|
Es Krim, Baso dan Teknologi Informasi
*
Akhir musim gugur 1988. Saya masih ingat ketika itu. Baru saja saya mengikuti kelas “Islamic Intellectual History” yang diberikan oleh Prof Mustansir Mir pada jam pertama. Lalu menunggu jam kedua, pelajaran “Medieval Neareastern Literature” dari Prof Bellamy. Saya duduk di dekat jendela di lantai dua, di salah satu ruang kuliyah University of Michigan, Amerika Serikat. Saat itu adalah semester pertama saya mengikuti kuliyah di universitas yang cukup ternama, yang berlokasi di kota kecil Ann Arbor, negara bagian Michigan, 45 mil sebelah barat kota industri Detroit.
Saya sedang menikmati kesendirian, sebab memang di bulan-bulan awal sekolah di sana, saya banyak menyendiri dan kesepian. Maklum, saat itu, isteri yang sangat saya cintai, terpaksa dikembalikan dulu ke rumah orang tuanya, di Tasikmalaya, bersama keempat anak kami yang masih kecil-kecil. Tidak mungkin sekolah ke negeri orang membawa mereka semua, atau sebagian.
Menerawang ke luar jendela, saya melihat suasana redup dan sayu. Matahari sudah sekian lama jarang menampakkan dirinya. Kalaupun ia muncul, panasnya tidak begitu terasa sebab posisinya sedang menjauh menuju ke arah selatan. Sehingga suhu udara selalu dingin. Apalagi kalau angin bertiup, rasa dingin merasuk ke sekujur tubuh, menjadikan orang-orang yang bepergian ke luar rumah harus selalu berpakaian tebal, walaupun musim dingin belum datang dan salju belum turun.
Di sekitar, terlihat pepohonan hanya tinggal ranting-ranting yang nampak artistik, sedap dipandang mata. Hampir semua pepohonan daunnya gugur akibat musim panas yang panjang selama tiga bulan. Dahan dan rantingnya yang tanpa daun nampak indah dan mengagumkan. Semakin ke ujung, dahan dan ranting itu semakin kecil, dengan pola yang macam-macam sesuai jenis tumbuhannya, namun tetap indah. “Subhanalloh”, saya berguman. Pemandangan indah yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Pemandangan seperti itu takkan pernah kita lihat di tanah air, sebab pergantian musimnya lain.
Di jalan dalam kampus, nampak para mahasiswa -dan juga dosen- berpakaian tebal hilir mudik berjalan bergegas. Pada umumnya mereka sedang menuju kelas masing-masing setelah selesai mengikuti suatu kuliyah, kemudian berpindah gedung, mengejar pelajaran lainnya.
Tiba-tiba, tidak sengaja, pandangan saya tertuju ke suatu pojokan jalan yang sedikit jauh dari tempat saya menerawang. Di salah satu kios deretan pertokoan kampus, tampak ada beberapa orang antri. Pada umumnya mahasiswa. Mereka, dengan berbaju tebal dan menggendong tas buku, sabar antri di sepanjang trotoar depan kios itu. Jumlah antrian kadang lima, enam, bahkan sampai sekitar sepuluh orang. Mereka datang silih berganti. “Sedang antri apa mereka di udara sedingin ini?”, pikir saya.
Setelah memperhatikan sedikit lama, dan harus mengerutkan kening sebab jaraknya agak jauh, saya baru tahu. Masyaalloh, kiranya mereka sedang antri es krim. Setelah mendapatkannya, mereka langsung pergi sambil menikmati hasil antriannya.
Tidak habis pikir ketika itu. Di udara yang sangat dingin, mengapa mereka rela antri cukup lama untuk mendapatkan secangkir kertas es krim, lalu langsung menyantapnya. Bukankah es krim itu makanan yang juga dingin? atau mungkin es krimnya tidak dingin?, atau barangkali es krim itu hangat? atau es krim itu mengandung obat? Mengapa mereka tidak tambah kedinginan? malah nampak ketagihan?
**
Hari-hari berikutnya saya selalu memperhatikan antrian peminat es krim itu, terutama pada jam-jam istirahat kelas. Sementara, pertanyaan-pertanyaan yang ada pada benak saya masih belum menemui jawabannya. Saya belum sempat bertanya kepada siapun. Sampai akhirnya datang kesempatan, saya bertanya kepada seorang kenalan baru, ketika itu, seorang ibu setengah baya, yang pernah berkunjung dua tiga kali ke Indonesia.
Jawabannya sangat singkat, tapi juga penuh makna. “It’s a culture, Wahyu”, kata Si Ibu itu. Ia menambahkan sambil senyum bahwa di Jakartapun, udaranya panas, namun banyak orang suka makan dan ketagihan baso.
Iya juga, pikir saya. Apalagi baso yang enak itu adalah baso yang kuahnya pedas, dimakan masih dalam keadaan panas. Makan baso juga tidak dibatasi waktu. Bagi pecintanya, makan baso di waktu pagi, siang, malam, sama saja. Walaupun cuaca panas, ruangan penjual baso juga sumpek dan panas, tapi tetap banyak orang yang setia dan menikmati baso favoritnya itu, walaupun setelahnya, sekujur badan basah kuyup oleh keringat. Mereka tetap merasa nikmat dan puas. Dan lalu, lain hari datang lagi.
***
Dalam suasana pembudayaan Teknologi Informasi di lingkungan Peradilan Agama yang belakangan ini sedang kita lakukan, saya jadi ingat kembali kata-kata jawaban si Ibu kenalan saya di Amerika itu, “It’s a culture, Wahyu”. Lalu, apa sih sebenarnya yang dikatakan sebagai “a culture”, yang biasa kita terjemahkan sebagai “budaya” itu.
Paul Procter dalam kamusnya, “Longman Dictionary of Contemporary English”, menulis bahwa salah satu arti “culture” adalah “customs of a society”, kebiasaan suatu masyarakat. Memang benar juga. Makan es krim walau di musim dingin bagi orang Amerika, atau makan baso panas dan pedas walau di terik matahari bagi anak-anak muda Indonesia, itu kan kebiasaan masyarakat, yang sudah sejak entah kapan dilakukannya. Pantaslah kalau si Ibu itu menyebutnya “a culture”.
Tapi pasti, kebiasaan masyarakat itu tidak timbul dengan sendirinya. Memerlukan proses. Sesuatu akan menjadi kebiasaan, apabila apa yang dilakukannya dirasa enak, nikmat, mudah, murah, aman, nyaman dan seterusnya. Pendek kata menyenangkan dan masyarakatnya menerima, tidak melarangnya.
Bisa saja terjadi, jika diukur oleh suatu nilai atau norma, pekerjaan itu tidak atau kurang baik, tapi karena masyarakat menerimanya, akhirnya menjadi kebiasaan juga. Banyak contoh tentang ini.
Memang, yang bagus itu adalah hal yang baik, lalu dilakukan bersama-sama secara masif, spontanitas atau dengan perencanaan, yang menimbulkan manfaat besar bagi dirinya dan masyarakatnya, akhirnya menjadi suatu kebutuhan, bahkan ketagihan.
Itulah yang ingin kita perjuangkan bersama dalam pembudayaan pemanfaatan Teknologi Informasi. Manfaat dari penggunaan Teknologi Informasi sudah jelas, tidak ada yang membantahnya. Yang perlu kita perjuangkan adalah bagaimana agar pemanfaatan Teknologi Informasi itu dirasa mudah, murah, aman, nyaman, enak, nikmat dan membuat manfaat besar bagi dirinya dan masyarakatnya. Pendek kata, yang kita perjuangkan adalah bagaimana agar pemanfaatan Teknologi Informasi itu menjadi suatu budaya.
Sebagai orang peradilan, kita rasanya perlu memperhatikan serius terhadap apa yang ditulis Dr. Dory Reiling, Hakim Pengadilan di Amsterdam yang ahli Teknologi Informasi itu, yang saya seringkali menyampaikannya dimana-mana. Kadang-kadang saya merasa malu, karena yang saya omongkan dalam banyak kesempatan, itu melulu. Tapi tidak apa-apa. Saya coba buang jauh-jauh rasa malu itu, sebab apa yang ditulis oleh Dr Dory pada disertasinya, “Technology for Justice”, 100% saya setuju. Dan kawan-kawanpun sepertinya tidak ada yang membantahnya. Disertasi yang telah dibukukan itu sangat memotivasi insan peradilan untuk membudayakan pemanfaatan Teknologi Informasi di lingkungan peradilan.
Mari kita perhatikan apa yang ia tulis: “Over the centuries and all over the world, three major complaints have been heard that can still be heard today: (1) Court processes take too long, (2) Courts are difficult to access, (3) Judges (courts) are corrupt. … each of them can be resolved with information technology”. (hal. 17). Katanya lagi, “Information Technology is the most striking factor in changing the world in our era.”(hal. 16)
Jadi kalau kita, orang-orang peradilan, terhadap pemanfaatan TI, sudah seperti orang Amerika dalam hal menyukai es krim, atau sudah seperti anak-anak muda kita dalam menikmati baso, atau sudah seperti apa kata si Ibu Amerika yang menyebutnya “it’s a culture”, ditambah dengan integritas tinggi, saya yakin keluhan masyarakat dunia terhadap peradilan, sebagaimana dikatakan Dr Dory, akan sirna dengan sendirinya.
Jika hal itu terjadi, maka masyarakat akan merasa mudah, murah, aman, nyaman, enak dan nikmat jika berhubungan dengan peradilan. Dan ini berarti, visi Mahkamah Agung sudah berada dekat di depan mata kita.
Tapi, kapan itu? Jawabannya ada pada diri kita, dan tergantung pada kita masing-masing, sebagai insan peradilan. (WW).
| Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 3451 | 94 | | Sen. 21 | 2 | 0 | | Jum. 18 | 3 | 0 | | Kam. 17 | 1 | 0 | | Sel. 15 | 3 | 0 | | Sen. 14 | 1 | 0 | | Sab. 12 | 2 | 0 |
|
Comments
sebab ada pepatah mengatakan "la biasa lam yabres" (tidak biasa, maka tidak akan beres). Kapan kita mulai kebiasaan itu? mulai hari ini, mulai dari yang kecil disekeliling kita, termasuk di cornel pak Dirjen ini. Bravo pak Dirden, Brapo TI. wassalam
Cukup dalam kajiannya..
Memang kadang orang terlalu takut terhadap sebuah perubahan dimana perubahan itu bisa jadi membawa sebuah kemajuan besar, bahkan belum apa-apa sudah takut terhadap bayangannya sendiri tentang sebuah perubahan tersebut..dan inilah yang terkadang menutup jalan untuk sebuah kemajuan..
Sukses Terus Untuk Badilag.....
membudayakan tekonologi agaknya tidak bisa dihindari dalam untuk mendukung pelayanan keadilan pada pencari keadilan. tetapi betapapun pentingnya ia adalah alat yang membantu manusia, sehingga yang terpenting adalah "man behind the gun" maka di sinilah membudayakan sikap yang selalu komitmen kepada kebenaran, keadilan dan kejujuran menjadi sisi lain dari mata uang yang sisi lainnya adalah membuidayakan tekonlogi.
So... we always renewing our commitment to give justice for all as a worship
tapi pada kenyataannya, SDM yang ada masih sangat sedikit dan kurang merata penyebaraannya, kalaupun ada, keberadaannya jadi tidak jelas karena admin IT, dimana saja di taruh bisa dimanfaatkan, sehingga tidak bisa fokus, memberikan hasil yang maksimal... mohon adanya evaluasi lagi masalah kinerja :)
Salut kepada Badilag yang tidak bosan2 mendorong kita yang di bawah untuk maju. Terima kasih
tresno jalaran soko kulino.....
tresno akan muncul setelah ada kulino, kulino glibet, termasuk kulino mbulet......
kebiasaan yang menimbulkan kenyamanan, kemudahan dan keuntungan itulah yang akan dicari dan digemari..... semoga kita semua akan segera terbiasa dan menikmatinya..... semangat warga BADILAG... thanks pak DIRJEN.... semoga sehat selalu....
Bravo TI ........
Syukron wal'afwu minnaa, Selamat kami haturkan untuk pak Dirjen bapak Drs. H. Wahyu Widiana, SH. MH.
Menuju apapun pasti bertahap..
Kebiasaan yang baik insya allah akan di dapatkan..
Semoga Ti menjadi makanan sekaligus minuman yang melepas lapar dan dahaga ut warga peradilan baik untuk segala musim, bahkan juga untuk musim extriem..
Jadi g kalah dg bakso dan es krim:-)
IT Ok, its the best, tapi solusinya Pak, SDM yang kurang memadai pada PA membuat IT jalan di tempat. Pelatihan berkesinambungan salah satu solusinya, semoga..............
There is no area of everyday life wich IT has not yet touched......
IT For The FUTURE......
Bravo ....Maju Terus IT Peradilan Agama
walau lewat email... : lilik muliana Pa probolinggo
sejarah akan mencatat usaha besar pak Dirjen dalam memodernisasi peradilan agama. IT hanya salah satu dr sekian banyak usaha bapak dlm memajukan peradilan yg kita cintai ini.
semoga menjadi amal sholeh yg pahalanya terus mengalir. barakallahu laka wahai Bapak Pembaharu Peradilan Agama.
Bisa klo secara umum, karena semua tergantung aparat peradilan itu sendiri. tapi klo dihubungkan ke IT????
OSnya aja harganya lebih dari 1 juta rupiah, 1 komputer satu lisensi. Blm aplikasi office, antivirus dan lain2. Ditambah dengan kebutuhan sistem yang semakin hari semakin meningkat. Kaya'nya besar pasak dari tiang.
Apa mungkin Mahkamah Agung mau mengeluarkan dananya?