Senin, 20 Mei 2013 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!






Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG


SURAT EDARAN : Pendaftaran Calon Peserta Program Beasiswa S3 Sudan Tahun 2013 | (20/5) Laughing
SURAT EDARAN : Permintaan Persyaratan Biaya Mutasi Pindah Pejabat Kepaniteraan & Kejurusitaan PA | (10/5)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Kompetensi Panitera Pengganti PA (Angkatan II) Tahun 2013 | (8/5)
PENGUMUMAN : Ralat Pemanggilan Peserta Bimtek  Administrasi Angkatan III | (7/5)

PENGUMUMAN
: Input data Output Program 04 Ditjen Badilag T.A. 2012 Pada Aplikasi Monev Anggaran Kementrian Keuangan RI | (25/4)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Perkara Kasasi dan PK | (22/4)
PENGUMUMAN : Klarifikasi Akun Facebook "Purwo Susilo" | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I tahun Anggaran 2013 | (8/4)
PENGUMUMAN : Pelaporan Perkara Mediasi, Sidang Keliling dan Prodeo | (8/4)











Tambahkan ke Google Reader
Nani Zulminarni, Koordinator PEKKA yang Peduli Janda (15/12) PDF Cetak E-mail
Rabu, 15 Desember 2010 12:57

Nani Zulminarni, Koordinator Nasional PEKKA

Janda yang Peduli Nasib Janda

“Ibu seorang janda cerai? Jadi bagaimana mungkin ibu bisa jadi koordinator nasional program ini, kalau mengurus suami sendiri aja ibu tidak becus. Buktinya ibu dicerai oleh suami,” kalimat itu dilontarkan seorang Pak Kecik (Kepala Desa) kepada Nani Zuminarni pada suatu pertemuan Kelompok Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) di salah satu desa, di Kecamatan Idi Rayeuk, Nangroe Aceh Darussalam, beberapa tahun lalu.

Nani adalah Koordinator Nasional PEKKA. Pernyataan seperti itu, menurutnya, penuh penghinaan dan tentu saja menyakitkan. Dia menuangkannya dalam tulisan berjudul “Menjelajahi Sebuah Dunia Tanpa Suami”, dalam buku “Sebuah Dunia Tanpa Suami” yang diterbitkan Seknas PEKKA bekerja sama dengan Komnas Perempuan, enam tahun silam.

Awalnya Nani tidak percaya, masyarakat pada umumnya suka memandang rendah, hina dan cenderung menyalahkan perempuan yang menjadi janda karena perceraian. “Tapi statusku sebagai seorang janda dan pekerjaanku mengkoordinir sebuah program pemberdayaan untuk perempuan kepala keluarga yang sebagian besarnya adalah janda, membuktikan hal itu memang terjadi,” tuturnya.

Bagi sebagian orang, kata Nani, janda adalah aib. Berstatus janda berarti mempunyai kelemahan sebagai perempuan dan istri dalam sebuah perkawinan. Kebanyakan anggota masyarakat tidak mau mempedulikan faktor penyebab seorang perempuan menjanda. Masyarakat cenderung memberikan label buruk terhadap janda.

Karena itu, Nani tidak heran melihat banyaknya perempuan yang mati-matian mempertahankan rumah tangganya, meskipun kerap menjadi korban kekerasan suaminya, hanya karena mereka tidak sanggup menyandang status janda.

Menjadi janda, menurut Nani, penuh keserbasalahan. Sesama perempuan sering merasa terancam, karena mereka khawatir suaminya tergoda janda yang masih muda dan menarik. Sementara itu, para lelaki cenderung menganggap janda sebagai mahluk lemah yang kesepian, yang pantas untuk digoda atau dipermainkan. Bahkan, tandasnya, sebagian orang beranggapan bahwa janda adalah barang bekas yang bernilai rendah.

Dimulai sembilan tahun lalu

Nani mulai mengadvokasi janda pada tahun 2001 lalu. Saat itu, Sekjen Komnas Perempuan Kamala Chandra Kirana memintanya untuk menjadi koordinator sebuah upaya pendokumentasian  dan pemberdayaan janda di wilayah konflik. Kegiatan ini didanai pemerintah Jepang melalui hibah yang dikelola The World Bank, dan mekanisme proyeknya melalui pemerintah (Komnas Perempuan).

Mulanya Nani merasa keberatan. Dia membayangkan betapa rumitnya administrasi keuangan proyek ini. Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan terdapat perbedaan visi dan ideologi  antara pihaknya dengan World Bank dan pemerintah, dalam memperlakukan program untuk masyarakat miskin.

Tetapi akhirnya Nani merasa lega, karena bayangan itu tidak terbukti. Diakuinya, gagasan program ini sangat mengusik hati kecilnya, yaitu membantu pada janda miskin di wilayah konflik mengatasi kesulitan ekonomi dan trauma yang mereka alami, serta mendokumentasikan kehidupan mereka untuk berbagai upaya advokasi.

“Aku yang juga seorang janda dapat membayangkan dan merasakan beratnya hidup ang harus mereka lalui,” tulis Nani.

Istilah “Perempuan Kepala Keluarga” dia dapatkan ketika mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan perkawinan dan perceraian. “Perempuan Kepala Keluarga” sepadan dengan “Female Headed Household”. Istilah ini dipakai secara resmi dalam dokumen-dokumen PBB untuk menggambarkan posisi dan status janda di banyak negara.

Berbekal pengalaman di bidang pemberdayaan masyarakat miskin selama belasan tahun, Nani kemudian mengembangkan sebuah program yang lebih komprehensif dengan pendekatan yang lebih memberdayakan.

“Aku ingin orang melihat janda lebih pada kedudukan, peran dan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, bukan sebagai perempuan malang yang hina, tidak berdaya dan tidak berguna,” kata Nani.

Di tangan Nani, PEKKA lantas mengepakkan sayapnya. Progam PEKKA tak hanya menjangkau para janda, tetapi juga para perempuan lajang yang menanggung beban keluarga dan para istri yang suaminya cacat atau sakit permanen.

Akses terhadap keadilan

Menurut Nani, banyak orang yang tidak menyadari betapa banyaknya perempuan Indonesia yang menjadi janda dan berperan sebagai kepala keluarga. Mereka bekerja untuk menafkahi diri sendiri dan anak-anaknya yang ditinggalkan oleh suami.

Secara statistik, jumlah rumah tangga yang dikepalai seorang perempuan memang tidak terlalu jelas. Namun, berdasarkan data yang dimiliki Nani, pada tahun 2002 lalu sekitar 13 % rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan. Nani yakin, jumlah ini tiap tahun dapat meningkat, apalagi banyak perempuan yang sebetulnya berstatus tidak jelas: janda bukan, istripun bukan, karena ditinggalkan bertahun-tahun oleh suaminya. Di samping itu, angka perceraian tiap tahun menunjukkan peningkatan, sehingga besar kemungkinan, perempuan yang jadi kepala keluarga kian banyak.

Ironisnya, sebagian besar perempuan kepala keluarga yang diberdayakan PEKKA adalah masyarakat miskin. Pendapatan mereka jauh di bawah standar hidup layak. Dari segi pendidikan, kebanyakan mereka hanya tamatan SD, bahkan tidak sedikit yang buta aksara.

Hal ini berimbas pada akses terhadap keadilan (acces to justice). Sebagai contoh, untuk mengurus perceraian, mereka harus bersinggungan dengan masalah hukum, sedangkan mereka pada umumnya buta hukum. Untuk biaya berperkara, mereka juga tidak punya. Demikian juga biaya transportasi dari tempat tinggal ke pengadilan.

Menyadari kondisi itu, dalam beberapa tahun belakangan ini PEKKA kemudian melebarkan sayap kerjasamanya. Mahkamah Agung, khususnya Ditjen Badan Peradilan Agama, menjadi mitra kerja mereka.

Selama empat tahun terakhir PEKKA terlibat secara intens dalam melakukan penelitian mengenai akses terhadap keadilan bagi masyarakat miskin. Hasil penelitian itu lantas menjadi salah satu acuan dalam pengambilan kebijakan di MA. Ditingkatkannya jumlah dan anggaran perkara prodeo dan sidang keliling adalah buktinya.

Semua itu tak lepas dari peran Nani Zulminarni. Tetapi tentu saja dia dan organisasi yang dipimpinnya tak ingin berhenti di titik ini. Hingga kini, Nani dan PEKKA terus berupaya memberdayakan janda yang jadi kepala keluarga.

Dan mengenai dirinya sendiri yang berstatus janda dan kepala keluarga, Nani menulis: “Memang, tidak satupun perempuan di dunia ini yang bercita-cita menjadi janda. Tapi siapa pula yang sanggup menolak takdir, ketika maut memisahkan perempuan dari suaminya, atau perceraian dan perpisahan menjadi jalan darurat yang harus ditempuh?”

(hermansyah)

TanggalViewsComments
Total319317
Sen. 2080
Ming. 19100
Sab. 1860
Jum. 1730
Kam. 16120
Rab. 1580
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Masrinedi-PA.Painan 2010-12-15 13:12
Semoga ibu Nani Zulminarni, Koordinator Nasional PEKKA,Janda yang Peduli Nasib Janda tetap eksis konsiten di dalam mengomandani PEKKA sehingga nasib dan harkat PEKKA dapat ditingkatkan dan dihormati terutama hak-haknya para janda terlindungi dan statusnya jelas di tengah masyarakat bahwa tanggungjawab peran ganda dimainkannya, demi anak-anaknya walaupun tidak ada suami yang mendampingi. Amin !
Reply
 
 
# yakin karim PTA Babe 2010-12-15 14:28
Assalamualaikunnah, Ibu Nani Z, pejuang Pekka selamat perduli ibunda, perjuangannya seperti perjuangan para nabi khususnya Nabi Muhammad SAW, pelanjut sunnah dan risalahnya, jangan hawatir berjuang bersama kita lanjutkan pak ditjen badilag. Wassalam
Reply
 
 
# Lanka Asmar, S.HI 2010-12-15 14:36
Kiprah Ibu Nani Zulminarni patut dicontoh bagi perempuan di Indonesia. Semoga dengan adanaya PEKKA kiprah janda dan perempuan di Indonesia lebih terwadahi. (Hakim PA Balige)
Reply
 
 
# M.Tobri -PA kuningan 2010-12-15 14:38
sebagai diketahui bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan, korban perasaan, korban harta dan cita-cita, tapi insya Allah siapa yang kuat dia yang dapat. maju terus ibu Nani dalam memperjuangkan kemulian, cacian makian dari siapapun juga jangan dihiraukan, insya Allah simpatisan ibu banyak dan akan tambah banyak. jadilah pahlawan tak dikenal dan tanpa jasa.
Reply
 
 
# IskandarEko-PA.Slawi 2010-12-15 15:39
Sabar dan kerja keras serta bertawakkal, adalah kunci sukses, Bu Nani Z teruslah berjuang, karena tidak semua janda cerai itu jelek, tetapi banyak juga yang karena didzalimi suaminya, dan menolong orang yang didzalimi adalah perbuatan mulia
Reply
 
 
# Agus FS 2010-12-15 17:29
Salut buat ibu Nani, bagi saya, dalam beberapa kasus perceraian, yang aneh laki-laki (suami) kurang bertanggung jawab tetapi masih tetap mau kawin lagi cari isteri baru. Selamat terus berjuang, Nabi SAW telah mencontohkan untuk memperhatikan nasib para janda, bukan dengan mencibir atau merendahkannya.
Reply
 
 
# mudzakkir tebuireng 2010-12-16 07:07
Memang ibadah bukan melulu menjalankan rukun Islam, shaleh ritual belum tentu shaleh sosial,apa yang dilakukan Ibu Nani adalah contoh konkrit betapa lapangan beramal shaleh (sisial) begitu luasnya, saya sangat mengapreasi perjuangan Ibu, tapi satu hal untuk Ibu; tunjukkan ketegaran sehingga perjuangan Ibu tidak terkesan perjuangan (kumpulan) orang-orang cengang, sehingga publik akan membuka mata bahwa setiap masalah akan bisa diatasi dengan baik.
Reply
 
 
# M.Tobri -PA kuningan 2010-12-16 08:06
sebagai mana diketahui bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan, korban perasaan, korban harta dan cita-cita, tapi insya Allah siapa yang kuat dia yang dapat. maju terus ibu Nani dalam memperjuangkan kemulian, cacian makian dari siapapun juga jangan dihiraukan, insya Allah simpatisan ibu banyak dan akan tambah banyak. jadilah pahlawan tak dikenal dan tanpa tanda jasa
selamat berjuang selamat sampai tujuan.
Reply
 
 
# BADRU 2010-12-16 08:36
Tantangan dan dinamika hidup memang beragam dan memberi warna pada tiap iven kehidupan, namun upaya untuk kearah hidup yang lebih baik harus diupayakan, semoga mereka yg mengupayakan untuk kebaikan semua orang tetap semangat dan tanpa putus asa.
Reply
 
 
# endang m,pta mataram 2010-12-16 12:36
Sebuah kenyataan yg tak dpt dipungkiri, bhw seorang jandapun mampu menjadi kepala keluarga, bahkan mampu memimpin para janda lainnya dlm sebuah organisasi para janda. Dari kemampuannya itulah bu Nani berkiprah, dan bahkan bisa menjadi mitra Badilag dlm memberikan akses ke PA bagi masy kurang mampu dan terpinggirkan. Usaha seperti ini amat bermanfaat, oleh karenanya Allah akan memberikan jalan hidup yg baik baginya....., amiiiin.
Reply
 
 
# Bisman PA.Tjpt 2010-12-16 14:34
Saya menyampaikan salam dan salut buat buk Nani.Pekerjaan ibuk adalah pekerjaan mulia disisi Allah dan luar biasa karena tidak semua orang bisa melakukannya. Kami doakan, semoga perjuangan ibuk dalam memberdayakan kaum lemah, yaitu para janda selalu ditolong Allah dan mendapat pahala disiNya. Amin
Reply
 
 
# Rina 2010-12-17 08:22
Ibuk Nani Zuminarni sebagai ketua koordinator PEKKA yang telah memperjuangkan nasib-nasib perempuan menjadi korban dari pihak laki-laki.Setiap perjuangan itu butuh pengorban baik pengorbanan fisik, mental dan finansial, namun utk memperjuangkan sesuatu harus tetap tegar dan sabar dlm menghadapinya.Mudah2an kiprah ibuk dlm memperjuangkan nasib para perempuan dapat terus berlanjut dan menghilangkan imej masyarakat bahwa perempuan para janda itu bukan momok, kotor, lemah dan meresahkan masyarakat.Terima kasih atas peran aktif ibuk dalam memperjuangkan nasib para perempuan.
Reply
 
 
# Dalih Effendy PA Krw 2010-12-17 09:30
" GARA-GARA PEKKA "
Gara-gara Pekka akses keadilan bagi warga miskin makin terjamah. Gara-gara Pekka anggaran prodeo dan sidang keliling terus bertambah. Gara-gara Pekka nama Pengadilan Agama semakin dikenal masyarakat. Selamat berjuang bu Nani, meskipun pengurus Pekka banyak yang dapat jodoh lagi tetapi semangat untuk memperjuangan visi dan missi Pekka terus berlanjut.
Reply
 
 
# Drs. Ihsanbuana, MH 2010-12-17 10:46
Assalamu'alaikum .., terus berjuang bu Zulminarni, dan meskipun kiprah ibu sudah semakin meluas, wanita2 di Aceh hrs ttp mendpt perhatian ibu, karena banyak sekali wanita2 Aceh terutama di Aceh Timur, yang mendapat perlakuan semena-mena dari suami, dengan alasan istri harus patuh dengan suami shngga suami dg seenaknya memperlakukan perempuan, berpoligami semaunya dan menceraikan isteri dibawah tangan dg seenaknya ...
Reply
 
 
# Cece Rukmana Ibrahim 2010-12-17 14:58
Semoga kiprah ibu Nani mendapatkan suport dari semua elemen masyarakat dan terus kembangkan bu Nani....!
Reply
 
 
# Asyrof - PA Brebes 2010-12-20 05:59
Salut buat Ibu Nani dan PEKKA, semoga semakin banyak perempuan (khususnya yang menjadi korban KDRT) yang berani memperjuangkan harga dirinya. Semoga Pengadilan Agama juga terus berpihak kepada keadilan tanpa melupakan kesetaraan hak-hak hukum bagi kaum miskin. Selamat, Insya Allah selalu dan tambah sukses
Reply
 
 
# h,, abdullah berahim 2010-12-21 13:48
SAYA 100 PERSEN MENDUKUNG PERJUANGAN IBU NANI, SEORG JANDA YG PEDULI JANDA. BERBEDA HALNYA DG SEORG LAKI-LAKI YG PEDULI DG PARA JANDA, AKAN MEMUNCULKAN BANYAK HAMBATAN, BAIK SESAMA KAUM LELAKI MAUPUN DR KAUM PEREMPUAN. KALAULAH SEORG LAKI-LAKI YG PUNYA ISTRI PEDULI DG PARA JANDA, DIA AKAN MENDPT TANTANGAN PERTAMA DR ISTRINYA SENDIRI. KALAULAH LAKI-LAKI ITU DUDA PEDULI JANDA, DIA AKAN TANTANGAN DR SEBAGIAN JANDA LAINNYA, SBB DIANTARA PARA JANDA ITU ADA DUGAAN BERSAING UTK MENDPTKAN SI DUDA. DI SANA-SINI KEMUNGKINAN MUNCUL ISSU FITNAH. MUNGKIN TANTANGAN LAINNYA DATANG DARI SESAMA LAKI-LAKI, KRN SI DUDA DIANGGAP TDK ADA KERJAAN LAIN, JADINYA NGURUSIN JANDA-JANDA. ISSU2 NEGATIF LAINNYA JG MUNGKIN AKAN MUNCUL. MEMANG IBU NANI LAH YG MENURUT SAYA LBH LAYAK DAN PANTAS, BAHKAN YG SEHARUSNYALAH YG MENJADI PENGURUS PEKKA. SAYA DOAKAN BU NANI, SEMOGA SUKSES DAN ALLAH SELALU MENUNJUKKAN JLN TERBAIK BUAT BU NANI. SMG IBU NANI DIBERIKAN KEKUATAN IMAN, KEKUATAN FISIK DAN MENTAL UTK PERJUANGAN SUCI.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1087 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS