Sabtu, 19 April 2014 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 5 | (17/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Diklat Hakim Ekonomi Syari'ah Tahun 2014 | (16/4)
PENGUMUMAN : Ralat Perubahan Tempat Kegiatan Bimbingan Teknis Administrasi Peradilan Agama Angkatan II tahun 2014 | (15/04)
PENGUMUMAN : Permohonan Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun 2014|(14/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Administrasi Peradilan Agama Angkatan II | (11/4)

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Pelatihan Pemantapan Kode Etik dan Perilaku Hakim Dari Komisi Yudisial | (11/4)
PENGUMUMAN : Format BAS dan Putusan | (8/4)

PENGUMUMAN : Hasil Rapat Pimpinan dan TPM Mahkamah Agung RI | (8/4)
PENGUMUMAN : Penulisan Nama, NIP dan Tempat/Tanggal Lahir dalam Aplikasi SIMPEG Online | (1/4)
PENGUMUMAN : Optimalisasi Aplikasi SIADPTA Plus | (27/3)

PENGUMUMAN : Verifikasi dan Validasi Data Kepegawaian 2014 | (21/03)
VIDEO : Kuliah Berseri Peradilan Agama -- Seri 4 | (21/03)
PENGUMUMAN : Usulan Rencana Kinerja Tahunan DIPA 04 Ditjen Badilag | (21/03)
VIDEO: Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 3 | (17/3)
PENGUMUMAN :
Pemanggilan Peserta Sosialisasi Hukum Acara Ekonomi Syariah (KHAES) | (17/3)
PENGUMUMAN : Pembaharuan Data SDM Berbahasa Asing | (17/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Workshop Bagi Hakim Pengadilan Agama | (14/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Peningkatan Tenaga Teknis Pemberkasan Perkara Kasasi/PK di Bandar Lampung | (14/3)
SURAT EDARAN : Pemberitahuan (PENIPUAN) | (14/3)




Tambahkan ke Google Reader
Pemimpin yang ‘Jaim’ (4/6) PDF Cetak E-mail
Senin, 04 Juni 2012 11:26

Pemimpin yang ‘Jaim’

*

Ada kawan karib saya menelpon, usul agar di Pojok Pak Dirjen yang akan datang saya bercerita tentang kepemimpinan. “Selama ini Pak Dirjen belum pernah menulis tentang kepemimpinan,” kata kawan yang nampak selalu menyantap Pojok Pak Dirjen ini. “Lhaa.., yang selama ini saya tulis kan hampir semuanya berkaitan dengan kepemimpinan?” jawab saya.

“Iya, tapi tidak terlalu fokus berkaitan dengan apa yang harus dan apa yang jangan dilakukan oleh seorang pemimpin. Ketua PA, misalnya,” kata kawan saya ini memberi contoh, walau tidak detail.

“Iya deh, kalau gitu, akan saya coba. Terima kasih,” kata saya, mengakhiri obrolan tentang usulannya itu.

Di Bandara Cengkareng saya ada waktu sekitar 1 jam menungggu keberangkatan pesawat yang akan membawa saya ke Surabaya, Rabu (30/5) sore. Di Lounge BNI Cengkareng, tempat biasa saya menunggu keberangkatan, saya buka laptop, mikir-mikir apa yang harus saya tulis tentang kepemimpinan untuk dimuat pada Pojok Pak Dirjen yang akan datang ini, sesuai usul kawan saya tadi.

Rasanya saya sudah sering bercerita tentang sifat-sifat pemimpin yang harus dimiliki oleh pimpinan peradilan agama. Saya pernah menulis bahwa peran pemimpin sangat menentukan dalam pencapaian suatu organisasi, pemimpin merupakan “driver”, dan sebagainya.

Saya juga pernah mengemukakan gaya kepemimpinan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantoro: Pemimpin itu harus menjadi teladan bila berada di depan, harus menjadi motor penggerak dan juga harus menjadi  pendorong  bagi orang-orang yang dipimpinnya. Tanri Abeng mengistilahkannya dengan leading, inspiring dan motivating. Bahkan saya juga pernah menyinggung tentang care (perhatian) dan wisdom (kearifan) yang  mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Benar juga, kata kawan saya itu. Yang paling penting kepemimpinan itu bukan teoretis, tapi harus dipraktikkan. Makanya, ia minta contoh-contoh konkrit sesuai dengan praktik kita di kantor masing-masing.

**

Saya jadi teringat cerita seorang kawan dekat lainnya. Pemimpin kantor di tempat ia bekerja sangatlah ‘jaim’. Pemimpin itu, menurutnya, tidak disenangi oleh hampir seluruh bawahannya.  “Lho, kan jaim itu ‘jaga imej’. Jadi, bagus dong, selalu menjaga citra,” canda saya.

“Enggak lah, ‘jaim’ itu memang singkatan dari jaga imej, tapi konotasinya negatif bahkan menyebalkan,” jawab dia.

Kawan itu lalu mengurai satu persatu sifat ‘jaim’ bosnya itu. Sang Bos jarang senyum, raut mukanya selalu ’serem’ dan mudah marah. Kalaupun menyapa staf, hanyalah ala kadarnya, tidak pernah hangat apalagi ramah. “Mungkin biar nampak wibawa kali,” kata kawan itu.

Sang Bos juga hampir tidak pernah datang ke ruangan dan meja-meja bawahannya. Kalaupun ada perintah untuk para staf, selalu memanggil wakilnya atau sekretarisnya. Dia selalu bekerja sendiri di kamarnya atau mengendalikan kantornya hanya dari mejanya.

Para staf atau pejabat struktural lainnya jika ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, tidak boleh langsung, harus melalui hirarki pemimpin yang ada di kantornya. Tidak pernah ada rapat yang melibatkan para pejabat struktural tingkat bawah, apalagi dengan staf. Kalaupun ada rapat, hanyalah melibatkan pejabat-pejabat terasnya saja. Urusan pekerjaan staf atau hal-hal lain yang berkaitan dengan staf, diserahkan kepada para pejabat atasan langsungnya masing-masing.

Kalaupun ada pertemuan dengan seluruh tingkatan pejabat dan staf, Sang Bos ini hampir selalu dalam rangka memberikan perintah penting yang harus segera dilaksanakan. Kalau perintahnya tidak dilaksanakan, Sang Bos sering mengancam macam-macam, seperti akan menurunkan nilai DP3 bawahannya atau mengusulkan mutasi, dan lain-lain.

Simpulnya, Sang Bos ini sangatlah galak terhadap bawahannya. Tapi,  kalau kepada atasannya, sang Bos sangatlah ramah, murah senyum bahkan sangat menunduk-nunduk, saking sopannya.

Kepemimpinan Sang Bos ini sangatlah ala kadarnya dan sangat formal. Pekerjaan di kantorpun dibiarkan berjalan apa adanya. Tidak ada greget, apalagi inovasi.  Pelaksanaan tugas rutin berjalan tergantung kepada para pembantunya.

Pelaksanaan tugas pokok berjalan tanpa kontrol pucuk pimpinan. Administrasi kantor ditangani atas inisiatif sekretarisnya. Pemanfaatan Teknologi Informasi tergantung kepada para adminnya.

“Pokoknya, sama sekali tidak tampak adanya peran dari Sang Bos. Bahkan ada kesan, Sang Bos  tidak begitu menguasai tentang masalah teknis, apalagi yang nonteknis, seperti administrasi keuangan, aset dan TI,” kata kawan itu.

“Pantesan, mungkin karena itu ia bersikap ‘jaim’,” pikir saya.

***

Saya mengharapkan kepada seluruh pemimpin di lingkungan peradilan agama agar menghindari sikap-sikap seperti kisah nyata di atas. Sikap ‘jaim’ yang diartikan seperti itu sangatlah tidak pantas dimiliki seorang pemimpin.

Seorang pemimpin haruslah ramah, mudah senyum, hangat, akrab dan tidak membeda-bedakan staf. Kalaupun harus membeda-bedakan, itu karena berkaitan dengan pekerjaan masing-masing staf yang berbeda. Dalam berkomunikasi dan bersikap, seorang pemimpin haruslah memperlakukan sama terhadap semua bawahan.

Perhatian dari seorang pemimpin terhadap bawahannya sangatlah mutlak. Perhatian itu akan menjadi motivasi dan apresiasi bagi bawahan. Perhatian pemimpin, apalagi sapaan dan pujian  terhadap apa yang telah bawahan kerjakan, akan menjadi nilai yang sangat berharga bagi bawahan.

Dengan bersikap seperti itu, ditambah keteladanan, seorang pemimpin akan dicintai bawahannya. Kalau ini terjadi, maka sudah pasti pekerjaan di kantor akan berjalan lancar dan suasana kerjapun akan nyaman dan menyenangkan.

Kewibawaan seorang pemimpin bukan karena ke-’jaim’-annya. Justeru dengan sikap yang ramah dan teladan namun juga tegas, seorang pemimpin akan disegani dan dihormati para bawahannya.

Pemimpin juga sebaiknya tidak bekerja apa adanya.  Saya sering berkata dalam berbagai kesempatan: Jangan hanya seperti air mengalir, tapi harus ada greget. Pemimpin juga harus  mampu menjadi teladan, menginspirasi dan memotivasi.

Saya yakin pekerjaan di semua pengadilan agama sangatlah banyak, apalagi pada PA-PA yang perkaranya sangat banyak. Namun beban kerja yang banyak ini jangan menjadikan para pemimpinnya terlena atau terbebani oleh tugas-tugas yang berhubungan dengan keperkaraan saja. Hal-hal yang berkaitan dengan non-keperkaraan juga menjadi kewajiban pemimpin untuk memperhatikan dan mengontrolnya.

Saya salut dan mengapresiasi para pemimpin pada PA-PA yang perkaranya banyak, namun masih memperhatikan dengan baik pelaksanaan program Reformasi Birokrasi (RB). Bahkan di banyak tempat, justeru PA-PA itulah yang menjadi teladan dalam pelaksanaan program RB itu. Saya tahu persis mana saja PA-PA tersebut.

Saya juga mengajak kepada pemimpin PA-PA yang belum begitu memperhatikan program RB, mungkin karena beban kerja yang tinggi atau karena memang kurang perhatian, ayo kita kembangkan kepemimpinan dan kreativitas kita dengan penuh semangat untuk meningkatkan pelaksanaan program RB di tempat tugas kita masing-masing.

Saya juga menekankan bahwa pelaksanaan RB itu adalah tanggung jawab kita semua. Meski demikian, pemimpin adalah orang  yang paling bertanggung jawab. Oleh karena itu pemimpin harus care terhadap perubabahan pola pikir dan budaya kerja yang terjadi di pengadilan masing-masing.

Pemimpin juga harus memonitor agar penanganan perkara dan administrasinya, pelaksanaan pelayanan publik dan meja informasi, pelaksanaan program ‘justice for the poor’, pengembangan TI serta keharmonisan dan integritas seluruh hakim dan karyawan, selalu terpelihara dan berjalan dengan baik.

Dalam hal-hal yang strategis, seperti menjaga integritas, meningkatkan kualitas SDM, memanfaatkan TI dan melaksanakan pelayanan publik, seorang pemimpin harus terjun langsung memberikan arahan-arahan dan memantau perkembangannya.

Oleh karena itu, yuk kita kembangkan diri kita dan staf kita masing-masing untuk mengubah pola pikir ke arah yang positif dan mengembangkan budaya kerja yang efektif dan efisien.

****

Saya yakin, kalau kita sudah bertekad dengan niat yang ikhlas dan kerja keras, pemimpin yang ‘jaim’ di lingkungan kita tidak akan kita temui.

Sayapun yakin bahwa pemimpin yang ‘jaim’ yang diceritakan oleh kawan akrab saya tadi itu bukanlah berada di lingkungan peradilan. Saya merasa para pemimpin di lingkungan peradilan agama kini semakin terbuka, kreatif, inovatif dan menjunjung akhlaqul karimah.

Kini, secara umum, kita sering mendapat apresiasi dari berbagai pihak, dari dalam dan luar negeri. Kitapun merasa bahwa peradilan agama kini telah banyak mencapai kemajuan, walaupun masih perlu terus kita tingkatkan. Saya merasa pula, semua ini adalah karena peran para pemimpin pengadilan di lingkungan peradilan agama dalam menggerakkan hakim dan stafnya masing-masing.

Semoga hal-hal positif yang ada pada diri kita dapat terus kita pertahankan dan tingkatkan. Sebaliknya, sifat-sifat ‘jaim’ dan apatis dapat kita hilangkan. (WW).

TanggalViewsComments
Total27331137
Sab. 1960
Jum. 18110
Kam. 1790
Rab. 1660
Sel. 1540
Ming. 1350
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# abinuwas Pekalongan 2012-06-04 11:55
ya saya sependapat dengan "bahwa Pemimpin itu harus mampu bersikap ing ngarso asung tulodo terhadap yang dipimpinya, ing madyo mangun karso bersama dengan yang dipimpinya dan tutwuri handayani terhadap perilaku yang dipimpinya" karena dengan begitu kebersamaan yang terpimpin dapat dibangun
Reply
 
 
# syamsudin 2012-06-05 06:54
...... semuanya berawal atas dasar apapimpinan itu dipromosikan .....
Reply
 
 
# rifai pa marisa 2012-06-13 07:10
Allah mengajari kita berikan kasih sayang terlebih dahulu baru di ikuti dg perintah bukan sebaliknxa ,sejahterakan dulu pegawai baru diikuti dg kewajiban lihat Qs. Alfatihah di mulai dr bismillah
Reply
 
 
# Dadang Karim, PA Sbr 2012-06-04 11:59
Sebuah tulisan yang inspiratif dan menarik. Tidak bisa dipungkiri pemimpin 'jaim' masih bamyak di negeri ini (baca: Peradilan). Biasanya pemimpin yang begini, hanya ngisi waktu menjelang pensiun. Seyogyanya Pemimpin Jaman sekarang, tidak lagi mengumbar kekuatan dan kekuasaannya untuk dipatuhi bawahannya, sudah out of date. Jadilah Pemimpin yang terbuka, kreatif, inovatif dan menjunjung akhlaqul karimah.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA Painan 2012-06-04 12:00
AL IMAMUL 'ADIL (Pemimpin Yang Adil) adalah salah satu dari 7 kelompok manusia yang akan mendapat naungan dari Allah yang tidak ada naungan kecuali Naungan-Nya Allah. (Hadits Rasul SAW)

Karena dengan keadilan seorang Pemimpin akan terciptalah HARMONISASI /TAWAZUNITAS (KESEIMBANGAN) KEHIDUPAN. Dengan sikap Adil yang dilakoni pemimpin semuanya (Yang Dipimpinnya) akan mendapatkan Hak secara PROPORSIONAL yang pada gilirannya menciptakan Keharmonisan dan keseimbangan Organisasi dan lingkungannya.

Maka Pantaslah Pemimpin Yang Adil Kelompok Manusia Pertama yang mendapat Naungan Allah Nantinya. Semoga kita Allah berikan kesempatan menjadi Pemimpin yang adil minimal bagi diri sendiri sehingga tercipta Harmonisasi Kehidupan Pribadi, keluarga, masyarakat dan Alam semesta. Amin ! :-)
Reply
 
 
# A.Topurudin, PA Banyumas 2012-06-04 12:01
Betul pak, apa yang diceritakan kawan Bapak itu. Banyak pemimpin yang sangat baik kepada atasan, tapi ke bawahannya bersikap ala kadarnya, atau bahkan buruk, sehingga berakibat buruk pula kepada kinerja lembaga yang dipimpinnya. Ke depan perlu ada fit and proper test untuk menjaring calon2 pimpinan PA dengan aspek kepribadian yang menyeluruh, di samping tecnical skill dan managerial skill, juga akhlaq, bila perlu test IQ.
Reply
 
 
# H. Abd. Rasyid A., MH. PA-Mojokerto 2012-06-04 12:02
Pimpinan peradilan agama yg baik adalah yg dapat menjadi uswah hasanah bagi bawahannya, bersemangat dan selalu memberi semangat kepada bawahannya, ramah, kreatif dan inovatif, futuristik,demokratis, tegas tapi tidak kaku dan tahu IT walaupun tidak menguasai.
Reply
 
 
# Muh. Irfan Husaeni/PA Painan 2012-06-04 12:09
Ada pemimpin jaim ada pula sebaliknya Pak Dirjen terlalu fulgar dengan anak buah. Menempatkan diri pada posisinya itu jalan terbaik. Caranya study banding dengan tokoh tokoh yang telah/sedang berhasil melaksanakan kepemimpinannya.
Dan tidak kalah penting bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus diawali dengan menjadi anak buah yang baik. Terimakasih Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Rusliansyah - PA Nunukan 2012-06-04 12:13
Pemimpin 'jaim' seperti yang diceritakan kembali oleh Pak Dirjen -maaf- bukannya tidak ada di PA. Justru saya pikir cerita itu muncul dari pengalaman ybs. di PA. Tapi itu hanya kasuistik. Bukan masalah serius. Bukan masalah nasional.
Kita sepakat bahwa masih banyak para pemimpin PA yang dapat menjadi uswatun hasanah bagi bawahannya dan tidak menjadi 'penjilat' ke atasannya. Buktinya PA terus terdepan dalam mengukir prestasi tingkat nasional.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada para pemimpin PA sehingga PA yang Agung akan terwujud di bumi Indonesia!!!
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jypura 2012-06-04 12:14
Agaknya kini sungguh langka sekali pemimpin "jaim", setiap yang langka pasti bernilai tinggi. Kalaupun ada, mungkin sekadar unjuk talenta saja. Tapi harus diingat bahwa doa pemimpin yang jaim tidak akan diterima. Karena itu, dia tidak akan berhasil dalam kepimimpinannya forever.
Reply
 
 
# kurthubi - pa balikpapan 2012-06-04 12:16
Yang namanya karekter susah diubah, apalagi baru dipromosikan jadi pimpinan waduh gayanya (jaim kuadrat = Jaim2) ada semacam balas dendam alias aji mumpung. Berbeda dengan pimpinan yang sudah lama sangat matang pengalaman jadi pimpinan.
Reply
 
 
# Syafii Thoyyib, PA Bantul - DIY 2012-06-04 12:26
Lain Pemimpin "Jaim", lain pula Pemimpin "Semar". Semar adalah tokoh Pewayangan. Ia merupakan tokoh yang berjiwa pamomong (pengasuh), yakni mengasuh para kesatria dalam kisah Mahabarata dan Ramayana.

Semar dengan jiwa pengasuh, dimaknai sebagai melayani umat, tanpa pamrih, melaksanakan ibadah amaliyah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap ke atas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya, ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas Allah Yang Maha Pengasih serta Penyayang”. Adakah kita juga sudah memahami dan meniru karakter kepemimpinan Semar...? Yuk kita renungkan...!!!
Reply
 
 
# fitri 2012-06-05 15:16
menawi ketuanipun sampea pripun Pak? :-*
Reply
 
 
# Dudung Bukittinggi 2012-06-04 12:28
Gak zamannya lagi jadi pemimpin yang "Jaim", jadilah pengayom bagi anak buah, jadilah pelayan yang baik bagi masyarakat pencari keadilan.
Reply
 
 
# Tamim PA Banjarmasin 2012-06-04 12:36
melakukan fit and proper test bagi calon pemimpin adalah suatu keharusan, yang dilakukan oleh tim independen bukan karena KKN.
Reply
 
 
# asep dadang pa depok 2012-06-04 12:41
menjadi pemimpin sebaiknya kondisional kadang bisa jaim kadang open full dgn bawahannya, yg dihadapi pimpinan bukan hanya berkas tetapi juga manusia termasuk para bawahannya yg memerlukan sentuhan kemanusiaan dan sentuhan perhatian yg tulus dari pimpinannya, yg pada akhirnya apabila pimpinan tersebut dimutasikan para bawahannya akan mengantarkan dengan penuh kesedihan mengenang kebaikannya bukan diantarkan bawahannya dengan penuh tertawaan dan ejekan .....
Reply
 
 
# har - Jayapura. 2012-06-04 12:50
Kebetulan kami sedang diskusi tentang kepemimpinan, tulisan pak Dirjen menjadi tambahan bahan untuk dibicarakan, semoga Pimpinan PA di wilayah Papua dan Papua Barat bukan pimpinan yang "jaim". Terima kasih.
Reply
 
 
# Ilman Hasjim, PA Andoolo 2012-06-04 12:50
Banyak syarat yg harus dimiliki pimpinan agar kinerja berjalan baik dan sesuai harapan. Sikap2 seperti yg disebut pak Dirjen, adalah gambaran betapa pentingnya 'komunikasi aktif' dengan seluruh pegawai dan para bawahan. Ramah, inovatif, kreatif, perhatian, penghargaan, adalah cara2 jitu pimpinan merangkul semua dan terus meningkatkan pelayanan.

Semoga tulisan pak Dirjen menjadi spirit, pendorong bagi pimpinan yang masih 'jaim', agar kemudian lebih terbuka dan terus berkarya. Tidak ada lagi pimpinan yg acuh tak acuh. Karena di era IT ini, perubahan cepat sekali berubah. Jika tidak cepat tanggap, maka ketertinggalan yg akan menanti...
Reply
 
 
# Muhdi Kholil,DRS,SH,MA,MM Waka PA Kangean 2012-06-04 13:04
Hari geni masih ada pemimpin " jaim " ?, Wah senoga tidak lagi, karena pada era transparansi dan transformasi seperti sekarang ini, Pemimpim harus mampu mentransformasikan informasi dan keahliannya kepada para staf dan bawahannya.

Transformatif Leaders, pemimpin yang transformatif inilah yang dibutuhkan saat ini. Kepemimpinan yang transformasional akan membawa kepada perubahan , baik pola pikir, cara kerja dan capaian kinerja yang lebih rasional ( objektif ),terbuka ( transparans ) , bervisi misi ke depan ( visioner ), terstandard( kredibel ) dan profeional ( Skils )dan bisa dipertanggungjawabkan ( akuntabel ),mempunyai management skils yang baik dan mampu menjadi teladan ( uswatun khasanah ) serta mampu merubah tantangan jadi peluang, kelemahan menjadi kekuatan, dan berdayasaing tinggi kompetent. Jauh dari ahlakul madzmumah dan hanya mementingkan kepentingan didi sendiri ( Transaksional ).

Pemimpin demikian harus dilatih, dididik dan dilahirkan dari kader-kader yang potensial. Semoga ke depan akan lahir Pemimpin yang tidak " Jaim " dan berekarakter sebagaimana telah dicontohkan pak Dirjen. Amin.
Reply
 
 
# ahid Lampung 2012-06-04 13:05
Jika yang dimaksud "jaim" disini untuk menutup kelemahan sang pemimpin sudah seharusnya dievaluasi total mana-mana pemimpin yang jaim tersebut kemudian diganti segera dengan pemimpin yang bijak dan paham akan tugas-tugasnya sebagai pemimpin, maka saya sangat setuju dengan pendapat mas/bang/pak Tamim PA Banjarmasin di atas : harus ada fit & proper test dalam setiap level kepemimpinan dengan kreteria yang jelas.

Namun demikian masih banyak didapati pemimpin yang inovatif paham tugas dan familier antara lain sosok sederhana Dirjen Badilag. Type Kepemimpinan yang low profile jarang dimiliki oleh pemimpin padahal dari ungkapan tulisan, ungkapan lisan dan prilaku pak Dirjen patut dicontoh. Jadi jangan Jaim untuk menutup kelemahan tapi jaim untuk hal positif seperti wibawa dan kharismatik yang muncul dengan sendirinya dari inner beauty yang dimiliki.
Reply
 
 
# Muh. Irfan Husaeni/PA Painan 2012-06-04 15:56
Setuju dengan komentar Pak Ahid, setuju pula dengan sdr kita tercinta dari PA Banjarmasin bahwa Pimpinan PA kelas II pun perlu fit and proper test (teknis terserah PTA)
Reply
 
 
# Abu Amar, PTA Kendari 2012-06-04 13:11
Pojok Pak Dirjen kali ini sangat menarik terutama bagi siapa saja yang merasa menjadi pemimpin di lingkungan Peradilan Agama. Dengan tulisan ini marilah kita pergunakan untuk berani melakukan introspeksi/mawas diri, sebab seorang pemimpin selain harus mengamalkan semua konsep kepemimpinan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, sebaiknya juga mengamalkan ajaran Tri Dharma dari Pangeran Sambernyawa (Mangku Negara I) yang sangat monumental dan hadiluhung yaitu : Rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), wajib melu hangrungkebi (wajib ikut menjaga/mempertahankan), dan mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri dan berani berbuat).

Dan selain itu perlu pula diingat Sabda Rasulullah saw : كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ وَاعِيَّتِهِ “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.
Reply
 
 
# Suhadak PA Mataram 2012-06-04 13:15
Kok ya masih ada pemimpin yg seperti cerita kawan Bapak, bener juga mungkin biar terlihat wibawa? yg jelas tdk wibawa, pemimpin seperti itu pasti jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Demi PA pemimpin seperti itu tidak perlu dipromosi yg lebih baik, ditempat yg kurang perkara saja. atau di hakim tinggikan biar tenang. Tindak tanduk seseorang tidak mudah untuk dibuat-buat, makanya saya sangat setuju untuk calon pemimpin PA perlu di Fit and propertest, agar terlihat kinerja dan integritasnya serta kiprahnya dalam membenahi PA.
Reply
 
 
# Muslim Latief, Pekanbaru 2012-06-07 08:54
Setuju dengan pendapat kawan saya ini, kecuali pimpinan yang jaim "dihakim-tinggikan", cocoknya diganti (dilengserkan).Tambahan dari saya bahwa ikan itu busuk mulai dari kepalanya. :lol:
Reply
 
 
# Muhdi Kholil, Waka PA Kangean 2012-06-04 13:18
Komunikatif,Reformatif, Inovatif, Kharismatif dan Transformatif adalah sifat sifat Kepemimpinan yang di butuhkan untuk memimpin Peradilan Agama pada era Teknologi Informasi sekarang ini, Jaim ,diktator, dan Instruktif hanya akan menjadi bahan cacimakian yang harus segera ditanggalkan . Saabiqun Bil Khoiraat , semoga kita termasuk pemimpin yang dirahmati Alloh SWT. Amin
Reply
 
 
# halim PAGS 2012-06-04 13:25
Pelajaran yang terpenting bagi perjalanan karir adalah belajar menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan semua elemen ke arah yang lebih baik. Kadang terlintas dalam benak saya, perlu waktu berapa lama agar seseorang utk belajar agar mampu menjadi pemimpin ideal. Bukan bermaksud memuji, Pak Wahyu Widiana menurut saya adalah salah satu (diantara sedikit orang) yang mampu menjadi Pemimpin Ideal bahkan melegenda.. Pak Dirjen, walaupun sulit, kami yang muda selalu berusaha belajar dari apa yang Bapak lakukan selama ini.
Reply
 
 
# itna-PA.GS 2012-06-04 13:29
Semoga tulisan Pak Dirjen kali ini menjadi salah satu acuan bersikap dari para pimpinan Peradilan Agama khususnya, sehingga benar2 bisa menjadi pemimpin yang wibawa, arif, bijaksana, melindungi, tauladan, motivator & intelektual serta agamis....Trimakasih Pak Dirjen... ;-)
Reply
 
 
# Hamzan PA Majene 2012-06-04 13:37
peminpin "jaim" realitanya masih ada, jaim menurut pak dirjen atau jaim menurut teman pak dirjen, sebenarnya di PA peminpin jaim itu tdk perlu ada sebab peminpin PA adalh orang Islam, orang islam wajib meneladani Rasul dalam setiap sikap, sifat dan tindak tanduknya dalam semua lapangan karyanya.
siddiq, tablig, amanah dan fatonah harus diperaktekkan oleh peminpin PA, jika tidak maka jadilah dia peminpin "jaim" terima kasih pak dirjen semoga peminpin jaim bisa merasa dan segera ber-ubah (tidak Jaim lagi)
Reply
 
 
# Tahrir Adnan-Kebumen 2012-06-04 13:50
Pemimpin atau kadang disebut pemuka atau imam memang semestinya dapat menjadi uswah bagi yang dipimpinnya. Uswah dalam kata dan perbuatan. Juga harus dapat bertindak adil, adil terhadap siapa saja termasuk adil terhadap dirinya sendiri; Kadang banyak pemimpin yang terlalu cerdas bertindak adil terhadap orang lain, tetapi tidak berani bertindak adil terhadap dirinya sendiri. Saya jadi teringat akan salah satu golongan manuasia ---ORANG YANG TAHU DAN TAHU KALAU DIRINYA TAHU, KEMUDIAN DIA BERTINDAK DAN MELAKUKAN AKTIFITAS ATAS DASAR PENGETAHUANNYA ITU, MAKA IKUTILAH DIA----. Pemimpin sekarang betul2 dituntut untuk dapat bertindak --satu kata dalam perbuatan--, pemimpin tidak cukup hanya bisa memerintah yang dipimpimnya, tetapi harus dapat pula melakukan perintah itu pada kesempatan pertama. Semoga tulisan Pak Dirjen benar2 memberi pencerahan kepada kita semua.
Reply
 
 
# Akramuddin, PA Kendari 2012-06-04 13:50
Dalam memimpin tidak ada orang yang sempurnah, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan karena itu pemimpin yang baik setidaknya memiliki hal sebagai berikut:

1. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat
bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
2. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan
kepentingan institusi.
3. Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
4. Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan
kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi
daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
5. Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
7. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Reply
 
 
# Sriyani, PA Maumere 2012-06-04 14:02
Kata bijaksana untuk para pemimpin "Perlakukanlah bawahanmu seperti anakmu sendiri, maka ia akan mengikutimu dengan setia, bahkan ke dalam kematianmu" (Sun Tzu, ahli strategi perang dari China.)
Reply
 
 
# mudzakkir-tebuireng-jombang 2012-06-04 14:18
atau ditambah rubrik lagi, pak dirjen, RUBRIK TAUSHIYAH yang berisi peringatan-peringatan keras Allah (Al Qur'an dan Hadits) untuk hamba-hamba-Nya yang korup misalnya, karena (hemat saya) pada diri kita tertanam sifat/karakter yang terkadang sulit dihilangkan, sekalipun taushiyah pak dirjen dalam rubrik kali ini sangat menyentuh, saya kok ragu pemimpin-pemimpin yang 'jaim' bisa merubah sikap, wallahu a'lam
Reply
 
 
# Renny_PA Ktp. 2012-06-04 14:19
Terima kasih Pak Dirjen, kembali mengingatkan kita semua, SIAPAPUN KITA,yang sedang memimpin atau akan jadi pemimpin, agar menjadi peimpin ideal seperti tulisan beliau, andai saja semua pemimpin bisa seperti itu,.. pasti peradilan yang agung 'kan segera menjadi nyata
Reply
 
 
# djazril darwis.pta babel 2012-06-04 14:28
djazril darwis.pta babel.Cukup jelas dan gamblang uraian Pak Dirjend, sifat dan karakter yang harus dihindari oleh seorang pimpinan (baca PA)sebaliknya sifat yang harus di ikuti dan dilaksanakan.... fa'tabiru......semoga....
Reply
 
 
# bs. PA.Maninjau 2012-06-04 14:28
semoga tulisan bapak menjadi acuan begi semua Semoga tulisan pak Dirjen menjadi spirit, pendorong bagi pimpinan yang masih 'jaim', agar kemudian lebih terbuka dan terus berkarya. Tidak ada lagi pimpinan yg acuh tak acuh. Karena di era IT ini, perubahan cepat sekali berubah. Jika tidak cepat tanggap, maka ketertinggalan yg akan menanti...
Reply
Reply
 
 
# aminuddin Ms Lskn 2012-06-04 14:34
Semoga tulisan Pak Dirjen ini dibaca oleh Para Pimpinan PA/Ms yg "JAIM" karna nyatanya masih ada.
Reply
 
 
# kAmaLi @SINGABALI 2012-06-04 14:39
:lol: 8) Yang saya kwatirkan itu PEMIMPIN JAIM yang diceritakan teman pak Direktur tersebut TIDAK MEMBACA TULISAN PAK DIREKTUR ini, ....... tapi mudah-mudahan membaca dan BISA MERUBAH SIKAP DAN SIFATNYA (JAIM) tersebut menjadi pemimpin yang Komunikatif,Reformatif, Inovatif, Kharismatif dan Transformatif amiiin.

Syukron wal'afwu minnaa.
Reply
 
 
# Lilik Muliana PA Probolinggo 2012-06-04 14:46
diera modern ini tdk laku pimpinan jaim, good governance diperlukan pimpinan yg bijak, kreatif ,inovatif tapi tdk konservatif, program akan berjalan bila seorang pimpinan bisa bermitra dg bawahannya bukan sebagai bos. Semoga apa yg dikatakan p Dirjen dapat menginspirasi para pimpinan maupun yg akan menjadi pimpinan di PA....
Reply
 
 
# Roadiana PA. Mamuju 2012-06-04 14:56
Rasanya sudah tidak jaman lagi peminpin yang hanya bisa pasang wibawa doang, peminpin tidak harus menguasai semua hal akan tetapi peminpin harus tahu sedikit-sedikit tentang tupoksi organisasinya untuk sekedar mengontril kerja bawahannya.

Lebih dari itu kesuksesan seorang peminpin adalah bila peminpin itu memiliki jiwa yang bijak karena hanya dengan sifat bijak seorang peminpin tidak langsung menghukum bawahannya yang salah, melainkan membinanya dengan cara yang bijak sebaliknya seorang peminpin yang bijak tidak akan pernah mengabaikan prestasi bawahannya tanpa penghargaan yang wajar.

Semoga pinpinan di lingkungan Peradilan Agama dapat mencontoh kepeminpinan pak dirjen yang enerjik inovatip dan bijak. Aaamin.
Reply
 
 
# Rizky PA Tahuna 2012-06-04 14:59
Batas dan hubungan antara pemimpin dan bawahan yang idealis adalah sebagaimana batas dan hubungan antara imam dan ma'mum, dimana Imam harus melebihi segala hal dari ma'mumnya seperti harus lebih baik bacaan ayat Al Qur'annya,santun suaranya hapalannya sempurna selain itu ma'mum juga harus seperti imamnya, dimana ada kesalahan ma'mum wajib menegur imam. Bila imam memang salah wajib menerima dan membetulkan kesalahannya.
Reply
 
 
# Abd. Salam, PA. Watansoppeng 2012-06-04 15:03
Ada sebuah hadits nabi yang perlu kita renungi bersama saat kita menjadi pimpinan "Saat para sahabat sedang duduk-duduk bercengkrama, datanglah nabi, melihat Rasulullah datang, para sahabat berdiri menyambutnya, tapi nabi melarang "Laa taqumuu lii, lastu bimaalikin walaa qoisura, kama taqumul 'a'ajimu 'alaa malikihim" : Kamu jangan berdiri menghormati aku, aku bukan raja dan aku bukan kaisar, sebagaima sikap orang ajam mengormati rajanya !"

Ini tipe pemimpin muslim yang ideal. Nabi dalam kesehariannya elegan, tidak mau disobyo-sobyo (dielu-elukan) dan tidak ingin berpenampilan beda atau lebih dari sahabat-sahabatnya. Memanggil temannya dengan panggilan "sahabat" walupun beliau adalah utusan Allah. Nabi juga bekerja untuk kepentingan bersama saat nabi bersama sahabat-sahabatnya.
Reply
 
 
# Fajar Arief - PA Maros 2012-06-04 15:08
Setuju pak...
Reply
 
 
# Fahrurrozi, PA Surakarta 2012-06-04 15:10
untuk mengukur baik buruknya seorang pemimpin bisa mengacu kepada Hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

Artinya, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian serta pemimpin yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian.

Sedangkan seburuk-buruknya pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian serta pemimpin yang kalian kutuk (laknat) dan mereka mengutuk (melaknat) kalian”.
Reply
 
 
# M.Yusuf wk PA Kendari 2012-06-04 15:19
First of last pemimpin yang "Jaim" akan musnah dari permukaan karena semua orang tidak menyukainya. Setuju sekali dengan uraian pak Dirjen dalam tulisan ini bahwa seorang pemimpin sejatinya the best leader,inspiring and inovatif.Seorang pemimpin harus expert dan menjadi pioner dalam urusan pekerjaan tanpa terkecuali.Mudah2an apa yang diuraikan dalam tulisan ini bisa menjadi bahan Fit and Proper Test bagi pimpinan Pengadilan yang akan datang.
Reply
 
 
# Jamhur MS Sigli 2012-06-04 15:19
Saya rasa memang masih banyak gaya pemimpin yang seperti pak Dirjen bilang, kalau dulu ada istilahnya pemimpin yang punya falsafah "kumis", kalau sama bawahan kumisnya tegak dan keras tapi kalau keatas kumisnya loyo dan lembek, dan kelihatan gaya pemimpin yang semacam ini menjadi bahan gunjingan bawahan, bawahan hanya takut kalau pemimpin ada, tapi bawahan tidak segan dan tidak menghormati pemimpin. na'uzubillahi minzalik
Reply
 
 
# Zidan Maulana Pati 2012-06-04 15:26
Kedepan DP3 ketua tidak hanya dari KPTA, tapi juga dari penilaian pegawai-pegawai bawahan yg lain. Yg tahu persis perilaku ketua pastilah pegawai-pegawai di kantor.
Reply
 
 
# Nelli Abidah 2012-06-04 15:34
trims Pak Dirjen, atas ulasan yg bagus sekali. sekedar urun rembug. memang saya juga sering melihat dan mendengar dari kawan2 soal perilaku ketua di kantor masing-masing. saya mengusulkan, setiap akan ada pengangkatan pejabat itu di-publish dulu di website badilag, dan publik diberi kesempatan untuk memberikan masukan selama 1 bulan. kalau ada masukan yg sekiranya layak diterima, maka calon pimpinan tadi bisa dibatalkan.

terus terkait dg fit and proper test, perlu juga didalami integritas calon-calon ketua, tidak sekedar penguasaan hukum acara atau manajemen, tapi soal moralitas, akhlaq itu jauh lebih penting. selama ini sering jadi sumber masalah dikantor adalah pembagian kue yg tidak adil. maka diperlukan pemimpin yg bermoral, bukan 'gila harta' dan aji mumpung berkuasa lalu sebanyak-banyaknya memperkaya diri. demikian. mohon maaf
Reply
 
 
# # Mahalli - PA Tilamuta 2012-06-04 15:39
sudah bukan zamannya PA di pimpin oleh pimpinan yang "JAIM".... Terimakasih pak Dirjen.
Reply
 
 
# muhammad takdir 2012-06-04 15:50
pemimpin yang seprti ini saya lihat masih ada dan bahkan saya lihat karirnya trlalu cepat menanjak, meskipun sebenarnya bawahanlah yang selalu mengerti apa yang harus mereka kerjakan dan dikerjakan sesuai pengetahuannya saja karena untuk berbicara dengan pucuk pimpinaa sangat susah. semoga dengan ada coretan pojok pak Dirjn ini pemimpin2 seperti ini mengerti bahwa dirinya dicerita dan ternyata bawahan saya selalu bercerita tentang saya kalau saya bersifat Jaim...sukses pak...
Reply
 
 
# Muhammad, PA Klungkung-Bali 2012-06-04 16:05
Kalau memang nyata ada pimpinan PA/PTA yang jaim seperti itu, yah.... dicopot aja daripada bikin sakit hati bawahannya...
Reply
 
 
# aku aja, PA Bali 2012-06-06 10:24
Setuju banget ide pak Muhammad... nggak enak tahu kalo selalu diancam DP3... emang sih nggak zamannya lg, tp mau apa??? wong "dia" punya POWER n link dg memutar kita jd kena sanksi jk nggak nurut???? Huh! harus tersenyum walo dijitak :cry: :-x
Reply
 
 
# Orkes Sakit Hati 2012-06-25 12:12
MUDAH2 AN KLO ADA PIMPINAN YANG MEMBACA POJOK PAK DIRJEN BISA TERKETUK PINTU HATINYA, UNTUK BERUBAH MENJADI LEBIH MERAKYAT DAN TIDAK SELALU MENDONGAK KEATAS TERUS. AMIN :sad:
Reply
 
 
# Daswir Tanjung PTA Bdg 2012-06-04 16:12
Pimpinan yang " Jaim " yang digambarkan dalam kisah tulisan ini, pada saat ini sudah harus berkurang, kalau perlu sudah dikikis dalam perkembangan peradilan Agama sekarang, saat ini diutamakan bekerja secara profesional, mulai dari pimpinan samp[ai dengan staf, sesuai beban kerja masing - masing.sebenarnya apa yang digambarkan tersebut, akibat menagement tidak terlaksana dengan baik, apabila sistem kerja telah sesuai dengan fungsi menagement, hal tersebut tidak akan terjadi.
Reply
 
 
# Mohammad H. Daud PANegara-Kalsel 2012-06-04 18:38
Meskipun Pak Dirjen meyakini bahwa pemimpin yang jaim dimaksud tdk ada di lingkungan PA, tapi kalaulah ternyata masih ada, maka tulisan ini menjadi pelajaran bagi semuanya.
Reply
 
 
# Mame Sadafal PA Sidoarjo 2012-06-04 21:23
Membaca nukilan cerita teman bpk Dirjen Badilag yang konon terjadi nun jauh disana insya Allah kepemimpinan yang diterapkan di PA saat ini apalagi dibawah komando bpk WW. semakin tidak punya pengikut alias jama'ah sebab cara cara itu sangat bertentangan dengan jiwa Reformasi yang telah dicanangkan MA sebagaimana tercantum pada misi ketiga memperkuat kepemimpinan badan peradilan.hanya dengan meninggalkan cata cara kepemimpinan Ja'im kita bisa mempercepat langkah dan berlari mencapai peradilan yang agung.
Reply
 
 
# Abdul Rahman Salam, MH/PA Banggai Kepulauan 2012-06-04 22:09
Wah ternyata model-model pimpnan yg Pak Dirjen kemukakan sebagian besar berkrakter JAIM & tdk menguasai/mengetahui BIDANG KESEKRETARIATAN.........hampir model JAIM ini skrg menguasai PA-PA di seluruh Nusantara.....WASPADALAH.....
Reply
 
 
# Toyeb, PA Poso 2012-06-05 04:24
Thoyyib..Thoyyib..Thoyyib pak Dirjen
Reply
 
 
# Nur Muhasin@Padang 2012-06-05 05:11
Model pemimpin "jaim" yg digambarkan di atas terjadi karena dilatarbelakangi oleh sistem peningkatan karir yang diukur berdasarkan seniotitas bukan berdasarkan integritas & kinerja yang banyak terjadi di lembaga2 pemerintah termasuk peradikan....
Reply
 
 
# bapaknya ali 2012-06-05 05:12
betul Pak Dirjen. masih ada ketua yang JAIM (jaga imej) sampai-sampai turun dari mobil depan kantor, tas dan sepatunya disuruh bawa sopirnya. padahal sopir itu digaji oleh DIPA sbg honorer yg bertugas menyopiri tugas-tugas dinas. harusnya ketua PA ga perlu malu dan gengsi untuk menjinjing tasnya sendiri, juga sepatunya
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-06-05 05:16
semoga pimpinan peradilan agama yang jaim membaca pojok pak dirjen ini, saya juga pernah merasakan pimpinan yang jaim seperti yang diceritakan oleh pak dirjen ini...
Reply
 
 
# Akbar Tsauqi-Lampung 2012-06-05 05:18
Sistem promosi dan karir yang lebih banyak didasarkan KKN serta diukur dari faktor senioritas bukan berdasarkan integritas dan kinerja merupakan salah satu penyebab banyaknya Pemimpin "jaim" sebagaimana digambarkan di atas.......
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya / Singaparna 2012-06-05 05:26
Tipe pemimpin seperti itu di instansi mana ada saja termasuk mungkin di PA, karena itu kalau kita berfikirnya cerdas, pimpina itu tidak lama ? setelah itu ? pasti akan dicibir dan tidak ada harganya, karena itu berkacalah hidup ini berputar.
Reply
 
 
# Drs. Cece Rukmana Ibrahim, SH. WK. PA. Tigaraksa 2012-06-05 05:29
Pemimpin yang "JAIM/JAGA IMAGE" itu pemimpin yang JADUL, sekarang mah pemimpin itu harus bisa memimpin, bisa menjadi contoh kepada bawahan, bisa mengayomi, bisa mensuport bawahan sehingga bisa lebih maju lagi, keilmuannya OKE tidak diragukan lagi, gaya memimpinnya yang supel, memasyarakat dan lain-lain
Reply
 
 
# Dudu Masduqi - Pati 2012-06-05 05:43
Ketua PA harusnya meneladani sifat-sifat kenabian seperti Shidiq (jujur dalam perkataan dan perbuatan), Amanah (dapat dipercaya, tidak menyalahgunakan jabatan), Tabligh (pandai berkomunikasi dengan pegawai-pegawai yang dipimpinnya) dan Fathonah (cerdas, menguasai manajemen dan organisasi).

Ketua PA tidak boleh marah bila diingatkan atau dikritik oleh anak buahnya, meskipun oleh pegawai terendah dikantor. Ketua harus legowo atau lapang dada menerima kritikan bila ternyata kritikan itu benar adanya. Tidak jamannya, ketua marah-marah bila dikritik dan malah memutasikan pegawai yang mengkritik tadi karena dianggap mengganggu.

Ketua harus bangga dan senang ada pegawai yang berani menegor, mengkritik sebab itu tandanya pegawai tadi sayang kepada Ketua yang tidak ingin Ketua tenggelam dalam kesalahan dan pada akhirnya menanggung akibat dari kesalahan tadi.

Ketua harus berhati-hati mengambil kebijakan dikantor jangan sampai menyakiti atau mendholimi anak buahnya. Jangan karena berkuasa lalu seenaknya saja menggunakan kekuasaan. Sebab, doanya orang-orang yang terdholimi itu mustajab (pasti dikabulkan Allah). Jangan sampai karena kesalnya anak buah akibat didholimi lalu mendoakan celaka kepada Ketuanya. Na'udzu billahi min dzalika
Reply
 
 
# moh. mukti-pa.manokwari 2012-06-05 06:17
pemimpin yang bijak adalah yang mampu menselaraskan antara harapan dan kenyataan....
Reply
 
 
# A.Topurudin, PA Banyumas 2012-06-05 07:07
Untuk mengetahui jumlah perbandingan pemimpin PA yang baik dengan yang buruk, perli diadakan survey, nanti hasilnya bisa dijadikan bahan untuk membuat sistem yang lebih baik dalam menjaring calon-calon pimpinan PA ke depan.
Reply
 
 
# R. A. Said 2012-06-05 07:14
Pemimpin yg sok wibawa, jaim dsb, biasanya pemimpin yg kagetan
Reply
 
 
# Arif, S. PA KDI 2012-06-05 07:21
Hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaiman kita selalu bisa berkordinasi dengan bawahan. untuk menjalankan suatu program tanpa harus hanya mengikuti keinginan seorang pegawai saja yang mungkin punya tujuan tersendiri.
Reply
 
 
# abd_h77 2012-06-05 07:43
wah setuju banget pak dirjen.jadi pemimpin memang selayaknya juga tidak boleh acuh terhadap lingkungan.mau terima masukan bawahannya,tidak menang sendiri karena merasa pendapatnya yang benar.harus lebih arif dan bijaksana menyikapi.jadi bawahanpun semestinya menghormati saling menjaga saling kerjasama.dan saling saling yang lainnya.demi kelancaran tugas tugas yang dilaksanakan.semoga bagi para pemimpin membaca tulisan pak dirjen.
Reply
 
 
# M. Yamin/PA. Gtlo 2012-06-05 07:49
Korelasi antara pemimpin dan kepemimpinan serta sistem pelayanan prima merupakan sebuah keniscayaan, karna itu beri porsi yg banyak bagi (fungsi) otak kanan, tentu dgn tdk mematikan fungsi otak kiri. Kesusksesan lebih dari 80 % ditentukan oleh otak kanan. Malah dalam bahasa Inggris kata "kanan" dan kata "benar" sama2 diartikan menjadi "right". Maka bleh dikatakan kananitu hampir semua benar. Karna itu mari jadi pemimpin yg benar (tdk "jaim") dgn banyak memfungsikan otak "kanan"
Reply
 
 
# dadi_bengkalis 2012-06-05 08:09
Jaim, salah satu misinterpretasi dari kharisma/ wibawa. Alih-alih 'menciptakan' kharisma/ wibawa, eh malah melahirkan jarak dengan sekitar. Padahal kharisma/ wibawa itu adalah 'bonus' (hikmah) dari pengayoman, penghargaan dan pemberian kepercayaan pada lingkungannya.
Reply
 
 
# Lazuarman PA Manna 2012-06-05 08:20
Benar apa yang diuraikan Pak Dirjen, semuanya telah terkumpul pada diri Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah dalam soal kepemimpinan.Disamping memiliki sifat-sifat seperti Pak Dirjen uraikan di atas, seorang pemimpin juga harus mempunyai sifat yang "jujur". Jujur terhadap diri sendiri (memiliki nurani), jujur terhadap orang lain (amanah) dan jujur terhadap Ilahi (ikhlas).
Reply
 
 
# akangjajangs. PA. Tnk 2012-06-05 08:27
Paparan Yth.Bpk Dirjen ini wajib dibaca dan disebarluaskan di warga PA. Pemimpin JAIM dgn ciri-ciri diatas masih ada di sebahagian PA. Krn jd Pimpinan PA/PTA itu tdk mudah,tapi...sekali diangkat sampai pensiun baru turun.Mungkin ini masalah pokoknya.Maka ke depan mungkin perlu pembatasan masa jabatan,agar tercipta dinamika lebih sehat,semoga...amiin.
Reply
 
 
# Syamsulbahri PA Mks 2012-06-05 08:30
Memang pemimpin itu harus memiliki jiwa seni yang tinggi dalam memimpin, karena memimpin banyak orang, sehingga pemimpin itu punya variasi kepemimpinan... di era moderen ini tentu pola kepemimpnan moderen juga yang harus dipakai, bukan kepemimpinan kuno, namun jangan lupa kepemimpinan kuno itu juga bisa jadi acuan untuk menuju moderen, tapi harus dipilah-pilah gitu... yg jelas mari kita teladani kepemimpinan Rasulullah SAW... semoga sukses...Amien...
Reply
 
 
# Baedhawi PA Nunukan Kaltim 2012-06-05 08:34
seseorang yg menjadi pemimpin, ada karena memiliki bakat untuk menjadi pemimpin jg karena faktor “ditakdirkan” melalui pendidikan & karir yang dimiliki seseorg. keberhasilan seseorg dlm kepemimpinannya ditentukan o/ sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu, sehingga kadang timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorg pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi seperti kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya, seperti pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan, menjadi pendengar yang baik dll. Namun dalam membahas kepemimpinan seseorg perlu dicermati perkataan seorang Richard bahwa Kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang paling mudah di observasi tetapi menjadi salah satu hal yang paling sulit dipahami
Reply
 
 
# Niray.Cbn 2012-06-05 08:35
Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallahu wallahu akbar, Maha Suci Engkau yang memiliki Pujian dan Engkau Yang maha Besar Raja segala Raja. Andai saja tulisan Pak Dirjen dibaca oleh seluruh Pimpinan khususnya Pimpinan PA, maka diharapkan pada tahun 2012 ini tak akan ada lagi pimpinan yang jaim, yang lalim,yang sekarep dewek, yang sok pemimpin,gila hormat,gila uang,akhirnya gila-gilaan sehingga hilang rasa muru'ah.Tulisan Pak Dirjen cukup refresentatif!dan bagi PA diutuhkan pemimpin yang cerdas emosi dan spritualnya.bravo Pak dirjen.
Reply
 
 
# Ratu Ayu 2012-06-05 08:38
Setujuuuu banget, pejabat pucuk harus bs menjadi leader, bukan sekedar manager. Menjadi leader harus peka terutama saat ada arah yang disalahi, leader harus mengembalikan pada arah yang dituju yang sebelumnya sudah ditentukan. Pejabat pucuk harus menentukan dulu arah yang mau dituju, supaya lebih mudah menjalankan peran sebagai manager.
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-06-05 08:41
Terlalu di dramatisir....
Tidak mgkn Pimpinan menguasai semuanya, krn mmg tdk ada manusia yg sempurna di dunia ini...
Jika ada Pimpinan yg Jaim, itu hanya karaktek, Hakim dan Pansek pun banyak yg Jaim....
Reply
 
 
# Rio PA Sengeti 2012-06-05 08:49
Seorang pemimpin bukanlah sosok yang harus ditakuti, kebijaksanaan dan kearifan seorang pemimpin dalam mengayomi bawahannya akan membuahkan hasil berupa penghargaan dari bawahan. Jika pemimpin bisa menjadi tauladan dan bawahanpun merasa terayomi oleh pimpinan tersebut, tidak ada tugas yang terasa berat dan membosankan.. Jadilah pemimpin yang baik jangan memaksakan bawahan untuk takut dengan kita sebagai seorang pemimpin.
Reply
 
 
# AY-Kalimantan 2012-06-05 08:58
Setuju..
Jgn seperti pimpinan kami yang sangat tidak bisa memberi kepercayaan kpd bawahannya,hanya percaya pada mantan anak buahnya dari pa sebelumnya.

selain itu beliau juga yg notabene seorang hakim yg harusnya mampu menilai suatu permasalahan dari beberapa sudut pandang yg akhirnya baru menarik kesimpulan tp nyatanya beliau hanya nge-judge seseorang dr omongan org lain tanpa menelaah terlebih dahulu, APAKAH ITU JIWA SEORANG PIMPINAN YG JG HAKIM?
Apakah bijak seorang pimpinan menegur bawahan scr berulang-ulang dg emosi dlm forum rapat karyawan dg bahasa kebun binatang?
Reply
 
 
# Maharnis pta Jayapura 2012-06-05 09:11
Betul Pak Dirjen, bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat tergantung kepada lidernya seorang Pimpinan, Pimpinan sebagai driver, maka keselamatan pengemudi mendahului keselamatan penumpangnya, Pak Harto selalu bilang. Ingngarso sung tulodo, ing madia mangun karso tut huri handayani.
Reply
 
 
# s.yanto.tn.PTA-Kendaro 2012-06-05 09:20
Pimpinan yg "JAIM" itu sama dg pemimpin yg memaksakan "kewibawaan", bersikap garang, selalu marah-sedikit-sedikit marah, main perintah, tidak menghargai bawahan,seolah- olah dia yg paling benar & pintar, semua serba salah.

Ini memang kadang ditemui pimpinan yg bersikap demikian. Kalau "aku tdk bersikap demikian aku tidak berwibawa". Padahal jika bersikap demikian justru akan kontra produktif, jadi bahan ejekan dan cemoohan oleh bawahannya. Namun memang kadang sikap jaim tsb digunakan unt menutupi kelemahannya.

Jadi sebenarnya sikap yg baik dan berwibawa itu dpt dimunculkan dg pola kepemimpinan yg dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, ing madya mangunkarso tutwuri handayani, lebih-lebih jika tutwuri hambayari, tentu akan disenangi oleh siapapun. Didepan bisa jadi contoh, ditengah bisa melindungi dibelakang bisa memotivasi bahkan selalu siap berkorban (financial) unt kemajuan, kesuksesan dan kebersamaan. Semoga pimpinan dijajaran peradilan agama bisa bersikap demikian. Amin.
Reply
 
 
# mashudi-PA sarolangun 2012-06-05 09:25
Ja'im...kata bagus yg dikonotasikn tdk bgus, krn salah penerapanya..jaga imej hrus,tentu hrus dg pencitraan yg bgus dn tdk dg kamuflase..imej bgus muncul dr pribadi yg bgus, kualitas diri yg bgus..sayidina abu bakar ra. mncontohkn bgmn seorng pmimpin untuk memastikn bhw kepemimpinanny brjln dg mendngr dn melihat lgs apa yg trjdi dibawah d kmudian tdk segan2 bliau hrus turun turun tangan sndiri trhdp hal2 yg sifatnya sgra apolagi sifatnya dloruriyah...smg kdpn bisa kita temukan pemimpin yg Ja'im yg tdk brkonotasi negativ...krn kita rindu dg kpmimpinan dmikian..kapan lagi...!!!!
Reply
 
 
# umi-pajjb 2012-06-05 09:29
Pak Dirjen itu tidak hanya inovatif tapi juga sangat mengetahui semua karakter kepemimpinan Pemimpin di Pengadilan Agama. Cerita ini adalah true story dan semoga dibaca oleh pemimpin yang jaim tersebut.

Harapan pak Dirjen adalah harapan kita semua pemimpin harus membumi, menjadi teladan , sehingga dapat menjadi motivator utk kita para anak buah. Memimpin berarti kita harus rela menanggalkan beban keegoisan kita dan memahami aspirasi bawahan, dengan cara dan tujuan tercapainya program kerja kita. So Memimpinlah seperti Rasulullah ,jadilah pemimpin yang memimpin dengan hati dan keteladanan
Reply
 
 
# umi-pajjb 2012-06-05 09:34
Pemimpin yang sulit tersenyum, jaim dan tidak inovatif,dan sedikit anak buah salah dia mengancam DP3 akan diturunkan, sangat mencekam, lama kelamaan membuat kita strees , kenapa tidak cepat dicopot saja pak, biar tdk jaim lagi
Reply
 
 
# apit - bandung 2012-06-05 09:40
Jaman kemajuan di segala hal,diperlukan pemimpin yang aktif dan responsif. Perbaikan ke arah yang lebih baik lagi, adalah "wajibul-kudu" di era sekarang.
Reply
 
 
# mashudi-PA sarolangun 2012-06-05 09:47
JA'IM...kata yg bgus brkonotasi negatif krn salah pemahamn dn penerapannya..jaga imej pnting buat pimpinan tpi tdk dg kamuflase dn hrus dlakukan ats dasar kualiits dn kemampuan serta intgrits yg bgus..sayyidina Umar bin khothob ra. mncontohkn bgmn seorng pmimpin ntuk memastikn bhw intruksiny tsb tlah djlnkan shg hrus turun lgs ke bawah bhkn hrus mngmbil alih sndiri pkrjaan tsb yg smestiny dlaksanakn bwhnya, dn seringkali mngmbil tindakn lgs hal2 yg sifatnya dhoruriah...smg kdpn kita bs mnemukn sosok pimpinan dmikian...kpn....!!! wallahu a'lam bishowab.. :-x
Reply
 
 
# Abd. Hafid- PA-Makale 2012-06-05 09:57
Mudah2an para pimpinan yg berlabil JAIM membaca tulisan pak Dirjen ini dan semoga menyadari dirinya, karena sifat bathiniyah seseorang hanya org lain yg tahu sementara dirinya tdk tau
Reply
 
 
# Jimmy Cakim PA Cianjur 2012-06-05 10:16
Benar Sekali apa yang disampaikan Pak Dirjen, Pemimpin yang baik gak boleh Jaim pa lagi membatasi diri dengan bawahannya. Pemimpin itu harus mengayomi dan bisa memberikan contoh dan suri tauladan yang baik dalam pekerjaan maupun dalam akhlak kepribadiannya.. dan "Kita semua adalah Pemimpin, dan setiap Pemimpin bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya". Wallahu A'lam Bishowab.
Reply
 
 
# Alimuddin M. Mataram 2012-06-05 10:23
Model pemimpin JAIM seperti dalam tulisan Pak Dirjen, memang tidak jarang ditemukan, baik dalam realita maupun dalam narasi. Tapi jika di PA masih ada pemimpin seperti itu, sebaiknya di-staf-kan saja, atau dilakukan peng-kader-an khusus untuknya, atau bisa juga diajak studi banding.

Yang jelas menjadi pemimpin itu tidak gampang. Kalau ada yang bilang sebaliknya, patut diajak diskusi: dari segi mananya gampang? Kalau dari segi tanggung jawab (dunia-akhirat), jelas bukan lagi SULIT, tapi sangat MENGERIKAN.
Reply
 
 
# ahmad supriyadi PA Bitung 2012-06-05 18:08
mantap sekali pak,,semoga bos2 langsung sadar,,
Reply
 
 
# Darman, PA.ME 2012-06-06 05:37
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengelola pola pikir, emosional dan tingkah laku serta menjadi teladan sehari-hari bagi bawahannya, kalau kita perhatikan model pemimpin JAIM yang yang dimaksud pak Dirjen haruslah dikikis habis dalam peradilan kita sehingga dapat tercipta pemimpin yang memegang amanah dan dapat memberikan tauladan yang baik.
Reply
 
 
# Mr.Kswi PTA Palembang 2012-06-06 07:43
Dengan tulisan ini bisa menjadi pencerahan, semoga para Pemimpin bisa koreksi diri seperti apa kepemimpinannya dan bisa merubah sikap yang kurang baik. Percayalah meski kita sudah berbuat baik pasti ada yang tidak menyukai, apa lagi kalau memang kriteria pemimpin yang baik tersebut tidak dipakai oleh kita tentu akan menambah ketidak senangan orang kepada kita/pemimpin.
Reply
 
 
# rizal razai 2012-06-06 10:41
:-* waduh gimana ya.....kalau ada pemimpin yang jaim. sebagai contoh di pagi hari kita sapa, "assallamualaikum, selamat pagi Pak", karena jaim nya cuma dibalas "hem"....besok nya kalau kita coba menyapa beliau dengan "hem" juga gimana ya...semoga jangan karena jaim terjadi wrong communication atawa salah paham yang berakibat suasana kantor jadi tidak kondusif. :-)
Reply
 
 
# Helen-PA.Pontianak 2012-06-06 11:00
menurut kami, 'jaim' haruslah dikembalikan kepada artinya menurut bahasa. Jaga Image adalah sst yg harus kita tanamkan di diri kita demi pencitraan dan wibawa peradilan. mgkn yg salah itu implementasinya y,pak dirjen. keep hamasah,pak dirjen! :-)
Reply
 
 
# aby 2012-06-06 11:03
type pemimpin struktural kan begitu landasannya SK tanpa skill tanpa kewibawaan tanpa ilmu,untuk menutupi ketidak mampuannya "JAIM" itu,pemimpin kultural landasannya kecakapan dan kewibawaan yang melekat tanpa rekayasa,alamiah/ manusiawi diterima ummat dan berbagai lapisan masyarakat.
Reply
 
 
# Mawardi Lingga PA Sidikalang 2012-06-06 11:29
Petmimpin jaim" yang pak Dirjen ceritakan barangkali hanya sebagian kecil saja terjadi di PA namun pasti ada juga seperti itu namun setelah dilihat latar belakang orang seperti itu tentu akibat kepemimpinan yang dikarbit, masak tetapi tidak ranum sehingga sedap dipandang dimakan tidak enak yg seperti ini akibat pemimpin yang didorong-dorong meskipun tidak mampu tetapi karena faktor (ex) maka dia bisa menduduki jabatan tsb bukan karena kemampuan murni yg dimilikinya, namun itulah yang terjadi.
Reply
 
 
# #anonim 2012-06-06 11:29
menarik untuk dicermati, apa itu jaim, pelabelan jaim pada seseorang biasanya bersifat subyektif, bias dan kumulatif, maka ja'im secara ilmu tidak didapati, karena dia adalah sifat yang dimunculkan dari kalangan kaum muda dalam nilai kebebasan.

maka peletakan label ja'im pada sesosok tidak bisa digeneralisir, karena sifatnya yang subyektif, tergantung siapa yang memandang dan siapa yang menyebarkan pandangan itu dalam wacana;

maka saya kira kurang pantaslah kita membiasakan kata ja'im.
ada sifat tercela lain yang lebih dapat dijelaskan seperti sombong, pemarah, pemurung, dll. ini lebih akurat;
jangan sampai demi sebuah kebaikan untuk kemajuan, kita mengambil modal yang kurang baik, dgn membudayakan label jaim;

ada porsi tersendiri terhadap sebuah masalah, yang jelas, substansinya, adalah pengkaderan SDM yang lebih baik baik melalui diklat, seminar dll, tentang kepemimpinan dan akhlaq hasanah.
Reply
 
 
# anonim juga 2012-06-11 12:46
namanya juga opini. bhsnya populer. yang pasti, rata2 pimpinan itu tidak disukai bawahannya. kecuali dikit aja. apapun istilahnya, intinya: banyak seseorang ditempatkan sebagai pimpinan,sedangkan banyak pula yang tidak senang ia ditempatkan ditempat itu.
Reply
 
 
# maulana 2012-06-06 14:05
Kewibawaan tidak akan bisa diraih kalau tidak bermaanfaat bagi orang lain, yang ada hanyalah ketakutan saja bukan kewibawaan, makanya Hidup ini haruslah bermanfaat bagi orang banyak.
Reply
 
 
# ike_Smi 2012-06-06 20:59
Pemimpin jaim memang ada ..bahkan arogan krn sll memaksakan kehendaknya,kalau tidak dituruti semua yang dikerjakan di mata “beliau “ yang terhormat selalu salah dan tidak pernah benar,,,

Alhamdulillah pemimpin di tempat saya bertugas tidak jaim beliau sangat memperhatikan anak buahnya seperti yang disampaikan pak Dirjen "Perhatian dari seorang pemimpin terhadap bawahannya sangatlah mutlak. Perhatian itu akan menjadi motivasi dan apresiasi bagi bawahan. Perhatian pemimpin, apalagi sapaan dan pujian terhadap apa yang telah bawahan kerjakan, akan menjadi nilai yang sangat berharga bagi bawahan."

semoga Pemimpin-pemimpin di Pengadilan Agama bisa berjiwa besar seperti yang disampaikan oleh pak Dirjen......semoga saja ;-) :-)
Reply
 
 
# Paskinar Said PTA Jypr 2012-06-07 06:09
:lol: Jaim (ja-im) adalah singkatan dari kata jaga-image yang merupakan suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya dengan mengharapkan orang lain menganggap bahwa ia sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tenang, dan berwibawa serta disegani.

Orang yang selalu jaim seperti yang diceritakan pak Dirjen berarti memaksakan diri agar dia dinilai berwibawa. Memaksakan diri agar orang segan kepadanya. Rasa takut, segan dari anak buah yang timbul atas sikap jaim seperti itu bukan timbul secara alami tapi timbul dalam makna memaksakan diri, yang hasilnya akan berdampak negatif dari anak buah. Di hadapan kita anak buah manggut2 tapi di belakang kita anak buah mencibir.

Oleh karena itu sifat kepemimpinan yang jaim tidak perlu dikembangkan dan diterapkan. Terima kasih Pak Dirjen. Nasehat Bapak, Petuah Bapak adalah pelita bagi kami.
Reply
 
 
# Jeje PA.Tgrs 2012-06-07 08:29
Mudah-mudahan kita sebagai komentator suatu saat jika sudah jadi pemimpin atau sedang jadi pemimpin bisa menjadi pemimpin yang baik segala-galanya,sebagaimana komentar yang disampaikan.amin
Reply
 
 
# Abdul Malik-PA.SoE 2012-06-07 08:40
Kunci seorang pemimpin yang baik adalah mau menghargai diri sendiri dan orang lain.
Reply
 
 
# Faizal Kamil,KPA.Bengkalis 2012-06-07 08:54
Pimpinan yang sanggup berkoordinasi dengan atasannya, bersinergi kesamping dan mengayomi dibawah, pasti tidak " JAIM"
Reply
 
 
# Nurhadi, Ms. Lhoksukon 2012-06-07 09:36
Kok masih banyak ya KPA/WKPA yang jaim, jangankan sama staff apalagi honorer, hakim saja dibiarkan dan tidak dipedulikan, sudah melanggar taklik talak tuh .....
Reply
 
 
# Hamba Allah-Papua 2012-06-07 09:44
Saya setuju usulan teman pak Dirjen dan saya sarankan kalau bisa pak Dirjen sekali-kali telepon Ketua PA lewat tlp kantor, ada di tempat apa nggak, krn terkadang org kalau sdh jadi pimpinan pandainya marah, menegur, mengoreksi tp nggak mau di keritik, sy takut kalau kita pake istilah guru kencing berdiri murid kencing berlari, pimpinan malas ngantor bawahan ngacir kasian PA itu tempatnya ahli agama yg pantas u diteladani jgn sampai jd bahan cemohan.....
Reply
 
 
# Abdullah PA Merauke 2012-06-07 09:47
Setuju sekali dgn usulan teman pak Dirjen krn klu bpk yg ngomong ttg kepemimpinan org2 pasti percaya karena ada buktinya bukan cerita aja, thks
Reply
 
 
# fahmi-PA.surakarta 2012-06-07 11:16
jangan sampai jadi pemimpin itu pemimpin yang JARKONI...Isone mung ujar tapi ga' iso nglakoni...seorang pemimpin jg hrs punya intuisi yg tajam u/peningkatan kinerja agar hal2 yg tidak diperkirakan sebelumnya terjadi dpt diatasi lbh dini
Reply
 
 
# Hermanto 2012-06-07 11:20
...Good leaders are made not born.
If you have the desire and willpower,
you can become an effective leader.
Good leaders develop through
a never ending process of self-study,
education, training, and experience..., Setuju Pak Dirjen, yang telah menjabarkan karakter seorang pemimpin yang baik...
Reply
 
 
# abdullah PA Merauke 2012-06-07 11:53
Alangkah Indahnya jika pendapat Tanri Abeng : Leading, inspiring, motivating digabung dengan pendapat pak Dirjen Care and wisdom, sy yakin pimpinan di PA n PTA bisa melakukannya melalui anjuran dr pak Dirjen Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan lewat pak Dirjen siapa lagi, ayoooooo kita Insya Allah pasti bisa.....
Reply
 
 
# aska tmg 2012-06-07 14:53
Kullukum roo'in wa kullukum mas-uulun 'an ro'iyyatihi... dst
Reply
 
 
# Bunyamin Alamsyah PTA BDL 2012-06-07 18:49
Hallo Mas Paskinar IRJa, Pa KPA Bengkalis yang energik dan kawan kawan semua, jaim positif perlu ada dalam diri kita, tapi jaim negatif itu yang perlu dihindari, dengan selalu meraba diri bahwa kiata ini bahagian makhluq ciptaan Yang Maha Kuasa, tidak pejabat tidak bawahan nanti kita akan kembali kepadanya. Bukanlah Ummatku bila atasan tak menyayangi bawahan dan bukanlah umatku bila bawahan tidak menghormati atasan, itu pesan Rosul Al Amin.
Reply
 
 
# mwiaty@msaceh 2012-06-08 11:29
8)Saya berpraduga masih ada pimpinan yg punya keracter jaim sbgmn yg di sampaikan teman pak Dirjen dan saya yakin pak Dir jen sudah dpt merabanya ketua PA/PTA yg mana.Solusinya dg bintek moralitas tidak hanya PPH Semoga ....
Reply
 
 
# Furqon Yunus PA Metro 2012-06-08 11:32
Sejak di Metro ini saya mulai sering buka pojok pak dirjen, dan jadi tahu apa saja yang dilakukan dan pengalaman dirjen saya, sejak kuliah di negeri sam,perbandingan makan es krim disono dan makan bakso disini,naik taksi atau ojeg kalau berangkat kekantor bila sopir prei dll yg sebelumnya tidak pernah saya baca.Saya mengambil hikmah banyak manfaat juga saya dipindahkan ke Metro ini:

Saya dekat dengan besan saya di Tanjungkarang dan keponakan saya yg jadi polwan, sarjana psichologidi polda lampung dimana setiap polisi di polres wil lpg yg akan pegang senpi(senjata api) hrs berurusan dng dia, saya bisa mencari keluarga yg 30 th lebih tidak ketemu, saya sempat dikunjungi adik asuh saya dulu di PHIN Yogya bernama Dr Edy Pratomo M.A.yg sekarang menjadi Duta Besar Indonesia di Jerman,saya dulu menjadi walinya dlm urusan sekolah karena ayahnya telah meninggal, dia seorang yatim yang bernasib baik dari sekolah PGA,PHIN bisa jadi Dubes dulu kantornya berseberangan dengan kantor p dirjen di depag, waktu dia di pejambon.

Ketika ia pulang dan tahu saya di metro ia menyempatkan diri mengunjungi saya,saya juga dpt membantu informasi anak teman2 metro yg akan berangkat training di perush siemen ke Jerman.

Motivasi dan innovasi dari P dirjen apapun senantiasa dpt saya baca setiap saat dan pikiran saya dpt lebih terbuka dan berwawasan luas.Terima kasih p dirjen.
Reply
 
 
# Atifaturrahmaniyah 2012-06-08 12:06
Biasanya kalau pimpinan jaim itu, karena menutupi kekurangannya, jadi mudah tersinggung mudah marah dan acuh tak acuh sepenti yg digambarkan dlm tulisan diatas.
Reply
 
 
# muslihdalimunthe PA Medan 2012-06-09 10:18
Setuju sekali-sekali Bpk Dirjen mengulas tentang kepemimpinan. Memang ada teory managemen "button up". Menurut pengalaman tdk berhasil karena budaya segan. Sang pemimpinlah yang harus memotivasi, kemudian dilaksanakan secara kompak. Tidak jaim.
Reply
 
 
# amam F/Kota Madiun 2012-06-11 10:15
Selain itu semua , pemimpin haruslah seorang "Problem Solver". Karena, tak sedikit persoalan2 yg muncul dalam satker sebagai sebuah organisasi.
Reply
 
 
# iyam pa cianjur 2012-06-11 14:25
pemimpin yang baik adalah pemimpin yang jarang memberikan perintah kepada bawahannya akan tetapi bekerja sama sama bawahannya terlebih selalu mendengar keluh kesah bawahannya karena pada hakekatnya pemimpin adalah pelayan bagi bawahannya....
Reply
 
 
# Nugroho 2012-06-11 15:03
Sudah saatnya para pemimpin menerapkan "Tut Wuri Handayani", jadi para pemimpin berjalan di belakang yang dipimpin, hanya menjadi "some one among other". seperti pengembala unggas atau ternak yang selalu berjalan dibelakang. menyetir dan mengawasi dari belakang.tidak menjadi siapa-siapa. namun kemimpinannya dan pengayomannya dapat dirasakan oleh yang dipimpin.
Reply
 
 
# Sri roslinda 2012-06-12 09:03
emang tidak enak bekerja dikantor yang pemimpinnya jaim yang negatif...ada perasaan tidak nyaman yang terkadang dapat membuat kita bekerja menjadi tidak ihklas...semoga pemimpin2 yang seperti itu terbuka hatinya untuk menjadi pemimpin yang menyayangi bawahan dan dihormati bawahannya...amien...
Reply
 
 
# A.Sayuti PA Pekanbaru 2012-06-12 09:27
saya sering membaca manajemen memang salah satu type pemimpim adalah pemimpin "jaim", karakternya sangat lihai dan halus melakukan PDKT terhadap atasan, kalau tidak jeli kdag sering terpukau,prilakunya biasanya ibarat "belah bambu" jinjing ke atas injak ke bawah.Solusinya adalah rekrutmen yang baik dengan prinsip profesional,proforsional dengan mengedepankan transparansi.
Reply
 
 
# A.Sayuti PA Pekanbaru 2012-06-12 09:41
memang tidak mudah mencari pemimpin yang baik, butuh usaha yang terus menerus mulai dari system rekrutmennya sampai kepd pembinaannya, apalagi warga peradilan umumnya berlatar belakang minim ilmu manajemen. pojok pak dirjen memang salah satu media pembelajaran yg sangat membantu utk mengasah ilmu manajemen tetapi belum tentu bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh para pimpinan, krn msh minim minat terhadap TI.
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2012-06-12 11:57
Seorang pemimpin haruslah ramah, mudah senyum, hangat, akrab dan tidak membeda-bedakan staf. Kalaupun harus membeda-bedakan, itu karena berkaitan dengan pekerjaan masing-masing staf yang berbeda... setuju Pak, tapi yang menentukan pimpinan di PA adalah TPM. mudah-mudahan saja pemimpin masa depan bisa melaksanakannya dengan baik dan benar.
Reply
 
 
# Ismail Paisuly, PA Masohi 2012-06-13 07:50
Pak Dirjen (Pak Wahyu W.) adalah sosok pimpinan yg nyaris mencapai target sempurna.Beliau paling pantas untuk diteladani (tidak usah berguru ke mana-mana) terutama bagi para top leader. Makanya para pimpinan kita harus banyak-banyak berkaca pada beliau.Dari aku untuk beliau..."Untuk sebuah nama, rindu tak pernah pudar, oh mimpi bawalah dia dalam tidurku....itulah nama beliau Pak Wahyu Widyana"
Reply
 
 
# Syamsul PA.Sidoarjo 2012-06-14 20:51
jadilah pemimpin ketika dimutasi orang-orang yg kita pimpin merasa "kehilangan" jangan jadi pemimpin ketikat dimutasi "diSyukuri" oleh orang-orang yg pernah kita pimpin....
Reply
 
 
# Rizqon PA. Martapura 2012-06-18 08:43
Teladan itu turunnya dari atas.
Reply
 
 
# Thamrin Habib, PTA.Pontianak 2012-06-18 14:58
secara filosofi pak Dirjen mungkin berseloroh bahwa pimpinan Jaim itu tidaklah dikalangan kita yang kenyataannya ternyata ada dikalangan sendiri semoga nyanyian pak Dirjen ini kita pahami bahwa yang ditujunya adalah untuk membersihkan dikalangan kita, terhadap pimpinan yang bersifat jaim secara negatif untuk mejadi I'ktibar ungkapan pak Dirjen ini, bersifatlah sperti sifat-sifat terpuji yg dikemukakan pak Dirjen tsb, terutama pimpinan PTA yang akan menjadi panutan oleh pimpinan PA sebagai kawal depan MA.
Reply
 
 
# Dirham PA-Sidikalang 2012-07-09 09:29
tulisan yang menarik, indah, bermakna.
semoga para tulisan tersebut dapat menyadarkan para Pemimpin-pemimpin Peradilan.
;-)
Reply
 
 
# Isolih PA. Cms 2012-07-10 09:38
Tema yang cukup menari untuk dikomentari "Pemimpin yang jaim" alias pemimpin yang jaga image insya Allah untuk lingkungan kita tidak akan ada, walaupun ada hanya beberapa gelintir orang itupun tidak akan bertahan lama, dan untuk tipe kepemimpinan bagi kita ummat Islam kusus untuk lingkungan Peradilan Agama, telah ada pigur dan contoh yang harus diteladani yaitu Rasulullah SAW. pada diri beliau telah tertanam "Uswah Hasanah" sifat-sifat yang penuh dg jiwa keteladanan, "Afshohul Hal Min Lisanil Maqol" contoh dengan tindakan/ perbuatan akan lebih berarti dari banyaknya bicara/ kata-kata, semoga saja, amien.
Reply
 
 
# Abdul Muin MS Aceh 2012-07-10 16:04
Pemimpin jaim itu karena kebodohannya. Ingin dihormati tapi tidak terhormat.Semua manusia khalifah Allah swt. Berakhlaklah dengan akhlak Allah. Segala macam urusan Insya Allah dapat terlaksana dengan baik dan lingkungan kerja jadi harmonis.
Reply
 
 
# A. Rahim Upuolat. PA Msh. 2012-07-11 08:14
Jadilah pemimpin yang Jaim "istikhomah" sesuai ahklak Rasul Muhamad SAW itu yang diharapkan, semoga.
Reply
 
 
# Drs. ABD. HAMID, SH.,MH. 2012-07-16 11:29
Pak Dirjen Badilag yang Budiman jadilah pemimpin yang JAIM, Istikhomah, Amanah, Tabhliq dan Fathonah. agar bisa dikenang oleh aparat Peradilan Agama kelak. Amien amien Ya Rabbal Alamin.
Reply
 
 
# Ermida YS.PA Padang Panjang 2012-07-31 09:11
Sebenarnya "pemimpin jaim" seperti yang diceritakan di atas patut untuk dikasihani, karena dia sedang lupa, bahwa sebelum jadi pimpinan dia kan pernah jadi bawahan juga. Masya Allah.
Reply
 
 
# mizi 2012-08-10 07:42
Pemimpin yang jaim kaya gitu tuh perlu dipertanyakan, apakah dia jadi pemimpin karena intelektualnya, atau karena I.P.nya, nasobnya, atau karena naasibnya.
Reply
 
 
# A. Mahfudin 2012-10-03 14:44
Pemimpin yang jaim tak pantas menjadi pemimpin, apalagi senang memutuskan tali silaturrahim, ketika masih di bawah, ia baik dan supel, tapi sudah menjadi pemimpin ia sok tak kenal, jaim dan tidak mau perduli
Reply
 
 
# Hariadi 2013-09-29 18:21
Catatan http://badilag.mahkamahagung.go.id/pojok-pak-dirjen/11280-pemimpin-yang-jaim-46.html sungguh inspiratif
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 985 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS