Calo Perkara, Calon Hakim dan Meja Informasi di PA Surabaya
Dulu meja informasi ngumpet di dalam, kini tampak mencolok dan mudah dijangkau. Jumlah yang dilayani meningkat tiga kali lipat. Dampak lokakarya dan komitmen semua pihak.
Empat kursi warna biru itu masih baru. Tertata rapi di penjuru ruang tunggu, silih berganti orang duduk di situ. Kursi-kursi itu terletak di muka meja berbentuk huruf L. Mengenakan kemeja lengan panjang dan berdasi, seorang petugas duduk di belakang meja itu.
“Inilah meja informasi Pengadilan Agama Surabaya yang baru,” kata Syarif Hidayat, SH, kepada badilag.net yang berkunjung ke PA Surabaya, akhir Mei lalu.

Syarif Hidayat adalah Panitera Muda Permohonan. Ia didaulat menjadi petugas meja informasi, bersama para panitera muda lainnya, termasuk 10 calon hakim yang magang di PA Kelas IA itu.
Maret lalu, di Jakarta, Syarif mengikuti lokakarya meja informasi. Sepulang dari lokakarya yang berlangsung empat hari itu, muncullah gagasan untuk melakukan pembenahan meja informasi di satuan kerjanya.

Pada mulanya, meja informasi PA Surabaya terletak di dekat pintu masuk hakim dan pegawai. Masyarakat pencari keadilan, yang berada di ruang pelayanan publik, tidak mudah menemukannya. Akibatnya, masyarakat yang menggunakan layanan meja informasi itu terbilang minim.
Syarif lantas mengusulkan ke pimpinan agar meja informasi digeser. Usul itu disetujui. Meski gayung telah bersambut, upaya memindah meja informasi tidak gampang. Gagasan menata ulang meja informasi yang muncul sejak Maret itu baru terealisasi pada awal Mei.
“Kami harus beli meja khusus. Kami juga memerlukan pintu geser untuk mengganti pintu sebelumnya,” kata Syarif.
Pintu yang ia maksud itu adalah pintu yang biasa dipakai para hakim dan pegawai keluar-masuk ruang pelayanan publik. Sebelumnya, pintu yang berada persis di belakang meja informasi itulah yang memisahkan area publik dan area hakim/pegawai.
Upaya memaksimalkan layanan meja informasi di PA Surabaya tidak hanya dilakukan dengan memindahkan lokasi meja informasi. “Kami juga tidak memfungsikan lagi layanan informasi di ruang pendaftaran perkara,” ujar Rasyid.

Sebelumnya, PA Surabaya memang punya dua fasilitas layanan informasi. Yang satu untuk memberikan informasi-informasi singkat seperti jadwal sidang, dan satunya lagi untuk memberikan informasi-informasi mendalam seperti prosedur berperkara dari pendaftaran hingga putusan.
Kini permohonan informasi dipusatkan di meja informasi. Dilengkapi dengan mesin pencarian data yang touch screen, komputer yang terhubung dengan SIADPA, serta berbagai papan informasi seperti panjar biaya perkara, meja informasi PA Surabaya kian maksimal dalam memberikan pelayanan.
“Setelah kami tata ulang, dampaknya memang luar biasa. Masyarakat yang terlayani meningkat tiga kali lipat. Dulu sehari bisa dihitung dengan jari, tapi sekarang puluhan orang yang dilayani,” kata Rasyid.

Selain memaksimalkan layanan meja informasi, PA Surabaya juga mengefektifkan pemberian informasi melalui hakim yang ditunjuk sebagai pejabat humas.
“Tempat yang dulu yang dipakai untuk layanan meja informasi itu sekarang dipakai oleh humas. Tugas humas adalah melayani permintaan informasi dari para wartawan,” tutur Rasyid.
***
PA Surabaya adalah PA yang sibuk. Tahun lalu, lebih dari 6000 perkara diterima PA yang terletak di kawasan Ketintang Madya ini. Hingga akhir Mei 2012, tercatat sudah 2048 perkara yang masuk. Ketika badilag.net berkunjung ke sana, lebih dari 80 perkara disidangkan dalam sehari. Dengan jumlah keseluruhan hakim, termasuk Ketua PA, yang hanya 12 orang, tak pelak PA Surabaya menjadi salah satu PA tersibuk di Indonesia.

“Wah, di sini untuk istirahat saja susah. Habis makan dan shalat dhuhur para hakim harus cepat-cepat ke ruang sidang lagi,” ujar Ketua PA Surabaya Sulhan, SH, M. Hum.
PA Surabaya juga PA yang sumpek. Untuk PA Kelas IA, gedung PA Surabaya terbilang sempit. Tiap hari kerja, ruang pelayanan publik atau biasa disebut sebagai area steril itu nyaris tidak mampu lagi menampung masyarakat pencari keadilan. Ruang tunggu dan ruang Posbakum selalu sesak.
Dengan kondisi demikian, PA Surabaya dituntut untuk memberikan pelayanan yang prima, termasuk dalam hal memberi pelayanan informasi.
“Masyarakat sangat terbantu dengan adanya meja informasi di sini,” ungkap Ketua PA Surabaya.
Selain dapat memudahkan masyarakat berperkara, meja informasi di PA Surabaya juga punya peran lain yang tidak kalah penting, yakni menjaga agar tidak ada komunikasi dan interaksi yang tidak proporsional antara aparat peradilan dan masyarakat pencari keadilan.

Sudah sejak lama, PA Surabaya berusaha keras untuk meminimalkan penyimpangan-penyimpangan. Itu dibuktikan dengan pemasangan poster-poster besar di berbagai sudut yang berisi himbauan untuk menghindari calo perkara. Pengaduan, baik melalui website maupun SMS, juga dibuka lebar-lebar.
PA Surabaya juga terkenal sebagai PA yang memelopori pemisahan pintu masuk hakim/pegawai dan pintu masuk masyarakat pencari keadilan. Bahkan kantin untuk aparat dan masyarakat pun disekat.
“Alhamdulillah, di sini tidak ada yang ‘macem-macem’,” Ketua PA Surabaya bercerita.
***
Basaruddin, SHI menggulung lengan kemejanya hingga ke sikut. Sesekali ia menyeka keringat yang merembes di keningnya. Meski ruang pelayanan itu sudah berpendingin, rupanya Basaruddin tak sanggup menahan gerah.
Siang itu, empat orang mengitari Basaruddin. Ada yang meminta penjelasan sekilas. Ada pula yang membutuhkan penjelasan lebih detail.

“Ini, Mas, mau tanya tentang perkara waris,” kata salah seorang di antara mereka.
Selaku petugas meja informasi, kewenangan Basaruddin terbatas. Ia hanya boleh memberi informasi soal prosedur berperkara atau riwayat perkara yang sedang berjalan.
“Soal waris ini saya tidak menjelaskan bagian-bagian ahli waris. Itu wewenangnya majelis hakim,” kata Basaruddin. “Saya hanya menjelaskan bagaimana cara mendaftarnya dan apa saja persyaratannnya.”
Bersama 9 calon hakim lainnya yang sedang magang di PA Surabaya, Basaruddin bergiliran menjadi penjaga gawang meja informasi. Kebetulan, untuk tahap sekarang, para calon hakim itu berkonsentrasi di bidang kepaniteraan.
“Omong-omong, capek nggak menjadi petugas meja informasi di sini?” tanya badilag.net.
“Wah, lumayan capek juga, Mas. Dari pagi nggak pernah berhenti. Ada saja yang minta dilayani. Tapi ya, kita nikmati saja. Namanya juga pelayan masyarakat.”
(hermansyah) | Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 18575 | 63 | | Rab. 22 | 15 | 0 | | Sel. 21 | 7 | 0 | | Sen. 20 | 22 | 0 | | Ming. 19 | 12 | 0 | | Sab. 18 | 9 | 0 | | Jum. 17 | 4 | 0 |
|
Comments
Kabar ini jadi pelajaran berharga. Dengan perkara banyak saja bisa ditata dan dikelola dengan baik, apalagi yang perkaranya sedikit. Semoga jadi pemicu semangat bagi yang lain. Selalu memikirkan pola pelayanan yang betul-betul bisa menghilangkan ‘kepenatan’ hati para pihak yang berurusan dengan pengadilan agama.
Semoga PA2 lain yang sudah mengikuti pelatihan serupa dapat melakukan perubahan yang perlu sesuai kondisi setempat.
Selamat kpd PA Surabaya yang terus mencoba 'mempercantik diri dan mawas diri.'
Kota kenangan, kota kenangan
Takkan terlupa
Di sanalah, di sanalah, di PA Surabaya
Ku ditempa dan bertaruh nyawa
Ku teringat masa yang telah lalu
Beribu perkara, beribu hari
Ku berpadu dan berjibaku.
PA Surabaya, oh PA Surabaya ku.
Yuk terus kita berbenah untuk maju.
Dan, sukses selalu
Kata-kata akhir yang cukup diapresiasi untuk seorang abdi negara, memang seharusnya begitu sikap seorang abdi negara "MELAYANI" bukan minta "DILAYANI". Kalau sikap para abdi negara sudah menyadari benar sebagai seorang "PELAYAN" masyarakat dan bukan seorang yang harus "DILAYANI", maka masyarakat Insya Alloh akan semakin respek kepada abdi negara. Selamat kepada PA Surabaya yang telah dapat menciptakan suasana kerja yang kondusif.
SEKALI LAGI BUKAN BERPERKARA TAPI BEPERKARA (sumber kamus besar bahasa indonesia dengan kata dasar perkara)
Ada ilmu dan masukan baru, kemudian dikomunikasikan dg baik selanjut nya terkoordinir dg sempurna, maka terja dilah perubahan yg signifikan sehingga masyarakat terpuaskan dg pelayanan yg diberikan. Oleh karena itu kuncinya terletak bagaimana seorang sopir bisa membawa kendaraannya dg baik dan bisa menerima saran dan masukan dari seluruh awak kendaraan yg terkait didalamnya.
Bagaimana dg PA yg lainnya bisakah seperti PA Surabaya? Jawabnya...."pasti kamu bisa"! Disitu ada kemauan dan disana ada jalan. Selamat unt PA Surabaya, semoga langkahmu diikuti oleh PA-PA lainnya. Amin!
ini baru namanya pelayanan prima, semua fasilitas tersedia dan petugasnyapun tetap tegar dengan wajah senantiasa senyum walaupun lelah selalu mengintai.....
Kepengen sih punya PA Seperti PA Surabaya, walaupun dengan keterbatasan, namun semangat tetap terpatri.....
sekali lagi SALUT BUAT PA SURABAYA....
smg menjadi Role Model bagi yg lainnya...
Trmksh kpd Badilag yg tlh menampilkan PA-PA. yg layak dijadikan contoh...
smg dpt memotivasi dan menjadi inspirasi bagi Peradilan Agama di persada Indonesia... Amiin.