Senin, 21 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Hakim PA Angkatan IV | (21/5)
BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




Es Krim, Baso dan Teknologi Informasi | (14/11) PDF Cetak E-mail
Senin, 14 November 2011 00:34


Es Krim, Baso dan Teknologi Informasi

*

Akhir musim gugur 1988. Saya masih ingat ketika itu. Baru saja saya mengikuti kelas “Islamic Intellectual History” yang diberikan oleh Prof Mustansir Mir pada jam pertama. Lalu menunggu jam kedua, pelajaran “Medieval Neareastern Literature” dari Prof Bellamy.  Saya duduk di dekat jendela di lantai dua, di salah satu ruang kuliyah University of Michigan, Amerika Serikat. Saat itu adalah semester pertama saya mengikuti kuliyah di universitas yang cukup ternama, yang berlokasi di kota kecil Ann Arbor, negara bagian Michigan, 45 mil sebelah barat kota industri Detroit.

Saya sedang menikmati kesendirian, sebab memang di bulan-bulan awal sekolah di sana, saya banyak menyendiri dan kesepian. Maklum, saat itu, isteri yang sangat saya cintai, terpaksa dikembalikan dulu ke rumah orang tuanya, di Tasikmalaya, bersama keempat anak kami yang masih kecil-kecil. Tidak mungkin sekolah ke negeri orang  membawa mereka semua, atau sebagian.

Menerawang ke luar jendela, saya melihat suasana redup dan sayu. Matahari sudah sekian lama jarang menampakkan dirinya. Kalaupun ia muncul, panasnya tidak begitu terasa sebab posisinya sedang menjauh menuju ke arah selatan. Sehingga suhu udara selalu dingin. Apalagi kalau angin bertiup, rasa dingin merasuk ke sekujur tubuh, menjadikan orang-orang yang bepergian ke luar rumah harus selalu berpakaian tebal, walaupun musim dingin belum datang dan salju belum turun.

Di sekitar, terlihat pepohonan hanya tinggal ranting-ranting yang nampak artistik, sedap dipandang mata.  Hampir semua pepohonan daunnya gugur akibat musim panas yang panjang selama  tiga bulan. Dahan dan rantingnya yang tanpa daun nampak  indah dan mengagumkan. Semakin ke ujung, dahan dan ranting itu semakin kecil, dengan pola yang macam-macam sesuai jenis tumbuhannya, namun tetap indah. “Subhanalloh”, saya berguman. Pemandangan indah yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Pemandangan seperti itu takkan pernah kita lihat di tanah air, sebab pergantian musimnya lain.

Di jalan dalam kampus, nampak para mahasiswa -dan juga dosen- berpakaian tebal hilir mudik berjalan bergegas. Pada umumnya mereka sedang menuju kelas masing-masing setelah selesai mengikuti suatu kuliyah, kemudian berpindah gedung, mengejar pelajaran lainnya.

Tiba-tiba, tidak sengaja, pandangan saya tertuju ke suatu pojokan jalan yang sedikit jauh dari tempat saya menerawang. Di salah satu kios deretan pertokoan kampus, tampak ada beberapa orang antri. Pada umumnya mahasiswa. Mereka, dengan berbaju tebal dan menggendong tas buku, sabar antri di sepanjang trotoar depan kios itu. Jumlah antrian kadang lima, enam, bahkan sampai sekitar sepuluh orang. Mereka datang silih berganti. “Sedang antri apa mereka di udara sedingin ini?”, pikir saya.

Setelah memperhatikan sedikit lama, dan harus mengerutkan kening sebab jaraknya agak jauh, saya baru tahu.  Masyaalloh, kiranya mereka  sedang antri es krim. Setelah mendapatkannya, mereka langsung pergi sambil menikmati hasil antriannya.

Tidak habis pikir ketika itu. Di udara yang sangat dingin, mengapa mereka rela antri cukup lama untuk mendapatkan secangkir kertas es krim, lalu langsung menyantapnya. Bukankah es krim itu makanan yang juga dingin? atau mungkin es krimnya tidak dingin?, atau barangkali es krim itu hangat? atau es krim itu mengandung obat? Mengapa mereka tidak tambah kedinginan? malah nampak ketagihan?

**

Hari-hari berikutnya saya selalu memperhatikan  antrian peminat es krim itu, terutama pada jam-jam istirahat kelas. Sementara, pertanyaan-pertanyaan yang ada pada benak saya masih belum menemui jawabannya. Saya belum sempat bertanya kepada siapun. Sampai akhirnya datang kesempatan, saya bertanya kepada seorang kenalan baru, ketika itu, seorang ibu  setengah baya, yang  pernah berkunjung dua tiga kali ke Indonesia.

Jawabannya sangat singkat, tapi juga penuh makna. “It’s a culture, Wahyu”, kata Si Ibu itu. Ia menambahkan sambil senyum bahwa di Jakartapun, udaranya panas, namun banyak orang suka makan dan ketagihan baso.

Iya juga, pikir saya. Apalagi baso yang enak itu adalah baso yang kuahnya pedas, dimakan masih dalam keadaan panas.  Makan baso juga tidak dibatasi waktu. Bagi pecintanya, makan baso di waktu pagi, siang, malam, sama saja.  Walaupun cuaca panas, ruangan penjual baso juga sumpek dan panas, tapi tetap banyak orang yang  setia dan menikmati baso favoritnya itu, walaupun setelahnya, sekujur badan basah kuyup oleh keringat. Mereka tetap merasa nikmat dan puas. Dan lalu, lain hari datang lagi.

***

Dalam suasana pembudayaan Teknologi Informasi di lingkungan Peradilan Agama yang belakangan ini sedang kita lakukan, saya jadi ingat kembali kata-kata jawaban si Ibu kenalan saya di Amerika itu, “It’s a culture, Wahyu”. Lalu, apa sih sebenarnya yang dikatakan sebagai “a culture”, yang biasa kita terjemahkan sebagai “budaya” itu.

Paul Procter dalam kamusnya, “Longman Dictionary of Contemporary English”, menulis bahwa salah satu arti “culture”  adalah “customs of a society”, kebiasaan suatu masyarakat. Memang benar juga. Makan es krim walau di musim dingin bagi orang Amerika, atau makan baso panas dan pedas walau di terik matahari bagi anak-anak muda Indonesia, itu kan kebiasaan masyarakat, yang sudah sejak entah kapan dilakukannya. Pantaslah kalau si Ibu itu menyebutnya “a culture”.

Tapi pasti, kebiasaan masyarakat itu tidak timbul dengan sendirinya. Memerlukan proses. Sesuatu akan menjadi kebiasaan, apabila apa yang dilakukannya dirasa enak, nikmat, mudah, murah, aman, nyaman dan seterusnya. Pendek kata menyenangkan dan masyarakatnya menerima, tidak melarangnya.

Bisa saja terjadi, jika diukur oleh suatu nilai atau norma,  pekerjaan itu tidak atau kurang baik, tapi karena masyarakat menerimanya, akhirnya menjadi kebiasaan juga. Banyak contoh tentang ini.

Memang, yang bagus itu adalah hal yang baik, lalu dilakukan bersama-sama secara masif,  spontanitas atau dengan perencanaan, yang menimbulkan manfaat besar bagi dirinya dan masyarakatnya, akhirnya menjadi suatu kebutuhan, bahkan ketagihan.

Itulah yang ingin kita perjuangkan bersama dalam pembudayaan pemanfaatan Teknologi Informasi. Manfaat dari penggunaan Teknologi Informasi sudah jelas, tidak ada yang membantahnya. Yang perlu kita perjuangkan adalah bagaimana agar pemanfaatan Teknologi Informasi itu dirasa mudah, murah, aman, nyaman, enak, nikmat dan membuat manfaat besar bagi dirinya dan masyarakatnya. Pendek kata, yang kita perjuangkan adalah bagaimana agar pemanfaatan Teknologi Informasi itu menjadi suatu budaya.

Sebagai orang peradilan, kita rasanya perlu memperhatikan serius terhadap apa yang ditulis Dr. Dory Reiling, Hakim Pengadilan di Amsterdam yang ahli Teknologi Informasi itu,  yang saya seringkali menyampaikannya dimana-mana. Kadang-kadang saya merasa malu, karena yang saya omongkan dalam banyak kesempatan, itu melulu. Tapi tidak apa-apa. Saya coba buang jauh-jauh rasa malu itu, sebab apa yang ditulis oleh Dr Dory pada disertasinya, “Technology for Justice”, 100% saya setuju. Dan kawan-kawanpun sepertinya tidak ada yang membantahnya. Disertasi yang telah dibukukan itu sangat memotivasi insan peradilan untuk membudayakan pemanfaatan Teknologi Informasi di lingkungan peradilan.

Mari kita perhatikan apa yang ia tulis: Over the centuries and all over the world, three major complaints have been heard that can still be heard today: (1) Court processes take too long, (2) Courts are difficult to access, (3) Judges (courts) are corrupt.  … each of them can be resolved with information technology”. (hal. 17).  Katanya lagi, “Information Technology is the most striking  factor in changing the world in our era.”(hal. 16)

Jadi kalau kita, orang-orang peradilan, terhadap pemanfaatan TI,  sudah seperti orang Amerika dalam hal menyukai es krim, atau sudah seperti anak-anak muda kita dalam menikmati baso, atau sudah seperti apa kata si Ibu Amerika yang menyebutnya “it’s a culture”, ditambah dengan integritas tinggi, saya yakin keluhan masyarakat dunia terhadap peradilan, sebagaimana dikatakan Dr Dory, akan sirna dengan sendirinya.

Jika hal itu terjadi, maka masyarakat akan merasa mudah, murah, aman, nyaman, enak dan nikmat jika berhubungan dengan peradilan. Dan ini berarti, visi Mahkamah Agung  sudah berada dekat di depan mata kita.

Tapi, kapan itu? Jawabannya ada pada diri kita, dan tergantung pada kita masing-masing, sebagai insan peradilan. (WW).

 

TanggalViewsComments
Total345194
Sen. 2120
Jum. 1830
Kam. 1710
Sel. 1530
Sen. 1410
Sab. 1220
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Niray.PA.Cbn 2011-11-14 01:46
Rangkaian kata yang penuh dengan makna,ilmu dan ajakan yang tak henti-hentinya agar kita terus berpacu untuk maju, ayo semangat terus untuk tetap cerdas mengikuti perkembangan Peradilan berbasis Teknologi,manfaat untuk kita,untuk orang lain dan sesama dan siapa saja yang mendambakan kenikmatan keadilan.Bravo...
Reply
 
 
# Jarkasih/pa. cibinong 2011-11-14 01:53
Menurut hematku "a culture" atau budaya dilahirkan oleh kebiasaan-kebiasaan, seperti seseorang yang biasa sarapan pagi makan nasi, maka ia akan mengatakan belum sarapan walaupun sudah makan beberapa potong roti. Demikian juga adanya dengan cerita es krim dan baso pak Dirjen yang menjadi sebuah kultur pada satu daerah, diawali dari kebiasaan. jujur, Selama ini kita jarang menggunakan TI, bahkan boleh dibilang "baru melek" dan tidak sedikit yang masih "gatek", sehingga dengan menggunakan jasa TI justru makin sulit dan rumit. solusinya tidak ada jalan lain kecuali TI harus menjadi kebiasaan yang insya Allah akan menjadi kultur pada diri kita dan dunia peradilan pada umumnya. sst...
sebab ada pepatah mengatakan "la biasa lam yabres" (tidak biasa, maka tidak akan beres). Kapan kita mulai kebiasaan itu? mulai hari ini, mulai dari yang kecil disekeliling kita, termasuk di cornel pak Dirjen ini. Bravo pak Dirden, Brapo TI. wassalam
Reply
 
 
# Hidayat Sasangka 2011-11-14 02:32
Nice artikel pak...
Cukup dalam kajiannya..
Memang kadang orang terlalu takut terhadap sebuah perubahan dimana perubahan itu bisa jadi membawa sebuah kemajuan besar, bahkan belum apa-apa sudah takut terhadap bayangannya sendiri tentang sebuah perubahan tersebut..dan inilah yang terkadang menutup jalan untuk sebuah kemajuan..
Reply
 
 
# Ratu Ayu 2011-11-14 02:43
Nice 2 read ... Akhirnya, baca Pojok Pak Dirjen ini jadi budaya juga bagi saya, jadi kebudayaan dan ketagihan. Saya setuju, yg baik dibudayakan. Membudayakan sesuatu tidak mudah, tapi mudah2an itu hanya 'nampaknya' saja, sama seperti budaya es krim di Michigan, nampaknya aneh, tidak logis, tapi ada. Mudah2an peran IT sebagai pendukung reformasi bisa dijalankan dan diarahkan dengan baik. Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Kebiasaan adalah budaya, jadi mari kita paksa diri kita untuk berjibaku dengan IT untuk Justice 4 all agar terbiasa, terbudaya. Kita cintai, kita sayangi, supaya kita mau kenal seluk beluk IT meski untuk sebagian yang belum kenal nampaknya rumit. Padahal asyik juga, sama seperti makan bakso di siang bolong, minumnya teh panas pula. Wow!!!
Reply
 
 
# Masrinedi-PA.Painan 2011-11-14 11:27
Saya sangat setuju penerapan dan pemanfaatan TI di Badilag adalah 'It’s a culture'. Terus terang komentar ini saya tulis tadi malam dini hari Selasa jam 01.10 WIB. Melalui ini juga saya juga kembali menyampaikan kepada Pak Wahyu semoga 'Buku yang akan bapak tulis itu' menjadi sebuah Disertasi Doktor bapak sehingga nanti bapak memasuki purnabhakti alias pensiun sebagai 'kado istimewa' bapak buat kami warga Badilag khususnya, masyarakat muslim Indonesia pada umumnya. Amin !
Reply
 
 
# Ibrahim Ahmad Harun 2011-11-14 16:53
IT di peradilan agama sudah hampir menjadi seperti apa kata si Ibu Amerika yang menyebutnya “it’s a culture”, dan peran pak Dirjen dalam hal ini sangat besar, dimana hampir dalam setiap kesempatan memberi motifasi bagi warga peradilan agama untuk memanfaatkan IT....
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-14 17:14
Subhanalloh kiasan indah rindu karena kebiasaan sungguh termasuk yang saya alami,ketika Masih di PA Negara sering mengirim berita ke Badilag.net. dan betapa senang kalau dimuat. sebuah pemicu untuk tiap hari membuka dan berkomentar. jadinya ketagihan rasanya seperti orang yg ketagihan Bakso. sampai sekarangpun demikian rasanya gelisah kalau belum buka Badilag.net. Selasa depan apalagi pak Dirjen. Maaf malu rasanya bila di kenal sebagai komentator melulu. Rindu berat dengan Badilag.net spt rindunya Es Krim dan Bakso.
Reply
 
 
# DJABIR SASOLE PA TRNT 2011-11-14 17:16
Saya setuju pak... pemanfaatan IT harus menjadi 'budaya' di lingkungan Peradilan Agama kapan dan dimana serta dalam hal apa saja, seperti halnya budaya makan es kriem di AS dan baso di Indonesia. Proses ke arah itu sebenarnya sudah berjalan di lingkungan PA. Hanya memang butuh waktu untuk menjadikannya sebagai suatu 'kebutuhan'- tidak hanya menjadi budaya an sich - . menurut saya kunci pokok untuk membudayakan IT ada di unsur pimpinan di setiap tingkatan. jadi pimpinan dulu pak yang harus 'paksa' untuk membutuhkan IT.
Reply
 
 
# mathe08 2011-11-14 18:03
culture memang, sebgmn masy. yg selalu menganggap pengadilan agama sebagai pengadilan cerai, atau hakim yg kadang tdk bisa membedakan mana mediasi dan mana litigasi, semoga warga pengadilan agama tdk menjadi kaget/shock dng perubahan2 yg terjadi begitu cepat, selamat pak wahyu telah membawa warga pengadilan agama pada era yg serba digital
Reply
 
 
# Syamsulbahri PA Mks 2011-11-14 19:22
Memang Pak perlu dibudayakan IT tersebut di kalangan aparat Pengadilan Agama. agar supaya IT ini bisa seperti menikmati icecream dan bakso... hehehe... so it's a culture...hehehehe...sukses Pak...
Reply
 
 
# Ghozi-PA. Kuala Tungkal 2011-11-14 19:22
Menarik sekali tulisan bapak.. "Its a culture" budaya IT memang sudah menjadi bagian dari dunia Peradilan Agama di Indonesia.. Tentunya dengan mewabahnya IT tersebut menjadikan lembaga peradilan agama selalu menjalankan reformasi birokrasi di Mahkamah Agung RI....
Reply
 
 
# M.Yusuf.wk PA Kendari 2011-11-14 19:27
Technologi for Justice"sebagaimana judul Disertasi DR.Dory R saya pikir sebuah keniscayaan.Kalau pak Dirjen menanyakan kapan itu? jawaban kami pak Dirjen tidak usah khawatir,kami siap belajar.If theri is a will,theri is a way.
Reply
 
 
# mame sadafal.pa.sidoarjo 2011-11-14 19:29
Untuk mencapai visi MA menjadi peradilan yang agung, semua aparat peradilan khususnya aparat peradilan agama, harus berusaha mengubah cara kerja lama (budaya lama) menjadi kultur IT, langkah ini cukup berat, karena mengusik ketentraman lama.
Reply
 
 
# yudha Arrahman 2011-11-14 19:41
Mantap Pak Artikelnya.......
Sukses Terus Untuk Badilag.....
Reply
 
 
# Badrul_PA Mlg 2011-11-14 19:41
Like This..
Reply
 
 
# umu h@ykal 2011-11-14 19:44
Setuju pak Dirjen... Mari kita bangun culture (pemanfaatan TI) itu bersama-sama. Insya Allah...
Reply
 
 
# Diana - Kab. K 2011-11-14 19:44
Andai saja semua pemimpin seperti Pak Dirjen, very-very smart...seorang pemimpin yang sebenarnya. Dan harus didukung oleh kinerja kita semua sebagai warga Peradilan, agar kita dapat maju sepuluh langkah dari yang lain. Saya sangat bangga pd sosok Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Abu Hazm Kalianda 2011-11-14 19:45
Ass. lugas,ngalir,menarik,dan dalam maknanya apa yg diceritakan pak Dirjen. Membudayakan TI dan men-TI-kan budaya di lingkungan Peradilan Agama adalah sebuah kemestian yg tdk bs ditawar2 lg hari ini. semoga dengan adanya TI tdk sekedar difahami sebagai sebuah "life style" semata tetapi hrs benar2 menjadi sebuah "Kebutuhan Dasar" untuk kita semua. Maju terus wahai Badilagku.....I Love U because you love me. Salam
Reply
 
 
# samsul bahri 2011-11-14 20:19
Samsul Bahri, PA SUbang
membudayakan tekonologi agaknya tidak bisa dihindari dalam untuk mendukung pelayanan keadilan pada pencari keadilan. tetapi betapapun pentingnya ia adalah alat yang membantu manusia, sehingga yang terpenting adalah "man behind the gun" maka di sinilah membudayakan sikap yang selalu komitmen kepada kebenaran, keadilan dan kejujuran menjadi sisi lain dari mata uang yang sisi lainnya adalah membuidayakan tekonlogi.
So... we always renewing our commitment to give justice for all as a worship
Reply
 
 
# Dudung Bukittinggi 2011-11-14 20:26
Insya Allah IT bagi waga Peradilan Agama, sudah menjadi "Bakso" yang senantiasa dirindukan kehadirannya, ... dan sehari saja tidak menikmatinya, kita akan mencarinya ... Badilag.net mati tiga hari saja ... kami sudah kecarian. Bravo Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Alimuddin,M.Mataram 2011-11-14 20:26
Setiap impian butuh waktu dan proses untuk mewujudkannya. Impian untuk menjadikan penggunaan TI sebagai kultur di lingkungan PA boleh dikata sudah terwujud berkat kerja keras dan motivasi kontinyu dari Pak Dirjen, hanya saja untuk sampai pada 100 % masih perlu kerja keras lagi. Semoga!
Reply
 
 
# Hamid- Tanjung Redeb 2011-11-14 20:30
Amazing, serasa membaca novel best seller. saya suka baca novel, menikmati dan menyelam masuk seolah menjadi tokoh dalam cerita itu,,, yes, it's a culture....!!!! Suka dan menikmati memang syarat utama untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan mencapai hasil yang diharapkan.
Reply
 
 
# umi, kalsel 2011-11-14 20:40
jawabannya mungkin blm bisa scptnya, perlu perjuangan keras lagi untuk mensosialisasikan dan menularkan, karena masih melekat paradigma "buka internet=negatif', seperti dikantor sy 'yg srng memanfaatkan internet sdh dicap negatif' padahal pemanfaatan IT scr positif lebih banyak sperti menggali info2 terbaru dan benar jg iklan "INTERNET UNTUK RAKYAT",biar smua lebih maju dg perkembangan terbaru
Reply
 
 
# Ida Hamidah @TanahGrogot 2011-11-14 20:45
Saluttt buat bpk, 2 thumb buat TI Peradilan :-) , kalo saya menyukai TI seperti halnya menyukai coklat :lol: .
Reply
 
 
# xan-pa mgl 2011-11-14 21:07
"antum a'lamu biumuuri dunyaakum," adalah hadits pertama yang menyangkut teknologi. nabi telah memberikan otoritas kepada kita sebagai umat untuk wajib melek teknologi. follow upnya adalah hadits "addunyaa mazro'atul aakhiroh" yaitu agar teknologi dijadikan ladang amal supaya kita bisa panen di hari kemudian. hari kemudian adalah hari ini diukur dari hari kemarin, dan/ hari esok diukur dari hari ini, dan/ kehidupan akhirat diukur dari kehidupan dunia. Salut tiada henti pada pak Dirjen!
Reply
 
 
# A.NIkmah 2011-11-14 21:09
cerita bapak tentang ice cream dan bakso semoga menjadi motifasi and inspirasi warga peradilan agama terhadap IT...so we can say : It's our culture.....
Reply
 
 
# Nur C-PA Sengeti 2011-11-14 21:09
That's right. I do agree that IT(information technology) must be a culture in our milieu, and God willing..the three major complaints have been heard can be resolved with IT.I wish us luck.Amin.
Reply
 
 
# wiji 2011-11-14 21:12
that's right....
tapi pada kenyataannya, SDM yang ada masih sangat sedikit dan kurang merata penyebaraannya, kalaupun ada, keberadaannya jadi tidak jelas karena admin IT, dimana saja di taruh bisa dimanfaatkan, sehingga tidak bisa fokus, memberikan hasil yang maksimal... mohon adanya evaluasi lagi masalah kinerja :)
Reply
 
 
# PTA Banten 2011-11-14 21:16
alah bisa oleh karena biasa....mungkin peribahasa itu seiring dengan kisah penuh inspiratif yang disampaikan p Dirjen. Bagaimana kita 'terbiasa' dengan sesuatu dan menjadikannya sebuah kebiasaan bahkan budaya, berawal dari proses mengenal, menyukai, memahami, terbiasa, hingga akhirnya menyatu dan muncul ketergantungan terhadap sesuatu yang kita akrabi dan memberikan rasa nyaman dan penting bagi kehidupan kita. fakta ini sudah ada saat ini, IT ada dimana-mana, IT dibutuhkan semua, dan IT semakin terbiasa dengan kita. Semangat terus pak Dirjen dan Badilag.
Reply
 
 
# FAJARUDDIN, PA PEMALANG 2011-11-14 21:48
Sepertinya sekarang sudah mulai pak. Banyak diantara rekan2 kita yg mulai senang dengan FB-an. Mudah2an itu menjadi jalan menuju menyenangi TI sebagaimana yg diharapkan & semoga tidak terlena dengan FBnya.
Salut kepada Badilag yang tidak bosan2 mendorong kita yang di bawah untuk maju. Terima kasih
Reply
 
 
# Zulkifli Siregar, Kabanjahe 2011-11-14 21:56
Setuju pak Dirjen. Memang shalat saja pun karena kita telah terbiasa. Bersih juga harus dibiasakan sejak kecil dll. Kalau sudah biasa, pasti jadi watak kita dan itu nikmat, bukan beban. Bukankah, "habit is second nature" ? Makasih !
Reply
 
 
# Alwie_PA Tulungagung 2011-11-14 21:58
Emang benar pak dirjen, culture harus dijadikan suatu kebiasaan bagi masyarakat peradilan kita utamanya memanfaatkan media digital sebagai media informasi, tapi pak dirjen harus ada kemauan dan penggerak yg kuat agar gerbong culture itu dapat digerakkan....semoga...amin...!
Reply
 
 
# DJABIR SASOLE PA TRNT 2011-11-14 22:02
Sangat C7 IT bisa jadi budaya kita di lingkungan PA. Tidak hanya jadi budaya, justru harus menjadi kebutuhan kita. Sekarang proses ke arah itu sdh berjalan. Dg adanya program SIADPA, penggunaan media Web sebagai wahana informasi dan berbagai pelatihan yang diadakan Badilag, membuat kita 'harus' tahu. Kunci pokok agar IT bisa menjadi kebutuhan, juga sangat ditentukan oleh pimpinan di setiap tingkatan. Jadi sekarang pimpinan dulu harus 'dipaksa' tahu dan butuh akan IT.
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2011-11-14 22:04
setuju sekali pak, visi MA sudah diambang pintu akan kita raih, apabila kesuksesan yang telah diraih oleh Peradilan dipertahankan terus, dan yang belum diraih kita usahakan terus. apalagi kalau SDMnya ditingkatkan kembali kemauan dan kemampuannya, yang menentukan berhasil atau gagalnya suatu program adalah SDM-nya, kalau SDM nya mau maju dan siap berjuang mewujudkan, Visi itu akan sangat gampang diraihnya, tapi namanya juga manusia susah untuk menyatukan visi dan misi, semuanya sudah tahu apalagi kalau misi pribadi yang menonjol, kita akan menjadi penonton yang baik saja, dan menyelamatkan diri kita masing-masing. akhirnya harapan hanya bayangan yang tidak pernah menjadi kenyataan, keinginan hanya menjadi coretan yang tidak bisa diwujudkan dalam kehiduan nyata, semuanya Mercusuar tanpa arti, hanya basa basi saja. semoga yang dikhawatirkan ini hanya kehawatiran yang berlebihan saja.
Reply
 
 
# parkan pasal 2011-11-14 22:13
mantabbb...
Reply
 
 
# muis salam pagia 2011-11-14 22:27
I'm agree that IT mush be our culture.
Reply
 
 
# Herman 2011-11-14 22:45
..menciptakan budaya ber IT ria di lingkungan peradilan menjadi kunci suksesnya tugas2 serta pelayanan yang efektif dan efisien bagi para pencari keadilan...,absolutely agree , Pak Dirjen!!
Reply
 
 
# PA. Probolinggo 2011-11-14 22:51
culture = Kebiasaan...
tresno jalaran soko kulino.....
tresno akan muncul setelah ada kulino, kulino glibet, termasuk kulino mbulet......
kebiasaan yang menimbulkan kenyamanan, kemudahan dan keuntungan itulah yang akan dicari dan digemari..... semoga kita semua akan segera terbiasa dan menikmatinya..... semangat warga BADILAG... thanks pak DIRJEN.... semoga sehat selalu....
Reply
 
 
# edi hudiata 2011-11-14 23:05
tulisan yang sangat inspiratif. mari menebar inspirasi melalui tulisan. it's culture :)
Reply
 
 
# Alimuddin,M.Mataram 2011-11-14 23:40
Dari cerita tersebut terkandung satu filosofi bahwa untuk menjadikan suatu aktivitas sebagai budaya/cultur/kebiasaan , tidak diperlukan logika dan proposal panjang. Yang terpenting adalah aksi nyata dan pembiasaan diri. Memberanikan diri mengotak-atik computer misalnya, atau mungkin kursus kilat kepada teman/staf secara gratis, mungkin salah satu jalannya.
Reply
 
 
# yantipasby 2011-11-14 23:50
saya setuju 100 % dengan pak dirjen, sekarang tinggal bagaimana cara untuk memotivasi diri sendiri agar mau menjadi yang terbaik dan perubahan itu menjadi akar yang membudaya dalam lingkungan yang terdekat dengan kita,seperti "tempat tinggal kedua" kita (kantor tercinta) :-) ...
Reply
 
 
# Iskhaq KPA Jayapura 2011-11-15 00:14
Memang meskipun itu suatu kebaikan tetapi tidak serta merta begitu diperintah orang langsung mau menjalankan,tetapi harus sedikit dipaksa, itu semua karena belum menyadari bahwa disitu ada manfaat yang begitu besar, ibarat anak kecil yang disuruh sekolah, demikian dengan IT dilingkungan PA, saya salut dengan pak Dirjen dalam memotivasi kita, sehingga sekarang sudah semua PA memanfaatkan IT, sehingga Visi MA segera terwujud.
Reply
 
 
# FatADt 2011-11-15 00:17
enaaak bacax tp maknax mendalam,smg IT merupakan culture bagi peradilan agama, bravo......
Reply
 
 
# Reza-PA Bengkulu 2011-11-15 00:29
Seiring dengan perkembangan zaman, menurut saya pemanfaatan TI adalah harga mati. Itulah yang saya tangkap dari tulisan Pak Dirjen dengan tema "IT it's culture". Warga peradilan harus mampu menjadikan IT sebagai budaya yang positif di era keterbukaan informasi. Salam perubahan! BISA..BISA..BISA..ALLAHUAKBAR!
Reply
 
 
# dikkie. pa- maninjau 2011-11-15 01:38
membudayakan itu memang sulit namun apabila sudah menjadi budaya sulit juga untuk mengubahnya. nah tekad pak dirjen tidak bertepuk sebelah tangan semua insan peradilan bersemangat dan ikut serta mendukung dalam membudayakan IT pada pelaksanaan proses berperkara, terlihat dengan cepatnya perkembangan SIADPA serta aplikasi pendukung lainnya di lingkungan Pengadilan Agama, ini merupakan bentuk kesungguhan para pimpinan dim seluruh Indonesia. sebentar lagi proses tersebut akan membudaya dan akan sulit juga untuk menghentikannya.
Reply
 
 
# Agus Bey/PA.Cianjur 2011-11-15 02:46
it's something new.....
Reply
 
 
# Ahmad Fadly 2011-11-15 03:27
Mungkin melahirkan sebuah kebiasaan positif memerlukan sebuah usaha yang ekstrem. Vote for Komodo mungkin bisa menjadi pelajaran berharga untuk pengembangan TI di peradilan..... khususnya peradilan agama..
Bravo TI ........
Reply
 
 
# difho 2011-11-15 08:28
Semoga di setiap pojok badilag pada nyantap es krim di kala dingin dan makan baso dikala panas, setiap hari bekerja maunya pake IT, tapi....... jaringannya.....eehh.
Reply
 
 
# Robani Indra, Sidoarjo 2011-11-15 14:47
TI atau IT bagi dunia peradilan agama yg diilustrasi oleh Pak Dirjen tsb diatas tak ubahnya kesenangan menghirup Es krim meskipun di musim dingin dan menyantap Bakso walaupun di udara panas, memang telah menjadi kebutuhan mendasar bagi orang yg berpikiran maju, karena didalamnya memuat informasi, komunikasi, koordinasi, yg efektif. Tidak ada kata lain bagi SDM PA kecuali IT menjadi bagian dasar potensi yg harus ia miliki.
Reply
 
 
# mudzakkir-tebuireng 2011-11-15 16:33
Benar Pak Dirjen,persoalannya hanya ketika di benua mana pun aktifitas dan integritas sudah menyatu menjadi kultur, manhaj apa yang mereka tempuh, bagi kita yang mungkin hampir punah adalah wajah keteladanan, satunya kata dan perbuatan, hal itu yang secara sungguh harus dicari dan dikembalikan, dahulu di bumi tercinta ini lahir tokoh-tokoh besar yang sangat dipanuti, sekarang?
Reply
 
 
# Kamali Singarajapa. 2011-11-15 17:32
Saya baru ingat, bahwa dalam Islam dikenal dengan "al 'Adatu Muhakkamatun", kalaulah kita semua setiap habis Sholat Shubuh istiqomah menyatu dengan TI, insya Allah kita akan selalu menemukan hal-hal yang BARU.
Syukron wal'afwu minnaa, Selamat kami haturkan untuk pak Dirjen bapak Drs. H. Wahyu Widiana, SH. MH.
Reply
 
 
# Miko- PTA Padang 2011-11-15 17:49
Inspiratif, Sesedap baso bg saya :lol:
Reply
 
 
# alisyarif_sala3 2011-11-15 18:04
...... menuju kata "it's culture" memerlukan proses, dan proses itu yang sedang berjalan di PA, suatu saat yg didam-2kan itu akan terwujud, apalagi lg jika dibarengi dengan fasilitas toko es krim dan warung tukang bakso yg nyaman dan Penjulnya yang kreatif dan inovatif, kiranya "IT it's culture" tidak lama lg akan muncul... wallohu a'lam bi showab
Reply
 
 
# Erlan Naofal/PA.Sidikalang 2011-11-15 18:22
Impian dan cita-cita menjadikan IT is a culture bagi seluruh warga peradilan agama insya Allah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya akan menjadi kenyataan jika semua stakeholder memiliki spirit dan ruh perjuangan seperti yang dicontohkan pak dirjen. Terima Kasih Buat Pak Dirjen yang terus-menerus tak kenal henti memompa dan memupuk semangat perubahan kedalam jiwa-jiwa seluruh warga peradilan agama. Njuah-njuah kita karina. Horas
Reply
 
 
# Urip Probolinggo 2011-11-15 18:25
Setelah saya membaca untaian kata demi kata yang kemudian terangkai dalam susunan kalimat yang indah dari bapak Dirjen Badilag Wahyu Widiana, siapapun akan tertarik untuk selalu membacanya. Kalimatnya sederhana namun maknanya sangat dalam. Itulah harapan dan keinginan bapak Dirjen agar kita dapat menguasai dan memanfaatkan TI, dengan TI kita akan menjadi mudah. Mari segera kita wujudkan harapan dan keinginan pak Dirjen tsb. Hidup pak Dirjen, saya tunggu untaian kata berikutnya yang sejuk dan menyenangkan ini.
Reply
 
 
# Azizah PA.Talu 2011-11-15 18:56
Sangat tertarik saya membacanya..
Menuju apapun pasti bertahap..
Kebiasaan yang baik insya allah akan di dapatkan..
Semoga Ti menjadi makanan sekaligus minuman yang melepas lapar dan dahaga ut warga peradilan baik untuk segala musim, bahkan juga untuk musim extriem..
Jadi g kalah dg bakso dan es krim:-)
Reply
 
 
# endang m, pta mataram 2011-11-15 19:07
IT memang program unggulan dan andalan Ditjen Badilag MA, ayo kita dukung program2 yg berkaitan dg IT.......!!!!!
Reply
 
 
# Dadan Dzulqarnain/PA.Sidikalang 2011-11-15 19:15
Es Krim itu enak, Bakso panas itu Mantap tapi IT lebih enak dan lebih mantap. betul...........betul.........betul...... ting
Reply
 
 
# M.ROISAR PAKDR 2011-11-15 19:39
Meng-culture-kan ITI di wil Badilag mungkin relatif lebih mudah dibandingkan dengan di wil Badil2 yg lain di MARI sebab Bpk Dirjen Badilag,disamping sebagai pakar ITI dan maindit ITI di MA,juga punya gelar Dirjen ITI.Okelah mari kita sambut dengan penuh keteladanan bagi yg lain. Semoga sukses. Amiin.
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-15 19:42
jika semua hakim dan warga PA bertekat membudayakan seperti kata Dr.Dory Reiling "Technology for Justice" maka tujuan menjadikan "PA dari Serambi Masjid ke Serambi Dunia" akan terwujud. Sekarangkah Puncaknya? belum! ayo kita tingkatkan terus,kini Generasi yang Visioner dan punya jiwa perjuangan yg lincah dan ihlas yg diperlukan. Semoga PA terus jaya...
Reply
 
 
# SF Hasibuan/PA sidikalang 2011-11-15 19:56
Sejenak saya tertegun saat membaca tulisan singkat dari Pak Dirjen, saya tak tahu lebih asik mana membaca cersil Kopingho atau tulisan pak Dirjen.
IT Ok, its the best, tapi solusinya Pak, SDM yang kurang memadai pada PA membuat IT jalan di tempat. Pelatihan berkesinambungan salah satu solusinya, semoga.............. :-) http://www.badilag.net/components/com_jcomments/images/smiles/smile.gif:-)
Reply
 
 
# Siswoyo/PA Medan 2011-11-15 20:03
Mari kita jadikan IT its a culture bagi dunia peradilan khususnya peradilan agama karena dengan IT kita bisa melihat dunia walaupun kita hanya duduk disini.
There is no area of everyday life wich IT has not yet touched......
IT For The FUTURE......
Bravo ....Maju Terus IT Peradilan Agama
Reply
 
 
# rusli 2011-11-15 20:51
kata orang dulu bisa kalah dengan biasa, seperti ular yang berbisa tapi kalah dengan burung yang biasa menangkap ular yang berbisa
Reply
 
 
# Itna-PA.Gs 2011-11-15 20:58
Artikel yang sangat enak dibaca seenak es krim dan baso...sangat bangga dg pak Dirjen yg slalu memotivasi warga Peradialn Agama untuk terus maju diera modernisasi Teknologi disemua bidang, sukses slalu buat Pak Dirjen....
Reply
 
 
# Muh. Husain Shaleh-KPA Masamba 2011-11-16 00:21
Selamat buat Pak Dirjen yang sangat kreatif saya senang sekali baca es krim dan Baso yang pada hakikatnya banyak memberikan nuansa pemikiran yang dinamis. semoga pak Dirjen dirahmata oleh Allah untuk banyak berkiprah dalam perkembangan Peradilan Agama dimasa akan datang. kami doakan pak Dirjen tetap sehat. Wassalam.....
Reply
 
 
# liliasyari@yahoo.com 2011-11-16 00:29
dg TI kt bisa melakukan apa saja yg penting ada kemauan dan kemampuan,rajutan dan untaian kata yg disajikan sarat dg informasi, motifasi dan dedikasi shg banyak warga peradilan hususnya dan masyarakat pada umumnya ingin memetik hikmah dr untaian kata2 tsb, yg tdk mamupu TI mau belajar krn ingin selalu berdialog ama p Dirjen......
walau lewat email... : lilik muliana Pa probolinggo
Reply
 
 
# Anhar-KPA.Painan 2011-11-16 01:26
Wibsite Badilag.net sudah merupakan keburtuhan keseharian bagi warga Pengadilan yang ingin tahu dengan berita Peradilan ditanah air, bukan merupakan perintah atasan lagi, tetapi hal itu kadangkala dengan kesibukkan lain lain tertinggal pula, apalagi kalau sudah dinas luar tanpa membawa laptop, moga moga hal ini tidak terjadi bagi anggota lain. Amiiiin !
Reply
 
 
# choliluna achmad 2011-11-16 07:07
tulisan yang sangat menyentuh.
sejarah akan mencatat usaha besar pak Dirjen dalam memodernisasi peradilan agama. IT hanya salah satu dr sekian banyak usaha bapak dlm memajukan peradilan yg kita cintai ini.

semoga menjadi amal sholeh yg pahalanya terus mengalir. barakallahu laka wahai Bapak Pembaharu Peradilan Agama.
Reply
 
 
# yanto PTA Jogya 2011-11-16 15:23
Sungguh sangat menggelitik es krim,bakso dan IT pak Dirjen. Saya merasakan artikel ini mengajak kita agar budaya IT dilingkungan warga Peradilan Agama dengan melalui proses .niscaya akan menjadi culture dilingkungan warga kita. Semoga sukses tujuh program prioritas BADILAG.
Reply
 
 
# MUHIDIN PA Badung 2011-11-16 19:59
Kami setuju dan sangat bangga apabila semua warga peradilan bisa membudayakan apa yang disampaikan oleh Pak Dirjen. Amin.
Reply
 
 
# Muhammad KAstalani PA PAre 2011-11-17 02:26
motivatif, inspiratif...
Reply
 
 
# Anhar-KPA.Painan 2011-11-17 18:30
Dari beberapa ungkapan sdiatas, betapa enaknya baso dan eskrim, bagi warga Peradilan website Badilag net lebih dibutuhkan berita dan ilmiahnya. Amiiin !
Reply
 
 
# Noor Aini 2011-11-20 11:01
semoga kami dapat mengikuti jejak pak wahyu
Reply
 
 
# Nastiti Dewi 2011-11-21 11:42
Haru biru membacanya, pak. Sangat inspiratif. Kan kuperbaiki terus kemampuanku di Gadget.
Reply
 
 
# nia_PA Kng 2011-11-21 16:27
nyam...nyam....slruffff :o
Reply
 
 
# poppy PA kuningan 2011-11-21 16:29
hmmmm....yummi, pasti enak ya pa? :lol:
Reply
 
 
# Jasman, Kabanjehe 2011-11-22 08:55
:-| Membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang positif, pasti akhirnya kita akan terbiasa untuk melakukannya, salah satu contoh yang ringan apabila kita mengendarai mobil sudah membiasakan diri memakai sabuk pengangam, rasanya ada yang kurang apabila kita sedang mengendarai mobil tanpa memakai sabu pengaman, begitu juga dalam pemanfaatan TI, kalau sudah terbiasa Insa' Allah tidak akan meu ketinggalan, akan menjadi suatu kebutuhan bagi kita. Terimakasih
Reply
 
 
# ahmad satiri 2011-11-22 09:14
cara yang sangat cerdas untuk men"sosialisasikan" ide-ide besar yang dapat difahami dengan cara yang mudah dan tidak birokratis... maju terus pak Wahyu..
Reply
 
 
# asep hidayat tegal 2011-11-22 09:33
kultur birokrasi kita masih top downleh karenaitu pimpinan pegang peran beri contoh dan beri atensi yg baik bira budya yg diharap tidak hanya keinginan tanpa perencanaan palaci masa bodo
Reply
 
 
# asep hidayat tegal 2011-11-22 09:45
budya birokrasi kita masih topdown masih sentral dan kental moga ada perubahan sesuai yang diharap dan direncanakan serta ada penghargaan dan selalu mendapat ilham untuk maju terus pantang mundur it kita
Reply
 
 
# fadli_bae55@yahoo.idi 2011-11-22 10:58
khamdan wasyukron, sebuah torehan hati yang penuh makna dan arti, mari kt ambil makna itu ut diterapkan di PA agar meninggalkan tradisi lama menuju tradisi baru untuk pembaharuan termasuk pembaharuan etika dlm rangka menuju peradilan yang agung. trims Pak Dirjen
Reply
 
 
# nia_pa.kng 2011-11-22 15:51
nyam...nyam...yang lezat, yang bermanfaat :lol:
Reply
 
 
# achdan_fadhil.com 2011-11-24 09:49
subhanallah, ketika saya baca 1, 2 paragraf saya fikir yang nulis adalah andrea hirata, .... so nice dan inspiratif .... syukron
Reply
 
 
# nurmadi rasyid pa bengkulu 2011-11-24 12:57
Sungguh sangagat menarik hati, sungguh saya dengan IT ini benar benar menjadi lebih maju satu satunya jalan yang terbaik menuju sukses semoga hal ini mengcultre pada warga peradilan
Reply
 
 
# sayuruddindaulay 2011-11-25 16:44
ketika dibaca awal tulisan Bapak, sya semula menyangka Bapak seorang penulis Novel handal, tetapi ketika tuntas sya baca saya berkesimpulan bahwa bapak seorang ahli filsafat yg dapat menerawang fenomena alam menjadi sebuah pemikiran ilmiyah. selamat dan sukses tuk bpak smoga IT di Pa really to become culture.Thanks.
Reply
 
 
# Abd. Malik PA.Soe 2011-11-29 05:58
Jangan bangga dengan prestasi orang lain dibidang TI, sedangkan kita hanya pasrah dengan menggunakan dalih sudah "kadung" (terlanjur).
Reply
 
 
# Wikan Tebing Tinggi 2011-11-29 09:08
Uraian kata2nya bagus banget dan pastinya bermakna. Terima Kasih, Pak, alhamdulillah pagi2 sudah dapat pencerahan.
Reply
 
 
# Sarjan 2011-12-01 07:44
hebat itu, brarti tidak hanya teman2 yg tugas di PA Bajawa dan Ruteng saja yg merasakan dingin dan salju, hehehehe !!!!!
Reply
 
 
# muhlas. PA Situbondo 2011-12-05 13:56
saya sangat salut cara bpk merangkum kalimat untuk menggiring pembaca,tetapi yg perlu selalu kita evaluasi adalah bagaimana orang harus selalu termotivasi bahwa sgl keberhasil akan mudah dicapai apa bila segl hal yang kita lakukan sudah menjadi "culture", mengingat dikalangan kita tidak semua mampu dan mau menjadikan culture itu sebagai pilar penting memperoleh keberhasilan. Semoga kita selalu mendapt petunjuk dari Allah agar apa yg kita lakukan untuk menuju keberhasilan adalah menjadikan kebiasaan yang bikin ketagihan apa bila tidak seperti itu AMIIN. Thank pak dirjen motivsinya...
Reply
 
 
# imam rahmawan-honorer pa.pacitan 2011-12-07 11:32
saya sangat senang dengan artikel2 pak dirjen yang memuat tentang penggunaan TI dalam pelayanan PA, saya juga memimpikan apakah nantinya juga bisa sistem berperkara di PA antara PA satu dengan PA yang lain saling terkoneksi dan servernya terpusat di BADILAG, agar nantinya tidak ada dobel perkara dengan PA lain, demi untuk pelayanan para pencari keadilan
Reply
 
 
# cuma seorang warga peradilan 2011-12-09 07:36
....mudah, murah, aman, nyaman, enak dan nikmat jika berhubungan dengan peradilan....
Bisa klo secara umum, karena semua tergantung aparat peradilan itu sendiri. tapi klo dihubungkan ke IT????

OSnya aja harganya lebih dari 1 juta rupiah, 1 komputer satu lisensi. Blm aplikasi office, antivirus dan lain2. Ditambah dengan kebutuhan sistem yang semakin hari semakin meningkat. Kaya'nya besar pasak dari tiang. :zzz

Apa mungkin Mahkamah Agung mau mengeluarkan dananya? :-*
Reply
 
 
# ifah_arthur 2012-01-10 09:19
Membaca pojok Pak Dirjen di pagi hari ini membuat saya tersenyum sendiri, Membayangkan bagaimana Pak Dirjen menyampaikannya layaknya dosen di ruang kelas. Wah, saya pasti betah deh di kelas Bapak. Sebuah inspirasi tanpa menggurui...
Reply
 
 
# Wahyu Widiana 2012-01-11 18:11
Makasih komentarnya ya.Salam.
Reply
 
 
# Mamat S WKPA Pandeglang 2012-03-01 11:17
Insya Allah warga peradilan akan membiasakan menggunakan IT sebagai Culture, sama halnya makan bakso dan es krim. Memang awalnya susah tapi kalau sudah jadi culture gak susah lagi, malah jadi ketagihan.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS