|
KEUTAMAAN RAMADHAN PERSPEKTIF EoL
(Enforcment of Law)
Entah apalagi keluarbiasaan yang tersandingkan padanya (baca : pada bulan ramadhan) karena keutamaan dan diutamakan Sang Khaliq --- jelasnya hingga hari ini tak henti-hentinya berbagai macam kajian dari berbagai sudut disiplin ilmu dan para ilmuan, para shalihin, dan juga para pemikir hakikat mencoba memecahkan misteri Ramadhan begitu dimanjakannya oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Bahkan mulai dari penggelaran Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, bulan ampunan (maghfirah), bulan penuh rahmat, bulan kesabaran bahkan bulan saling berbagi (syahr al-muwasat) bahkan dari kajian Sigmund Freud hingga Muthahari ditemukan bahwa Ramadhan merupakan Madrasah Ruhani bagi seluruh manusia dan alam semesta (sekali lagi seluruh manusia dan alam semesta).
Ungkapan tersebut tidaklah berlebihan dan ataupun mungkin sebuah hiperbolik, tidak. Ini nyata!! kedahsyatan Ramadhan dan amalan yang bersentuhan dengannya benar-benar menjadi luar biasa. Salah satu indikatornya dapat kita lihat, bagaimana Tuhan kita menunjukan kepada manusia bahwa “Ramadhan bulan yang istimewa” yakni dari dengan tidak merasa cukupnya Allah memberitahukan kepada kita melalui ayat-ayat Al-Qur’an-Nya dan hadits-hadits Rasul-Nya atau dengan kauniyah-Nya saja, bahkan Allah pun memandang perlu mengeluarkan Qudsi-Nya. Oleh karena itu tepat juga, jika kita ungkapkan bahwa “tidak ada kata terlambat” untuk mencoba mengais berkah, maghfirah, rahmat dan karunia yang Allah taburkan hingga akhir masa Ramadhan.
Perspektif efektivitas hukum (enforcement of law) dari segi kesadaran masyarakat (hukum), terutama pada sisi terjadinya mutasi/regresi pola tindak pola laku masyarakat yang berkaitan dengan ajegnya hukum/aturan ditemukan realita yang fenomenal sekali, tatkala Islam mensyari’atkan/mengatur umat muslim (baca : manusia) tentang peribadatan puasa dan amaliyah-amaliyah lainnya di bulan Ramadhan. Syari’at Islam, diusianya yang ke-1310 ini masih begitu efektif dan begitu ampuh mengatur umat muslim hingga bahkan lebih ekstrem lagi syari’at Islam berhasil mendesain hidup dan kehidupan manusia sehingga terkondisikan dengan ritualitas Ramadhan yang diatur-Nya.
Bagaimana tidak! seluruh manusia di belahan dunia ini (tidak terkecuali non-muslim) telah terkondisikan atau paling tidak menyesuaikan dengan aktivitas-aktivitas peng-khidmatan bulan Ramadhan. Di Indonesia, sesaat setelah Menteri Agama RI mengumumkan Penetapan 1 Ramadhan di televisi, maka sejak itu pula seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia Indonesia berubah 180 derajat dari realitas sebelumnya. Tidak hanya aktivitas perkantoran yang memang sudah formil, Munculnya idiom-idiom khas Ramadhan, misal THR, mudik, bahkan dikehidupan masyarakat lainnya yang tidak formal pun mengalami perubahan. Misal di dunia entertainment (pertunjukan), perubahan performent/penampilan para pelakunya (artis/selebritis) begitu mencolok. Pra-Ramadhan kita sering melihat tampilan selebritis dan disuguhkan dengan tayangan televisi yang membikin kita elus-elus dada dan mengernyitkan dahi sambil menggelengkan kepala --- pertanda sungguh tidak berkenan di-catagoris imperatif dan norma kita. Namun sesaat setelah Ramadhan masuk, spontanitas seluruh tampilan seronok dan tayangan vulgar di televisi berubah/bermutasi menjadi sebuah sajian dan tampilan yang Islami, penuh dedikasi, basah dengan pesan religi dan bertabur hikmah.
Realitas tersebut menunjukan pada kita semua (baca : manusia modern), agar menjadi yakin bahwa itu merupakan salah satu dari sekian banyak hikmah dan keutamaan Ramadhan. Meski masih saja ada apologi kesombongan kita bahwa itu semua bukan merupakan pure kesadaran hukum masyarakat. Namun jika kita kembalikan pada plat-form pemikiran manusia modern yang harus objektif dan selaras dengan metode ilmiah. Fenomena ramadhan tersebut telah menunjukan bahwa syari’at Islam tentang ramadhan dan amaliyah didalamnya telah memenuhi matra-matra dari enforcement of law dan itu artinya Syari’at Islam telah beraku efektif dan sekaligus terejawantahkan bahwa eksistensi syari’at Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin. Berkah-berkah yang ditaburkan, hikmah-hikmah yang dipancarkan tidak hanya ternikmati oleh kaum muslimin saja tetapi seluruh umat manusia di dunia.
Akhirnya, mudah-mudahan itu semua dapat membuka pintu kesadaran kita dari hal-hal yang munkin kecil namun akan menambah kadar keyakinan kita sehingga pada gilirannya peribadatan kita pentakdiman kita pada Sang Khaliq tidak gamang. Sebagaimana semangat para pesuluk yang senantiasa tiada henti mencari-Nya hingga akhir masa yang disediakan dan “tak ada kata terlambat”. (Written by Roellyz Hakim)
» No Comments
There are no comments up to now.
» Post Comment
|