Sabtu, 19 April 2014 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 5 | (17/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Diklat Hakim Ekonomi Syari'ah Tahun 2014 | (16/4)
PENGUMUMAN : Ralat Perubahan Tempat Kegiatan Bimbingan Teknis Administrasi Peradilan Agama Angkatan II tahun 2014 | (15/04)
PENGUMUMAN : Permohonan Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun 2014|(14/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Administrasi Peradilan Agama Angkatan II | (11/4)

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Pelatihan Pemantapan Kode Etik dan Perilaku Hakim Dari Komisi Yudisial | (11/4)
PENGUMUMAN : Format BAS dan Putusan | (8/4)

PENGUMUMAN : Hasil Rapat Pimpinan dan TPM Mahkamah Agung RI | (8/4)
PENGUMUMAN : Penulisan Nama, NIP dan Tempat/Tanggal Lahir dalam Aplikasi SIMPEG Online | (1/4)
PENGUMUMAN : Optimalisasi Aplikasi SIADPTA Plus | (27/3)

PENGUMUMAN : Verifikasi dan Validasi Data Kepegawaian 2014 | (21/03)
VIDEO : Kuliah Berseri Peradilan Agama -- Seri 4 | (21/03)
PENGUMUMAN : Usulan Rencana Kinerja Tahunan DIPA 04 Ditjen Badilag | (21/03)
VIDEO: Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 3 | (17/3)
PENGUMUMAN :
Pemanggilan Peserta Sosialisasi Hukum Acara Ekonomi Syariah (KHAES) | (17/3)
PENGUMUMAN : Pembaharuan Data SDM Berbahasa Asing | (17/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Workshop Bagi Hakim Pengadilan Agama | (14/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Peningkatan Tenaga Teknis Pemberkasan Perkara Kasasi/PK di Bandar Lampung | (14/3)
SURAT EDARAN : Pemberitahuan (PENIPUAN) | (14/3)




Tambahkan ke Google Reader
Hakim di Mata Hukum, Ulama di Mata Umat (20/6) PDF Cetak E-mail
Rabu, 20 Juni 2012 08:39

Pojok Pak Dirjen

Hakim di Mata Hukum, Ulama di Mata Umat

*

“Dalam akhir sambutan saya ini, ada dua permintaan saya kepada Pak Dirjen. Pertama, saya mohon malam ini Pak Dirjen tidak kembali ke Medan, tapi berkenan menginap di rumah dinas ini. Kedua, saya mohon Pak Dirjen tidak segera memutasikan Saudara Ketua Pengadilan Agama Tebing Tinggi ke tempat lain, karena kami dan masyarakat di sini memerlukannya. Demikian pula, kami sangat memerlukan isteri Ketua PA.”

Itulah kata-kata Walikota Tebing Tinggi, Bapak Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, ketika memberi sambutan pengantar jamuan makan malam, di rumah dinasnya, pada Kamis (14/6/2012) malam. Acara itu dihadiri oleh tidak kurang dari 100 tamu, yang terdiri dari para pejabat Kota Tebing Tinggi, Pimpinan PTA dan PA-PA se-Sumatera Utara, perwakilan instansi terkait, para ulama dan tokoh masyarakat.

Wali Kota yang tampak berwibawa, berwawasan luas dan menyenangkan ini dengan ramah dan hangat menyambut semua tamu yang datang pada acara jamuan makan malam itu. Acara jamuan makan malam diadakan dalam rangka menyambut kontingen Turnamen Tenis ke-11 PTWP Lingkungan Peradilan Agama se-Sumatera Utara, yang dipusatkan di Tebing Tinggi. Turnamen ini juga dikaitkan dengan peringatan 130 tahun peradilan agama. Tema yang diusung dalam perigatan ini adalah Peningkatan Peran Hakim di Mata Hukum dan Ulama di Mata Umat.

**

Saya senang sekali melakukan perjalanan menghadiri acara di Tebing Tinggi ini. Selain saya bisa melakukan kunjungan ke PA-PA sekitar, yaitu  PA Medan, PA Lubuk Pakam dan PA Tebing Tinggi itu sendiri, saya juga dapat melihat banyak hal yang menggembirakan untuk kepentingan pengembangan peradilan agama yang lebih baik di masa depan.

Usungan tema peningkatan peran hakim di mata hukum dan ulama di mata umat, tampak bukan “omdo”, alias omong doang. Bersamaan dengan turnamen ini, di waktu malam harinya dilakukan rapat kordinasi dan diskusi-diskusi untuk meningkatkan kapasitas SDM dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan. Ini sangat terkait dengan peningkatan profesionalitas hakim di mata hukum.

Di samping itu, saya melihat pula dalam rangkaian peringatan ini, ada penulisan buku-buku, perlombaan penulisan artikel hukum, seminar-seminar dan penerbitan newsletter. Semua ini jelas sekali terkait dengan penguatan peran hakim di mata hukum.

Adapun penguatan peran ulama di mata umat, fenomena dan hasilnya nampak sekali dari situasi atau interaksi dalam penyelenggaraan turnamen itu. Sambutan Walikota Tebing Tinggi, secara formal, yang ditulis di awal artikel ini memperlihatkan sangat jelas betapa tokoh masyarakat dan umat merasakan manfaat dari aparat pengadilan agama.

Dari bincang-bincang dengan Walikota, Wakil Walikota dan beberapa tokoh masyarakat, saya berkesimpulan bahwa eksistensi peradilan agama, termasuk para aparatnya, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Masyarakat telah mengambil manfaat dari institusi kita ini.

Aparat  dan para isteripun tidak lepas dari kegiatan di bidang keagamaan, pendidikan dan sosial. Interaksi yang proporsional antara aparat dan para isteri dengan masyarakat tidaklah mengganggu tugas pokok pengadilan. Malah tampaknya sangat membantu keberhasilan pelaksanaan tugas itu.

Saya melihat acara pembukaan turnamen yang dimeriahkan oleh dua grup Marching Band,  diselenggarakan di Lapangan Merdeka Kota Tebing Tinggi,  disemarakkan dengan spanduk panjang dan karangan-karangan bunga, didukung oleh berbagai pihak dan dihadiri tidak saja oleh keluarga besar peradilan agama, memperlihatkan keberhasilan peradilan agama se-Sumatera Utara, khususnya PA Tebing Tinggi, dalam melakukan kordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak di Tebing Tinggi, termasuk dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Kordinasi dan komunikasi ini tidak lain adalah silaturahmi, yang sangat dianjurkan oleh agama kita.

***

Saya senang sekali, proses penguatan ‘hakim di mata hukum dan ulama di mata umat’ di provinsi Sumatera Utara ini berlangsung terus bahkan terlihat dalam beberapa hal ada percepatan-percepatan. Walaupun di sana-sini masih menemui keterbatasan, kreativitas dan inovasi tanpa henti, menuju pengadilan yang lebih baik, terus menerus digaungkan oleh pimpinan PTA dan seluruh jajarannya.  Kreativitas dan inovasi diarahkan untuk kepentingan peningkatan pelayanan hukum.

Dalam memberikan pelayanan hukum, hakim merupakan unsur yang sangat dominan. Oleh karena itu, hakim dituntut untuk dapat berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati  dan bersikap profesional. Ikhlas, qana’ah dan syukur juga merupakan sifat yang harus selalu dimiliki para hakim. Dengan mengamalkan sifat-sifat itu, hakim akan dapat memberikan pelayanan hukum yang memuaskan kepada para pihak.

Sifat-sifat terpuji yang harus dipelihara oleh hakim itu tidak lain adalah sifat-sifat yang melekat kepada para nabi dan ulama-ulama sebagai pewaris nabi. Oleh karena itu, penguatan hakim di mata hukum dan ulama di mata umat seperti diperlihatkan oleh PTA Medan dan PA-PA sewilayah Sumatera Utara perlu terus digalakkan dan disebarluaskan.

Memang, kita mendengar masih adanya kontroversial tentang adagium ‘hakim di mata hukum dan ulama di mata umat’.  Ada yang mengkhawatirkan jika seorang hakim berperan juga sebagai ulama, maka tugas kehakimannya akan terganggu. Peran sebagai ulama ‘ditakutkan’ mengintervensi fungsi seseorang sebagai hakim, dan akan mempengaruhi putusannya ketika seorang jamaahnya menjadi pihak pada perkara yang ditangani oleh sang hakim yang ulama itu.

Bagi saya, kekuatiran itu memang beralasan. Namun demikian, kekuatiran itu dapat dihindari dengan cara sang hakim yang ulama ini tidak menangani perkara yang sedang menimpa jamaahnya itu. Bukankah, secara umum setiap hakim juga wajib menghindari menangani perkara dari para pihak yang mempunyai hubungan dekat atau akrab dengannya, jika dikhawatirkan akan mempengaruhi putusannya? Bukankah kalau hakim itu profesional dan proporsional dalam menjaga komunikasi dan interaksinya dengan masyarakat, maka kekuatiran intervensi itu tidak akan terjadi?

Di luar itu, kita sepakat, jika para hakim kita mempunyai sifat-sifat terpuji yang biasa melekat pada ulama sebagai pewaris nabi, maka dunia peradilan kita akan betul-betul bermartabat, berwibawa dan dipercaya publik.

Dengan memelihara sifat-sifat ulama, seorang hakim tidak akan melakukan penyelewengan sekecil apapun, apalagi menyangkut hukum.  Saya yakin, dengan selalu menjaga dan mengamalkan sifat-sifat yang terpuji itu, tidak akan pernah ada lagi hakim yang diperiksa oleh Badan Pengawasan dan KY atau disidang oleh Majelis Kehormatan hakim, apalagi ditangkap basah oleh KPK.

Kita betul-betul mendambakan semua hakim berhati mulia, bersikap dewasa dan bertindak berani, tegas serta bijaksana. Kalau ini terjadi, insya Allah visi Mahkamah Agung untuk menjadikan badan peradilan Indonesia yang agung akan cepat terlaksana. Kapankah itu? (WW)

TanggalViewsComments
Total2989190
Sab. 1930
Jum. 18110
Kam. 1730
Rab. 16150
Sel. 1530
Sen. 1410
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# FAUZI. PA.SUNGAILIAT 2012-06-20 09:06
tidak dapat dimungkiri kebanyakan masyarakat lebih mendengar dan merasa puas apabila mslah mereka diselsaikan oleh ulama apalagi hakim dipandang juga sebagai ulama oleh masyarakat, semoga PA Tebing Tinngi semakin dipercaya oleh masyarakat Amiin.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA Painan 2012-06-20 09:42
"Hakim di Mata Hukum, Ulama di Mata Umat'
Semoga hal tersebut betul-betul terwujud dengan memaksimalkan pengamalan PPH dalam rangka menyukseskan RBPP sehingga Wibawa peradilan di hadapan masyarakat semakin bagus dan dipercaya. Amin !
Reply
 
 
# Misran - PA Medan 2012-06-20 09:48
Jadilah Hakim sebenar Hakim, dan jadilah ulama sebenar ulama, dua fungsi yang tidak dapat dipisahkan, jika demikian; tidak ada yang mesti dikhawatirkan, ketika menangani perkara ia adalah Hakim, demikian pula ketika ia berada di tengah masyarakat ia adalah ulama, thanks
Reply
 
 
# Tarsi PA.Pelaihari 2012-06-20 10:01
Hakim sebaiknya tidak saja sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai ulama dimasyarakat, jika dua kemampuan ini dimiliki,maka Pengadilan Agama akan cepat terangkat harkat dan martabatnya, dewasa ini "sebagai ulamanya" sebagian hakim luntur kalau tidak mau dikatakan hilang, karena itu apa yang dikatakan Pak Dirjen benar adanya,itulah sebabanya kekhawatiran MUI dulu Hakim PA bergabung di Mahkamah Agung.Sekarang tinggal kita mengembalikannya.Semoga kita dapat mengikuti PTA Medan dan PA-PA Se Wilayah Sumatera Utara.
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jypura 2012-06-20 10:17
"Hakim di Mata Hukum, Ulama di Mata Umat", agaknya sudah wajib ain bagi Hakim Peradilan Agama. Tks!
Reply
 
 
# amir-PA Praya 2012-06-20 10:30
Alangkah indahnya dan bijaksana apabila seorang Hakim sebagai penegak Hukum yang adil dan diperkaya oleh masyarakat sehingga setiap putusannya masyarakat merasa diayomi dan merasa puas, apalagi seorang kalau Seorang Hakim juga sebagai ulama penyejuk bagi umatnya jgn sebaliknya, semoga setiap Hakim PA semoga adanya..Amin..
Reply
 
 
# tilla@PTA.Mtr 2012-09-21 14:59
Amiinn...
Reply
 
 
# Tatang Std PA Smrda 2012-06-20 10:33
Demikianlah krn Islam telah memberikan tuntunan kita hrs senantiasa memberikan manfaat dan maslahat kepada orang lain dimana kita berada dan dalam profesi apapun kita berada
Reply
 
 
# Alimuddin M.Mataram 2012-06-20 10:34
Sejatinya semua HAKIM harus ULAMA, karena semua hakim adalah ilmuan dan ilmuan harus ahli pula mengamalkan ilmunya. Maka 10 poin dalam Kode Etik Hakim/PPH, yang terpenting bukan menghafalnya, tapi mengamalkannya.

Hakim yang betul-betul ulama tidak akan pernah terlibat dalam 'jual beli hukum', apalagi menjual masyarakat atas nama hukum. Mudah-mudahan hakim-hakim Indonesia, bilkhusus dari PA, selalu diberi dan siap menerima hidayah dari Allah SWT, amin!
Reply
 
 
# Aris PA Ruteng 2012-06-20 12:29
Pak Alimuddin, terima kasih atas segala bimbingannya terutama yang terkait dengan Bimbingan mental, semoga saya selalu dapat mengamalkan segala apa yang pernah Bapak wejangkan kepada saya, saya masih ingat pesan Bapak "jika ingin selamat dunia akhirat maka lurus dari sekarang, jangan ada toleransi sedikitpun terhadap hal-hal yang tidak jelas..."
Reply
 
 
# zaenal.badilag 2012-06-20 11:13
''athiullah wa athiurrasul wa ulil amri minkum'',,,,mdh2an para hakim2 didunia peradilan termasuk dalam katagori 'ulil amri' yg dimaksud didlm hadits tersebut, yg kehadiran dirinya dapat memimpin dunia peradilan yg membawa byk manfaat bagi kemaslahatan umat...amin yamujibassailin
Reply
 
 
# AFIE_BDL 2012-06-20 11:13
Saya yakin adagium "HAKIM DIMATA HUKUM DAN ULAMA DIMATA UMAT" tidak akan menjadi kontroversi lagi bahkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Peradilan Agama apabila mereka bisa memposisikan dirinya masing-masing pada tempat yang benar dan tepat.
Reply
 
 
# Ratu Ayu 2012-06-20 11:45
Menurut saya, adagium itu tidak perlu dikontroversikan karena adagium itu juga bermanfaat, yaitu dengan mengambil nilai2 mulia yang seharusnya dimiliki ulama, tidak harus diejawantahkan dengan menjadi da'i terlebih lagi utk hakim wanita, meskipun tdk ada larangan bagi hakim utk berdakwah, jadi saat seorang hakim akan/hampir melakukan penyelewengan/pun abuse d droit, nilai itu langsung menghalau, jd Pak Dirjen ga perlu penasaran kpn peradilan yang agung itu terwujud. Akan dimulai dari hakim2 lingkungan Peradilan Agama Pak, percayalah!
Reply
 
 
# bapaknya ali 2012-06-20 12:11
maaf Pak Dirjen, saya punya pandangan yang sedikit beda. kebanyakan ulama atau di kyai di kampung-kampung, mereka terbiasa menerima amplop setelah selesai ceramah dan mereka juga terbiasa menerima amplop dari tamu yang datang. menurut saya, sangat tidak etis, jika hakim juga mau menerima amplop. sekali lagi maaf...
Reply
 
 
# asepdadangm pa depok 2012-06-20 12:15
slmt kpd PA Tebing Tinggi yg tlh mengusung Tema "Hakim dimata Hukum dan Ulama dimata Umat" dapat dilaksanakan dgn tanpa banyak kekhawatiran yg pada akhirnya mengurangi gerak langkah Hakim baik didalam dinas maupun diluar dinas, sukses Pa Ketua PA Tebingtinggi
Reply
 
 
# Aris PA Ruteng 2012-06-20 12:26
Sayangnya masih ada juga saudara2 kita sesama Hakim yg Ulama di mata Masyarakat tetapi ke-ulama'anya tidak dibawa serta ke dalam aktifitas keseharian di kantor, sehingga masih terdapat Hakim2 yang Khutbah jumat serta ceramah keliling tiada henti tpi di kantor seolah2 tidak beragama yang menghalalkan segla cara untuk memperkaya diri (na'udzubillah)..semoga saudara2 kita yang masih seperti itu segera diberi hidayah oleh Allah...amin
Reply
 
 
# Rusliansyah - PA Nunukan 2012-06-20 12:37
Ungkapan "Hakim di mata hukum dan ulama di mata umat" adalah ungkapan yang tidak bisa dilepaskan pada diri seorang hakim PA. Sejarah sudah membuktikan hal itu. Bukankah dulu para hakim PA yang biasa dipanggil 'Tuan Qadhi" adalah ulama2/kyai2 yang cukup mumpuni di daerah bersangkutan. Apalagi para"Tuan Qadhi" menggunakan sorban kebesaran seorang ulama/kyai.

Walaupun untuk saat ini sudah jarang didapati hakim PA yang seperti itu. Tapi paling tidak pada diri hakim PA ada pengaruh 'keulamaan' seperti itu. Sekurang-kurangnya hakim PA saat ini adalah seorang yang biasa dipanggil 'ustadz' yang memberi pencerahan kepada umat. Ini adalah panggilan agama, panggilan rohani seorang hakim PA.

Ballighu 'Anny Walau Ayah. Karena itu, kapan pun dan di mana pun hakim PA ditempatkan, dia akan dapat memberikan penerangan dan pencerahan kepada sekelilingnya, seperti yang diceritakan Pak Dirjen di atas.

Semoga ungkapan tersebut dapat terus melekat pada diri seorang hakim PA.
Reply
 
 
# A.Topurudin, PA Banyumas 2012-06-20 12:42
Memang hakim itu adalah ulama, tetapi bukan mufti, sehingga tidak mudah mengumbar omongan atau pendapat di muka umum. Pendapatnya dituangkan dalam putusan atas perkara yang ditanganinya.
Reply
 
 
# M.Yusuf wk PA Kendari 2012-06-20 13:06
Menjadi Ulama No dan bersifat Ulama yes.Ualama lazimnya lahir dari pondok pesantren dan istiqamah pada jalur itu.Sedangkan Hakim mungkin saja memiliki latar belakang dari pesantren tetapi sudah tidak istiqamah lagi pada jalur itu dan memilih jalur birokrasi.Karenanya, Hakim ya Hakim, yang memiliki sifat2 Ulama dan dekat dengan Ualama.Jabatan Hakim adalah jabatn yang mulia (Officium nobile) dan satu-satunya jabatan yang diberikan jaminan surga adalah Hakim(memilih jalan yang benar).
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2012-06-20 13:13
10 Pedoman Prilaku Hakim insyaalloh telah dilaksanakan oleh hakim PA. Rata2 di daerah Hakim PA adalah Ulama' di mata umat, Banyak yg terlibat di MUI, dan tokoh di organisasi Keagamaan/kemasyarakatan, banyak yg jadi imam di Masjid dll. Yg penting tetap profesional. Hakim dimata hukum dan Ulama' di mata umat adalah jiwa warga PA. Kita harus rebut dunia akhirat, kenapa harus terbelenggu bahwa hakim sepi, tidak boleh kenal kanan kiri. terpenting putusan tidak terpengaruh oleh perkenalan dg masyarakat. niat kita ibadah, berjuang dan terus berjuang demi kejayaan PA dan Islam. Salam kangen tuk sang pejuang.
Reply
 
 
# iing sihabudin pa sumber 2012-06-20 13:23
"HAKIM DIMATA HUKUM DAN ULAMA DIMATA UMAT" insya Allah akan masuk surga jaminannya.
Reply
 
 
# H. Abdul Rasyid A, MH @PA Mojokerto 2012-06-20 13:28
Sangat setuju dengan Dirjen Badilag Bpk. Drs. H. Wahyu Widiana, MH bahwa hakim dituntut untuk dapat berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati dan bersikap profesional. Ikhlas, qana’ah dan syukur. Karena itu, hakim yg dipromosikan sebagai pimpinan haruslah memenuhi dan memiliki sifat2 tersebut sehingga dia akan memiliki wibawa dan berkharisme sekaligus menjadi suri teladan bagi bawahan dan umat.
Reply
 
 
# M Zubaidi - PA Tarakan 2012-06-20 13:33
Assalamu'alaikum warahmatuLlahi wabarakatuh.

Seperti itulah memang idealnya Hakim-Hakim Peradilan Agama. Dia tidak hanya menjadi 'Ksatria' pembela keadilan di ranah hukum dan peradilan, tetapi juga menjadi 'Obor' dan juru penerang (muballigh/muballighah) di tengah-tengah masyarakat...*)
Reply
 
 
# Abqari PA 2012-06-20 14:02
sebagai pembaca, sungguh sangat sejuk dan menyentuh hati tulisan Pak Dirjen di atas...,seakan kita dalam suasana lelap dengan uraian kata Pak Dirjen...

di sisi lain, kalau kita ingin obyektif mengakui kelemahan dan keterbatasan kita, maka renungan dan penerapan "Hakim di mata Hukum dan Ulama di mata Umat" akan berbanding terbalik dengan suasana dengan berbagai komentar pada artikel "716 hakim PA masuk gerbong mutasi...",

lantas di mana ruang lingkup permasalahannya...? dan bagaimana solusinya...? adakah di antara kita peduli dengan teriakan komentar2 tsb...? atau apakah kita rela membiarkan Peradilan Agama berjalan dengan "Outopilot"...? semoga menjadi renungan..!
Reply
 
 
# mwiaty@msaceh 2012-06-20 14:04
Hakim dimata hukum dan 'ulama dimata ummat suatu keniscayaan bagi hakim PA tetapi ada yang menanggalkan ke'ulamaannya sehingga ketangkap basah oleh KPK
Reply
 
 
# Syahrial Anas- PA Lubuk Pakam 2012-06-20 14:08
Peran ganda seorang Hakim, sebagai Hakim dan seorang ulama adalah suatu keniscayaan bagi Hakim Peradilan Agama. Keduanya harus paralel dan bersinerji dan harus dilakukan secara proporsional. Kekhawatiran terhadap adanya intervensi peran sebagai ulama terhahadap fungsi seseorang sebagai hakim memang bisa berbagai macam bentuknya. Selain yang dikemukakan bapak Dirjen juga bisa datang dalam bentuk lain, misalnya dari ulama lain yang mungkin kawan, kenalan, kerabat atau kiyainya si Hakim atau dari Hakim ulama yang kawan, kenalan, kerabat, atasan atau mantan atasan si Hakim, yang datang membawa keluarganya atau diakui sebagai keluarganya dan minta agar dibantu. Disinilah peran ganda Hakim tersebut diuji.

Dengan berpegang teguh pada sikap dan sifat terpuji yang dituntut dari seorang Hakim sebagaimana dikemukakan oleh bapak Dirjen mudah-mudahan semua bentuk intervensi bisa diatasi. Sifat-sifat itu ialah hakim dituntut untuk dapat berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati dan bersikap profesional. Ikhlas dan qana’ah . Atau ringkasnya seperti diungkapkan oleh bapak Misran (Wakil Ketua PA Medan), Jadilah Hakim sebenar Hakim, dan jadilah ulama sebenar ulama. Walaupun itu tidak mudah adanya.

Semoga semua Hakim Peradilan Agama dapat menjalankan dan menjunjung tinggi peran sebagai Hakim dan sebagai Ulama atau menjadi seorang Hakim sekaligus menjadi seorang Ulama. Amin !
Reply
 
 
# Lisman PA. Tebing Tinggi 2012-06-20 14:09
Terima kasih buat pak dirjen yang telah mengunjungi kota kami sekaligus membuka turnamen Tenis PTWP ke XI di Kota tebing Tinggi Sumatera utara, saya sebagai panitia pelaksana sangat senang dan merasa haru bertemu langsug denga pak dirjen semoga Kota tebing jadi catatan pertama diluncurkannya Hakim dimata hukum ulama dimata ummat.
Reply
 
 
# uu-pakotatasikmalaya 2012-06-20 14:29
Kami setuju Pak Dirjen. Hakim PA harus tetap menjadi Hakim di mata hukum dan Ulama di mata umat.
Kita sebagai hakim, tidak bisa lepas dari umat.
Mudah-mudahan hakim PA bisa melaksanakannya dengan profesional dan proporsional.Amiin
Reply
 
 
# s.yanto.tn.PTA-Kendari 2012-06-20 15:00
"Hakim di Mata Hukum, Ulama di Mata Umat" sebenarnya sama dg:"Hakim = hakim, Hakim = Ulama". Ini sudah juga kami rasakan sejak pertama saya bertugas di Irianjaya (Kab.Merauke) tahun 1984. Bahkan peran itu dipesankan saat masih pendidikan calon hakim di Tugu, Bogor, lebih-lebih yg ditugaskan ditempat tugas yg perkaranya sedikit. Hakim akan melaksana kan fungsi kehakimannya dlm menghadapi dan menyelesaikan perkara yg ditanganinya di kantor. Namun saat telah selesai melak sanakan tugas tsb, saat ditengah masyarakat, fungsi hakim sebagai ulama/mu baligh akan disandang di pundaknya. Itu kenyataan yg ada, bahkan fungsi tsb sampai saat inipun masih relevan dan melekat dipundak hakim dimana saja ia bertugas.

Masyarakat menilai pada umumnya aparat Peradilan Agama (Hakim) lebih banyak yg pandai ceramah/jadi mubaligh dibanding dg pegawai yg bertugas di instansi yg berkopenten unt itu. Bahkan tidak sedikit hakim/pegawai PA lebih dikenal oleh masyarakat sebagai ulama/
mubaligh dibanding sebagai hakim/aparat peradilan agama.

Oleh karena itu hakim sebagai ulama menurut hemat saya tidak perlu dipersoalkan selama hakim tsb dapat mendudukan fungsinya secara proporsional. Karena memang petunjuk Rasulullah demikian "sampaikanlah apa yg dariku walau hanya sepotong ayat". Kata kuncinya "pedomani dan laksanakan tugas pokoknya, insyaallah akan aman dan selamat pelaksanaan tugas anda dan tetap istiqomah dlm berfatbiqulkhairat. Amin.
Reply
 
 
# ahid Lampung 2012-06-20 15:16
Hakim dimata Hukum Ulama dimata umat, bukan hanya sekedar adagium. Makna pentingnya adalah Hakim yang berilmu dan berintegritas, ketika ilmu dan integritas (moral) dengan sifat-sifat keulamaannya sudah dimiliki seorang hakim maka paripurnalah ia baik dalam melaksanakan tugas sebagai pemutus persoalan sekaligus menjadi role model ditengah-tengah masyarakatnya. Caracter Building inilah yang masih sangat langka dan mudah-mudah-mudahan kelangkaan itu secara menyeluruh Pengadilan Agama masih mayoritas yang memiliki hakim yang paripurna.
Reply
 
 
# Nadima PA Bkl 2012-06-20 15:34
idialnya sosok hakim Pengadilan Agama Indonesia, Hakim dimata Hukum dan Ulama dimata Umat.
Reply
 
 
# Helen-PA. Pontianak 2012-06-20 15:47
artikel kali ini mengenai "Hakim dimata hukum, Ulama di mata umat" menggali potensi Hakim di luar persidangan. Kami bangga dengan para hakim yang tidak hanya menyidangkan perkara secara adil, ttp juga membagi tsaqofah islamiyahnya kepada masyarakat sekitar. tidak dipungkiri, embel nama "agama" dibelakang instansi kita, memberikan kesan bahwa kita mempunyai pengetahuan lebih. hal itu saya rasakan, pak dirjen. di PA. Pontianak, saya adalah petugas informasi sekaligus anggota tim IT. jujur, sebelum saya hadir di PA, saya hanya tau hal2x mengenai IT dan hal2x mendasar mengenai hukum Islam. Alhamdulillah, dgn support dan perhatian pejabat dan pegawai di PA Pontianak, kini saya lebih memahami.

Sukses tuk PA seluruh Indonesia! :-)
Reply
 
 
# Siswoyo PA Medan 2012-06-20 16:24
masyarakat awam pada umumya mengenal setiap warga peradilan agama selalu saja dipanggil ustad atau ustadzah, itu merupakan langkah awal bagi kita warga PA untuk menerapkan hakim di mata hukum, ulama di mata ummat, bila kita dapat berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati dan bersikap profesional. Ikhlas, qana’ah dan syukur,maka Visi Mahkamah agung dapat terlaksana sekarang juga.... Semoga saja Amiiin..... ;-)
Reply
 
 
# Maharnis pta Jayapura 2012-06-21 06:39
Betul banget bahwa Hakim dimata Hukum dan ulama dimata masyarakat sudah merupakan komitmen kita dari dahulu.itu harus diwujudkan oleh Hakim Peradilan Agama dimana saja ia bertugas.
Reply
 
 
# Abd. Salam PA Watansoppeng 2012-06-21 06:55
Kalau kita mau mengkaji kepribadian seorang,maka UMAR bin KHATTHAB adalah sosok hakim yang ideal.
Saya mengandaikan, jika nanti diakhirat itu para hakim itu diminta berbaris, maka UMAR bin KHATTHAB adalah orang paling berhak membawa benderanya. Beliau adalah sosok yang jujur, adil, tegas, arif bijaksana, renda-hati, memahami benar dengan keadilan, dll beliau adalah benar-benar hakim tulen, pelajari sirahnya,,,!
Reply
 
 
# mudzakkir-tebuireng-jombang 2012-06-21 07:44
sepertinya tidak terlalu salah jika para pengambil keputusan ketika akan memilih pemimpin (baca : hakim) bukan hanya mempertimbangkan keilmuan ansich, akan tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana latar belakang kehidupan sosial kandidat di masa lalu, ibarat orang menanam pohon sangat penting diperhatikan aspek penyeliaan bibit, lahan dan perawatan, sehingga ketika aspek-aspek itu bisa terwujud insya Allah pilihan kandidat tidak akan mengecewakan, semoga
Reply
 
 
# Nursal-PA.Muara Bungo 2012-06-21 07:53
memang tidak mudah menjadi hakim dan tak mudah pula menjadi ulama, SK pun berbeda Hakim diangkat oleh Negara dan Ulama SK nya dari Umat.. ketika seorang diangkat oleh Negara jadi Hakim, maka umat pun mengetahui bahwa hakim orang yang banyak dan luas ilmunya.. orang yang banyak dan luas ilmunya maka umatpun memanggilnya Ulama /ustadz atau buya. dll, semoga hakim indonesia tetap jaya. " Hakim di mata Hukum, Ulama di mata Umat "
Reply
 
 
# Dadang Karim, PA Sbr 2012-06-21 08:00
Profesional, itulah kata kunci yang harus dipraktekan hakim saat berdinas maupun diluar dinas. Andaipun terpaksa harus memeriksa dan mengadili jama'ahnya sendiri,karena memang ada standar yang baku yang harus dilakukan hakim, maka dengan keprofesionalannya, tetap akan menjadi hakim dimata hukum yang arif dan bijaksana. Oleh karena itu, Hakim dimata hukum ulama dimata umat, akan tetap up to date untuk terus dipraktekan. Insya Allah.
Reply
 
 
# Baedhawi PA Nunukan Kaltim 2012-06-21 08:02
dulu, yg bs jd hakim agama ad/ para ulama2 yg luas wawasan keilmuannya juga menjadi tokoh masyarakat yg berwibawa, dihormati.Keberadaannya sangat diperlukan dimasyarakat khususnya jk ada mslh dibidang agama jg perkawinan & perceraian. perkataannya didengar, disengani dan sgt ditaati. bgmn dgn hakim2 skrg ? smg eksistensi hakim dimata hukum dan dimata masyaraakat yg dl bs kembali
Reply
 
 
# Tamim PA Lubuklinggau 2012-06-21 08:07
Di daerah saya, anggapan masyarakat terhadap hakim PA itu sama seperti diatas httetapi disitu masyarakat lebih percaya Patwanta/ceramah agamanya ketimbang Putusannya.
Reply
 
 
# Nyong Amboina 2012-06-21 09:06
Adagium Hakim di mata hukum, ulama di mata masyarakat pertama kali saya mendengar ketika Tuada Uldilag Prof. H. Bustanul Arifin memberi pengarahan kepada pimpinan dan hakim pengadilan agama, dan mungkin dengan alasan ini pula beliau manaruh keberatan ketika badan peradilan agama ingin dipisahkan dari Kementerian Agama.

Bapak Bustanul Arifin dalam suatu pidatonya pada tahun 1985 pernah menyampaikan juga bahwa senyatanya resiko dan dampak putusan hakim agama lebih besar dan berat dibandingkan putusan hakim pidana di pengadilan negeri. Beliau mencontohkan kalau seorang hakim pidana menjatuhkan putusan pidana terhadap seseorang maka yang menanggung derita dipenjara hanya terpidana sendiri dan derita itu akan berakhir setelah ia selesai menjalani hukuman. Namun hakim agama kata pak Bustanul Arifin kalau menjatuhkan putusan cerai terhadap suatu perkawinan maka yang menderita bukan hanya suami isteri yang diceraikan, akan tapi turut dirasakan juga oleh anak-anak dan keluarga keduabelah pihak, dan derita itu biasanya baru berakhir dengan kematian.

Benarkah demikian ??
Reply
 
 
# rosmadi 2012-06-21 09:14
Ulama adalah pewaris Nabi, untuk itu dekati ulama kalau ingin mencapai baldatun, toyibatun gorofun gofur
Reply
 
 
# H. Barmula PTA Ambon 2012-06-21 09:45
saya pikir jadi Hakim itu mudah saja,untuk dunia tetapi diakhirat akan ditimbang dengan dacing ( timbangan ) salah dijebloskan di api yg panas ingat putusannya yg keliru akan masuk Neraka ,tetapi menjadi ulama ini yang menurut saya tidak semudah itu,tetapi akhirat dapat syurga.
Reply
 
 
# dudu masduqi - pati 2012-06-21 10:00
di alinea pertama, Walikota Tebing Tingg berkata, "saya mohon Pak Dirjen tidak segera memutasikan Saudara Ketua Pengadilan Agama Tebing Tinggi ke tempat lain, karena kami dan masyarakat di sini memerlukannya." saya sependapat dg permintaan itu, artinya jika ada aparatur peradilan (hakim, panitera atau jurusita) lebih dibutuhkan di masyarakat sekitar, sebaiknya tidak usah dimutasi.

ini sejalan dg komitmen Pak Direktur Purwosusilo spt diberitakan sebelumnya "716 Hakim Peradilan Agama Masuk Gerbong Mutasi", yang mempersilahkan apabila ada diantara mereka yang merasa keberatan, untuk melayangkan surat ke Ditjen Badilag. “Kalau ada yang merasa keberatan dipindah, silahkan ajukan surat ke Badilag untuk kita tinjau ulang SK tersebut,”jelasnya.

tujuan mutasi harus jelas untuk kemaslahatan, maka jika ada aparatur (hakim, panitera, atau jurusita) yang keberatan dimutasi dan memilih tetap ditempat lama karena pengabdian kepada masyarakat, dg catatan ia siap tidak naik jabatan, maka sebaiknya diluluskan permintaannya itu. Khoirun-nas anfa'uhum lin-nas, sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat buat orang lain (baca: masyarakat).
Reply
 
 
# Drs.HAM.Hsb,MH PA Sidikalang 2012-06-21 10:23
"Hakim dimata hukum Ulama dimata ummat" harus dikembangkan secara profesional, jangan sampai ummat itu lebih menginginkan dan mengamalkan fatwanya hakim dari pada menerima putusannya hakim, tentaqng keberadaan aparat peradilan agama dimasyarakat hampir dapat dikatakan bahwa seluruh daerah masyarakat telah mengambil manfaat dari para aparat peradilan agama tanpa terkecuali didaerah terpencil sekalipun,oleh karenanya semoga kepercayaan masyarakat terhadap Peradilan Agama jgn sampai pudar dengan ulah segelintir oknum yang berbuat perbuatan tercela,dengan selalu ikhlash, tasyakkur dan Qanaah,kita bisa terhindar darinya, Amin
Reply
 
 
# Jasman, PA. Kabanjahe 2012-06-21 11:02
Kalau yang menjadi Hakim itu adalah Ulama, Insya' Allah penegakkan hukum dan keadilan akan tetap terjaga dengan baik, karena disamping para Hakim mendapatkan pengawasan dari pimpinan dan Badan Pengawasan atau KY sekalipun, juga yang lebih penting selalu di awasi oleh Allah Swt. Oleh karenanya para Hakim yang melekat sifat Ulama dalam dirinya sekali lagi Isya' Allah tidak akan melakukan perbuatan tercela. Amin Yarabbal Alamin.
Reply
 
 
# lailatull Arofah -PA Tabanan 2012-06-21 11:10
Sepanjang pengamatan saya selama ini teman-teman di Pengadilan Agama, terutama hakimnya, banyak yang berada dlm posisi sbg ulama di mata masyarakat.. mudah-mudahan kapasitas sbg ulama tsb mampu membawa Peradilan Agama sebagai lembaga yg dihormati oleh masyarakat serta mampu membawa aparatur peradilan agama sbg aparatur negara yg bersih dan berwibawa, amin
Reply
 
 
# tarmizi.pta.ambon 2012-06-21 11:55
"Hakim dimata hukum dan ulama dimata ummat"
merupakan cita-cita luhur yang perlu di aplikasikan,dibidang hukum ia adalah hakim yang menjadi dambaan bagi pencari keadilan,dimata masyarakat ia adalah ulama yang menjadi panutan bagi masyarakat.
Reply
 
 
# Ridhuan Santoso MSy.Aceh 2012-06-21 12:07
Diharapkan kepada semua Hakim kalau memegang teguh kode etik dan PPH, Insyaallah akan selamat dunia akherat dan menjujung tinggi harkat dan martabatnya sebagai Hakim dimanapun mereka berada akan selamat.
Reply
 
 
# Omay Mansur 2012-06-21 13:36
Antara Ruhul Hukmi (Hakim) dan Ruhul Da'wah (Ulama), ada titik persamaan dan perbedaannya. Jika Seorang hakim yang ulama ditempatkan di tempat tersebut terlalu lama dikhawatirkan nanti akan menonjol ruhul dakwahnya bukan ruhul hukminya ...
Reply
 
 
# Rizky PA Tahuna 2012-06-21 13:57
Hakim dimata Hukum Ulama dimata Umat adalah kepribadian yang idealis dari seorang Hakim Profesional dan Akuntabel yang kedua kakinya insya Allah diletakkan dan dirindukan oleh surga, Amin.

Bravo Hakim Agama.
Reply
 
 
# Pa. Yadi PTA.Ambon 2012-06-21 14:03
Romantis sekali ya ! Peran Hakim dimata hukum dan ulama dimata ummat.Saya pikir ungkapan ini tidak jauh berbeda karena semua yang di lakukan demi untuk kemaslahatan ummat manusia. Hakim salah dalam pusannya tentunya konsekwensinya adalah masuk neraka, sedangkan ulama salah dalam fatwanya konsekwensinya adalah dosa. Tinggal bagaimana kita menterjemahkannya ungkapan itu. Tetapi kemudian yang sangat menarik bagi saya adalah lintas koordinasi antara Lembaga Peradilan Agama dengan Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kab/Kota dapat dibangun secara konprehensip sehingga mutu jalinan silaturahmi itu berkualitas terutama pelayanan publik terhadap pencari keadilan.Oleh karena itu lintas silaturahmi tersebut tidak saja di kemas dalam acara Turnamen Tenis akan tetapi juga dalam acara lainnya seperti perayaan Hari-hari besar Nasional maupun keagamaan.
Reply
 
 
# Isolih PA. Cms 2012-06-21 14:27
" Hakim dimata hukum Ulama dimata masyarakat " Suatu Topik yangh sangat menarik sekaligus mengundang penasarang kami untuk membacanya, semoga dengan kehadiran topik semacam ini, akan makin menanamkan jiwa para hakin makin amanah dalam menjalankan tugasnya semakin berbobot dalam memutus suatu perkara, sehingga rasa keadilan makin dirasakan olewh para pencari keadilan, demikian juga kehadiran 'Ulama dimasyarakat akan selalu menjadi panutan, selalu memberikan keteladanan disetiap disetiap sewndi-sendi kehidupan, dimana saat ini masyarakat sudah sangat sulit mencari pigur seorang ulama yang menjadi anutan.
Reply
 
 
# fahrurrozi PA Surakarta 2012-06-21 14:52
dalam diklat cakim September-Nopember 2011, Hakim Agung Yang Mulia Prof Abdul Manan kurang lebih mengatakan, "Saya sudah berkali-kali ingatkan Badilag, agar para hakim tidak terlalu lama di pelosok-pelosok nan jauh di sana yang sepi perkaranya. Karena lama-lama ruhul hukmi para hakim bisa luntur dan digantikan ruhud da'wah aw tabhligh. Jadinya, peran Da'i atau Muballigh lebih menonjol / dominan ketimbang jadi hakim"
Reply
 
 
# asep ridwan pa kalianda 2012-06-21 14:57
gambaran yang pa dirjen sampaikan memang sungguh terjadi terutama di daerah, dimana hakim dan pengadilan agama memiliki peran yang signifikan dalam pembinaan umat, terima kasih pak, tulisan bapak semakin meneguhkan dan menguatkan semangat kami disini dalam berdakwah dan membina umat
Reply
 
 
# Mumu-Cakim PA Cianjur 2012-06-21 16:25
ke khawatiran hakim tidak akan berlaku adil andai dia sebagai seorang ulama mungkin terlalu berlebihan,karena faktanya seorang hakim yang juga ulama lebih takut tidak berlaku adil daripada hakim yang berperan hanya sebagai hakim saja.Idealnya Pengadilan dengan Agamanya adalah salah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.kami setuju dengan istilah Hakim dimata hukum ulama dimata ummat.
Reply
 
 
# M.Tobri-PA-Kuningan 2012-06-21 23:34
hakim dituntut untuk dapat berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati dan bersikap profesional. Ikhlas, qana’ah dan syukur juga merupakan sifat yang harus selalu dimiliki para hakim.semoga kami bisa memiliki dan mempertahankannya.
Reply
 
 
# Abdullah PA Merauke 2012-06-22 06:10
Alhamdulillah kita semua berharap aparat Peradilan Agama dapat menjalin komunikasi dan hubungan baik dgn pemerintah dan masyarakat setempat dalm pergaulan namun dalam menegakan hukum hakim mandiri dan independen tdk bisa dipengaruhi oleh siapapun atau suap apapun, sehingga Hakim tetap menegak hukum dlm lingkungan peradilan dan Ulama di mata masyarakat, Sukses sll untuk pak Dirjrn dan Kita semua, Aminnnnnnnnnn
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-06-22 06:44
Hakim di depan hukum, dan ulama didepan ummat sesungguhnya tidak saja diperankan oleh seorang hakim, namun juga seluruh komponen aparatur peradilan agama,sehingga tanggungjawab pembinaan ummat tidak hanya ditangan hakim,namun semuanya..
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-06-22 10:37
Smg permintaan Walikota Tebing Tinggi, Bapak Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM,agar Ketua Pengadilan Agama Tebing Tinggi tdk dipindahkan ke tempat lain, tidak dikabulkan oleh Bapak Dirjen Badilag, krn ybs layak mendpt promosi yg lebih baik lagi.
Patah tumbuh hilang berganti... Mutasi satu tentulah ada ganti.... Jgn khawatir pak Walikota Tebing Tinggi, orang2 PA sangat bersahabat seluruhnya...
Reply
 
 
# M.Chanif, PTA Makassar. 2012-06-22 15:31
Adigium yang dipakai oleh Pak Dirjend Menang pas,HAKIM DIMATA HUKUM DAN ULAMA DI MATA UMMAT. memang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di mana hakim PA bertugas, ditokohkan, dituakan, diulamakan oleh masyarkat setempat. makanya tidak jarang hakim yang mau dimutasi dari satu daerah yang masyarakatnya sudah menyatu, ke daerah lain, masyarakatnya yang keberatan.

Memang kenyataan hakim PA pada umunya hidupnya bermasyarakat dg lingkungan setrempat, sehingga hampir semua anggota masyarakat mengenalnya. maka pada umunya hakim PA tidak terburu-buru pengin pindah ke tempat lain, kalau sudah terlanjur menyatu dengan masyarakat sekitarnya sampai puluhan tahun lamanya.
Reply
 
 
# FaizalKamil,KPA.Bengkalis 2012-06-23 14:21
Bekerja agar dapat reward didunia dan diakhirat sepertinya, yang menginspirasi motto "Hakim dimata hukum, ulama dimata umat". Semoga saja dapat dilaksanakan dengan maksimal, tidak hanya Lip service...Insya Allah !
Reply
 
 
# R. Mallapi, PA. Jakpus 2012-06-24 14:13
Amin ya Robbal alamin
semoga harapan luhur Bpk Dirjen Badilag tsb dapat diwujudkan dalam dalam lingkungan semua badan Peradilan di Indonesia, karena sejatinya Hakim itu adalah Wakil Tuhan di dunia, merefleksikan keadilan kapan dan dimanapun dia berada.
Reply
 
 
# El Ghani - PTA Ambon 2012-06-25 06:48
Hakim yang 'Ulama' ? waah IDIAL sekali.! dulu sebelum UU th 89 emang demikian adanya. semua Hakim adalah 'Ulama'. mahir baca kitab,kuning,jujur,sederhana, qona`ah, khusuk, muru'ah dan emang lahir batin berjiwa Kyai. sekarang nih faktanya sudah beda sama ssekali. meskipun langka tapi masih ada. nah untuk menjaga agar tidak punah sama sekali, ayo bangkitlah para hakim, ikuti jejak Rasul, teladani prilaku Shohabat Nabi, BALLIGHU 'ANNY WALAU AYATAN. semoga Alloh memberi hidayah kepada kita semua.
Reply
 
 
# Fadly 2012-06-25 08:46
Hakim yang Meng-"ulama" jika ditelaah maka tugas inilah yang dicari. sehingga, walaupun hakim tersebut menangani perkara kerabatnya akan tetap profesional. Seperti yang diriwayatkan dari aisyah r.a. bahwa ada satu ayat yang berkaitan dengan pribadi nabi muhammad SAW, andaikan nabi berlaku egois maka ayat tersebut akan disembunyikan.. Bravo Kemandirian Hakim...
Reply
 
 
# Ali mhtrm@PA-Tj. Redeb 2012-06-25 08:55
Memang perlu; Hakim berjiwa ulama'.. :-)
Reply
 
 
# AGUS YUNIH SAEFULMILLAH 2012-06-25 09:08
8) kayaknya, pemikiran itu mulai bergeser, ramalan pak Bus, mantan Tuada ULDILAG, hampir mendekati. Kalau makna peradilan adalah "kekuasaan" dan "birokrasi" agaknya sulit didampingkan dg agama. Kekuasaan selalu cenderung "otoriter dan korup" serta "penuh prasangka buruk" dan selalu bekerja atas dasar kecurigaan dan info yang tak jelas, sedangkan agama membutuhkan kesederhanaan, tanpa aktualisasi berlebihan. Kekuasaan hidup dalam sebuah "singgasana", sedangkan agamawan hidup di "Pedepokan". mari kita renungkan bersama. wass
Reply
 
 
# Mansur Muda PTA Bkl 2012-06-25 09:29
Saya setuju dgn permintaan ke-2 pak Wali Kota Tebing Tinggi " Saya mohon pak Dirjen tidak segera memutasikan saudara Ketua Pengadilan Agama Tebing Tinggi ketempat lain, karena kami dan masyarakat disini memerlukannya " memang Ketua PA Tebing Tinggi Pak Nandang Hasanuddin sangat dekat dgn Wali Kota Tebing Tinggi yg sekarang juga dgn Wali Kota sebelumnya termasuk dgn masyrakat Tebing Tinggi, mana tau setelah priode Wali Kota ini pak Nandang dicalonkan menjadi Wali Kota Tebing Tinggi, selamat pak Nandang menjadi Wali Kota dikota lemang.
Reply
 
 
# nurani 2012-06-25 09:37
Hakim otomatis seorang ulama, kalau tidak perlu dipertanyakan waktu tes kenapa bisa lolos ? apakah memang nasib keberuntungan ?
Reply
 
 
# Khairuddin pa pasir pengaraian 2012-06-25 11:51
Selamat buat pak Nandang Hasanudin Ketua PA Tebing Tinggi, krn dari kata sambubat Wali Kota Tebing Tinggi, mencerminkan bahwa Bapak telah menoreh sesuatu yang lebih baik untuk membangun PA dan Kota Tebing Tinggi, dan adalah tugas lebih berat buat pimpinan setelah beliau untuk mempertahanlkan eksistensi ini.
Reply
 
 
# MAME SADAFAL - PA SIDOARJO 2012-06-26 07:59
seorang hakim peradilan agama idealnya kedua sifat tersebut,yaitu ‘hakim di mata hukum dan ulama di mata umat’ harus senantiasa diterapkan kapanndan dimanapun. karena masyarakat membutuhkan bantuan baik dari kegiatan di bidang keagamaan, pendidikan dan sosial.diharapkan para hakim dengan memiliki dan mengamalkan sifat-sifat Ikhlas, qana’ah dan syukur mampu menjalankan adagium ‘hakim di mata hukum
dan ulama di mata umat’ dengan komunikasi yang proporsional dan profesional, sehingga dapat menjalankan kedua peran tersebut dengan tidak terjadi penyelewengan sekecil apappun, terlebih lagi menyangkut penegakan hukum.
Reply
 
 
# Tamim PA Banjarmasin 2012-06-26 18:32
idealnya ya begitu. tetapi banyak sekali hakim agama lebih-lebih lagi hakim diluar peradilan agama yang lari tugasnya kemasyarakatannya sebagai ulama dengan berbagai dalih atau alasan. kepada saudaraku, kolegaku sesama hakim mari kita jadikan diri kita sebagai hakim di mata hukum dan ulama di mata masyarakat. Barakallahu lana wa lakum ajma'in. Amin.
Reply
 
 
# Chrisnayeti, Badilag 2012-06-27 08:16
"Hakim di Mata Hukum, Ulama di Mata Umat'... pasti yang dilakukannya akan selalu lurus. Duh bila hakim bisa seperti ini semua akan terangkatlah citra peradilan di mata masyarakat dan pasti tidak ada yang takut terzolimi karenanya. Semoga para hakim2 muda bisa mencontoh beberapa hakim senior yang berperilaku lurus agar bisa mengangkat derajat peradilan yang didamba.
Reply
 
 
# Urip Probolinggo 2012-06-27 08:30
Di Indonesia mencari orang pinter sudah banyak dan tidak susah, tetapi mencari orang benar masih langkah dan hanya bisa dihitung dengan jari. Semoga kita termasuk orang pinter lagi benar
Reply
 
 
# Muhdi Kholil Kangean 2012-06-27 08:42
Ulama,Hakim dan Umat adalah Trilogi kata yang inheren in complemented , tiga kata yang saling berkaitan dan komplementer dalam makna dan fungfi,Ummat tanpa Ulama dan Hukum tanpa Hakim apa jadinya, Karena itu Hakim harus menjadi Ulama, dan Ulama yang baik adalah yang menjadi Hakim, dapat menegakkan hukum demi keamanan dan keadilan Ummat. Semoga pojok Pak Dirjen kali ini dapat diresapi, diamalkan,dan bermakna bagi semua warga Peradilan Agama. Amin
Reply
 
 
# Tie-PA.Probolinggo 2012-06-27 09:10
Subhanallah... sejatinya kita memang sebagai manusia sosial, tugas kita tidak hanya konsentrasi di kantor dan pekerjaan, manfaat untuk ummat juga merupakan suatu hal yang sangat dominan dalam kehidupan... karena itu termasuk ajang Anfa'uhum linnaas...
Reply
 
 
# Alimuddin M.Mataram 2012-06-27 13:49
Aksesoris fisik ulama saya kira kita tidak menapikan. Tetapi di era sekarang ini, apakah yang pantas disebut ulama hanya mereka yang pakai aksesoris fisik tersebut sambil memimpin pesantren? Ciri ulama yang paling substansial adalah mereka yang bisa berfungsi sebagai pewaris Nabi; yakni mendakwakan kebenaran dan mampu menerapkan sifat-sifat Nabi dalam hidup kesehariannya (wara', qana'ah, rendah hati, jujur, amanah, tidak neko-neko, apalagi kongkalikong dll).
Reply
 
 
# H. Barmula PTA Ambon 2012-06-28 06:31
Bekerja dengan adil adalah ilmu untuk menuju syurga tp ingat jika tergelincir sedikit Neraka adalah kekalnya.
Reply
 
 
# malkan harahap wk PA Pandan 2012-07-04 15:44
saya orang yang turut menyaksikan ketika pak Wali kota Tebing Tinggi menyampaikan kata-kata diatas kepada pak Dirjen karena ketika itu kehadiran bapak Dirjen sebagai seorang Pemimpin yang sangat dihormati tetapi selalu hadir dengan wajah yang teduh
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-07-08 11:26
berperan ganda maksudnya...
Reply
 
 
# Mohammad H. Daud PA Negara Kalsel 2012-07-09 06:38
Setuju dgn adagium "Hakim di mata hukum dan ulama di mata umat", tapi jangan sampai adagium ini dimanfaatkan secara keliru oleh sebagian Hakim, sehingga mengabaikan tugas pokoknya.
Reply
 
 
# Abdul Malik - PA.SoE 2012-07-11 08:53
Bagi hakim yang bertugas di daerah yang minim perkara, "adigium" tersebut tepat, dan itulah yang kami alamai di lingkungan kami bertugas.
Reply
 
 
# Drs. ABD. HAMID, SH.,MH. 2012-07-16 09:43
Maaf maksudnya Kalau ada Pemimpin yang Dzolim apakah Dirjen Badilag berani menindaknya ???????
Reply
 
 
# Jimmy-PA Cianjur 2012-07-16 11:06
Karakter Seorang Hakim juga karakter sebagai Ulama..
Hakim memang diharuskan untuk dapat berlaku adil, jujur, arif dan bijaksana, mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati dan bersikap profesional. Ikhlas, qana’ah dan syukur juga merupakan sifat yang harus selalu dimiliki para hakim. Dengan mengamalkan sifat-sifat itu, hakim akan dapat memberikan pelayanan hukum yang memuaskan kepada para pihak, bukankah sifat-sifat itu juga tercermin dalam diri seorang ulama yang memutus perkara di tengah-tengah masayarakat..? Ya Hakim adalah juga seorang Ulama..seharusnya.
Reply
 
 
# Ana, bklmdr 2012-07-20 13:40
Tapi sistem yg ada skrg, dg seringnya hakim dimutasi krn tuntutan terserapnya anggaran mutasi MA mk adagium hakim sbg ulama di mata masyarakat semakin pudar dan tdk mengakar di masyarakat. Yg ada hakim smakin jauh dr masyarakat dan tdk dikenal oleh masyarakatnya, akhirnya PA tdk lg dikenal sbg lembaga yg religius.
Reply
 
 
# Boy 2012-08-02 08:22
Setuju dgn tema "hakim dimata Ummat', semoga kedekatan hakim dgn ummat tidak disalahgunakan sebagai "alasan" untuk bertindak tidak adil dalam memutus suatu perkara oleh sebab kedekatan hakim dgn salah satu pihak tertentu. Always The Best For Peradilan Agama.
Reply
 
 
# Alimuddin M.Mataram 2012-08-07 12:34
Kesimpulannya: kalau hakim-hakim PA tidak berjiwa ulama, berarti tidak berbeda dengan hakim-hakim lainnya yang cenderung sekuler dan apatis terhadap hal-hal yang berbau agama.
Reply
 
 
# A. Mahfudin PA Rengat 2012-08-27 15:12
Hakim dimata hukum dan Ulama dimata umat ini seharusnya ada melekat pada para hakim agama kita, sehingga sesuai dengan ilmu dan amal, alangkah meruginya ilmu begitu tinggi tapi amal begitu rendah
Reply
 
 
# Ermida Yustri.PA Talu 2012-09-05 09:59
Sosialisasi masalah hukum akan lebih cepat diterima oleh masyarakat apabila yang menyampaikan itu adalah ustadz mereka, apalagi ustadz mereka itu adalah seorang hakim, jadi kloplah. Yang penting hakim itu harus Profesional dan Proporsional.
Reply
 
 
# Daswir Tanjung PTA Bdg 2012-09-10 12:52
Apabila pilsafah diatas dilaksanakan dengan baik yaitu Hakim di mata hukum dan ulama di mata umat, maka dia termasuk Hakim yang profesional, dalam praktek, sering terjadi, disaat bertindak menjadi Hakim, tapi tindakannya seperti Ulama, mendahulukan perasaan, memutus suatu perkara didasarkan kepada perasaan , bukan berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan, perlu difahami, Hakim Peradilan Agama dalam persidangan terikat hukum acara perdata yang berlaku, misal dalam hukum acara seorang saksi wajib memenuhi syarat formil dan materiil, syarat materiil, saksi itu harus melihat dan mendengar peristiwa itu terjadi, kalau hanya mendengar dari orang lain atau laporan dari pihak penggugat ( kesaksian de auditu )atau saksi menyimpulkan peristiwa, yang dia sendiri tidak berhak menyimpulkan,yang berhak menyimpulkan kesaksian itu hanyalah Hakim,maka dalam hal seorang Hakim harus memahami posisinya dengan tepat dan bekerja secara profesional
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1334 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS