.
Namun lain halnya dengan kunjungan pada Selasa malam 29/5/2012. Bus Ma’had, yang membawa peserta diklat, sudah 20 menit memecah malam dengan menelusuri jalan-jalan Kota Riyadh, peserta diklat belum juga mengetahui kemana sebenarnya tujuan kunjungan itu, misterius, seperti mendapatkan alamat palsu, mereka bertanya-tanya di dalam hati di mana dan ke mana mereka akan dibawa. Pihak Ma’had hanya memberitahu kunjungan malam itu merupakan undangan dari salah seorang Syekh terkenal di Kota Riyadh.
10 menit kemudian laju bus berkurang dan sopir mengambil jalur lambat, sepertinya bus akan belok kanan jika ada pertigaan di depan atau berhenti di depan rumah elit milik seorang Syekh. Tapi dugaan kebanyakan peserta diklat salah, bus ternyata berhenti di depan kantor besar nan megah, Hai‘ah al-Tahqiq wa al-Iddi‘am al-‘Amm (The Bureau of Investivigation and Public Persecution), Kantor Kejaksaan Negeri Riyadh.
Peserta diklat disambut dan dibawa ke tempat pertemuan di lantai atas, ruangan meja bundar. Dengan menghadap ke peserta diklat, di depan duduk Ketua Kejaksaan Negeri Riyadh, DR. Abdul Wahab bin Saud Sudairy, DR. Abdurrahman Bin Salamah al-Muzaiyani, Direktur Ma’had Ali Li Qadha, Universitas Muhammad Ibnu Saud dan Drs. Farid Ismail, SH. MH, Ketua Delegasi Diklat Hukum Ekonomi Syari’ah MA.
Di sela-sela perbincangan ringan antara tuan rumah dengan tamu undangan, beberapa laki-laki muda dengan pakaian khas arabnya menyuguhkan kepada seluruh yang hadir “welcome drink”-nya Arabia berupa minuman dalam gelas kecil, tidak manis dan tidak pahit, rasanya seperti jamu Indonesia. Tidak lama berselang, laki-laki yang sama membawa kayu gaharu yang diasapkan di tempat khusus. Ketika disuguhi, asap tersebut harus dikipaskan ke baju agar tercium wangi.
Kemudian acara dipindahkan ke ruang makan malam, ternyata disinilah acara resminya. Setelah acara dibuka, sambutan dari Ketua Kejaksaan, sepatah dua patah kata dari Pihak Ma’had dan salam perkenalan dan ucapan terima kasih dari Ketua Delegasi Diklat, panitia mempersilahkan hadirin untuk menghadap ke layar putih yang ada di depan ruangan, lalu beberapa lampu pun dimatikan.
Dalam film yang diputar dengan in focus, berdurasi 30 menit, tuan rumah bercerita tentang sejarah lahirnya Kejaksaan Negeri di Arab Saudi, tupoksi, antara lain untuk penyidikan dan penuntutan perkara pidana, dan, sebagai titik tekan dari ekspose tersebut, pemanfaatan IT (Information Technology).
Akhir-akhir ini, dunia peradilan di Arab Saudi sepertinya sedang “gila” IT, dalam film tersebut digambarkan manfaat dan keunggulan IT dalam memudahkan penanganan perkara-perkara yang menjadi kewenangan Kejaksaan Arab Saudi. Pihak kejaksaan menjelaskan begitu mudah dan ringannya beban kerja mereka dengan pemanfaatan IT. Dengan aplikasi dan software yang ada, pekerjaan, laporan kerja dan kegiatan berbagai Satker Kejaksaan di seantero Arab Saudi menjadi cepat, mudah dan akurat. Begitu pula dengan pengarsipan, yang dulunya sangat merepotkan, dimana pegawai harus menulis dan mengetik secara manual, membutuhkan banyak kertas dan tempat untuk menyimpannya, sekarang telah berubah, menjadi sangat mudah dan efisien. Pemaparan keunggulan sistem kerja berbasis IT, yang disuguhkan secara visual tersebut, mendapat perhatian serius dari peserta diklat.
Setelah acara makan malam bersama, Ketua Delegasi Diklat dan Ketua Kejaksaan Negeri Riyadh saling bertukar cendera mata.
(HA. Mukri Agafi, M. Fadhly Ase & M. Fathnan)
| Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 4907 | 21 | | Sab. 25 | 9 | 0 | | Jum. 24 | 5 | 0 | | Kam. 23 | 17 | 0 | | Rab. 22 | 17 | 0 | | Sel. 21 | 17 | 0 | | Sen. 20 | 16 | 0 |
|
Comments
Tapi syukurlah, bukan itu yang terjadi. Sebaliknya malah para peserta disuguhi film berdurasi 30 menit yang tentunya menarik untuk ditonton sembari menikmati welcome drink berupa lezatnya minuman khas Arab sambil mengebas-ngebaskan asap kayu gaharu yang wangi.
Pemanfaatan IT di Arab Saudi, khususnya di dunia peradilan mereka, apakah sudah cukup maju, ataukah baru dalam tahap memulai juga seperti kita. Kalau sudah cukup maju, mungkin ke depan perlu juga dikirim tim IT Siadpa Plus untuk belajar ke sana.
Semoga 'oleh2' yang dibawa pulang nantinya dapat membawa kebaikan dan kemajuan bagi dunia peradilan kita (PA).
dan semoga selalu dalam LindunganNya. Amiin
Syukron wal'afwu minnaa.