Senin, 21 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Hakim PA Angkatan IV | (21/5)
BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




Nonton Bola Bareng, Bersama Chief Justice | (14/12/2011) PDF Cetak E-mail
Rabu, 14 Desember 2011 15:49

Nonton Bola Bareng, Bersama Chief Justice


*


Chief Justice Diana Bryant adalah wanita kedua dalam sejarah Australia yang memimpin pengadilan tingkat federal. Bu Diana, sebut saja begitu, diangkat sebagai Ketua Pengadilan Keluarga Australia pada tahun 2004. Sebelumnya, alumni the University of Melbourne (S1) dan Monash University (S2) ini pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Federal Magistrate, Direktur Perusahaan Penerbangan Australia dan pengacara.


Orangnya ramah, lincah, sederhana dan menyenangkan. Namun demikian, dari sikap dan langkahnya, Bu Diana terlihat berwibawa dan penuh keibuan.
Saya punya kesan mendalam selama 6 tahun bergaul dengan tokoh kelahiran Perth, Australia Barat, ini. Bu Diana  sangat perhatian akan perkembangan peradilan agama. Beliau banyak melakukan langkah-langkah  yang  menguntungkan peradilan agama.

Coba saja lihat. Antara lain karena peran Bu Diana, berpuluh hakim dan aparat Peradilan Agama  telah dapat melakukan pelatihan di Australia. Karena supportnya, Putusan PTA se Indonesia dapat dipublikasikan pada situs AsianLII, situs yang banyak diakses masyarakat hukum internasional, hasil  kerja sama University of Technology, Sydney dan University of New South Wales Australia.


Karena dukungan beliau pula, peradilan agama diberi kesempatan untuk mempresentasikan pengalaman reformasinya dalam forum internasional. Saya selalu bersama Bu Diana, dan Cate Sumner, dalam mempresentasikan peradilan agama, seperti di Sydney (Feb 2009), Istanbul (Okt 2009), Bogor (Mar 2011) dan Sydney (Nov 2011). Beliau sendiri sehari-harinya berkantor di Melbourne.


Beliau pula yang meluncurkan buku “Courting Reform” edisi Bahasa Inggris, di Sydney (Des 2010) dan edisi Bahasa Indonesia, di Jakarta (Mar 2011), bersama Ketua Mahkamah Agung RI, Dr. Harifin A Tumpa, SH, MH.


Karena kesupelan dan kesederhanaan beliau itulah juga, saya dan 16 orang dari peradilan agama, ketika sedang mengikuti pelatihan “Client Service” di Melbourne, akhir Mei 2008, dibuat kaget dan senang oleh Bu Diana ini. Kami diajak nonton bola bareng oleh beliau di “Stadion Senayannya” kota Melbourne. Bukan main.


**


Kebetulan, di malam hari setelah pelatihan, ada jadwal pertandingan Liga Bola Australia. Dua tim papan atas akan bertanding, yaitu Collingwood dan Geelong. Kata Bu Diana, pertemuan dua tim ini selalu ditunggu masyarakat bola. Kepada saya, beliau berceritera banyak tentang bola dan perkembangan “Australian Football League” (AFL). Hebat juga, Bu Diana ini nampak hobi nonton dan mengikuti perkembangan AFL.


Walaupun beliau tahu, “Australian football”, yang semacam rugby ini, tidak dikenal di Indonesia, Bu Diana nampak ingin menyenangkan para peserta pelatihan, setidaknya ingin memberikan suatu pengalaman unik yang tidak ada di Indonesia. Dan memang benar, tidak ada satupun di antara kami yang pernah nonton Bola Australia langsung di lapangan. Kalaupun pernah nonton melalui TV, itupun hanya sekilas saja, sebab kita tidak biasa main dan tidak tahu aturannya.


Hebatnya lagi, Chief Justice ini sengaja memberikan ceramah khusus di depan kelas tentang perkembangan “AFL”  dan aturan-aturan mainnya. Tidak tanggung-tanggung, penyampaian pelajaran khusus ini dilengkapi dengan alat peraga bola benerannya, yang lonjong itu, dan peragaan bagaimana cara melempar, menendang dan menangkapnya. Sarana Teknologi Informasipun digunakan pada pelajaran ini, seperti in-fokus dan slide-slide yang menampilkan aturan main, gambar dan ukuran lapangan, serta foto-foto berkaitan dengan AFL.


Bukan hanya itu saja, Bu Dianapun membagikan “halesduk”  dan "kerepus" penutup kepala syang merupakan asesori khas dari  tim yang bertanding, sebagai hadiah untuk para peserta. Halesduk  dan  kerepus tebal itu berfungsi untuk memberi support kepada tim masing-masing, sekaligus untuk menutup kepala dan leher dari rasa dingin, karena saat itu berada di musim dingin yang sangat menyengat.   Bu Diana juga secara pribadi menyediakan hampir 10 baju tebal, untuk dipinjamkan kepada para peserta yang kebetulan tidak membawa baju tebal. Maasya Alloh.

***


Pada waktu yang telah ditentukan, setelah maghrib, kami berangkat dari apartemen tempat menginap dengan menggunakan bis, menuju ke stadion. Di sana disambut sendiri oleh Chief Justice Diana, dan beberapa stafnya. Di antaranya Hakim Senior Naum Mushin, Pansek/CEO  Richard Foster dan Ahli IT, Stephen Andrew.


Pikiran saya, karena nonton bareng bersama Chief Justice, mesti tempat duduknyapun akan berada pada ruangan VIP, atau setidaknya ruangan khusus. Tapi, eh, perkiraan saya meleset. Kami bersama Chief Justice dan staf-stafnya itu masuk di ruangan umum, sejenis kelas ekonomi. Namun tetap nyaman.

Di samping ruangannya rapih dan bersih, juga setiap penonton telah mempunyai kursi sesuai nomor yang tertera pada tiket masing-masing. Di ruangan yang terbuka untuk masyarakat luas, kami bisa secara bebas mengekspresikan emosi kami sebagai penonton, sebagaimana penonton biasa pada umumnya. Lain ceritanya kalau kami berada pada ruangan VIP atau ruangan khusus. Mesti akan sangat terbatas.

Lagi-lagi, saya salut terhadap Honourable Chief Justice yang satu ini. Beliau dengan nyaman, riang dan tanpa canggung, nonton bareng bersama para stafnya dan peserta pelatihan, di tengah publik yang demikian banyak.

Mengenai tim yang bertanding, benar juga apa kata beliau, pertandingan Collingwood dan Geelong ini banyak ditunggu masyarakat bola Australia. Hal itu terlihat dari banyaknya penonton. Stadion yang digunakan hampir dipenuhi padat oleh para supporter dari kedua tim. Stadion itu nampak lebih besar dari Gelora Bung Karno Senayan, sebab ukuran lapangan bolanyapun jauh lebih besar dari lapangan bola kita.

Ada yang lucu pada saat menonton pertandingan itu. Sebagaimana biasanya, para penonton menyuarakan yel-yel atau nyanyian-nyanyian masal yang merupakan penyemangat bagi tim favoritnya. Kami tidak tahu, mana yel-yel atau nyanyian untuk Collingwood dan mana untuk Geelong. Yang kami tahu, suasana nonton itu demikian ramai dan riuh rendah dengan yel-yel dan nyanyian-nyanyian para suporter.

Supaya kamipun terlibat dengan kemeriahan dan ke”heboh”an, saya minta kawan-kawan untuk menyanyikan lagu “Gelang sipatu gelang”, dengan mengganti kata “Gelang” menjadi “Geelong”. Kamipun menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat, lantang dan dengan kepalan tangan diacung-acungkan ke atas. Bu Diana kelihatan senyum-senyum saja melihat polah kami bernyanyi-nyanyi itu.

Nyanyian kami itu ternyata banyak mendapatkan perhatian dari penonton lainnya. Mereka pada menoleh ke arah kami. Lalu, sekilas memperhatikan kami dan …tersenyum. Setelah itu di antara mereka saling berbisik sambil tersenyum pula.

Kami telah berhasil mencuri perhatian mereka, pikir saya. Mereka nampak tertarik kepada kami. Mungkin karena lagunya yang asing bagi mereka, walaupun ada kata “Geelong” yang berkali-kali disebut, mungkin karena kekompakan dan semangat kami dalam menyanyikan lagu itu, mungkin karena kami orang asing, atau mungkin pula karena mereka melihat di antara kami ada Chief Justice yang mereka kenal.

Kami tidak peduli alasan apa mereka menaruh perhatian kepada kami, yang jelas kami senang telah ikut berbaur dengan mereka, melakukan yel-yel dan nyanyian-nyanyian sebagaimana yang mereka lakukan. Saya merasa senang sekali dan puas dengan pengalaman menjadi “bobotoh” di negeri orang, yang difasilitasi Chief Justice itu.

Namun, belakangan baru ketahuan mengapa para penonton lain tersenyum setelah memperhatikan kami ketika menyanyikan lagu “Geelong sipatu Geelong, Geelong sirama-rama…”.  Ternyata kami pada memakai selendang biru tua bergaris putih, sebagai atribut tim “Collingwood”, yang kami tidak tahu sebelumnya.  Mungkin para penonton itu berfikir, atau malah bingung, “kelompok mana ini, dalam nyanyiannya selalu nyebut “Geelong”, tapi atributnya “Collingwood?”.  Hehe…, dasar “bobotoh” gadungan, tidak tahu mana lawan mana kawan.

Kami pulang ke apartemen dengan puas, bukan karena telah menikmati tehnis permainan bola Australia, sebab nontonpun baru pertama kali, namun karena telah menikmati suasana dan pengalaman baru yang mungkin tidak akan pernah kami alami lagi. Di samping itu, kamipun puas dan bangga atas penghormatan yang diberikan oleh Chief Justice dan jajarannya, kepada para peserta pelatihan dari peradilan agama ini.

Kegembiraan kami ketika hampir tiba di apartemen sedikit terusik. Saat itu diketahui, Bu Maryam, Pansek PTA Yogyakarta waktu itu, hilang, tidak terangkut bis kami ketika pulang. Bu Maryam, jelas ketinggalan. Kami bingung. Tapi, hebatnya beliau, begitu kami turun dari bis untuk masuk ke apartemen, beliau telah tiba lebih dulu dengan menyewa taksi sendirian. Kamipun bersyukur dan senang.

****

Dari pengalaman nonton bola bareng itu, saya mendapat banyak pelajaran. Betapa hebatnya Ibu Diana Bryant, sebagai Chief Justice dari suatu pengadilan yang berskala nasional di suatu negara maju, yang sifat dan sikapnya sangat menakjubkan.


Sifatnya yang ramah, supel, sederhana, selalu menghormat staf, kolega dan tamu, tapi tetap menjaga muru’ah, dapat menjadi contoh bagi kita dalam kehidupan  sehari-hari. Saya yakin, Peradilan Agama akan tambah maju, jika pimpinan, hakim dan aparatnya menerapkan sifat-sifat itu dalam pergaulan sehari-hari  di kantor. Bukankah itu sifat yang Islami, yang para ulama dan hakim-hakim kita dahulu selalu melaksanakan dan memeliharanya?

Barangkali karena sifat-sifat itulah, Bu Diana dikenal berhasil dalam menjalankan tugasnya sebagai Chief Justice Family Court of Australia (FCoA), yang sudah diembannya selama 7 tahun lebih. Pantas pula beliau ini pernah dianugerahi sebagai “Queen’s Counsel” pada tahun 1997, suatu penganugerahan yang prestisius di bidang hukum dan peradilan di Australia.

Saya yakin karena kepemimpinan dan support  dari Bu Diana pula, Richard Foster sebagai CEO (semacam Pansek, red) FCoA, terpilih sebagai President of IACA (International Association of Court Administration) tingkat dunia pada pemilihan tahun 2009 di Istanbul Turki.

Saya juga yakin, karena sifat-sifat itu pulalah hubungan antara FCoA yang dipimpinnya, dengan Mahkamah Agung Indonesia, berjalan mulus, lancar dan dianggap berhasil dalam meningkatkan banyak hal untuk pengembangan peradilan di ke dua negara.

Oleh karena itu, pelajaran yang baik dari manapun datangnya pantas untuk kita terima dan laksanakan. Dalam era reformasi yang sedang kita galakkan, pimpinan, hakim dan para pejabat Peradilan Agama sangat dituntut untuk menerapkan sifat-sifat kepemimpinan yang terpuji, dapat diteladani, punya visi dan selalu mengayomi.

Kalau itu semua sudah terjadi, maka badan peradilan Indonesia yang agung yang dicita-citakan kita semua akan segera terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Mudah-mudahan. (WW).

TanggalViewsComments
Total68425
Sen. 2110
Jum. 1810
Sel. 1510
Sen. 1430
Ming. 1330
Sab. 1220
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# nurmadi pa bengkulu 2011-12-14 16:17
amin tulisan yang menarik untuk memperbaiki sikap dan tingkahlaku hakim dalam rangka menuju pengadilan yang agung, semoga sukses pak dirjen. atas berbagi pengalaman ini.
Reply
 
 
# Mhd. Amin/Kabanjahe Sumut 2011-12-14 17:48
Wow ! sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk menjadi perhatian para pimpinan, tidak saja, bagi lingkungan peradilan, tetapi juga pimpinan nasional (para pejabat negara). Keteladanan para pimpinan saat ini, di bidang apa saja, amat sangat dibutuhkan untuk tercapainya reformasi birokrasi. Pengalaman-2 Pak Wahyu Widyana yang sangat berharga untuk menjadi pengajaran, penting untuk terus dipublish. Terima kasih Pak WW, pengalaman berharga lainnya senantiasa kami nantikan.
Reply
 
 
# Syaifuddin PA Stabat 2011-12-14 18:29
Memang benar Pak Dirjen, yang baik itu kita ambil walau muncul dsri saudara kita non muslim, menjaga muruah sebagai hakim memang harus tetap dilakukan, apaligi melakukan perbuatan tercela, saya kira sepakat saja kita mempraktikkan isi surat Umar ibn al-Khattab tak perlu waktu 25 tahun mewujudkan Peradilan Agama yang Agung, semoga kesadaran itu muncul pada warga Peradilan Agama. terima kasih pak Dirjen, semoga tausiyah dengan jalan hikayat ini lebih membuka mata hati para pembacanya imin
Reply
 
 
# Djabir Sasole PA Ternate 2011-12-14 19:55
Seru juga pengalaman pak Dirjen dkk, bisa nonton bola bareng chief justice dan bisa menarik perhatian penonton yang juga bingung. Terkait dg sikap, karekter dan kepribadian seorang pemimpin, memang tidak cukup hanya dg fit and propertest saja. Pembentukan sikap,kepribadian pimpinan harus diasah dan dibentuk melalui berbagai pelatihan profesional. Saya yakin dg begitu ke depan lahir pemimpin yang kharismatik.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA. Painan 2011-12-14 22:43
Terima kasih buat Pak Wahyu atas pengalaman bapak berinteraksi dengan Chief Justice Family Court of Australia (FCoA) Diana Bryant yang berpenampilan low profil, sederhana, berempati dan mau mempresentasikan kepada delegasi MA.RI apa itu 'AFL' beserta cara permainannya,malahan mengajak bersama-sama menonton bareng main bola Austraia. Semoga karakter pimpinan yang mau membaur bersama ini dengan tetap menjaga sikap yang baik dapat pula diteladani oeh para pimpinan Badilag dari atas sampai ke bawah sehingga RB MA.RI dapat terwujud meunuju peradilan yang agung. Amin !
Reply
 
 
# KAUSAR ANHAR@PA CJR 2011-12-15 05:53
Dalam waktu normal mungkin tidak lebih dari 5 menit untuk membaca tulisan itu, tapi ternyata saya membutuhkan waktu hampir 30 menit untuk membacanya....karena sambil menerawang, dalam benak saya berpikir bisakah kita jika jadi pemimpin menerapkan pola-pola sederhana namun sangat penting dan terpuji spt ditunjukan oleh tokoh dlm tulisan di atas ?
Reply
 
 
# Rusdi PTA Smd 2011-12-15 06:50
Insya Allah Peradilan Agama akan menjadi peradilan yang Agung apabila didukung oleh semua pihak yang berkompeten.
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jypura 2011-12-15 06:54
I think it's the best and the best experience to change judges in Indonesia to be respected and honored. I hope so ... thanks
Reply
 
 
# subhan.PA Kuningan 2011-12-15 07:45
banyak cara untuk melepas kepenatan dan rutinitas kerja,nonton bola diantaranya.namun hakim jika nonton bola harus adil juga ya... jangan berpihak kepada salah satu tim, takut-takut pemainnya salah satu tim mengajukan perkara ke pengadilan, he he.....
Reply
 
 
# Nursal-PA.Muarabungo 2011-12-15 08:31
memang luar biasa Bu Diana, seorang chief justice mengajak para tamu nya ( Pak Dirjen dan rombongan )untuk Rilek dengan nonton bola bareng... enak benar para hobby bola pak... semoga juga di Indonesia bisa diterapkan pak... habis pelatihan... rilek nonton bola bareng di senayan...semoga aja.
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2011-12-15 08:48
nonton bareng bersama para stafnya dan peserta pelatihan, di tengah publik yang demikian banyak, sesuatu yang perlu dicontoh oleh pimpinan kita semua, jangan merasa hina atau akan menjatuhkan wibawa, apabila kita duduk bareng, atau jalan barang dengan staf kita. semakin dekat hati kita dengan bawahan akan semakin mudah untuk mencapai apa yang diharapkan. hati kita bisa dkeat dengan bawahan, apabila kita suka bergaul dengan bawahan kita, insya Allah apabila sudah bisa SIADPA dan program lainnya akan bisa direalisasikan dengan sempurna. tks
Reply
 
 
# Asti PTA Jakarta 2011-12-15 09:17
Benar juga ternyata sifat baik itu ada di mana-mana, tidak pandang siapa dia dan dari mana dia, begitu juga sebaliknya. namun untuk kita di peradilan agama, yang nyatanya lebih dekat dengan Qur'an dan Hadits SAW, pastinya lebih baik dong. Jadi malu nih....
Reply
 
 
# Ali Mhtrm @PA-Tj. Redeb 2011-12-15 10:04
Mengambil tauladan, bisa datang dari mana saja. kalau itu baik, tentunya kewajiban kita bisa mengikutinya.
Demikian juga seperti apa yang dicontohkan oleh "Chief Justice" Diana Bryant; Sifat yang ramah, supel, sederhana, selalu menghormat staf, kolega dan tamu, tapi tetap menjaga muru’ah, patut menjadi contoh bagi kita (warga PA) dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih, Pak Dirjen atas semua pengalamannya.
Reply
 
 
# misran pa-medan 2011-12-15 11:10
Jika hidup ini dapat menerapkan rumus saling, maka kita telah menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup untuk kita dan sesama "saling menghormati, menghargai, menolong, mengasihi, memberi, menyayangi, menegur safa, dan saling lainnya yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan". tapi tidak saling menyalahkan, merendahkan, menghina dan atau saling yang tidak dibenarkan oleh norma apapun dalam hidup ini, trims pak Dirjen.
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA Kendari 2011-12-15 11:51
Bu Diana orangnya Cantik dan juga sikapnya Cantik.Saya setuju apa yang dikatakan pak WW bahwa pelajaran yg baik dari manapun datangnya wajib kita terima dan terapkan.Apa yg dicontohkan bu Diana bagus juga diterapkan pimpinan2 Pengadilan seperti menghrmat kepada staf,dan jangan hanya staf melulu hormat kepada atasan .Trims pak WW atas wejangannya.
Reply
 
 
# Abdullah PA Kraksaan 2011-12-15 12:02
Benar, Pak Dirjen sudah menggugah kita agar cerdas mengambil pelajaran yang baik untuk kemudian diinternalisasikan dalam diri kita sebagai sikap dan prilaku yang mulya, terima kasih Pak Dirjen dan sukses.
Reply
 
 
# Edi Hudiata 2011-12-15 12:16
Hmm... it's seem nice to watch the big match with our director general of religious court :-)
Reply
 
 
# MAME SADAFAL -- PA SIDOARJO 2011-12-15 13:39
Dari pengalaman nonton bola bareng bersama Chief Justice, Diana Bryant, waktu itu sebelum medium 2008 mengingatkan kembali kami sebagai salah satu peserta pelatihan Client Service di Family Court Melbourne yang turut menyertai Bapak Dirjen Pengadilan Agama. Kesan yang mungkin tidak pernah terlupakan dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup kami sebab sangat banyak pengetahuan dan pengalaman yang bisa di ambil dari perjalanan bersejarah itu, diantaranya kita sebagai warga Indonesia yang masuk ketegori negara dunia ketiga, warganya begitu diperlakukan dan ditempatkan secara baik dan dihormati sebagai tamu negara yang terhormat. Mungkin karena membawa atribut Mahkamah Agung yang pasti bahwa kesan itu sangat mendalam bagi setiap peserta.
Sejak kita mendarat di Bandara Melbourne kita disambut dengan begitu ramah oleh Staf Chief Justice lalu diantar ke apartemen dimana suasana waktu itu sangat dingin mencapai minus 2 derajat, konon kondisi itu adalah siklus 30 tahunan. Keesokan harinya peserta mengikuti pelatihan di gedung Family Court Australia setelah menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 3 km. Ada hal yang menarik bagi kami pribadi ketika menyeberang jalan di halte, bapak Dirjen balik bertanya kepada kami, “Teman-teman dimana?” Saya menjawab, “masih di seberang sana Pak”. Beliau berkata, “Aduh mestinya dipercepat langkahnya, jangan sampai terlambat sesuai waktu yang ditentukan.” Sebenarnya teman-teman sudah berusaha maksimal mengikuti langkah Pak Dirjen, karena tidak terbiasa berjalan cepat sehingga sulit mengimbangi langkah Pak Dirjen yang notabene beliau sudah pernah hidup lama di Australia.
Pada acara pembukaan itu dan pelaksanaan pelatihan selama kurang lebih 1 minggu yang diselingi dengan kunjungan atau pengamatan secara langsung tentang pelaksanaan Client Service di Family Court Australia. Maka setiap peserta semakin kagum dan salut tentang pelayanan prima yag diterapkan di Family Court.
Ringkas cerita, memang terkesan bahwa Chief Justice Diana Bryant adalah sosok pribadi sekaligus pejabat yng sangat karismatik, santun dan perhatian kepada siapa saja tanpa memandang status dan jabatan seseorang itu, sebab seingat kami malam itu beliau tidak pakai driver, apalagi ajudan seperti kita di Indonesia. Bahkan beliau sendiri yang menawarkan dan membagi baju hangat kepada kami. Ini hal yang mungkin sulit dimiliki bagi pejabat kita. Akan tetapi menurut hemat kami dari cerita dan pengalaman yang dilihat di negeri kangguru tersebut dengan tingkat kedisiplinan semua warganya mestinya dapat mengilhami pelaksanaan client service dimasa yang akan datang dan ini telah dicanangkan dan dilaksanakan Pak Dirjen dan telah diikuti oleh seluruh warga PA dari Sabang sampai Merauke. Karena mewujudkan cita-cita luhur peradilan Indonesia yang agung di masa yang akan datang harus dimulai oleh para pemimpin peradilan itu sendiri, dia harus bisa digugu, dicontoh dan ditauladani, tentang sifat-sifat dan perilaku dalam kesederhanaan semata-mata mengabdikan diri pada bangsa dan negara yang pada akhirnya bernilai ibadah.
Reply
 
 
# dinfiftynine 2011-12-15 21:29
kalau tidak salah ibu Diana itu yang memberikan materi mediasi dalam seminar kerjasama Mahkamah Agung dengan Family Court of Australia. saya pada kesempatan istirahat sempat berbincang dengan beliau. beliau terkesan smart, easygoing, dan sederhana. ini yang patut kita tiru.
Reply
 
 
# Abd. Malik PA.Soe 2011-12-16 08:56
Lucuuu banget, karena tidak tahu tim mana yang didukung, sehingga lain selendang yang dipakai lain pula nyanyian yang dikumandangkan.
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-12-16 12:52
Memang Peradilan di benua Australia menjadi inspirasi bagi kemajuan Peradilan di Indonesia. Banyak pelajaran yg diambil dari setiap kunjungan faktanya dg langkah yg cepat PA bisa berbenah.Cate Sumner dan Diana Bryant dll salah satu tokoh yg mendukung kemajuan Peradilan. Peran besar pak Dirjen menjadi kemajuan ini, sosok yg familier gerak cepat dan tepat serta tak mengenal waktu dan tempat demi amanah yg diemban semoga selalu sehat dan ceria.
Reply
 
 
# Iskhaq hk PA Pekalongan 2011-12-16 14:48
Ada dua hal penting yang dapat kita jadikan pelajaran untuk kita pedomani yang pertama adalah bila kita melakukan sesuatu pekerjaan harus kita mengerti dan pahami terlebih dahulu dan yang kedua apabila kita ingin berhasil dalam memimpin harus mampu merangkul semua potensi yang ada sebagai mana yang ditampilkan oleh Chief Justice Bu Diana bahkan seperti itulah cara memimpin yang Islami.
Reply
 
 
# ahsin pa jaksel / pta makasar 2011-12-17 20:18
Terima kasih Pak Dirjen, tulisan Bapak sangat menyentuh hati yang sangat dalam, hanya orang-orang lupa yang tidak tersentuh oleh tulisan Pak Dirjen tersebut. Andaikan kita yang jadi pemimpin atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang kebetulan mendapat amanah sebagai pemimpin memiliki sifat, prilaku dan muru'ah sebagaimana yang dimiliki oleh Chief Justice Bu Diana, pasti citra pengadilan khususnya pengadilan agama di Indonesia beserta seluruh aparatnya akan menjadi terhormat dan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia. Sudah saatnya kita mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Chief Justice Bu Diana, seorang pemimpin yang bisa membuat bawahan merasa nyaman, seorang pemimpin yang ikramudh-dhuyuf, seorang pemimpin yang tidak terlalu banyak tuntutan akan fasilitas dan pelayanan, seorang pemimpin yang pandai memberi contoh kebaikan bukan sekedar perintah, seorang pemimpin yang rela berkonban bukan yang suka mengorbankan, seorang pemimpin yang ing ngarso sun tulodo ( didepan bisa menjadi contoh / teladan bagi bawahan) ing madyo mangun karso ( di tengah dapat menjadi mitra kerja bagi bawahan) dan tut wuri handayani ( di belakang selalu mendorong anak buah untuk maju, kreatif dan inovatif ). Selamat Pak Dirjen, bravo selalu, semoga harapan dan cita-cita kita segera terwujud, amien
Reply
 
 
# H. Deddy Juniawan 2011-12-21 10:48
sebuah pengalaman yang sangat berharga, bukan saja sekedar menyalurkan hobby atau memberi kesenangan semata, tapi esensi sikap yang ditunjukkan atas sebuah penghargaan yang diimplementasikan sebagai upaya uswatun hasanah untuk meningkatkan jati diri yang berakhlaqul karimah bagi setiap pemngambil kebijakan. :lol: :-)
Reply
 
 
# jepara poenya 2011-12-30 15:00
:P :P :lol: :lol: hahahaha lucuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.....
betapa gembiranya membaca tulisan bapak kita ini, saya sampai ketawa-ketiwi sendirian,karena bapak-bapak dan ibu-ibu para pejabat kita bisa lepas sejenak dari kepenatan dan tanpa takut di negeri orang teriak2 tanpa rasa gengsi, malu dan takut salah karena dilakukan tanpa tendensi apapun bisa berteriak heboh sebagai suporter yg ngga' jelas, andai kita bisa berperan sebagai apapun tanpa ada kepentingan apapun dengan melakukan apapun di negara kita tercinta ini,saya yakin ngga' ada tuh istilah ABS lagi, karena kita melakukan demi rakyat dan untuk rakyat. Jadi kalo ini bisa dilakukan di negeri sendiri tanpa takut "Saya Siapa dan Anda Siapa" yakin deh semuanya bisa enjoy se-enjoy pak Wahyu hehehe....
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS