Rabu, 19 Juni 2013 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!






Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Pemberkasan Perkara Kasasi/PK wilayah PTA Padang | (18/6)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Hisab Rukyat wilayah PTA Semarang | (18/6)
PENGUMUMAN : Penunjukan Peserta Semiloka Pengintegrasian UU PKDRT & UU Perlindungan Anak | (27/5) 
PENGUMUMAN : Surat Permintaan Berkas Kelengkapan Usul Pengangkatan Hakim dan Biaya Pindah | (24/5)
SURAT EDARAN : Pendaftaran Calon Peserta Program Beasiswa S3 Sudan Tahun 2013 | (20/5) 
SURAT EDARAN : Permintaan Persyaratan Biaya Mutasi Pindah Pejabat Kepaniteraan & Kejurusitaan PA | (10/5) 
PENGUMUMANInput data Output Program 04 Ditjen Badilag T.A. 2012 Pada Aplikasi Monev Anggaran Kementrian Keuangan RI | (25/4)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Perkara Kasasi dan PK | (22/4)




Tambahkan ke Google Reader
Pamer Miskin Peradilan Agama | (22/11) PDF Cetak E-mail
Selasa, 22 November 2011 14:59

 

Pamer Miskin Peradilan Agama

*

Mengenaskan. Itulah ungkapan yang paling tepat bagi kondisi fisik peradilan agama sejak dulu sampai beberapa tahun menjelang pelaksanaan satu atap di bawah Mahkamah Agung. Kata-kata lainnya yang sejenis dengan itu, seperti memprihatinkan, menyedihkan dan memilukan, cocok juga untuk dialamatkan kepada peradilan agama ketika itu.

Betapa tidak. Peradilan agama yang nota bene peradilan bagi sekitar 90% warga di negeri ini,  keadaan gedung, sarana dan prasarananya jauh di bawah standar dari sebuah peradilan yang (mestinya) modern, mandiri dan berwibawa.

Padahal peradilan agama di Indonesia sudah ada sejak Islam masuk ke Indonesia, besar dan berkembang di zaman kesultanan-kesultanan, dan diakui sebagai pengadilan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak 1882.

Ironis memang. Peradilan yang sudah berabad-abad  memberi manfaat kepada bangsa, dan sudah lebih dari satu abad diakui secara resmi sebagai lembaga pelaku kekuasaan kehakiman, tapi keadaan fisiknya sangat mengenaskan. Pantaslah kalau para peneliti asing mengatakan bahwa peradilan agama “..for long time neglected by the state…”.

**

Dari sisi lokasi saja, gedung pengadilan agama  hampir selalu terletak di pojokan kota, di tempat yang jauh dari pusat kota, di pinggiran kota atau di jalan-jalan “tikus” yang becek dan sempit. Sebagian, banyak yang berada pada gang atau lorong, mobil kecil saja sulit bahkan tidak bisa masuk. Sebagian lagi dibangun di lokasi “mewah”, alias mepet sawah. Pendek kata, menyedihkan.

Pak Bagir Manan, ketika menjadi Ketua Mahkamah Agung, sering berceritera di mana-mana, bahwa dalam melakukan roadshow ke pengadilan-pengadilan di daerah, akan sangat mudah membedakan mana pengadilan negeri dan mana pengadilan agama, sambil tidur di mobil sekalipun.

Kalau jalannya lurus, di pusat kota, mesti akan menuju ke pengadilan negeri, tapi kalau berkelok-kelok, masuk jalan-jalan kecil, lokasinya di pojokan atau pinggiran kota, mesti akan ke pengadilan agama. Itu kata Pak Bagir Manan berseloroh. Namun, memang benar demikian adanya.

Memang ada juga pengadilan agama yang  di pusat kota, yaitu di serambi atau di lingkungan mesjid agung. Namun hanya numpang pada mesjid, sehingga bangunannyapun seadanya atau se”dikasih”nya. Manakala bangunan atau tanah itu akan digunakan mesjid, terpaksa pengadilan agama mengungsi ke tempat lain.

Ada yang pindah ke rumah ketuanya, atau nyewa rumah sewaan sederhana. Kembali lagi ke lokasi di pinggiran atau di jalan tikus.  Tidak apa-apa. Yang penting, “the show must go on”, peradilan harus terus jalan, selama langit belum runtuh.  Begitulah kira-kira tekad para pejuang peradilan agama tempo dulu.

Mengenai gedungnya, selain disediakan atau dipinjamkan oleh pengurus mesjid dan kadang-kadang di rumah ketua, ada juga yang sudah menempati gedung negara. Tapi ukuran dan keadaannya sangat sederhana.

Sebagai akibat dari ditetapkannya UU 1/1974 tentang Perkawinan yang disusul oleh PP 9/1975 sebagai peraturan pelaksanaannya, maka pemerintah secara besar-besaran membangun gedung pengadilan agama secara nasional. Ukurannyapun hanya 150 m2, sehingga namanyapun bukan gedung pengadilan, namun Balai Sidang.  Alhamdulillah.

Lalu, karena perkembangan yang cepat dan kebutuhan yang meningkat, maka luas gedung itu sudah dirasa sangat sempit. Kemudian negara  menambah luas Balai Sidang  100 m2 lagi. Sampai tahun 2000an, pada umumnya gedung pengadilan agama  hanya seluas 250 m2.

Soal sarana prasarana, jangan anda membandingkannya dengan keadaan seperti sekarang. Saat itu, sudah ada 1 atau 2 mesin tik saja sudah untung. Mobil?  Wah, itu masih merupakan barang yang sangat mewah untuk pengadilan agama.

Tapi Alhamdulillah, sejak 1984 sudah ada satu dua pengadilan agama, terutama yang berlokasi di ibu kota provinsi, yang sudah beruntung mendapatkan mobil operasional L300 atau Daihatsu Taft. Sebagian besar lainnya masih belum ada, sehingga para ketua harus  rela naik kendaraan umum atau pakai sepeda motor.

***

Oleh karena itu, sejak saya dilantik sebagai Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Departemen Agama, tahun 2000, saya bertekad untuk meningkatkan kualitas gedung, sarana prasarana dan fasilitas lainnya.  Tekad itu sesuai dengan tupoksi Direktorat yaitu melakukan pembinaan di bidang organisasi, administrasi dan finansial.

Saya beruntung mempunyai kawan-kawan di Direktorat, yang kuat, kreatif dan penuh dedikasi, seperti Pak Hariri, Pak Zufran, Pak Hidayat, Pak Farid, Pak Basiq, Pak Damanhuri, Pak Azhari dan lainnya. Saya selalu memfungsikan dan melibatkan mereka dalam melakukan tugas sehari-hari.

Selalu, saya kemukakan kepada mereka gagasan-gagasan dalam rangka meningkatkan anggaran dan fasilitas peradilan agama. Merekapun menangkapnya dan bahkan justru dari merekalah banyak muncul gagasan-gagasan baru yang segar dan inovatif.

Setelah beberapa hari melakukan diskusi dan kajian-kajian sederhana, disimpulkanlah perlunya ada gerakan “Kampanye dan Pamer Kemiskinan” untuk mendapatkan simpati  berbagai pihak, yang ujung-ujungnya agar anggaran peradilan agama dapat meningkat.

Kemiskinan, keprihatinan, kepiluan dan kengenasan peradilan agama harus dipamerkan kepada DPR, Bappenas dan instansi terkait lainnya yang punya otoritas di bidang anggaran dan pembangunan. Biar semua orang tahu, pengadilan agama demikian mengenaskan dan “diterlantarkan” selama ini.

Dikomunikasikanlah dengan fraksi-fraksi DPR dan instansi terkait di atas, untuk membuat jadwal audiensi atau “courtesy call”. Kamipun menyiapkan bahan-bahan atau data yang diperlukan untuk disampaikan kepada mereka.

****

Alhamdulillah, berkat kepiawaian Pak Hariri, Pak Zufran dan kawan-kawan dalam melakukan lobi, dan juga sedikit memanfaatkan pengalaman saya sebagai Sekretaris Menteri 4 tahun berturut-turut sebelumnya,  sehingga banyak kenalan dengan orang-orang DPR, kampanye dan pamer kemiskinan itu berlangsung  lancar.

Tanpa launching atau upacara pembukaan, kampanye dan pamer kemiskinan mengalir menggembirakan. Kampanye kemiskinan kepada para tokoh yang terhormat itu kadang dilaksanakan di kantor fraksi di gedung DPR Senayan, atau di restoran suatu hotel secara sederhana.

Karena anggaran untuk kampanye dan pamer ini juga tidak ada –atau hanya seadanya-, maka kami sangat selektif menentukan siapa objek kampanye, berapa orang dan di mana kami melaksanakannya. Hal-hal yang sekiranya menimbulkan biaya besar, kami hindari.

Padahal saat itu, rumor di masyarakat sedang sangat kuat-kuatnya bahwa  lobi tanpa upeti tak bakalan menghasilkan apa-apa. Bahkan ada ungkapan, kalau mau ikan besar umpan pancingannyapun harus besar pula.   Kami betul-betul “bonek”. Yang kami bawa hanyalah tekad, data, fakta dan proposal peningkatan anggaran. Pendekatan kami adalah pendekatan rasional, factual dan tekad yang kuat.

Alhamdulillah, para anggota dewan yang terhormat itu memahaminya dan mau memperjuangkan kenaikan anggaran peradilan agama.

*****

Dalam kegiatan pamer kemiskinan, kami dekati kawan-kawan di Bappenas agar mau berkunjung ke PA-PA, baik di Jakarta, maupun di luar Jakarta. Ada beberapa PA yang sempat dipamerkan kepada para pejabat di Bappenas, seperti di wilayah Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Dalam kunjungan ke PA Jakarta, kami pamerkan PA Jakarta Pusat yang berlokasi di jalan kecil  belakang gedung Kandepag Jakarta Pusat, wilayah Tanah Abang. Kandepagnya itu sendiri berdiri megah di pinggir jalan raya.   Kantor PA yang  berdampingan dengan kantor BP4 ini berdiri di atas tanah yang luasnya hanya kurang dari 500 m2. Gedungnya terdiri dari 2 lantai dan sangat sederhana.

Ketika para pejabat dari Bappenas meninjau, kawan-kawan di PA Jakarta Pusat tidak diberitahu sebelumnya. Jadi apa adanya. Setelah melihat-lihat lantai pertama, tempat pendaftaran, ruang tunggu dan ruang sidang, para pejabat Bappenas itu ingin diantar naik ke lantai atas, tempat para hakim dan kesekretariatan.

Betapa para pejabat Bappenas itu kaget dan sedikit kikuk setibanya di lantai atas. Apa yang terjadi?  Ternyata, di sana banyak para hakim yang hanya berkaos oblong sambil mengipas-ngipaskan buku atau apa saja ke badannya karena kepanasan. Jangankan AC, kipas anginpun tidak jalan dengan baik, sehingga di kamar itu terasa sangat panas.  Dengan spontan dan serempak para hakim itu segera memakai baju safarinya, sambil senyum-senyum malu.

Bagi saya, ini pamer kemiskinan yang berhasil, sebab para pejabat yang mempunyai otoritas merencanakan pembangunan di negeri ini berhasil diyakinkan bahwa PA yang berada di ibukota negara saja, yang mewilayahi istana, monas dan pusat pemerintahan republik ini, keadaannya sangat memprihatinkan. Apalagi PA yang nun jauh berada di pojok-pojok negara atau jauh dari ibu kota.

******

Saya, Pak Hariri dan kawan-kawan lainnya di Direktorat merasa puas atas keberhasilan program “Kampanye dan Pamer Kemiskinan” itu.  Dan memang, dari tahun-ke tahun anggaran peradilan agama, setelah itu, merayap naik. Namun sayapun tidak tahu persis, seberapa besar pengaruh kampanye dan pamer miskin ini terhadap naiknya anggaran. Yang jelas kami puas dan anggaran naik, sehingga di peradilan agama ada sedikit “kehidupan”.

Kini, setelah peradilan agama berada di bawah Mahkamah Agung, soal anggaran sudah tidak begitu masalah dan sudah jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya, walaupun masih di bawah yang kita harapkan. Kita patut bersyukur.

Karena itu, saya sering ngomong kepada kawan-kawan di peradilan agama, kini, jangan lagi kita pamer miskin atau membesar-besarkan kekurangan anggaran dan fasilitas. Yang diperlukan sekarang adalah pamer prestasi dan keberhasilan dalam memberikan pelayanan.

Sudah barang tentu, cara pamernya pun beda dengan cara pamer miskin waktu dulu. Kini pamernya adalah pamer pasif. Kita cukup bekerja keras, berdedikasi tinggi dan melakukan perubahan-perubahan menuju keadaan yang lebih baik, tanpa harus gembar-gembor menonjolkan diri bahwa kita telah berprestasi dan berdedikasi.

Biarlah masyarakat yang akan menilainya. Melalui pemanfaatan teknologi informasi yang kita lakukan dengan benar dan konsisten, atau melalui mulut ke mulut, masyarakat akan dengan sendirinya mengetahui apa yang telah kita lakukan.

Tawadhu, qana’ah, ikhlas dan selalu berupaya menggembirakan orang adalah sifat-sifat ulama, yang dulu selalu nempel sebagai ciri hakim dan pegawai peradilan agama. Saya yakin, sifat-sifat mulia itu akan terus jadi pegangan insan peradilan agama, di manapun ia berada. Insya Alloh. (WW).

 

TanggalViewsComments
Total224776
Rab. 1910
Sel. 1810
Ming. 1620
Sab. 1510
Kam. 1310
Rab. 1240
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Masrinedi-PA.Painan 2011-11-22 16:54
Ahsanu Amala, seperti yang tercantum dalam al-Qur'an, surat Al-Mulk ayat 2 : "Dialah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan hendak menguji kamu siapa yang terbaik amalnya, dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" Kemudian surat at-Taubah ayat 105 : "Dan katakanlah, Bekerjalah kamu maka nanti Allah, Rasul-Nya dan orang orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu dan nanti kamu dikembalikan kepada Tuhan yang Maha Mengethaui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia jelaskan kepadamu terhadap apa-apa saja yang telah kamu kerjakan". Semoga ke-2 ayat di atas dapat kita jadikan dasar kita dalam bekerja. AMin !
Reply
 
 
# Imran - PTA Jpr 2011-11-22 17:29
Harus optimis dengan apa yang dimiliki, Ilmu dan pengalaman yang dibarengi dengan dedikasi tinggi adalah modal yang kuat menciptakan Peradilan Agama yang mandiri dan berwibawah. sukses untuk kita semua..Amin
Reply
 
 
# riswan pa maninjau 2011-11-22 20:51
Sebagai rasa sukur kita atas kondisi Peradilan Agama yang sudah semakin membaik jika dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu, apa yang dianjurkan pak Dirjen dengan pamer prestasi sebaiknya kita apresiasi, dengan kerja keras untuk merobah wajah peradilan menjadi peradilan yang modrn dlm mewujudkan tegaknya keadilan di bumi nusantara ini, aminnnnn
Reply
 
 
# Mulawarman, Tarakan 2011-11-23 05:40
Inilah manfaatnya cerita-cerita ringat dipublikasikan oleh Bpk Dirjen, tanpa melalui media ini tentu sejarah perjalanan PA sulit kita dapatkan seperti dikemukakan diatas, bagi pegawai lama (tahun 80 an dan tahun 90an) keadaan itu dialami, tetapi bagi pegawai-pegawai dan pejabat generasi tahun 2000 an tidak mengetahui persis keadaan itu, apalagi pegawai yang diangkat saat sudah satu atap tentu mereka tidak merasakan kemiskinan dimaksud, syukran pak Dirjen, semoga cerita-cerita yang lain-lain masih tetap tayang.wsslam
Reply
 
 
# iing sihabudin 2011-11-23 06:03
kalau dulu kita diuji dengan kemiskinannya, sekarang kita diuji dengan kenaikan anggarannya. apakah kita mampu mensyukuri nikmat-Nya, atau malah semakin haus akan duniawi sehingga lupa hakikat kehidupan. mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat (diantaranya melalui peningkatan kinerja), sehingga anggaran terus ditambah, amien.
Terima kasih pak Dirjen dan jajarannya, Sukses selalu !
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jypura 2011-11-23 06:59
Perjuangan Bapak Dirjen bersama Bapak Hariri dan yang lainnya dalam memamerkan kemiskinan PA tsb, sehingga Peradilan Agama mencapai kondisi seperti sekarang ini, bahkan hingga kini Bapak Dirjen selalu tampil dan maju terus memperjuangkan Peradilan Agama menjadi lebih baik lagi menuju Peradilan Yang Agung. Hasl itu merupakan JIHAD AL-AKBAR / THE GREAT STRUGGLE. Semoga Allah SWT membalasnya dengan ganjaran yang tiada tara. Amin ya Rabbal 'Alamin ...!!!
Reply
 
 
# Nanang MR @ Tj Redeb 2011-11-23 07:07
Subhanallah, sebuah uswah yg baik dr bigbos kita, sekarang saatnya pamer prestasi, ayo para KPA mari pamerkan prestasi kepada para Kepala Daerah sebelum kita mendapatkan fasilitas dari daerah (maap ya Bapak2 :lol: )
Reply
 
 
# H.Makka A 2011-11-23 07:16
Muda-mudahan kerja keras pak Dirjen dalam meningkatkan kondisi Peradilan Agama, yang tadinya berada di lorong-lorong/jalan Tikus dan bangunan apa adanya, menjadi kondisi seperti yang dirasakan sekarang ini, mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah dan muda-mudahan kami dapat mensukuri dengan jalan meningkatkan kinerja dan penuh dedikasi dalam melayani masyarakat pencari keadilan.
Reply
 
 
# Iskhaq - KPA Jayapura 2011-11-23 07:38
Bukan main, salut, hormat dan sebangsanya itu mungkin sebahagian kecil kata yang layak kita persembahkan keapada Pak Dirjen kita ibaratnya dari menahkodai perahu dayung yang harus sampai tujuan dengan melawan ombak dan badai ditengah lautan,tentu berat susah dan pedih dst yang kita rasakan namun alhamdulillah era itu telah kita lalui dengan selamat dan kini perahu dayung itu telah berganti dengan kapal mewah yang bisa dengan leluasa berlayar ke tujuan yang diinginkan yaitu prestasi untuk mewujudkan Peradilan Agama Yang Agung.
Reply
 
 
# subhanfauzi.pa kuningan 2011-11-23 07:40
alhamdulillah..... wa qulikmaluu fasayarolllohu amalakum wa rasuluhu walmukminun.
Reply
 
 
# mame sadafal.pa.sidoarjo 2011-11-23 07:41
kami sangat mengapresiasi perjuangan Bapak Dirjen untuk peningkatan kualitas sarana prasarana pengadilan agama, poin pentingnya adalah bagaimana di masa depan kemandirian anggaran peradilan agama (yudikatif) dapat diwujudkan sebagaimana badan yudikatif di negara-negara tetangga.
Reply
 
 
# M.Yusuf.wk PA Kendari 2011-11-23 07:50
"No sweet without sweat" saya setuju pak Dirjen,membudayakan bekerja keras,berdedikasi tinggi,melakukan perubahan-perubahan menuju yang lebih baik seharusnya menjadi kegemaran seperti gemarnya makan bakso,minum es krim dst.
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-23 07:52
Sebelas tahun menjabat,banyak asam garam didapat,itulah yg tepat, hasilnya PA maju pesat, baik fisik maupun kwalitas pejabat. Dan kedepan PA dibutuhkan Pejuang spt beliau yg tdk hanya Jenius intelektualnya, tapi punya skill segala bidang,visioner,kuat fisiknya ihklas berjuang. Pejuang hebat yg punya banyak sahabat,terutama lobi-lobi keberbagai pejabat, yg penting PA mendunia akhirat. Dari Pemimpi yg terkarat
Reply
 
 
# Arief 2011-11-23 08:10
Saat baca artikel ini saya teringat lagi akan memori pada saat bertugas di sebuah PA yang gedungnya menyewa rumah penduduk yang bersebelahan si empu rumah ... pada saat jam makan siang tercium aroma ikan kering bakar dan bumbu lainnya.....Tapi Alhamdulillah saat ini sudah terbangun gedung kantor yang megah dan berwibawa selayaknya lembaga peradilan... Salut atas perjuangan Bpk Dirjen dkk.....
Reply
 
 
# Alimuddin,M.Mataram 2011-11-23 08:13
Kata penutup di atas itulah yang wajib kita pertahankan selamanya sebagai Hakim PA jika kita benar2 mau menjadikannya sebagai instansi yang BERKAH. Tawadhu', qana'ah, ikhlas dan sejenisnya merupakan ciri HAKIM yang ULAMA, bukan HAKIM yang SEKULER.
Reply
 
 
# Anhar PA Painan 2011-11-23 08:15
Bertitik 5tolak dari sejarah,bahwa aparat Pengadilan Agama seluruhnya berangkat dari kemiskinan dan keprihatinan, itu harus kita sadari sepenuhnya untuk mengingat agar kita aparat Pengadilan Agama jangan lupa diri yang berbasis agama dan menjadi " Ulama ", semoga tidak hilang dilubuk hati dan didada seluruh aparat Pengadlan Agama dari mana asal pendidikkannya . Amiiin !
Reply
 
 
# PA Ngr 2011-11-23 08:17
Benar sekali pak...sy jd ingat masa lalu masa sulit beratap depag d mn dulu kantor km d PA Negara sarana prasarana bikin orang gak betah krn berada jauuuuh d kecamatan (bukan berada di ibukota kabupaten) n kntrnya kecil hanya meminjam sj dr bekas balai sidang PN setiap hr kepanasan minus kipas angin kalau musim nyamuk yg 3 bln lamanya maka badan pun bersimbah darah krn nyamuk datang spt "wanyi" tiap hr nepukin nyamuk aje gak konsen kerja, belum lg yg namanya banjir weleh weleh..d tahun 2002 akhirnya kami bs pndh k tmp yg lebih baik walaupun tmpnya msh kecil n jauuuuuh dr rmh penduduk alias d luar kota praktis tdk ada org yg jual makanan ..msh merana tp yg penting bebas nyamuk bebas darah hehe.. utk skrg alhamdulillah ya kt beratap MA sarana prasarana disini jd jauh lebih komplit gak kalah dg PA yg berada di ibukota kabupaten smg jg pelayanan km jd lebih baik.. Btw coba dong Bpk sekali-kali berkunjung ke PA Negara Kal-Sel (satu2nya PA yg berada di kecamatan)
Reply
 
 
# Mhd. Amin/Kabanjahe Sumut 2011-11-23 08:24
Sungguh, flashback yang sangat berguna bagi pembelajaran bagi seluruh warga peradilan agama, dengan cara : 1. pelihara sikap akhlakulkarimah (moral/integritas), 2.selalu tingkatkan profesionalitas, 3.terapkan sifat Qana'ah untuk hindari perilaku bermewah-mewah yang dpt mendorong mencari materi secara tidak benar. Terima kasih pak Dirjen yg selalu memberi pengajaran dengan hikmah. (m.amin/pa.kbj)
Reply
 
 
# baihna, PA Rengat 2011-11-23 08:40
asskum, alhamdulillah kami bangga dengan kemajuan yang telah di capai, namun kami di Pa Rengat masih mengalami hal yang dulu, gedung lama dan berada di jalan berkelok-kelok, padahal ini termasuk PA tertua di daerah Pekan baru....semoga mendapat perhatian....
Reply
 
 
# Wiryawan Arif-Limboto 2011-11-23 08:40
pengalaman yang mengharukan, dan berharap PA ke depan akan tetap lebih maju seiring dengan kerja keras Bapak-Bapak sang pejuang, semoga perjuangan tersebut selalu menjadi cambuk bagi warga PA kedepan. trims sang motivator Pak DIRJEND BADILAG.
Reply
 
 
# M. Syaefuddin PA.Sgu 2011-11-23 08:45
Alhamdulillah.... dan terimakasih kepada Pak Dirjen besreta kawan2nya yg telah memperjuangkan "kesejahteraan" PA, sehingga PA bisa berjaya sekarang. Semoga seluruh jasa2 para pejuang "eksistensi dan kesejahteraan" PA dibalas dg balasan yg lebih baik oleh Allah SWT.
Reply
 
 
# mahfudin 2011-11-23 08:45
Apa yang dikemukakan pak Dirjen, itulah realita yang terjadi sesungguhnya, Kami keluarga besar di PA Rengat mendukung sepenuhnya upaya yang dilakukan pak Dirjen untuk menjadikan PA yang berkualitas dan bermartabat, sehingga tidak lagi dicemoohkan oleh pihak lain yang tidak suka terhadap keberadaan PA termasuk keberadaan PA Rengat yang tempatnya masih berada ditempat yang tidak strategis padahal perkara yang masuk begitu banyak sudah seperti di Kelas 1...
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-23 08:52
Hakim di mata hukum dan Ulama' dimata masyarakat tetap menempel pada kepribadian Hakim PA, yg selalu Tawadhu,Qona'ah, ikhlas. Hanya kini...... itu saja tidak cukup, sosok lincah punya skill, profesesional dan visioner yg dibutuhkan untuk PA seperti sosok Pak Dirjen dan bapak-bapak yg turut berjuang memajukan PA itu. kapan kita??????
Reply
 
 
# Miko- PTA Padang 2011-11-23 08:57
Alhamdulillah, Peradilan Agama semakin baik dari segi finansial. Semoga pamer prestasi dan keberhasilan dalam memberikan pelayanan dapat diimpilikasikan dengan metode Bapak yg bernas.. Ayo Peradilan Agama.. Bersama kita bisa
Reply
 
 
# evi sofyah, PA Rengat 2011-11-23 09:07
Ass. Alhamduliah kami di Rengat sudah merasakan apa yang usahakan pak dirjen, namun kami masih merasakan apa yang dirjen sebutkan di atas tinggal di jalan tikus, tempat yang tidak layak, padahal perkara di PA Rengat hingga sekarang sudah mencapai 780 perkara hampir 800, sudah layak menjadi kelas Ib, mohon diperhatikan.
Reply
 
 
# yanto PTA Jogya 2011-11-23 09:10
berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sekarang saatnyalah kita warga peradilan agama mensyukuri nikmat dari hasil perjuangan beliau karena ridha Allah swt.Untuk itu sebagai wujud rasa syukur kita mari kita berlomba-lomba unjuk prestasi dan mensukseskan 7 program prioritas Badilag.
Reply
 
 
# abdhafid62@yahoo.com 2011-11-23 09:47
Alhamdulillah berkat perjuangan Bpk Direjn dan kawan2 beliau akhirnya berbuah apa yg beliau harapkan, mari kita menjaga agar PA semakin cerah dihari2 mendatang
Reply
 
 
# Abu Hazm Kalianda 2011-11-23 09:55
Subhanallah wal hamdulillah,membaca paparan pak Dirjen, freem dan hati sy sampai "cenat-cenut". campur aduk antara rasa sedih, kagum dan akhirnya gembira. setelah sekian panjang perjuangan dan pengorbanan bapak2 yg meletihkan membuahkan keberhasilan. saya, kami, dan kita semua warga Peradilan Agama wajib hukumnya mengisi keberhasilan itu dg profesionalitas kerja yg penuh dedikasi,mengedepankan moralitas dan berintegritas tinggi. Hayoooooo qt pasti bisa......
Reply
 
 
# Tie, PA. Probolinggo 2011-11-23 09:55
Luar Biasa.......
PAMER yang positif dan membawa manfaat bagi semua... khususnya bagi perkembangan Pengadilan Agama.... kini saatnya kita buktikan dengan prestasi, dedikasi dan loyalitas yang tinggi......
Reply
 
 
# helmy thohir pta banten 2011-11-23 11:47
Pak Dirjen,ada slogan yang perlu kita ingat kembali dalam menuju tercapainya pelayanan prima di Peradilan Agama " Kalau anda puas atas pelayanan kami, ceritakan pada yang lain, kalau anda tidak puas, sampaikan pada kami, agar kami bisa memperbaiki dan meningkatkannya "
Reply
 
 
# mathe08 2011-11-23 12:05
Tawadhu,qana'ah, ikhlas dan selalu berupaya menggembirakan orang lain itu kata kuncinya, selamat pak wahyu you are not the first for IT but the best for PA !.
Reply
 
 
# zein ahsan PTA Bandung 2011-11-23 13:22
kalau sarana prasarana sudah sangat memadai akan tetapi perhatian kepada sarana prasarana untuk Hakim yang melaksanakan tugas pokok kehakiman masih sangat memprihatinkan. apalagi kalau sudah mutasi sangat menyengsarakan. mudah2an kedepan akan lebih baik amiin.
Reply
 
 
# Mie PA Tuban 2011-11-23 13:24
Semangat...!
memang sudah bukan jamannya lagi PAMER kemisikinan...........mari kita tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berprestasi dan berdedikasi tinggi...........
BRAVO PERADILAN AGAMA..
Reply
 
 
# Syaifuddin Ketua PA Stabat 2011-11-23 13:27
Smg ide pamer kemiskinan itu bernilai ibah di sisi Allah amin. Terima Kasih Pak Dirjen atas ide-ide cemerlang selama ini. saya kira kedepan kita perlu pamer integritas, pamer rendah hati, pamer ikhlas, sehingga kita dapat menjadi contoh dan idola. Pamer di sini bermakna bahwa kita menunjukkan kepada para pencari keadilan ttg keikhlasan, rendah hati dan integritas kita.
Reply
 
 
# Dudung Bukittinggi 2011-11-23 13:42
From zero to hero, mari raih prestasi ...
Reply
 
 
# Masrinedi-PA .Painan 2011-11-23 13:53
Betul itu pak Dirjen, malahan banyak di antara masyarakat yang menyamakan PA itu dengan KUA, "dimana bapak kerja ? Di Pengadilan Agama Painan buk. Oh di KUA. Bukan Bu, di Pengadilan Agama bu" Itu sekilas bunyi dialog saya di era tahun 90-an ketika ngobrol di dalam bus umum dengan salah seorang penumpangnya. Alhamdulillah, kini tinggal lagi bagi kita sesuai dengan firman Allag WST dalam al-Qur'an surat al-Mulk ayat 2 : "Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan hendak menguji kamu siapa yang terbaik amalannya (AHSANU AMALA), Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". Semoga Ahsanu Amala dihiasi sifat Tawadhu, qana’ah, ikhlas dan selalu berupaya menggembirakan orang dapat kita terapkan sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas kondisi yang telah kita alami di saat ini. Amin !
Reply
 
 
# Iskhaq KPA Jayapura 2011-11-23 13:55
Salut bangga kagum dan hormat dan sederet kata itulah yang layak kita persembahkan kepada Bpk Dirjen,atas perjuangan yang begitu panjang dan melelahkan untuk menampilkan PA menjadi pengadilan yang dikenal dan disegani oleh masyarakat Dunia telah membuahkan hasil namun tetap tidak kehilangan ciri ulama'nya.
Reply
 
 
# tri W PTA Bengkulu 2011-11-23 13:59
sekilas cerita yang mengharukan pak.....!!kami sebagai generasi muda corp badilag tidak banyak tahu informasi tentang masa lalu lembaga tercinta ini,,kami memang harus terus dan terus belajar sebagai rasa syukur atas perjuangan generasi pendahulu kami dalam membesarkan lembaga ini. semoga dunia peradilan semakin berjaya
Reply
 
 
# liliasyari@yahoo.com 2011-11-23 14:59
Lilik Muliana PA Probolinggo
Alhamdulillah perjuangan para senior kt menghasilkan apa yg kt inginkan, bagian kt para yunior yg hrs mempertahankan perjuangan dg kerja lbh profisional, berdedikasi dan visioner ......
Reply
 
 
# #muslim di batam 2011-11-23 16:38
Jurus2 Pak Dirjen dkk cukup ampuh, namun jurus yang sama dari pimpinan PA Batam yang dilancarkan dari satu priode ke priode berikutnya masih belum terasa gregetnya. Karena meskipun dikui sudah naik kelas tetapi belum diikuti dg peningkatan sarana dan prasarana penunjang lainnya. Mudah2an salah satu yang dilirik pada priode berikutnya.
Reply
 
 
# Subai, PA Tsm 2011-11-23 19:39
Kesuksesan lebih bermakna bila berangkat dari kesusahpayahan..seiring perkembangan jaman, semua lini mesti berubah...lain dulu lain sekarang, namun semangat dulu harus d lanjutkan dan di tingkatkan...terus berkarya dan berbakti dengan penuh semangat...Amiennnnn
Reply
 
 
# Syamsulbahri PA Mks 2011-11-24 07:17
Yah kami yang terangkat 90 an tentu menglami hal di atas, seperti cerita Pak Dirjen, namun yang terangkan 2000 an atau setelah satu atap tentu tidak, justeru itulah perjuangan... selamat Pak Dirjen memajukan PA di Indinesia.... apalagi pada saat disusruh oleh KPK mengajukan daftar harta kekayaan, waduh semakin pamer kemiskinan... hehehehe
Reply
 
 
# Camuda Larantuka 2011-11-24 07:55
salut kpd bp dirjen, ada saja cara yg digunakan utk memajukan peradilan agama, ini pembelajaran kpd kita bahwa sehrsnya kita berfikir " apa yg sdh sy berikan kpd peradilan agama bukan apa yg peradilan agama berikan kpd sy ".....
Reply
 
 
# AFIF 2011-11-24 08:47
semangat bekerja untuk perubahan peradilan agama menuju peradilan yang adil dan berwibawa adalah saat yang tepat apabila hari ini kita mulai dari diri kita sendiri.
Semoga apa yang telah dilakukan oleh Bapak Dirjen dan Tim menjadikan contoh dan semangat buat kami.
Reply
 
 
# syafruddin, PA PKC 2011-11-24 08:52
hal yang patut disyukuri adalah fasilitas untuk menunjang tugas pokok dan fungsi yang tersedia saat ini jauh lebih refresentatif dibanding sebelum ini. Karena itu benar kata pak Dirjen,, manfaatkan fasilitas ini untuk menggapai prestasi sebanyak-banyaknya. Namun hal lain yang patut dipikirkan adalah mutasi hakim. ingin rasanya seperti kawan-kawan hakim di sumatera, yang bisa satu minggu atau satu bulan menjenguk keluarga, karena bisa ditempuh dengan perjalanan darat dan tidak memerlukan biaya banyak. Sementara yang berasal dari Jawa, tidak bisa melakukan hal seperti itu, karena biaya mahal dan jarak yang jauh. selamat untuk jajaran badilag.....
Reply
 
 
# Kamali Singarajapa. 2011-11-24 08:58
Saya menjadi ingat waktu menjadi tenaga Honor di Surabaya, karena banyak orang pada duduk-duduk ditepi jalan gang menunggu antrian sidang, ada orang yang bertanya : Siapa yang meninggal mas....?, saya jawab, ini orang mau sidang, ini kantor pengadilan agama, dia berucap ooooooooooooo... saya jawab iya pak. jadi karena kantor sempit dan memang Rumah biasa didalam kampung dijadikan sebagai kantor pantaslah orang kira itu rumah biasa ada kematian.
Syukron wal'fwu.
Reply
 
 
# Nurman- PTA SURABAYA 2011-11-24 10:41
SANGAT MENGINSPIRASI BAGI KAMI CALON PENERUS PERJUANGAN PERADILAN AGAMA...MANTAP MOTIVASINYA !!!
Reply
 
 
# Itna-PA.Gs 2011-11-24 11:07
sesuai dengan kata pepatah "berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit2 dahulu bersenang kemudian", dan perlu diingat oleh seluruh warga Peradilan Agama bahwa kesenangan yg dinikmati skarang adalah atas usaha n jerih payah pimpinan serta doa tulus smua kalangan warga peradilan, Trimakasih...Bapak Dirjen & kawan-kawan...
Reply
 
 
# andi Muliany Hasyim 2011-11-24 11:08
Pamer miskin ???,alhamdulillah perubahan .......... sangat menyenangkan dan menyejukkan, rasa syukur tak terhingga,Jangan lupa dan ingat selalu kebaikan orang pada kita,dan sekarang wah Pengadilan Agama sangat memperhatikan orang-orang miskin yang mencari keadilan di Pengadilan Agama, Sukses Pak Drjen dengan program prioritasnya.
Reply
 
 
# samsul bahri 2011-11-24 11:13
samsul bahri PA Subang
saya ingat ketika Pak Bagir ke roadshow ke PA Pekalongan, yang memang terletak di gang kecil di belakang jalan utama, ketika beliau basuk kantor, langsung berkomentar." ini bukan kantor PA ini kantor RT"..
maka kemajuan yang telah kita dapatkan wajib disyukuri oleh segenap aparatur PA. Dan cara bersyukur yang paling tepat adalah melayani masyarakat dengan penuh kejujuran dan keadilan, sekalgius jangan merusah nikmat dengan perilaku culas menjadikan masyarakat pencari keadilan sebagai obyekan...agar kerja kita semakin berkah.
Reply
 
 
# muhammad razali-lubuk pakam 2011-11-24 12:37
semoga allah akan memberikan bagi kita pimpinan berdedikasi dan berkomitmen serta berintegritas demi kemajuan peradilan agama seperti pak dirjen cs, semoga... amin.....
Reply
 
 
# endang m, pta mataram 2011-11-24 12:58
alhamdu lillah atas perjuang pak dirbinbapera dkk di Departemen agama ketika itu, hari ini kita telah dpt menikmati hasil perjuangannya, lebih2 setelah PA berada satu atap dg Mahakamah Agung. Mudah2an ke depan akan lebih baik lagi, selamat dan sukses selalu buat perjuangan pak Dirjen Badilag MARI....
Reply
 
 
# abinuwasnuwas@yahoo.co.id 2011-11-24 13:12
Alhamdulillahirabbil'alamin, Subhanallah, Mudah mudahan kilas balik yang Bapak Dirjen paparkan mampu menyadarkan kita semua untuk lebih pandai mensyukuri nikmat dan keadaan yang sudah jauh lebih maju dengan meningkatkat kinerja kita. Memang kalo kita lupa atau tidak dingatkan bagaimana keadaan kita dulunya terkadang kita terlena bahkan lupa kalo kita itu dulu bayi tidak berbaju tidak bisa jalan apalagi lari, lalu kita juga lupa orang-orang tua kita yang telah berjasa sehingga kita bisa seperti sekarang ini, untuk itu mari kita bersama ingat apa cita-cita orang-orang tua kita dulu jangan "kesengsem" dengan keadaan sehingga kita mudah tergoda lalu hanyut oleh budaya massa, mari kita istiqamah dalam harakah missi Peradilan Agama yang dicita-citakan oleh para orang-orang tua kita dulu sehingga Peradilan yang Agung yang hendak kita wujudkan nantinya adalah Peradilan Agung yang Islamy tentunya, amin.
Reply
 
 
# nurmadi rasyid pa bengkulu 2011-11-24 13:24
alhamdulillah itu masa dulu, tempo dulu akasn tetapi pada saat sekarang ini yang perlu kita fikirkan sesuai dengan visi dam misi dan juga pesan bap dirjen itu tadi marilah utamakan pelayan masyarakat dan meninggkatkan kinerja agar peradilan agam ini kedepan semakin maju dan mendapat sambutan dihati masyarakat dengan era imformasi dan keterbukan ini;
Reply
 
 
# alhamidi, pa palembang 2011-11-24 13:36
Cerita bapak memang benar tentang kondisi PA dulu, saya pernah dengar pak mentri agama (waktu itu pak said agil) sampai tertunduk malu ketika pak bagir manan (ketua MA waktu itu)bercerita dari hasil kunjungannya ke PA Palembang, dan beliau sangat prihatin melihat kantor PA yang lokasinya berada di jalan yang sempit dan gedungnyapun mirip kantor lurah (Kantor lurah di perkampungan), padahal menteri agamanya orang Palembang
Reply
 
 
# Abdurrahman Alwi_pa_sengeti 2011-11-24 15:09
perubahan adalah suatu keharusan, langkah dan tampilan PA ke depan harus berada dalam koridor perjuangan mewujudkan peradilan agama yang agung, Terima Kasih Pak Bagir, Pak Dirjen dkk,yang telah merintis era baru peradilan agama,Semoga para leader di daerah dan segenap warga PA mempunyai etos perubahan yang sejalan dengan apa yg telah bapak2 contohkan......
Reply
 
 
# Abu Syamuel 2011-11-24 15:49
"Tawadhu, qana’ah, ikhlas dan selalu berupaya menggembirakan orang adalah sifat-sifat ulama" adalah ungkapan yg sgt mudah diceramahkan kpd org lain...namun dalm aplikasi...sgt sulit dan butuh perjuangan bagi mereka, saat dlm kondisi di "bawah(an)"...semoga kita termasuk org yg sabar dalam mhadapi tantangan dan cobaan ...amiin.wassalam.
Reply
 
 
# atifa hasan . 2011-11-24 15:59
Peradilan Agama sampai seperti sekarang ini didapat melalui proses yang puaaanjang,perjuangan yang beeerat,wajib kita syukuri dengan meningkatkan profesionalisme kita sebagai aparat peradilan.terima kasih pak Dirjen.
Reply
 
 
# Marzuki 2011-11-24 16:13
luar biasa perjuangan Pak Dirjen, maka sekiranya masih ada aparat peradilan Agama yang yang menyimpang dari sifat sifat ulama seperti tawadhu, qonaah, ikhlas dan menyenangkan orang, maka aparat tersebut perlu dilengserkan dari jabatannya. Insya Alloh perjuanagn Pak Dirjen tercatat sebagai amal sholeh, Amin. PTA.PNK.
Reply
 
 
# Dedeh Banten 2011-11-24 16:17
Barangkali 'pamer' yang kontradiktif dengan mksud untuk menyombongkan diri adalah pamer dalam konteks kisah p Dirjen...memamerkan 'fakta-fakta yang konkrit' dari sebuah perjuangan untuk sampai di hari ini mmberi banyak pelajaran....jika 'trik pamer kemiskinan' harus dilakukan secara aktif dan gencar, berbanding terbalik dengan pamer prestasi....kita lebih baik merendah tetapi prestasi kita melambung tinggi dan masyarakat merasakan 'pentingnya' kehadiran kita, Paradilan Agama. Sukses untuk kita semua.
Reply
 
 
# misran pa-medan 2011-11-24 16:31
Ketika niat itu baik dan ihlas, yang pencipta tdk akan melalaikan keadilannya, semoga kita bisa pamer kejujuran, keadilan dan lain a, Sukses pak Dirjen
Reply
 
 
# Muh Irfan Husaeni 2011-11-24 16:52
Perjuangan Bapak Bapak di Jakarta semoga tercatat sebagai amal jariah, dengan keadaan sekarang ini kami sangat bersyukur dan bangga tercatat sebagai warga Peradilan Agama dan kami tetap mesra dengan kawan -kawan di Kementrian Agama, alhamdulillah.
Reply
 
 
# asep hidayat Tegal 2011-11-24 18:48
Perjuangan tak kenal lelah tak pernah berhenti beri tauladan dan tetap dalam kejujuran dan jangan tinggalkan orang yang baik dan selalu menjaga integritas, moga bukan keluhan pak dirjen seperti itu, dan teruskan wahai generasi penerus
Reply
 
 
# Djabir Sasole PA.Trnt 2011-11-25 06:30
Pamer dan kampanye miskin yang dilakukan pak Dirjen dkk sama artinya dengan mengakui kekurangan kita yang selama ini banyak orang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Dan ternyata mengakui kekurangan kita pada orang itu mempunyai hikmah yang luar biasa.Salut lagi untuk pak Dirjen dkk. semoga ke depan orang semakin membuka mata setelah melihat "penampilan" dan kinerja kita.
Reply
 
 
# Hasim, PA. Putussibau 2011-11-25 09:34
Kami yang jauh di Hulu sungai Kapuas Kalimanta Barat mengucapkan terima kasih atas perjuangan pak Dirjen dan kawan2 dalam mengembalikan harkat dan martabat Pengdilan Agama Di Bumi Nusantara. Semoga Allah SWT membalasnya dengan kebaikan (pahala)yang berlipat ganda. aamiin. Dan kami di Pengadilan Agama Putussibau siap menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
Reply
 
 
# nel PTA Padang 2011-11-25 10:56
Alhamdulillah.. dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah atas kerja keras Bapak dan teman-temen di Badilag kami didaerah ikut merasakan kenikmatan, bangga dengan kantor Peradilan Agama yang sudah megah. Aminnn...
Reply
 
 
# maqhie.PA.Martapura 2011-11-28 07:45
hakekat kenikmatan dari suatu suksesnya pengabdian adalah perjuangan melawan keterbatasan namun mampu meraih hasil yang optimal, itulah yang sedang diperjuangkan oleh PANUTAn kita pak dirjen..semoga kami para generasi muda warga badilag mampu mengikuti jejak beliau dalam membawa GERBONG peradilan ke arah yang lebih baik..amiin. SUKSES PAK DIRJEN
Reply
 
 
# Helen-PA.Pontianak 2011-11-28 08:54
subhanallah..
mantap kali perjuangan bapak2x sekalian. smg semangat perjuangan bapak2x sekalian mengalir ke kami, para generasi penerus PA yg ad di seluruh Indonesia.
maju terus PA!
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2011-11-28 12:31
Yang diperlukan sekarang adalah pamer prestasi dan keberhasilan dalam memberikan pelayanan. setuju Pak, saat ini bukan janji yang dibutuhkan, tapi bukti dalam pelayan kita terhadap pencari keadilan, kalau seandainya bisa merealisasikannya, insya Allah kepercayaan publik terhadap Badan Peradilan Agama akan bertambah, kalau sudah dipercaya, akan mudah untuk mendapatkan pasilitas apapun juiga, sebab semua sudah percaya akan kinerja kita semua. semoga kita bisa mencerna dan mengambil pelajaran yang tersirat dalam tulisan Pak Dirjen ini.
Reply
 
 
# ahmad s.pa .cibadak 2011-11-29 10:03
PA. sampai saat dibilang masih dibawah mampu/pra sejahtera,tetapi ternyata mampu mengorbit ke dunia luar Indonesia, meski masih ada sebagian pihak di negeri sendiri tidak mengenal PA.Semangat untuk maju dan sukses disertai aqidah ikhtiyar dan tawaakal sebagai bekal optimisme...Insya Allah'
Reply
 
 
# Aunur Rofiq@waka_PA-mimika 2011-11-29 14:57
kenangan masa lalu, memang harus diceritakan, agar generasi berikutnya mengerti tentang sejarah betapa "mengeksiskan" peradilan agama di negara yang mayoritas Islam ini ternyata tidak mudah. Sekaligus untuk mengingatkan para aparat yang datang kemudian, agar tetap memelihara rasa syukur dan tidak mudah mengeluh. Trims
Reply
 
 
# Mahfudin PA Rengat 2011-12-13 14:20
Pamer kemiskinan tidak perlu karena memang sudah kenyataan demikian, mudah-mudahan banyak pihak yang memperhatikan keberadaan para pejabat Negara dilingkungan Peradilan Agama, dan akan tibanya pencerahan amin
Reply
 
 
# fath.yusuf@yahoo.co.id 2012-02-01 09:44
subhahanallah.....kemiskinan dan kekayaan k 2nya ad. ujian namun bgmn kt mnyikapinya, apakah brtambah syukur atau kufur???? smg dg keadaan peradilan agama saat ini khususnya wrga Peradilan Agama smakin brtambah syukur, smua itu tntunya berkat perjuangan pimpinan2 yg di prkarsai pak Dirjen, smg prjuangan mrk di catat sbg amal baik yg akan di petik di akhirat nanti amiiin
Reply
 
 
# Mamat S WKPA Pandeglang 2012-03-01 10:57
Dahulu pamer kemiskinan, pantas memang kita miskin, kini saatnya pamer prestasi, pantas juga karena kita mampu berprestasi,bukan begitu. Trima kasih Pa Dirjen atas devosi dan dedikasinya dalam membina peradilan agama.
Reply
 
 
# ridwan siregar 2012-03-01 13:59
Perjuangan Bapak Dirjen bersama Bapak Hariri dan yang lainnya dalam memamerkan kemiskinan PA tsb, sehingga Peradilan Agama mencapai kondisi seperti sekarang ini, bahkan hingga kini Bapak Dirjen selalu tampil dan maju terus memperjuangkan Peradilan Agama, semoga ini menjadi pemicu bagi kawan di daerah untuk berbuat kearah yang lebih baih dalam pelayanan kepada masyarakat
Reply
 
 
# Ermida YS.PA Padang Panjang 2012-08-01 11:19
Ibarat kata pepatah, PA itu berakit- rakit ke hulu, berenang- renang ketepian, bersakit- sakit dahulu bersenang- senang kemudian,Insya Allah, kesenangan itu sudah di depan mata, mari sama- sama berdoa semoga kesenangan akan segera kita nikmati, dan kita akan semakin bersemangat dalam melaksanakan tugas.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1168 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS