Senin, 21 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Hakim PA Angkatan IV | (21/5)
BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




Prof Tim Lindsey: “Saya akan permalukan lagi Pak Wahyu” | (31/10) PDF Cetak E-mail
Minggu, 30 Oktober 2011 18:32

Prof Tim Lindsey: “Saya akan permalukan lagi Pak Wahyu”

 

Tim Lindsey adalah guru besar, ahli hukum Asia, sekaligus sebagai  “Director of the Asian Law Centre” pada Fakultas Hukum  Universitas Melbourne, Australia.  Dia juga adalah  “Foundation Director of the Centre for Islamic Law and Society”,  “a Founding Editor of the Australian Journal of Asian Law”, penulis banyak buku , peneliti, pengacara dan pemilik segudang pengalaman lainnya di bidang akademis, hukum dan kemasyarakatan.

Orangnya masih muda, gaul, kocak, dan sudah pasti pinter. Bahasa Indonesianya sangat fasikh, bahkan bahasa-bahasa prokempun ia kuasai.  Bagi saya tidak aneh kalau orang seperti Pak Tim –begitulah panggilan akrab saya kepadanya- sangat menguasai bahasa Indonesia, sebab selain dia ahli di bidang ke-indonesia-an, isterinyapun orang Indonesia tulen.

Teh Julia, lengkapnya Julia Suryakusuma, orang Bandung, adalah gadis yang beruntung dipersunting Pak Tim. Atau mungkin, Pak Timlah yang beruntung beristerikan Teh  Julia, sebab Teh Julia orangnya juga gaul, lincah, cantik, nyentrik, pinter dan pegiat jender. Bahkan Teh Julia adalah penulis handal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tulisannya banyak dimuat pada media massa seperti Majalah Tempo dan  The Jakarta Pos. Ia juga banyak menulis buku, seperti suaminya. Salah satu buku yang ditulisnya, dan dihadiahkannya  kepada saya melalui Pak Tim, adalah “Jihad Julia”, buku kocak  penuh makna.

Jadi, nampaknya hubungan Pak Tim dan Teh Julia adalah hubungan simbiosis mutualistis,  saling menguntungkan. Memang, sayapun yakin seperti itu. Bahkan lebih dari itu, dari aktifitas  dan tulisan-tulisan pasangan suami-isteri yang berbeda kebangsaan ini, banyak orang dan pihak yang diuntungkan pula. Termasuk saya dan juga peradilan agama.

**

Saya akrab dengan kedua tokoh ini, walaupun jarang jumpa. Saya mulai kenal Pak Tim dan Teh Julia sekitar tahun 2005an,  saat Pak Syamsuhadi menjamu makan malam kepada pasangan suami-isteri dan koleganya dari IALDF (Indonesia-Australia Legal Development Facility), di suatu restoran sekitar Senayan. Hadir pula pada jamuan ini beberapa kolega dari peradilan agama, termasuk saya, yang belum lama diangkat sebagai Dirjen saat itu.

Baru jumpapun, Pak Tim sudah memberi keuntungan pada saya dan peradilan agama. Dia memberitahukan bahwa ada survey tentang kepuasan publik terhadap  sektor hukum di Indonesia, yang menyatakan bahwa peradilan agama merupakan satu-satunya instansi publik yang dianggap paling memberi kepuasaan kepada publik. “Ini dapat dijual kepada para donor, untuk mengembangkan peradilan agama lebih baik lagi”,  kata Pak Tim kepada saya waktu itu.

Besoknya, saya langsung hunting tentang hasil survey itu. Ternyata memang benar. Survey yang dimaksud oleh Pak Tim adalah  sebuah survey yang diselenggarakan pada tahun 2001 oleh kerjasama antara Asia Foundation dan AS Nielsen, sebuah lembaga penelitian internasional yang sangat kondang. Survey ini dilakukan  terhadap 1700 penduduk yang tersebar secara acak di seluruh Indonesia. Judul survey adalah “Citizens’ Percepsion of the Indonesian Justice Sector”, persepsi masyarakat tentang sektor hukum di Indonesia.

Hasil survey menyebutkan,  beberapa instasi atau pihak yang terkait dengan sektor hukum di Indonesia digolongkan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu, ‘effective’, ‘ineffective’ dan ‘unknown’. Yang menarik, Pengadilan Agama merupakan satu-satunya instansi yang dikategorikan “effective”.   Masyaalloh.  Bersama Peradilan Agama, ada 2 (dua) unsur lainnya, yang bukan instansi, yang masuk kategori ini, yaitu Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama.   Ciri dari kelompok yang ‘effective’ ini adalah ‘trustworthy, does job well, timely, helpful dan the first to go to with a legal problem’, terpercaya, berkinerja bagus, tepat waktu, mudah menolong dan menjadi tujuan pertama jika orang mempunyai masalah hukum.

Hasil survey ini, memang, membanggakan sekaligus memberi motivasi kawan-kawan dari peradilan agama, untuk lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada publik. Mestinya hasil survey ini juga menarik para donor untuk bekerjasama dengan peradilan agama dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik terhadap sektor hukum di Indonesia. Pantas kalau Pak Tim mengatakan “… ini bisa dijual kepada para donor”.

***

Keuntungan lainnya bagi saya dan peradilan agama yang didapat dari Pak Tim, terjadi pada bulan-bulan berikutnya. Ketika itu, tahun 2006, untuk pertama kalinya rombongan Peradilan Agama, melakukan studi banding di Family Court Melbourne selama 14 hari, difasilitasi IALDF.

Rombongan berjumlah 22 orang, terdiri dari para hakim, pansek dan pejabat administrasi. Saya dan Almarhum Pak Suryadi, mantan KPTA Banten, didaulat menjadi komandannya. Studi banding yang memfokuskan pada mediasi dan pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) ini  dibimbing oleh Pak Tim dan Bu Cate Sumner dari IALDF.

Dengan kepiawaian Pak Tim dan Bu Cate dalam memberi motivasi, mengarahkan dan mendampingi pelaksanaan studi, bahkan membuat rencana action plan paska studi banding, alhamdulillah, peradilan agama yang saat itu tidak tahu apa-apa tentang TI, kini lima tahun kemudian sejak studi itu, pengembangan TI di lingkungan peradilan agama sangat menggembirakan, walaupun masih banyak kekurangan. Pak Tim dan Bu Cate terus menerus memberikan support dan motivasi bahkan fasilitas untuk pengembangan peradilan agama paska diklat itu, hatta sampai sekarang.

Pak Tim dan Bu Cate terus melakukan ‘manuver-manuver’ yang banyak memberi manfaat bagi  pengembangan hukum dan peradilan di Indonesia, terutama bagi peradilan agama. Pada akhir 2010, dua tokoh yang sangat mengenal peradilan agama ini menulis buku bersama-sama, diterbitkan oleh Lowy Institute Australia yang pada tanggal 7 Desember 2010 diluncurkan oleh Chief Justice Family Court of Australia (FCoA), Honorable Diana Bryant.

Buku itu berjudul “Courting Reform: Indonesia’s Islamic Courts and Justice for the Poor”, kemudian  diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul   “Reformasi Peradilan Pasca Orde Baru: Pengadilan Agama di Indonesia dan  Keadilan Bagi Masyarakat  Miskin”.  Edisi Indonesia ini diluncurkan bersama oleh Ketua Mahkamah Agung RI, YM Dr. Harifin A Tumpa, SH, MH dan Chief Justice FCoA, Hon. Diana Bryant, di Jakarta, 14 Maret 2011, dalam acara penutupan Konferensi Regional Asia Fasific International Association for Court Administration (IACA).

Buku itu ditulis berdasarkan hasil 3 kali survey, - 2001, 2007, 2009- dan perkembangan peradilan agama belakangan ini. Isinya cukup mencengangkan.   Banyak ungkapan dan kesimpulan yang ditulis dalam buku ini memuji-muji peradilan agama.

Makanya, begitu Pak Tim bertandang ke Badilag, bulan Februari lalu, saya langsung menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas penulisan buku itu. “Tapi Pak Tim..”, kata saya, “anda telah membuat ‘malu’ saya”, kata saya lagi bercanda. “Lha, emangnya kenapa”, tanya Pak Tim sambil senyum. “Habis, buku itu sangat memuji-muji peradilan agama”, jawab saya.

Apa jawab Pak Tim? “Itu kan kenyataan. Semua ada datanya. Ini hasil survey. Sebagai orang akademisi, saya biasa mengkritik dan dikritik. Silahkan saja, kalau setuju atau tidak setuju”, tegasnya.

“Saya sekarang sedang menulis buku berjudul ‘Islam, Law and The State in South-East Asia’, sekitar 700 halaman, yang juga banyak mengupas peradilan agama. Isinya lebih mengejutkan dari ‘Courting Reform’”, kata Pak Tim lagi. “Jadi,  saya akan mempermalukan lagi Pak Wahyu”, tambah Pak Tim sambil senyum bersahabat.

****

Memang saya “malu”. Malu dalam tanda kutif. Artinya, bisa berarti bukan malu sebenarnya. Di hati kecil, saya senang. Apa yang saya dan seluruh kawan-kawan di Badilag dan aparat peradilan agama se Indonesia, mendapat apresiasi dari orang lain, dan apresiasi itu disebar luaskan dalam sebuah buku yang khusus mengupas tentang kemajuan peradilan agama. Tidak tanggung-tanggung buku itu ditulis oleh guru besar universitas terkemuka dan oleh peneliti handal dari Australia.

Bahkan buku itu, ditulis dan diterbitkan tanpa sepengetahuan saya dan aparat peradilan agama. Lebih-lebih lagi ditulis dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia. Malah diluncurkan 2 kali, di Australia dan di Jakarta oleh tokoh-tokoh sekaliber Ketua Mahkamah Agung RI dan Chief Justice Family Court, yang notabene merupakan pengadilan tingkat nasional yang terkemuka di Australia. Khusus di Jakarta, peluncuran itu dilakukan di hadapan   sekitar  200 peserta konferensi IACA dari 19 negara di Asia Pasifik.   Siapa yang tidak senang, coba?

Namun kata “malu”, dalam tanda kutif itu, dapat pula berarti malu dalam arti sebenarnya. Bukan malu karena apa yang sudah kita lakukan diapresiasi orang banyak, namun malu jika kita tidak bisa menjaga apa yang telah mereka anggap sebuah  prestasi dari peradilan agama.

Coba kita simak beberapa kalimat dalam edisi Indonesia buku itu:

“Dalam banyak hal, saat ini Pengadilan Agama menjadi model bagi reformasi peradilan yang berorientasi sosial, tidak hanya bagi peradilan lain di Indonesia namun juga bagi peradilan Islam lainnya di Asia Tenggara” (hlm. 2). “Pengadilan Agama, secara umum, dipandang tidak korup dan memberikan layanan yang baik pada pihak-pihak yang berperkara” (hlm. 2).

“Pengadilan Agama di Indonesia kini dilihat sebagai pengadilan yang paling terbuka, bersih, dan efisien dari yang dulunya merupakan pengadilan yang tidak dianggap.” (hlm. 18). “Pengadilan Agama telah berhasil membuat upaya yang signifikan untuk meningkatkan akses terhadap keadilan bagi masyarakat miskin dan kelompok masyarakat terpinggirkan, dan khususnya bagi perempuan.”(hlm. 18).

“Pengadilan Agama dapat dilihat sebagai salah satu lembaga peradilan Indonesia yang paling berhasil.  Dalam beberapa hal, ini dianggap sebagai ironi karena pengadilan tersebut telah lama diabaikan oleh negara …” (hlm. 19).  “Berbeda dengan ekspektasi yang ada, di era pemerintahan paska Suharto ini, Pengadilan Agama  telah muncul sebagai pemimpin reformasi sistem peradilan di Indonesia.” (hlm. 48).

Coba…., apa kita tidak malu, jika disebuti “sebagai  model bagi reformasi peradilan”, “dipandang tidak korup”, “memberi pelayanan yang baik”, “paling terbuka, bersih dan efisien”, “paling berhasil”, “pemimpin reformasi peradilan di Indonesia”, dan lain-lainnya,  lalu dalam kenyataannya  tidak demikian.  Apa kita tidak malu, jika dipuji setinggi langit, tahu-tahu….(??). Apa kita tidak malu, kalau dalam kenyataannya kita tidak peduli dengan reformasi dan perubahan menuju keadaan yang lebih baik? Apa kita tidak malu, jika kita masih berpegang pada mindset lama yang tidak sesuai dengan jiwa reformasi?

Saya yakin, seluruh kawan-kawan dari lingkungan peradilan agama akan bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Pak Tim dan Bu Cate yang selalu men’support’ kita dan telah menulis buku itu. Saya juga yakin, kita sepakat, apa yang ditulis Pak Tim dan Bu Cate tidak akan menjadikan kita mabuk kepayang, apa lagi besar kepala dan bersikap sombong.

Kitapun setuju menjadikan buku itu sebagai motivasi, agar kita berbuat yang lebih baik lagi, bagi  kepentingan pencari keadilan, masyarakat, nusa dan bangsa. Mudah-mudahan apa yang telah kita lakukan, dan yang telah kita niatkan, diterima  Allah SWT sebagai amal ibadah yang akan membahagiakan kita di dunia dan di akhirat kelak. Amin ya robbal ‘alamin. (WW).

 

 

 

 

 

TanggalViewsComments
Total220470
Sen. 2110
Sab. 1930
Jum. 1810
Rab. 1620
Sen. 1410
Sab. 1210
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Masrinedi- PA.Painan 2011-10-30 22:36
Semoga berbagai pujian dan sanjungan itu tidak membuat kita lupa diri tetapi malahan menjadi injeksi semangat kita warga Badilag untuk lebih banyak berbuat dan selalu mensyukuri apa yang telah ada dan memaksimalkan segala potensi yang ada. Semoga kita semua warga Badilag tetap menyadari akan pentingnya tetap menjaga nama baik dan integritas moral sehingga ke depannya Badilag tetap jaya dan maju terus kepada yang lebih baik lagi. Amin !
Reply
 
 
# Ramma 2011-10-30 22:38
Semoga "malu" menjadi cermin bagi kita untuk introspeksi ke arah yang lebih baik
Reply
 
 
# dadi_bengkalis 2011-10-30 22:43
speechless......Two thumbs up, Pangersa Dirjen
Reply
 
 
# Ibnu AR - PA.Sanggau 2011-10-30 23:00
Gerbong Perubahan dari Peradilan Agama terus berjalan, terarah dan pasti, tanpa atau dengan keikutsertaan kita, gerbong itu terus bergerak bersama orang-orang yang serius untuk bergerak maju, kita bergerak bersama mereka atau kita akan ditinggalkan mereka menuju kecemerlangan cita dan karya nyata...dan kita hanya menjadi orang-orang tidak berguna yang terpuruk di sudut-sudut kemalasan dan kemubadziran....Teruslah bergerak wahai para pejuang...Allah selalu bersama kita...amin
Reply
 
 
# nyong amboina 2011-10-30 23:13
semoga Allah selalu bersama kita. Tulisan Bapak Dirjen ini merangsang kita untuk tetap bekerja lebih baik dan ikhlas.
Reply
 
 
# edi hudiata 2011-10-31 00:01
ceritanya mengalir begitu deras, tanpa cacat menuturkan dengan gaya feature.. tetap menginspirasi kami, pa dirjen... :)
Reply
 
 
# syafruddin_PA Pkc 2011-10-31 00:24
Tulisan ini wajib hukumnya untuk dibaca oleh pimpinan PA,,agar segala progress yang sudah ada,,dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan lebih baik lagi....
Reply
 
 
# farhan 2011-10-31 00:37
:-) mantabbbbbbbbbb
Reply
 
 
# riswan pa maninjau 2011-10-31 01:10
kita sependapat dengan pak dirjen semoga pujian yan disampai pak Tim dan buk Cate itu semakin memacu semangat dan kreaktifitas kita memajukan peradilan agama . sebab beliau menulis dalam suatu buku yang akan dibaca oleh banyak orang dan tidak tanggung2 '' KITA (PERADILAN AGAMA} MENJADI MODEL BAGI BADAN PERADILAN LAINNYA DI INDONESIA BAHKAN UNTUK ASIA ASIA TENGGARA DIHADAPAN 19 NEGARA ASIA FASIPIK"yang paling penting pujian tersebut jangan membuat kita sombong apalagi lengah, sebaliknya kita selalu berpacu untuk memajukan badan peradilan agama semoga......
Reply
 
 
# Ratu Ayu 2011-10-31 01:19
Cerita yang kedua ini juga menarik, ternyata yang menulis adalah seorang yang pemalu. Pemalu tapi 'berani', dalam arti, berani-beraninya membawa Peradilan Agama kepada Keberhasilan??? Pemalu, tapi 'banyak mau'nya. 'Banyak maunya' sampai2 tidak pernah kehabisan kreativitas. Kepada Prof Tim dan Bu Cate, terima kasih telah mempermalukan Pak Wahyu ... Terus saja permalukan, tidak apa2, supaya semakin kita bisa maju dan mewujudkan Justice 4 all dan Justice in all. Pak Wahyu, ternyata anda juga mempermalukan saya, saya jadi malu kalau tidak loyal dan berdedikasi tinggi ... :lol:
Reply
 
 
# fahmi 2011-11-21 09:24
:-)
Reply
 
 
# Firman Wahyudi 2011-10-31 01:50
Sebuah inspirasi sekaligus motivator bagi Peradilan Agama untuk menjadi garda depan reformasi di dunia peradilan kita saat ini, PA yang dulunya termarginalkan sekarang sudah saatnya untuk menunjukkan eksistensi dan perubahan yang signifikan. Mari kita "MALU" jika tidak bisa menunjukkan perubahan bagi negeri ini. Salam Perjuangan! (PA Bengkayang)
Reply
 
 
# Ahmad Hodri PA.Ktp 2011-10-31 01:55
Amin. maju terus Badilag, kita tak pernah merasa "puas" dengan apa yang kita capai, Change for the better...
Reply
 
 
# asyrof-bbs 2011-10-31 02:26
Alhamdulillah... Senang mendapatkan teladan yang indah dari pemimpin yang sangat bersemangat seperti pak dirjen. Semoga Allah senantiasa memberikan pemimpin yang mampu memberi contoh yang baik dan memberi kekuatan kepada kami untuk meneladaninya... Aamin...
Reply
 
 
# m.tobri-PA Kuningan 2011-10-31 07:30
“Pengadilan Agama dapat dilihat sebagai salah satu lembaga peradilan Indonesia yang paling berhasil, mudah-mudahan bisa dipertahankan, apalagi sistem mutasi saat ini sudah begitu berpariasi, macam-ragam wajah terlihat begitu namanya tercantum dalam daftar mutasi, ada yang senyum, ada yang cemberut, ada yang murung, itulah pengorbanan yang harus kita berikan demi menggapai Agungnya Peradilan Agama.
memang zaman sekarang zamannya untuk selalu siap setiap saat dipindah kemana saja. semuanya ada hikmah yang penuh barokah bagi kita yang pasrah. sukses selalu buat kita semua.
Reply
 
 
# Saefuddin T. 2011-10-31 07:40
:D Setuju pak Dirjen! Pujian kalau tidak kita sikapi secara bijak bisa menjadi kita lupa diri... bahkan takabbur. Jajaran Peradilan Agama harus tetap konsisten pada visinya :"terciptanya badan peradilan Indonesia yang agung"; indikasinya :bersih, bebas dari kkn, terbuka, pelayan publik yang prima dan profesional. Maju terus pak !
Reply
 
 
# hadi said. 2011-10-31 07:45
permalukan dalam tanda kutip *memuji hingga tersipu malu*,,, nice.. :) :P
Reply
 
 
# hadi said. 2011-10-31 07:48
memuji suatu badan, pimpinannya hingga tesipu malu,, nice :) :P
Reply
 
 
# Nur Amin Tolis 2011-10-31 11:19
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Pujian yang dialamatkan ke PA dan "pak Wahyu" harus dijadikan motivasi oleh warga Peradilan Agama untuk berkiprah lebih giat lagi sebagai bentuk perwujudan ibadah kepada Yang Maha Terpuji
Reply
 
 
# abdoerrahman 2011-10-31 15:04
Mudah2an Pimpinan PA se Indonesia baca tulisan ini ... dibaca,difahami dan diimplementasikan ... :-)
Reply
 
 
# Ab..Asse PA.Tangeran 2011-10-31 17:24
Saya sbagai orang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pradilan agama dengan masa kerja sejak 1985 hingga sekarang 2011,kemajuan sangat besar, tidak dapat dipungkiri, dari gubuk buruk berbasis mesin ketik peot (1985) menuju Gedung mewah berbasis Teknologi (IT), tentu itu komitmen para juru mudi peradilan agama, yang kini dinakodai pak Dirjen Badilag Drs. H. Wahyu Widiyana, MA pelopor IT pada peradilan agama, trims dan semoga bapak sukses terus kami mendukung.
Reply
 
 
# ilham - PTA Gtlo 2011-10-31 17:46
mantafffff........

kami bangga pak, semoga prestasi ini dapat kami pertahankan di daerah......
InsyaAllah.....
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-10-31 17:57
Atas nama bangsa Indonesia dan warga PA saya sangat berterima kasih kpd Mr.Tim Lendsey dan Bu Cate dari IALDF dan Lembaga lainnya dari Australia, yang turut andil memajukan PA.Melalui Pak Dirjen yg Lincah dan cepat tanggap dan siap berjuang kapan dan dimana saja, menjadikan PA kini bener2 berkembang pesat. Telah banyak kader yg seirama dg pak Dirjen untuk berjuang memajukan PA semoga terus sukses.
Reply
 
 
# Nanang MR @ Tj Redeb 2011-10-31 18:03
Betul Pak DIrjen, kita bisa malu beneran bukan lagi dalam tanda kutip, kalau kekurangan kita tercium atau ahkan terekspos ke luar...... so mari perbaiki terus kekurangan kita
Reply
 
 
# didin jamaludin 2011-10-31 18:22
aamiin semoga badilag maju terus pantang mundur dan sebagai unjung tombak reformasi birokrasi yang jauh dari mental korup dan berwibawa di mata masyarakat Indonesia khususnya dan mata dunia pada umumnya sehingga segala sesuatu perbuatan yang dilakukan untuk kepentingan umum dijalankan dengan ikhlas akan membuahkan hasil yang mumuaskan
Reply
 
 
# mathe08 2011-10-31 18:42
hasil survey org luar itu tulus n independen ngga kayaq punya kite surveynya karna pesanan,dgn tulisan ini akan lebih banyak lagi agen perubahan di PA, semoga, Viva pak wahyu....! kami selalu mendoakan agar bpk selalu sehat amin....
Reply
 
 
# Ahmad, PA.MTR 2011-10-31 18:51
Alhamdulillah, trims Pak Prof.Tim Linsey atas apresiasi yang anda berikan kepada Peradilan Agama,pujian ini adalah sangat membanggakan kami di peradilan agama, tapi sekaligus juga tugas berat kami untuk mempertahankan dan membuat peradilan agama lebih maju lagi, semoga Allah selalu memberikan perlindungan Nya. aminn...., sukses Badilag, Sukses Pak Dirjen...
Reply
 
 
# Korik .PA.Ka Tungkal 2011-10-31 18:52
Semoga Buku Ini, dibaca jg oleh Mr.Presiden (Pak SBY) dan Anggota DPR, sehingga bisa memberikan appresiasi dan lbh memperhatikan fasilitas, anggaran utk kemajuan d kesejahteraan warga Peradilan Agama ke depan. Smga qt tdk Jumawa dan dpt mempertahankan prestasi ini amiin.
Reply
 
 
# Musa La Haji 2011-10-31 19:26
Maju terus pak Dirjen, Insya Allah kami akan selalu mendukung apapun langkah yang dilakukan oleh bapak demi kemajuan Peradilan Agama di Indonesia, Asia tenggara dan lebih utama di Dunia Internasional.
Allahu Akbaaaarrr. . . .!!
Reply
 
 
# kusnadi pasuruan 2011-10-31 20:06
Semoga PA oleh Allah diberi kekuatan untuk melaksanakan pelayanan kepada pencari keadilan sebaik-baiknya amin.
Reply
 
 
# halim PTA Mataram 2011-10-31 20:11
semoga dengan semua pujian dan sanjungan yang kita dapat dari orang lain tidak membuat kita terlena dan menjadi malas untuk terus meningkatkan diri...kita ikhtiyar-kan semua pekerjaan kita sebagai ibadah..Insya Allah akan membawa kebahagian dunia dan akhirat
Reply
 
 
# Wachid@Masohi 2011-10-31 23:21
Memang peradilan agama setelah bergabung dengan MA, khususnya di bawah komando pak Dirjen mengalami kemajuan yang sangat signifikan, baik dari sisi performa gedung pengadilan, maupun kualitas SDM aparaturnya dalam mengikuti gelombang reformasi peradilan yang telah dicanangkan. Tujuan akhirnya adalah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Saya kira kita warga PA mempunyai satu motivasi khusus, yang membuat PA seakan memiliki kekuatan luar biasa untuk memimpin reformasi peradilan Indonesia. Motivasi itu adalah dedikasi tinggi LILLAH.
Reply
 
 
# Kurthubi 2011-10-31 23:55
Dalam kunjungan singkat di PA Balikpapan hari Rabu 26 Oktober 2011 oleh Mr. Markus B. Zimmer TIM C4J “CHANGE FOR JUSTICE” dari USAID yang mengatakan sangat salut dan terkesan dengan program-program prioritas pembaharuan yang dicanangkan Dirjen Badilag. Orang luar sudah memberi penghargaan atas reformasi di Peradilan Agama.
Reply
 
 
# SaLmaH - Mungkid 2011-11-01 00:02
Mudah-mudahan Pengadilan Agama bisa menjadi Rahmatan Lil 'Alamin
Reply
 
 
# Basila 2011-11-01 01:28
Mari kita budayakan rasa malu untuk lebih maju.
Reply
 
 
# Moh.Zuhri Purwodadi 2011-11-01 01:29
Kerja keras Pak Dirjen selama ini memang patut dibanggakan dan semoga termasuk "man sanna sunnatan hasanatan falahu ajruha waajru man amila biha ila yaumil qiyamah"
Reply
 
 
# darul palah 2011-11-01 06:10
semoga Allah beserta kita semua warga PA dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,semoga repormasi di PA terus berjalan,TERIMA KASIH Pak Dirjen..
Reply
 
 
# Anhar-KPA.Painan 2011-11-01 20:08
Keberhasilan Badilag pada umumnya atau kebeerhasilan Pak Dirjen pada khususnya adalah adanya rasa malu tertinggal ilmu dari orang lain,makanya Pengadilan Agama cepat maju dibidang TI, semoga sifat malu tertinggal ilmu dari orang lain membudaya di aparat Peradilan pada umumnya, Pengadilan Agama pada khususnya.Amiiin!
Reply
 
 
# MK.Zaman PA.Pkc 2011-11-01 20:43
Selagi dasar kita di Peradilan Agama ini masih menggunakan iman, rasa "malu" pasti akan tetap terjaga... maju terus Pak... semoga usaha bapak memajukan Peradilan Agama mendapatkan prioritas sebagai amalan yang baik yang akan menolong bapak nantinya.... amin ya Robbal'alamin...
Reply
 
 
# Jamhur- Sigli 2011-11-02 01:12
Saat ini rasa malu sudah menjadi barang langka, maka sangat beruntunglah orang masih memilikinya
Reply
 
 
# Boy 2011-11-02 00:15
Luar Biasa,...
Saat membaca judulnya saya penasaran, mengapa dan apa yg menyebabkan pak wahyu maaf,..Pak Dirjen (Red)akan dipermalukan. ternyata justru sebaliknya. Jujur sebagai warga negara, seorang muslim dan sekaligus warga peradilan, saya ikut bangga atas nilai positif yg dinilai oleh "orang luar", tetapi smoga itu menjadi bahan semangat & introspeksi,untuk Pak Tim dan semua orang agar mereka benar-benar tidak bisa menemukan nilai minus dari peradilan agama,...Amin. Satu lagi yg membuat saya kaget, ternyata ini semua tulisan asli pak dirjen,...(bukan tulisan tim IT). Ternyata pak dirjen juga jago menulis dan menyusun kata-kata. Sukses Selalu Pak dirjen Dan,.TOP Bangget !! :roll: :roll:
Reply
 
 
# Jamhur- Sigli 2011-11-02 01:08
#jamhur- Sigli Sekarang memang ras malu itu sudah termasuk barang langka, maka sangat beruntunglah orang yang masih memilikinya
Reply
 
 
# Muis Salam pagia 2011-11-02 20:43
Semoga Allah tetap memberi kekuatan kepada kita untuk memberikan kepuasan dan keadilan kepada para pihak pencari keadilan. La haula wala kuwwata illa billahi al aliyyil 'Aziimi.
Reply
 
 
# ahmad 2011-11-02 21:45
salu dengan gaya tulisan yang lugas...
dan pada kesimpulannya saya pun MALU....
Reply
 
 
# Alimuddin,M. Mataram 2011-11-02 21:58
Maka untuk menjaga dan meningkatkan prestasi yang ada, kuncinya adalah tetap ikhlas dalam bekerja dan menjaga integritas dalam berperilaku. Artinya bermuka dua(dusta, tidak jujur, lain hati lain di mulut) harus dibuang jauh-jauh. SEMOGA!
Reply
 
 
# fahrul-tolis 2011-11-02 23:20
Semua ada Hikmahnya, meskipun " dipuji" bukan berarti usaha telah usai, jalan masih panjang, Salut tuk Pak Dirjen..!!!
Reply
 
 
# H.Makka A 2011-11-03 17:13
Membaca tulisan Bapak, saya pribadi sebagai warga peradilan agama, sangat malu mendengar pujian tersebut, apa betul begitu ?????, tapi Pak. Tim, sebagai akademisi, peneliti, tentu bisa mempertanggungjawabkan hasil penelitian tersebut, dan muda-mudahan warga peradilan agama bisa mempertahankan pujian tersebut.
Reply
 
 
# Amran Abbas - PA Masohi 2011-11-03 18:24
Bener pak, pujian adalah suatu bentuk penghargaan sekaligus cambuk utk berbuat lebih baik lagi minimal dapat terus mempertahankan prestasi yang telah ada. Bravo pak dirjen badilag, bravo PA.
Reply
 
 
# Arwin Indra Kusuma 2011-11-03 19:37
Pujian itu harus dijadikan motivasi. terlepas dari segala pujian itu, ada hal yang lebih penting bahwa "mempertahankan apa yang telah dicapai jauh lebih sulit dari pada memulainya". Pertanyaannya, "mampukah para penerus peradilan agama mempertahankan itu semua". jawabannya tidak hanya terletak pada pak Dirjen saja, tapi pada kita semua warga PA. HARI ESOK HARUS LEBIH BAIK DARI HARI INI.
Reply
 
 
# lies rufaida 2011-11-04 00:27
saya dulu tdk begitu peduli ketika tahu tentang pojok pa dirjen ini, krn saya pikir toh sama saja beritanya formal kaya yg lain buatan tim IT kaku serius membosankan, ttp ketika membaca judul ini tentang malu saya jd penasaran ingin baca.. eh tnyt isinya asyik santai kayak lihat infotaiment tp isinya tentu saja berbobot, (walau mf masih kelihatan sedikit menggurui) tp siipp terus ya pa dirjen buat pengalaman2 bapak menjadi selain enak dibaca jg bs membuat anak buah bapak termotivasi menjadikan pengadilan agama berbenah lebih baik lagi.
Reply
 
 
# sahbudin kesi pa soe 2011-11-06 17:38
Allah Maha Besar, saya jadi merinding ketika pengadilab agama di sedemikian rupa padahal kita selalu diabaikan oleh setiap orang, tapi sekarang kita dipuja sebagai pioner dalam pemberantas korupsi di Indonesia oleh karena itu kami di pengadilan agama soe siap sedia dalam pemberantasan korupsi dalam mempertahankan harga diri dan martabat korps pengadilan agama, Bravo buat Pak Dirjen Badilag, Bpak telah buat kami bangga sebagai arapat pengadilan agama......
Reply
 
 
# alfa 2011-11-06 18:55
subhanallah ...
Reply
 
 
# Aisyah 2011-11-06 23:48
BRAVO BADILAG
Reply
 
 
# PA_Kupang 2011-11-06 23:49
Maju Terusss BADILAG!!
Reply
 
 
# dhona_Jakarta 2011-11-07 01:16
:P semangat buat badilag mempertahankan kesuksesan lebih sulit daripada mencapainya
Reply
 
 
# Ramma 2011-11-07 01:22
Selamat buat Badilag karena sesungguhnya mempertahankan kesuksesan lebih sulit daripada menggapainya.
Reply
 
 
# thomingzhe@badilag 2011-11-09 17:41
;-) untuk itu kita harus bisa menjaga dan mempertahankan apa yang dianugerahkan kepada peradilan oleh Bp. Tim dan Bu Cate semoga peradilan kedepan tetap jaya dan solid, betul kata Ramma "MEMPERTAHANKAN KESUKSESAN LEBIH SULIT DARIPADA MENGGAPAINYA"
Reply
 
 
# atifa hasan . pa sidoarjo. 2011-11-09 18:18
salut buat pak dirjen yang selalu mempunyai ide yang cemerlang dalam pengembangan TI peradilan agama dan itu sebagai motivasi untuk selalu meningkatkan kinerja rekan rekan PA di daerah.
Reply
 
 
# samsul bahri 2011-11-13 20:46
Samsul Bahri, PA SUbang
Kata Rasul, pujian adalah pedang yang dihunus di leher. maka sikap kita haruslah waspada, pujian itu kita jadikan jamu sekaligus madu untuk stamina meningkatkan kinerja aparat PA. syaratnya hanya satu kata "komitmen" yaitu komitmen pada kebenaran, keadilan dan kejujuran dalam pelaksanaan tugas.
Reply
 
 
# Hidayat Sasangka - Ngayogyakarto 2011-11-17 22:42
Semoga hal ini semakin membuat kita untuk lebih ikhlas, semangat,dan amanah dalam bekerja dengan berorientasi bekerja sebagai sebuah ibadah. Dan semoga tidak menjadikan kita tinggi hati dan lupa daratan..amin.
Reply
 
 
# Mahfudin PA Rengat 2011-11-23 09:03
Semoga kita dapat mempertahankan citra PA dan lebih maju lagi kedepannya oke.. :-)
Reply
 
 
# Abd. Malik PA.Soe 2011-11-29 06:43
Semoga dengan pujian tersebut kita menjadi "malu" apabila tidak dapat meningkakan prestasi pada masa yang akan datang.
Reply
 
 
# muhlas.PA Situbondo 2011-11-30 09:30
sungguh teladan yang perfect,saya bangga memiliki Bpak sebagai pimpinan kami di Badilag, saya pernah mengikuti beberapa kali arahan bapak di surabaya gaya bapak bersayaja santun penuh humor tapi hasil kinerja bpk dalm membawa Badilag sangat memuaskan. memang kita tidak boleh lengah dengan pujian tapi saya yakin bapak adalah cerminan semangat kami untuk meneruskan kerja keras bapak selama ini. semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat Nya kepada Bapak dan keluarga sehingga semua kerja keras bapak berbuah manis selamanya. amiin.
Reply
 
 
# muhlas.PA Situbondo 2011-11-30 09:36
sungguh teladan yang perfest,saya bangga mimiliki pimpinan seperti bpk di Badilag. saya pernah mengikuti arahan bpk di surabaya gaya bapak santun,bersahaja dan humoris tetapi hasil kinerja bapak sangat memuaskan sihingga membawa Badilag seperti yang sekarang, memang kita tidak boleh lengah dengan pujian namun saya yakin bapak adalah cerminan kami untuk ikut memajukan Peradilan Agama. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatNYa kepada Bapak dan keluarga, dan semoga jerih payah bpk selama ini selalu berbuah manis untuk kemajuan Peradilan Agama. Amiin.
Reply
 
 
# muhlas.PA Situbondo 2011-11-30 10:49
sungguh teladan yang perfect, saya bangga memiliki pimpinn seperti bapak di Badilag. saya pernah mengikuti arahan bapak di surabaya kesan saya bapak enjoy,santun,bersahaja,humoris tetapi kinerjanya sangat bagus. memang kita tidak boleh lengah dengan pujian tetapi saya yakin bapak memang pantas jd cerminan kami untuk memacu semangat membangun Peradilan agama, semoga bpk dan keluarga selalu dalam limpahan rahmat dari Allah SWT sehingga semua kegiatan dan kerja keras bpk untuk lembaga yang kita cintai ini selalu berbuah manis. amin.
Reply
 
 
# Ali Mhtrm @PA-Tj.Redeb 2011-11-30 15:28
Barakallah, Amin..
Reply
 
 
# m.kahfi PA Purwodadi 2012-01-04 17:38
Semoga sanjungan dan pujian dari orang lain memicu kerja kita untuk lebih meningkat lagi
Reply
 
 
# bunyamin Alamsyah BDL 2012-01-26 08:02
Dapat pujian Al Hamdulillah, tak ada pujian tetap bekerja dengan baik dan semangat sehingga mendekati kesempurnaan yang diharapkan.
Reply
 
 
# Drs. Mamat S, MH WKPA Pandeglang 2012-02-29 11:41
Nampak jelas jiwa besar Pa Dirjen, dipuji sedemikian rupa malah dikembalikan kepada kita semua, patut dicontoh oleh kita. Pujian seharusnya tidak membuat lupa daratan, sombong, membanggakan diri (ceuk bhs sunda mah, sha heula atuh dirjena), semua harus dikembalikan kepada Allah SWT, Dialah yang patut menerima segala pujian, kita hanya berusaha. Usaha itulah yang menjadi amal shaleh yang insya Allah akan kita temukan nanti di yaumil akhir, amiin.
Reply
 
 
# nurulhakim 2012-03-14 13:36
:-* hebat.....
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS