Pemimpin yang ‘Jaim’
*
Ada kawan karib saya menelpon, usul agar di Pojok Pak Dirjen yang akan datang saya bercerita tentang kepemimpinan. “Selama ini Pak Dirjen belum pernah menulis tentang kepemimpinan,” kata kawan yang nampak selalu menyantap Pojok Pak Dirjen ini.
“Lhaa.., yang selama ini saya tulis kan hampir semuanya berkaitan dengan kepemimpinan?” jawab saya.
“Iya, tapi tidak terlalu fokus berkaitan dengan apa yang harus dan apa yang jangan dilakukan oleh seorang pemimpin. Ketua PA, misalnya,” kata kawan saya ini memberi contoh, walau tidak detail.
“Iya deh, kalau gitu, akan saya coba. Terima kasih,” kata saya, mengakhiri obrolan tentang usulannya itu.
Di Bandara Cengkareng saya ada waktu sekitar 1 jam menungggu keberangkatan pesawat yang akan membawa saya ke Surabaya, Rabu (30/5) sore. Di Lounge BNI Cengkareng, tempat biasa saya menunggu keberangkatan, saya buka laptop, mikir-mikir apa yang harus saya tulis tentang kepemimpinan untuk dimuat pada Pojok Pak Dirjen yang akan datang ini, sesuai usul kawan saya tadi.
Rasanya saya sudah sering bercerita tentang sifat-sifat pemimpin yang harus dimiliki oleh pimpinan peradilan agama. Saya pernah menulis bahwa peran pemimpin sangat menentukan dalam pencapaian suatu organisasi, pemimpin merupakan “driver”, dan sebagainya.
Saya juga pernah mengemukakan gaya kepemimpinan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantoro: Pemimpin itu harus menjadi teladan bila berada di depan, harus menjadi motor penggerak dan juga harus menjadi pendorong bagi orang-orang yang dipimpinnya. Tanri Abeng mengistilahkannya dengan leading, inspiring dan motivating. Bahkan saya juga pernah menyinggung tentang care (perhatian) dan wisdom (kearifan) yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
Benar juga, kata kawan saya itu. Yang paling penting kepemimpinan itu bukan teoretis, tapi harus dipraktikkan. Makanya, ia minta contoh-contoh konkrit sesuai dengan praktik kita di kantor masing-masing.
**
Saya jadi teringat cerita seorang kawan dekat lainnya. Pemimpin kantor di tempat ia bekerja sangatlah ‘jaim’. Pemimpin itu, menurutnya, tidak disenangi oleh hampir seluruh bawahannya. “Lho, kan jaim itu ‘jaga imej’. Jadi, bagus dong, selalu menjaga citra,” canda saya.
“Enggak lah, ‘jaim’ itu memang singkatan dari jaga imej, tapi konotasinya negatif bahkan menyebalkan,” jawab dia.
Kawan itu lalu mengurai satu persatu sifat ‘jaim’ bosnya itu. Sang Bos jarang senyum, raut mukanya selalu ’serem’ dan mudah marah. Kalaupun menyapa staf, hanyalah ala kadarnya, tidak pernah hangat apalagi ramah. “Mungkin biar nampak wibawa kali,” kata kawan itu.
Sang Bos juga hampir tidak pernah datang ke ruangan dan meja-meja bawahannya. Kalaupun ada perintah untuk para staf, selalu memanggil wakilnya atau sekretarisnya. Dia selalu bekerja sendiri di kamarnya atau mengendalikan kantornya hanya dari mejanya.
Para staf atau pejabat struktural lainnya jika ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, tidak boleh langsung, harus melalui hirarki pemimpin yang ada di kantornya. Tidak pernah ada rapat yang melibatkan para pejabat struktural tingkat bawah, apalagi dengan staf. Kalaupun ada rapat, hanyalah melibatkan pejabat-pejabat terasnya saja. Urusan pekerjaan staf atau hal-hal lain yang berkaitan dengan staf, diserahkan kepada para pejabat atasan langsungnya masing-masing.
Kalaupun ada pertemuan dengan seluruh tingkatan pejabat dan staf, Sang Bos ini hampir selalu dalam rangka memberikan perintah penting yang harus segera dilaksanakan. Kalau perintahnya tidak dilaksanakan, Sang Bos sering mengancam macam-macam, seperti akan menurunkan nilai DP3 bawahannya atau mengusulkan mutasi, dan lain-lain.
Simpulnya, Sang Bos ini sangatlah galak terhadap bawahannya. Tapi, kalau kepada atasannya, sang Bos sangatlah ramah, murah senyum bahkan sangat menunduk-nunduk, saking sopannya.
Kepemimpinan Sang Bos ini sangatlah ala kadarnya dan sangat formal. Pekerjaan di kantorpun dibiarkan berjalan apa adanya. Tidak ada greget, apalagi inovasi. Pelaksanaan tugas rutin berjalan tergantung kepada para pembantunya.
Pelaksanaan tugas pokok berjalan tanpa kontrol pucuk pimpinan. Administrasi kantor ditangani atas inisiatif sekretarisnya. Pemanfaatan Teknologi Informasi tergantung kepada para adminnya.
“Pokoknya, sama sekali tidak tampak adanya peran dari Sang Bos. Bahkan ada kesan, Sang Bos tidak begitu menguasai tentang masalah teknis, apalagi yang nonteknis, seperti administrasi keuangan, aset dan TI,” kata kawan itu.
“Pantesan, mungkin karena itu ia bersikap ‘jaim’,” pikir saya.
***
Saya mengharapkan kepada seluruh pemimpin di lingkungan peradilan agama agar menghindari sikap-sikap seperti kisah nyata di atas. Sikap ‘jaim’ yang diartikan seperti itu sangatlah tidak pantas dimiliki seorang pemimpin.
Seorang pemimpin haruslah ramah, mudah senyum, hangat, akrab dan tidak membeda-bedakan staf. Kalaupun harus membeda-bedakan, itu karena berkaitan dengan pekerjaan masing-masing staf yang berbeda. Dalam berkomunikasi dan bersikap, seorang pemimpin haruslah memperlakukan sama terhadap semua bawahan.
Perhatian dari seorang pemimpin terhadap bawahannya sangatlah mutlak. Perhatian itu akan menjadi motivasi dan apresiasi bagi bawahan. Perhatian pemimpin, apalagi sapaan dan pujian terhadap apa yang telah bawahan kerjakan, akan menjadi nilai yang sangat berharga bagi bawahan.
Dengan bersikap seperti itu, ditambah keteladanan, seorang pemimpin akan dicintai bawahannya. Kalau ini terjadi, maka sudah pasti pekerjaan di kantor akan berjalan lancar dan suasana kerjapun akan nyaman dan menyenangkan.
Kewibawaan seorang pemimpin bukan karena ke-’jaim’-annya. Justeru dengan sikap yang ramah dan teladan namun juga tegas, seorang pemimpin akan disegani dan dihormati para bawahannya.
Pemimpin juga sebaiknya tidak bekerja apa adanya. Saya sering berkata dalam berbagai kesempatan: Jangan hanya seperti air mengalir, tapi harus ada greget. Pemimpin juga harus mampu menjadi teladan, menginspirasi dan memotivasi.
Saya yakin pekerjaan di semua pengadilan agama sangatlah banyak, apalagi pada PA-PA yang perkaranya sangat banyak. Namun beban kerja yang banyak ini jangan menjadikan para pemimpinnya terlena atau terbebani oleh tugas-tugas yang berhubungan dengan keperkaraan saja. Hal-hal yang berkaitan dengan non-keperkaraan juga menjadi kewajiban pemimpin untuk memperhatikan dan mengontrolnya.
Saya salut dan mengapresiasi para pemimpin pada PA-PA yang perkaranya banyak, namun masih memperhatikan dengan baik pelaksanaan program Reformasi Birokrasi (RB). Bahkan di banyak tempat, justeru PA-PA itulah yang menjadi teladan dalam pelaksanaan program RB itu. Saya tahu persis mana saja PA-PA tersebut.
Saya juga mengajak kepada pemimpin PA-PA yang belum begitu memperhatikan program RB, mungkin karena beban kerja yang tinggi atau karena memang kurang perhatian, ayo kita kembangkan kepemimpinan dan kreativitas kita dengan penuh semangat untuk meningkatkan pelaksanaan program RB di tempat tugas kita masing-masing.
Saya juga menekankan bahwa pelaksanaan RB itu adalah tanggung jawab kita semua. Meski demikian, pemimpin adalah orang yang paling bertanggung jawab. Oleh karena itu pemimpin harus care terhadap perubabahan pola pikir dan budaya kerja yang terjadi di pengadilan masing-masing.
Pemimpin juga harus memonitor agar penanganan perkara dan administrasinya, pelaksanaan pelayanan publik dan meja informasi, pelaksanaan program ‘justice for the poor’, pengembangan TI serta keharmonisan dan integritas seluruh hakim dan karyawan, selalu terpelihara dan berjalan dengan baik.
Dalam hal-hal yang strategis, seperti menjaga integritas, meningkatkan kualitas SDM, memanfaatkan TI dan melaksanakan pelayanan publik, seorang pemimpin harus terjun langsung memberikan arahan-arahan dan memantau perkembangannya.
Oleh karena itu, yuk kita kembangkan diri kita dan staf kita masing-masing untuk mengubah pola pikir ke arah yang positif dan mengembangkan budaya kerja yang efektif dan efisien.
****
Saya yakin, kalau kita sudah bertekad dengan niat yang ikhlas dan kerja keras, pemimpin yang ‘jaim’ di lingkungan kita tidak akan kita temui.
Sayapun yakin bahwa pemimpin yang ‘jaim’ yang diceritakan oleh kawan akrab saya tadi itu bukanlah berada di lingkungan peradilan. Saya merasa para pemimpin di lingkungan peradilan agama kini semakin terbuka, kreatif, inovatif dan menjunjung akhlaqul karimah.
Kini, secara umum, kita sering mendapat apresiasi dari berbagai pihak, dari dalam dan luar negeri. Kitapun merasa bahwa peradilan agama kini telah banyak mencapai kemajuan, walaupun masih perlu terus kita tingkatkan. Saya merasa pula, semua ini adalah karena peran para pemimpin pengadilan di lingkungan peradilan agama dalam menggerakkan hakim dan stafnya masing-masing.
Semoga hal-hal positif yang ada pada diri kita dapat terus kita pertahankan dan tingkatkan. Sebaliknya, sifat-sifat ‘jaim’ dan apatis dapat kita hilangkan. (WW). | Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 24185 | 136 | | Rab. 22 | 4 | 0 | | Sel. 21 | 3 | 0 | | Sen. 20 | 7 | 0 | | Ming. 19 | 23 | 0 | | Sab. 18 | 8 | 0 | | Jum. 17 | 5 | 0 |
|
Comments
Karena dengan keadilan seorang Pemimpin akan terciptalah HARMONISASI /TAWAZUNITAS (KESEIMBANGAN) KEHIDUPAN. Dengan sikap Adil yang dilakoni pemimpin semuanya (Yang Dipimpinnya) akan mendapatkan Hak secara PROPORSIONAL yang pada gilirannya menciptakan Keharmonisan dan keseimbangan Organisasi dan lingkungannya.
Maka Pantaslah Pemimpin Yang Adil Kelompok Manusia Pertama yang mendapat Naungan Allah Nantinya. Semoga kita Allah berikan kesempatan menjadi Pemimpin yang adil minimal bagi diri sendiri sehingga tercipta Harmonisasi Kehidupan Pribadi, keluarga, masyarakat dan Alam semesta. Amin !
Dan tidak kalah penting bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus diawali dengan menjadi anak buah yang baik. Terimakasih Pak Dirjen.
Kita sepakat bahwa masih banyak para pemimpin PA yang dapat menjadi uswatun hasanah bagi bawahannya dan tidak menjadi 'penjilat' ke atasannya. Buktinya PA terus terdepan dalam mengukir prestasi tingkat nasional.
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada para pemimpin PA sehingga PA yang Agung akan terwujud di bumi Indonesia!!!
Semar dengan jiwa pengasuh, dimaknai sebagai melayani umat, tanpa pamrih, melaksanakan ibadah amaliyah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap ke atas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya, ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas Allah Yang Maha Pengasih serta Penyayang”. Adakah kita juga sudah memahami dan meniru karakter kepemimpinan Semar...? Yuk kita renungkan...!!!
Semoga tulisan pak Dirjen menjadi spirit, pendorong bagi pimpinan yang masih 'jaim', agar kemudian lebih terbuka dan terus berkarya. Tidak ada lagi pimpinan yg acuh tak acuh. Karena di era IT ini, perubahan cepat sekali berubah. Jika tidak cepat tanggap, maka ketertinggalan yg akan menanti...
Transformatif Leaders, pemimpin yang transformatif inilah yang dibutuhkan saat ini. Kepemimpinan yang transformasional akan membawa kepada perubahan , baik pola pikir, cara kerja dan capaian kinerja yang lebih rasional ( objektif ),terbuka ( transparans ) , bervisi misi ke depan ( visioner ), terstandard( kredibel ) dan profeional ( Skils )dan bisa dipertanggungjawabkan ( akuntabel ),mempunyai management skils yang baik dan mampu menjadi teladan ( uswatun khasanah ) serta mampu merubah tantangan jadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, dan berdayasaing tinggi kompetent. Jauh dari ahlakul madzmumah dan hanya mementingkan kepentingan didi sendiri ( Transaksional ).
Pemimpin demikian harus dilatih, dididik dan dilahirkan dari kader-kader yang potensial. Semoga ke depan akan lahir Pemimpin yang tidak " Jaim " dan berekarakter sebagaimana telah dicontohkan pak Dirjen. Amin.
Namun demikian masih banyak didapati pemimpin yang inovatif paham tugas dan familier antara lain sosok sederhana Dirjen Badilag. Type Kepemimpinan yang low profile jarang dimiliki oleh pemimpin padahal dari ungkapan tulisan, ungkapan lisan dan prilaku pak Dirjen patut dicontoh. Jadi jangan Jaim untuk menutup kelemahan tapi jaim untuk hal positif seperti wibawa dan kharismatik yang muncul dengan sendirinya dari inner beauty yang dimiliki.
Dan selain itu perlu pula diingat Sabda Rasulullah saw : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ وَاعِيَّتِهِ “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.
siddiq, tablig, amanah dan fatonah harus diperaktekkan oleh peminpin PA, jika tidak maka jadilah dia peminpin "jaim" terima kasih pak dirjen semoga peminpin jaim bisa merasa dan segera ber-ubah (tidak Jaim lagi)
1. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat
bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
2. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan
kepentingan institusi.
3. Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
4. Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan
kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi
daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
5. Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
7. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Reply
Syukron wal'afwu minnaa.
Lebih dari itu kesuksesan seorang peminpin adalah bila peminpin itu memiliki jiwa yang bijak karena hanya dengan sifat bijak seorang peminpin tidak langsung menghukum bawahannya yang salah, melainkan membinanya dengan cara yang bijak sebaliknya seorang peminpin yang bijak tidak akan pernah mengabaikan prestasi bawahannya tanpa penghargaan yang wajar.
Semoga pinpinan di lingkungan Peradilan Agama dapat mencontoh kepeminpinan pak dirjen yang enerjik inovatip dan bijak. Aaamin.
Ini tipe pemimpin muslim yang ideal. Nabi dalam kesehariannya elegan, tidak mau disobyo-sobyo (dielu-elukan) dan tidak ingin berpenampilan beda atau lebih dari sahabat-sahabatnya. Memanggil temannya dengan panggilan "sahabat" walupun beliau adalah utusan Allah. Nabi juga bekerja untuk kepentingan bersama saat nabi bersama sahabat-sahabatnya.
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ
Artinya, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta pemimpin yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian.
Sedangkan seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta pemimpin yang kalian kutuk (laknat) dan mereka mengutuk (melaknat) kalian”.
terus terkait dg fit and proper test, perlu juga didalami integritas calon-calon ketua, tidak sekedar penguasaan hukum acara atau manajemen, tapi soal moralitas, akhlaq itu jauh lebih penting. selama ini sering jadi sumber masalah dikantor adalah pembagian kue yg tidak adil. maka diperlukan pemimpin yg bermoral, bukan 'gila harta' dan aji mumpung berkuasa lalu sebanyak-banyaknya memperkaya diri. demikian. mohon maaf
Ketua PA tidak boleh marah bila diingatkan atau dikritik oleh anak buahnya, meskipun oleh pegawai terendah dikantor. Ketua harus legowo atau lapang dada menerima kritikan bila ternyata kritikan itu benar adanya. Tidak jamannya, ketua marah-marah bila dikritik dan malah memutasikan pegawai yang mengkritik tadi karena dianggap mengganggu.
Ketua harus bangga dan senang ada pegawai yang berani menegor, mengkritik sebab itu tandanya pegawai tadi sayang kepada Ketua yang tidak ingin Ketua tenggelam dalam kesalahan dan pada akhirnya menanggung akibat dari kesalahan tadi.
Ketua harus berhati-hati mengambil kebijakan dikantor jangan sampai menyakiti atau mendholimi anak buahnya. Jangan karena berkuasa lalu seenaknya saja menggunakan kekuasaan. Sebab, doanya orang-orang yang terdholimi itu mustajab (pasti dikabulkan Allah). Jangan sampai karena kesalnya anak buah akibat didholimi lalu mendoakan celaka kepada Ketuanya. Na'udzu billahi min dzalika
Tidak mgkn Pimpinan menguasai semuanya, krn mmg tdk ada manusia yg sempurna di dunia ini...
Jika ada Pimpinan yg Jaim, itu hanya karaktek, Hakim dan Pansek pun banyak yg Jaim....
Jgn seperti pimpinan kami yang sangat tidak bisa memberi kepercayaan kpd bawahannya,hanya percaya pada mantan anak buahnya dari pa sebelumnya.
selain itu beliau juga yg notabene seorang hakim yg harusnya mampu menilai suatu permasalahan dari beberapa sudut pandang yg akhirnya baru menarik kesimpulan tp nyatanya beliau hanya nge-judge seseorang dr omongan org lain tanpa menelaah terlebih dahulu, APAKAH ITU JIWA SEORANG PIMPINAN YG JG HAKIM?
Apakah bijak seorang pimpinan menegur bawahan scr berulang-ulang dg emosi dlm forum rapat karyawan dg bahasa kebun binatang?
Ini memang kadang ditemui pimpinan yg bersikap demikian. Kalau "aku tdk bersikap demikian aku tidak berwibawa". Padahal jika bersikap demikian justru akan kontra produktif, jadi bahan ejekan dan cemoohan oleh bawahannya. Namun memang kadang sikap jaim tsb digunakan unt menutupi kelemahannya.
Jadi sebenarnya sikap yg baik dan berwibawa itu dpt dimunculkan dg pola kepemimpinan yg dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, ing madya mangunkarso tutwuri handayani, lebih-lebih jika tutwuri hambayari, tentu akan disenangi oleh siapapun. Didepan bisa jadi contoh, ditengah bisa melindungi dibelakang bisa memotivasi bahkan selalu siap berkorban (financial) unt kemajuan, kesuksesan dan kebersamaan. Semoga pimpinan dijajaran peradilan agama bisa bersikap demikian. Amin.
Harapan pak Dirjen adalah harapan kita semua pemimpin harus membumi, menjadi teladan , sehingga dapat menjadi motivator utk kita para anak buah. Memimpin berarti kita harus rela menanggalkan beban keegoisan kita dan memahami aspirasi bawahan, dengan cara dan tujuan tercapainya program kerja kita. So Memimpinlah seperti Rasulullah ,jadilah pemimpin yang memimpin dengan hati dan keteladanan
Yang jelas menjadi pemimpin itu tidak gampang. Kalau ada yang bilang sebaliknya, patut diajak diskusi: dari segi mananya gampang? Kalau dari segi tanggung jawab (dunia-akhirat), jelas bukan lagi SULIT, tapi sangat MENGERIKAN.
maka peletakan label ja'im pada sesosok tidak bisa digeneralisir, karena sifatnya yang subyektif, tergantung siapa yang memandang dan siapa yang menyebarkan pandangan itu dalam wacana;
maka saya kira kurang pantaslah kita membiasakan kata ja'im.
ada sifat tercela lain yang lebih dapat dijelaskan seperti sombong, pemarah, pemurung, dll. ini lebih akurat;
jangan sampai demi sebuah kebaikan untuk kemajuan, kita mengambil modal yang kurang baik, dgn membudayakan label jaim;
ada porsi tersendiri terhadap sebuah masalah, yang jelas, substansinya, adalah pengkaderan SDM yang lebih baik baik melalui diklat, seminar dll, tentang kepemimpinan dan akhlaq hasanah.
Alhamdulillah pemimpin di tempat saya bertugas tidak jaim beliau sangat memperhatikan anak buahnya seperti yang disampaikan pak Dirjen "Perhatian dari seorang pemimpin terhadap bawahannya sangatlah mutlak. Perhatian itu akan menjadi motivasi dan apresiasi bagi bawahan. Perhatian pemimpin, apalagi sapaan dan pujian terhadap apa yang telah bawahan kerjakan, akan menjadi nilai yang sangat berharga bagi bawahan."
semoga Pemimpin-pemimpin di Pengadilan Agama bisa berjiwa besar seperti yang disampaikan oleh pak Dirjen......semoga saja
Orang yang selalu jaim seperti yang diceritakan pak Dirjen berarti memaksakan diri agar dia dinilai berwibawa. Memaksakan diri agar orang segan kepadanya. Rasa takut, segan dari anak buah yang timbul atas sikap jaim seperti itu bukan timbul secara alami tapi timbul dalam makna memaksakan diri, yang hasilnya akan berdampak negatif dari anak buah. Di hadapan kita anak buah manggut2 tapi di belakang kita anak buah mencibir.
Oleh karena itu sifat kepemimpinan yang jaim tidak perlu dikembangkan dan diterapkan. Terima kasih Pak Dirjen. Nasehat Bapak, Petuah Bapak adalah pelita bagi kami.
If you have the desire and willpower,
you can become an effective leader.
Good leaders develop through
a never ending process of self-study,
education, training, and experience..., Setuju Pak Dirjen, yang telah menjabarkan karakter seorang pemimpin yang baik...
Saya dekat dengan besan saya di Tanjungkarang dan keponakan saya yg jadi polwan, sarjana psichologidi polda lampung dimana setiap polisi di polres wil lpg yg akan pegang senpi(senjata api) hrs berurusan dng dia, saya bisa mencari keluarga yg 30 th lebih tidak ketemu, saya sempat dikunjungi adik asuh saya dulu di PHIN Yogya bernama Dr Edy Pratomo M.A.yg sekarang menjadi Duta Besar Indonesia di Jerman,saya dulu menjadi walinya dlm urusan sekolah karena ayahnya telah meninggal, dia seorang yatim yang bernasib baik dari sekolah PGA,PHIN bisa jadi Dubes dulu kantornya berseberangan dengan kantor p dirjen di depag, waktu dia di pejambon.
Ketika ia pulang dan tahu saya di metro ia menyempatkan diri mengunjungi saya,saya juga dpt membantu informasi anak teman2 metro yg akan berangkat training di perush siemen ke Jerman.
Motivasi dan innovasi dari P dirjen apapun senantiasa dpt saya baca setiap saat dan pikiran saya dpt lebih terbuka dan berwawasan luas.Terima kasih p dirjen.
semoga para tulisan tersebut dapat menyadarkan para Pemimpin-pemimpin Peradilan.