Sabtu, 25 Mei 2013 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!






Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Surat Permintaan Berkas Kelengkapan Usul Pengangkatan Hakim dan Biaya Pindah | (24/5)
SURAT EDARAN : Pendaftaran Calon Peserta Program Beasiswa S3 Sudan Tahun 2013 | (20/5)
SURAT EDARAN : Permintaan Persyaratan Biaya Mutasi Pindah Pejabat Kepaniteraan & Kejurusitaan PA | (10/5)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Kompetensi Panitera Pengganti PA (Angkatan II) Tahun 2013 | (8/5)
PENGUMUMAN : Ralat Pemanggilan Peserta Bimtek  Administrasi Angkatan III | (7/5)

PENGUMUMAN
: Input data Output Program 04 Ditjen Badilag T.A. 2012 Pada Aplikasi Monev Anggaran Kementrian Keuangan RI | (25/4)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Perkara Kasasi dan PK | (22/4)
PENGUMUMAN : Klarifikasi Akun Facebook "Purwo Susilo" | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I tahun Anggaran 2013 | (8/4)
PENGUMUMAN : Pelaporan Perkara Mediasi, Sidang Keliling dan Prodeo | (8/4




Tambahkan ke Google Reader
Malu Terhadap Staf | (19/12/2011) PDF Cetak E-mail
Senin, 19 Desember 2011 16:19

 

Malu Terhadap Staf

*

Jika anda datang ke kantor saya, mungkin anda akan melihat atau mendengar saya berbicara dengan staf-staf dekat saya selalu menggunakan Bahasa Inggris. Staf yang saya maksud adalah Rahmat Arijaya, Hermanto dan Reny.

Rahmat adalah staf khusus yang membantu saya dalam bidang hubungan internasional dengan negara-negara barat, sedangkan Hermanto dan Reny adalah  staf yang  khusus  untuk  mengatur tamu, mengurus surat, dan membantu menyiapkan segala keperluan saya di kantor.

Mereka berbicara Inggris sangat baik dan fasikh.    Mereka selalu bicara Inggris dengan saya, di manapun dan dalam situasi apapun, baik di kantor maupun di luar kantor, baik bicara langsung, melalui tilpon, sms atau tulisan, juga dalam keadaan kami berdua atau ada orang lain. Tapi kalau bersama orang lain dan pembicaraannya  melibatkan orang lain, mereka akan berbicara dalam Bahasa Indonesia.

Mereka konsisten, selalu bicara Inggris dengan saya.  Itulah yang membuat saya salut kepada mereka.  Padahal saya tidak memerintahkan mereka harus selalu ngomong Inggris, apalagi saya akan “menghukum”nya jika mereka bicara dalam Bahasa Indonesia. Sama sekali tidak.

Saya sendiri semula kurang enak dan tidak menikmati bicara Bahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari di kantor. Buktinya dengan staf selain yang tiga ini, walaupun dia bagus bicara  Inggrisnya, seperti dengan Cholil dan lainnya, saya selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi dengan ke tiga staf khusus tadi itu, saya dipaksa harus ngomong Inggris.

Namun demikian, kini, saya sudah terbiasa, enak dan menikmati bicara dalam Bahasa Inggris dengan mereka itu, di mana saja dan kapan saja.

**

Jadi, siapa yang memaksa harus selalu bicara Inggris antara saya dan ketiga staf itu? Ya, mereka itulah. Dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya berbahasa asing, mereka tidak malu dan canggung untuk  selalu mempraktekkan bicara bahasa Inggris dengan saya di manapun.

Memang awalnya, ketika Hermanto saya tarik untuk menjadi staf saya menggantikan Sulaiman, 3 tahun lalu, karena Sulaiman dilantik menjadi pejabat eselon 4, saya menawarkan agar dia mempraktekkan berbahasa Inggris dengan saya. Saya tahu, Hermanto, pegawai  baru ketika itu, adalah pengajar pada suatu Lembaga Kursus Bahasa Inggris di Jakarta. Dia sejak itu secara konsisten bicara berbahasa Inggris terus dengan saya, walaupun awalnya saya kurang enak.

Reny, pegawai honor baru, ditempatkan oleh Bagian Kepegawaian sebagai staf saya, menemani Hermanto, sebab dia pintar berbahasa Inggris.  Diapun konsisten mengikuti Hermanto, selalu bicara Inggris dengan saya.

Lain lagi ceritera Rahmat Arijaya yang baru 6 bulan ini menggantikan Cholil yang mendapat kesempatan tugas belajar ke Melbourne. Sejak jumpa pertama kali dengan saya, jauh sebelum menjadi staf saya, dia sudah selalu bicara Bahasa Ingggris. Bahkan dia memperkenalkan kepada saya juga menggunakan Bahasa Inggris. Dia mengatakan,  dengan Prof Atho’ Mudzhar, tetangga saya yang sangat dikenal di Kementerian Agama dan kalangan UIN itu, dia pun waktu menjadi mahasiswanya sering bicara dalam Bahasa Inggris.  “PD” sekali orang ini, pikir saya.

Dalam kegiatan English Meeting Club yang diselenggarakan Badilag, sebelum Rahmat menjadi staf saya dan masih bertugas sebagai hakim di PA Sekayu, dia sering mengikutinya dengan biaya sendiri. Saya salut dengan semangat berbahasa Inggrisnya.

Melihat semangat ke tiga staf saya yang demikian besar dan konsisten dalam berbahasa Inggris, akhirnya, sayalah yang merasa malu. Bukan malu karena harus berbicara Bahasa Inggris dengan mereka, namun malu terhadap mereka dan malu terhadap diri sendiri.

Saya sebagai yang dituakan dan sebagai pimpinan mereka tidak bisa memberi contoh kepada mereka dan kalah jauh dari mereka dalam semangat untuk mempraktekkan Bahasa Inggris di kantor. Sayapun malu karena akhirnya sayalah yang harus mengikuti mereka dalam melakukan hal yang sangat positif ini.

Diam-diam, saya sangat berterima kasih kepada mereka, sebab saya sendiri diuntungkan oleh semangat berbahasa Inggris mereka. Karena setiap hari saya “dipaksa” mereka harus berbahasa Inggris, akhirnya sayapun tambah “PD” kalau harus bicara dengan tamu atau bergaul dengan “English Native Speakers”.  Bukankah berbahasa itu suatu keterampilan, yang harus selalu dipraktekkan?

Apalagi kini, Badilag semakin hari semakin banyak bergaul dengan tamu-tamu atau kolega-kolega yang berasal dari negara-negara berbahasa Inggris, seperti dari Australia, Amerika atau Eropa. Betul-betul, saya sangat diuntungkan oleh staf-staf khusus saya itu.  Komunikasi dan kerjasama antara Badilag dengan pihak asingpun semakin lancar.

***

Terinspirasi oleh semangat mereka, ketika Cholil masih belum berangkat studi ke Australia, sayapun dan Cholil sepakat untuk membentuk English Meeting Club (EMC) di Badilag.  Dengan dukungan para pejabat dan staf lainnya, EMC diadakan dua bulan sekali dengan mendatangkan tokoh asing yang “English Native Speaker” sebagai pembicara.

Di antara tokoh yang pernah bicara sebagai nara sumber pada kegiatan EMC ini adalah Cate Sumner (peneliti Australia), Nenad Bago, (Ketua IA LDF kelahiran Kroasia), Leisha Lister (Australia), Anne Wallace (Australia), Prof Mark Cammack (L.A. USA), Markus Zimmer (Presiden Pendiri IACA, USA), dan David S Anderson (InACCE MCC, USA).

EMC ini bukan kursus Bahasa Inggris, tapi forum diskusi hukum dan peradilan dengan menggunakan Bahasa Inggris.  Para hakim dan staf Peradilan Agama dari Jakarta dan sekitarnya, bahkan dari wilayah PTA di Jawa dan Sumatera bagian selatan, yang sudah “PD” berbahasa Inggrisnya, secara sukarela dan penuh semangat aktif mengikuti kegiatan ini.

Belakangan, kawan-kawan peminat Bahasa Arab, yang  di antaranya banyak lulusan dari Timur Tengah,  juga mengadakan kegiatan serupa dengan menggunakan Bahasa Arab. Banyak juga peminatnya.

Kemampuan berbahasa Arab secara aktif, sangat diperlukan pula di lingkungan Peradilan Agama. Kini kitapun mulai banyak kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, Sudan, Mesir, Qatar dan lainnya, terutama dalam hal pengembangan SDM dan Hukum Islam.

Kegiatan-kegiatan berbahasa Inggris dan Arab ini secara bersamaan dilakukan pula dengan pengembangan situsweb www.badilag.net  versi Inggris dan Arab, yang dilola oleh kawan-kawan yang cukup mahir dalam penguasaan kedua bahasa asing tersebut.

Di daerahpun, seperti di PTA Yogyakarta dan PTA lainnya dikembangkan juga kegiatan-kegiatan berbasis kedua bahasa asing ini.

Sebagai pimpinan Badilag, pasti saya sangat senang melihat kawan-kawan bersemangat melakukan kegiatan-kegiatan berkaitan dengan pengembangan diri di bidang dua bahasa asing ini. Saya berpikir, sebagai sebuah lembaga, Badilag dan Peradilan Agama mestinya mempunyai banyak hakim atau staf yang mahir berbahasa asing.

Dalam era globalisasi dan teknologi informasi ini, di mana keterlibatan dalam pergaulan antar bangsa sudah merupakan suatu keniscayaan, maka tidak boleh tidak, kitapun harus mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing, paling tidak Bahasa Inggris atau Bahasa Arab.  Kalau tidak, kita akan selalu berada di pinggir, sebagai penonton yang tidak bisa ikut main.

Terdorong oleh rasa malu saya terhadap staf, sayapun berusaha mendorong diri saya dan kawan-kawan untuk mengembangkan bahasa asing di lingkungan Badilag dan Peradilan Agama. Di Badilag, saya tunjuk Rahmat Arijaya, di samping untuk membantu saya dalam kerjasama internasional dengan negara-negara barat, diapun diberi tugas untuk mengembangkan Bahasa Inggris di kalangan hakim dan staf Peradilan Agama.

Demikian pula, saya tunjuk Nasich Salam sebagai staf khusus saya di bidang kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah dan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab bagi hakim dan staf di lingkungan Peradilan Agama. Nasich adalah lulusan S1 Cairo dan S2  Sudan, pernah lama juga kerja di KBRI Chortum. Belasan tahun dia hidup di wilayah Timur Tengah itu.

Rahmat dan Nasich saya beri kebebasan untuk berimprovisasi dalam melaksanakan tugas khususnya itu, dan saya mendukung serta memfasilitasinya. Kerjasama dengan negara barat dan timur, kini semakin maju. Yang perlu difokuskan lagi adalah peningkatan kemampuan berbahasa asing bagi hakim dan staf lainnya, terutama kemampuan dalam berkomunikasi.

Melihat semangat kerja Rahmat dan Nasich, saya optimis, Peradilan Agama ke depan akan lebih maju lagi, sebab hakim dan staf kita akan lebih banyak  yang menguasai kedua bahasa asing ini. Namun demikian, Rahmat dan Nasich saja tidak cukup tanpa dukungan para pimpinan Badilag dan Peradilan Agama di daerah masing-masing.  Dukungan itu mutlak diperlukan.

Rahmat dan Nasich bagi Badilag dan Peradilan Agama hanyalah seperti Hermanto dan Reny bagi saya. Mereka hanya berfungsi sebagai pemberi semangat dan pendorong rasa “malu”, agar kita bisa konsisten dalam melakukan upaya yang positif menuju keadaan yang lebih baik. Hanya itu saja. Selebihnya, terserah anda. (WW).

 

 

 

TanggalViewsComments
Total170445
Sab. 2510
Kam. 2330
Sel. 2130
Sen. 2040
Ming. 1920
Sab. 1810
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Arief Jauhari, PTA Yogya 2011-12-19 17:44
Super sekali... Rasa 'malu' inilah yang ditunjukkan Bp. Hasan Muhammad, yang dulu KPTA Yogya, untuk memotivasi English Club dan pembuatan website PTA versi Bahasa Inggris, meski adminnya dulu masih ragu. "Kalau malu atau takut salah, kita tidak akan belajar apa-apa," pesan beliau, yang masih memotivasi hingga kini. Alhasil, hanya setahun web versi sempat mendapat apresiasi khusus oleh NLRP, NGO dari Belanda. Sebagai Ketua, Pak Hasan Muhammad juga menjadi inspirator. Menurut satu sumber, sewaktu masih di Kupang beliau juga tidak segan ikut kursus bahasa Inggris bersama anak-anak sekolah. Memang, faktor pimpinan sangat penting agar anak buah tidak 'selalu berada di pinggir, sebagai penonton yang tidak bisa ikut main'.
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya 2011-12-19 18:02
Alhamdulillah, muncul lagi kiat kita untuk maju, memang betul bahasa itu kalau tidak dipraketekan insya allah hilang, tapi kalau terus dipakai, malah akan bertambah, karena itu ini juga merupakan motivasi kita semua, yuuk, kita jalankan, malah lebih baik lagi tambah dengan bahasa Arab, ya hari kamis jum'at deh.... mari.... mari
Reply
 
 
# Syaifuddin PA Stabat 2011-12-19 20:32
Terima kasih pak Dirjen, apa yang Bapak lakukan semoga dapat kami contoh sebagai geberasi penerus Peradilan Agama. semoga rasa malu yang ada Bapak miliki dapat menular kepada kami. semoga ini menjadi pil semangat yang mujarab. amin
Reply
 
 
# Masrinedi-PA.Painan 2011-12-19 22:01
Ya, memang kemampuan berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa di era ini sangat menentukan kemajuan dan kesuksesan seseorang dalam pergaulan internasional.Dengan adanya EMC yang telah sekian kali digelar Badilag merupakan injektor semangat buat warga Badilag ntuk terus berupaya membudayakan berbahasa asing di tempat kerja. Cuma masih ada satu kendala yang masih kuat berakar di kalangan masyarakat kita ketika kita bercakap dalam bahasa asing dikatakan 'sok pintarlah' padahal sebenarnya adalah latihan-latihan supaya bertambah bagus pengucapannya. Semoga dengan telah dimulainya berbicara dengan bahasa asing di jajaran Ditjen Badilag dapat pula menular ke bawahnya sampai di masing-masing PA se-Indonesia. AMin !
Reply
 
 
# h.masruri plk 2011-12-19 22:39
Mari kita sambut harapan Bapak Dirjen tersebut dengan optimisme, semoga Hakim dan aparat Peradilan Agama ke depan akan mampu dan akan lebih banyak yang menguasai kedua bahasa asing ini. dukungan para pimpinan Badilag telah disiapkan baik melalui fasilitas EMC ataupun lainnya, tinggal bagaimana memanfaatkan moment penting ini.
Reply
 
 
# abdoerrahman 2011-12-20 06:32
sy pernah mengalami/menemui langsung pak Dirjen berkomunikasi dgn pak Hermanto dlm bahasa Inggris, ya .. sedikit2 fahamlah, selebihnya sy hanya bisa melongo .. hehehe, namun hikmahnya memotivasi saya untuk terus belajar, insya' Allah saya pun bisa .. do'akan aja .. :lol:
Reply
 
 
# Nanang MR @ Tj Redeb 2011-12-20 09:44
:lol: good good good... we'll wait 4 U Mr H Adoer.....
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-12-20 07:24
Satu cara yang ampuh, bahasa harus praktek, sekian lama belajar bahasa Inggris ketika di kampus, musnah begitu saja karena tidak di praktekkan. Dg penuh kesadaran karena kelemahan berbahasa kini saya harus bangkit untuk belajar dan belajar agar tidak ketinggalan kereta.
Reply
 
 
# Mhd. Amin/PA Kabanjahe 2011-12-20 07:51
"Bisa Karena Dibiasakan". Memang kalau tak dibiasakan dalam keseharian akan menjadi lupa dan tak PD dalam berbahasa. Pernah ketika saya "kemaruk" -waktu itu- dan ingin menggunakannya, namun krn tidak ada teman yang mau diajak "praktek berbahasa", akhirnya sampai saat ini lidah terasa kelu. Skrg vocab-nya banyak yg hilang dr ingatan jadi ada rasa malu. Untuk itu dengan cerita Bapak semoga to be inspire and call up for english language. Kalau salah perbaiki. Thanks.
Reply
 
 
# Pey 2011-12-20 07:55
Pak dirjen selalu mengapresiasi para staf dan menjadikan mereka motivasi.. Begitu pula sebaliknya, seyogyanya staf pun termotivasi bekerja secara maksimal dan ikhlas sesuai tupoksi yang ada.
Bagi staf yang kurang mempunyai keterampilan berbahasa agar tetap selalu bersemangat, banyak staf yang mempunyai potensi lain dan mempunyai loyalitas bagi pekerjaan dan menggali potensinya untuk selalu konsisten dalam pekerjaan,berbuat "sesuatu" bukan bekerja karena "sesuatu" kecuali ibadah.
Yang utama adalah saling menghormati dan menghargai apapun jabatan atau pangkatnya, pejabat ataupun staf... Sukses Selalu Bagi Peradilan.
Wassalam
Reply
 
 
# Hermanto 2011-12-20 08:40
"tidak ada kata lain selain ucapan terimakasih yang sebesar2nya kepada Bapak Dirjen, Karena beliaulah kami bisa mempraktekan bahasa inggris secara kontinyu dalam keseharian, dimanapun kami berbicara dengan Bapak. "Ruh semangat untuk belajar dan terus belajar itulah yang kami rasakan ketika berada di dekat Pak Dirjen" dan mudah2an ini terpelihara terus dalam bidang apapun juga. Pak dirjen lah guru kami sebenarnya dalam setiap komunikasi di kantor:-) atau dimanapun. kebanggan juga bagi saya bisa mempraktekan terus salah satu bahasa dunia yang populer ini dengan 'salah satu alumni Universitas ternama di Amerika Serikat, dan wajar lah predikat "Guru bagi kami" tersandang pada beliau. " Kunci belajar Bahasa bagi kami adalah harus berani, tidak takut salah, dan harus diucapkan...dan dipraktekan tanpa itu sulit dlm pengembangan atau pembelajarannya. itulah yg kami lakukan: " Berani saja dan tanpa harus takut salah ketika belajar dan praktek keseharian english conversation dengan beliau:-),terimakasih Bapak atas tulisan yang Bapak buat..., kami merasa Bangga memiliki pemimpin seperti Bapak, dan kamipun banyak sekali belajar tentang hal apapun dari Bapak. Semoga kebaikan dan ilmu yang ditularkan Bapak kepada kami akan selalu diganti dengan kebaikan dari Allah SWT..amiin.
Reply
 
 
# MAME SADAFAL -- PA SIDOARJO 2011-12-20 08:54
Pengembangan dan peningkatan SDM aparatur PA idealnya dimulai dari pemimpinnya, dan ini telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh Bapak Dirjen dalam hal pengembangan kemampuan berbahasa asing. Upaya-upaya luhur Bapak Dirjen semoga senantiasa mengilhami seluruh aparat PA. Amin.
Reply
 
 
# nurmadi rasyid pa bengkulu 2011-12-20 08:59
kami optimisme jika disetiap pa itu ada yang memotovasi kegiatan serupa, sehingga kedepan para hakim dan pejabat pa sudah mampu menggunakan dua bahasa tersebut, sukses buat pak dirjen.
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA Kendari 2011-12-20 09:10
"Terserah Anda".Ujung tulisan pak WW ini sesungguhnya merupakan suplemen pemungkas dari berbagai suplemen yang telah diberikan sebelumnya kepada seluruh warga Pengadilan Agama untuk menjadi lebih baik,dan sekaligus mengingatkan kita kepada ungkapan lama"Every man is the architect of his own future".I think you are right.
Reply
 
 
# Asti PTA Jakarta 2011-12-20 09:25
Untuk Pak Rachmat: saya tinggal di Jakarta, bisa dong ikut EMC di Badilag, bagaimana caranya. Thanks infonya
Reply
 
 
# Rahmat Arijaya 2011-12-20 10:27
Hi Bu Asti..We are very pleased that you could attend our program. Please visit our English website, give your comment on it. Next month we will hold the program insya Allah and we hope you could participate it.
Reply
 
 
# Renni 2011-12-20 09:32
Sebagai pegawai honorer baru mendapatkan kesempatam untuk bisa bekerja langsung dan membantu dalam keseharian bapak di kantor saja itu merupakan suatu kebanggaan bagi saya, sebenarnya untuk mempraktekkan berbahasa asing dalam keseharian di kantor juga saya tauladani dari para senior-senior saya seperti pak Rahmat Arijaya (pak AJ, panggilan akrab saya kepada beliau), mas Hermanto & pak Cholil) karena mereka selalu ngomong Inggris dengan bapak dirjen atau dalam keseharian, dan dari mereka pula saya memberanikan diri berbicara langsung dengan bapak dirjen menggunakan bahasa inggris, walawpun pada awalnya dan sampai sekarang pun masih grogi kalau sedang berbicara dengan beliau.
& it’s “AWSOME” ketika mengetahui bahwa bapak menulis artikel tentang kami para staf-stafnya, & it is such an HONOR for me especially..
Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dari beliau selama saya bekerja membantu beliau, beliau memang sosok pemimpin yang sangat down to earth, humble, wise, disiplin. Panutan yang memberi inspirasi bagi yang lain. Thank you sir.. :-)
Reply
 
 
# Nanang MR @ Tj Redeb 2011-12-20 09:50
I give salute to Mr. Director General of Badilag who has succeeded in motivating his staff to develop their English skill in the office.
Reply
 
 
# M. Fadhly Ase 2011-12-20 09:55
Practice makes perfect.....
Go Badilag go......
Reply
 
 
# M. Fadhly Ase 2011-12-20 09:57
Practice makes perpect.....
Go Badilag go.....
Reply
 
 
# Rahmat Arijaya 2011-12-20 10:18
Saya merasa sangat beruntung dan bersyukur bertemu dan menjadi staf Pak Dirjen. Berkat ide-ide cemerlang beliau membentuk EMC, semangat dan motivasi saya kembali bergelora untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yang telah lama terkubur. Saat ini saya setiap hari belajar bahasa Inggris dengan mendengarkan podcast yang saya download di internet atau membaca artikel-artikel.

Benar kata Pak Hermanto, sesungguhnya Pak Dirjen lah guru bahasa Inggris kami di sini. Saya lebih salut dengan semangat dan kemauan beliau. Coba saja bayangkan, beliau yang sudah hampir berumur 60 tahun saja, selalu memiliki ide-ide kreatif dan inovatif untuk maju. Ya termasuk berbahasa Inggris di kantor. Sekali lagi terima kasih Pak Dirjen.
Reply
 
 
# HM. NASKA - pa.pekanbaru 2011-12-20 10:38
'KEPEMIMPINAN' di hampir semua level dan lini adalah krisis paling serius yang dihadapi bangsa kita hari ini. Seni kepemimpinan yg ditampilkan Pak WW sehingga mencapai hasil maksimal dan optimal, menurut saya paling tidak karena bbrp nilai utama : 1.ADANYA KETELADANAN 2.HIDUPNYA RASA MALU 3.TERPELIHARANYA IKATAN EMOSIONAL DISAMPING IKATAN STRUKTURAL 4.TIDAK TERLALU SADAR STATUS(desakralisasi jabatan) 5.STABILITAS KEIMANAN YG TERJAGA (smua adlh titipan belaka dan ada batasnya). Sahabatku, yuk kita coba ikuti dg serius. InsyaAllah BISA...
Reply
 
 
# Teddy-PA.Kotamobagu 2011-12-20 10:59
wah jadi tambah semangat tuk blajar nih pak..belajar kesederhanaan walaupun sudah jadi pejabat..belajar humanis walaupun sudah jadi atasan...salut buat pak dirjen..salam hangat dari cakim PA Kotamobagu
Reply
 
 
# asep saefudin pa kab.kediri 2011-12-20 11:09
وانا كنت بالسرور والفخر انه من العديد من الأ صدقاء الذين لديهم ابداع عالية فى اطار الجهود الرامية الى تعزيز كرامة القضاءفى اندونيسيا,وخاصة بالنسبةللمجد فى الكحاكم الدينية, ونأمل مع حزمة بقيادة المدير العام السيد د ر س. "وحيو ويديانا"القضاء العظيمة تتحقق قريبا. ونأمل فى الحصول على المساعدة ونعمة الله سبحانه وتعالى يرافقه
Reply
 
 
# rohimahpagrt 2011-12-20 11:15
kalau soal mendukung pk kami sangat setuju sekali karena hal positip semoga badilag terus jaya.
Reply
 
 
# HM. NASKA - pa.pekanbaru 2011-12-20 13:08
Semoga kedepan GERAKAN BERBAHASA ARAB DAN INGGERIS di jajaran MA-RI, khususnya Direktorat Jenderal Peradilan Agama akan menjadi PROGRAM UNGGULAN secara TERPOLA TERENCANA.
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2011-12-20 13:42
sesuatu yang mengagumkan, yaitu mengakui dan membenarkan kemampuan bawahannya, tidak takut tersaingi, bahkan memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bawahannya, sesuatu yang harus kita tauldani dari sifat tawadlonya Pak Dirjen, salut dan sukses selalu buat Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Eko Sugeng Priyanto 2011-12-20 14:01
wah, kadang saya malu jika harus berhadapan langsung dengan beliau, ketika beliau memerintahkan untuk membuat gambar, saya grogi, "harus berbahasa inggris atau berbahasa jawa" dalam hati saya bertanya. sementara bahasa inggris saya pasif, yang jelas saya senang dapat membantu pak dirjen walau hanya melalui coretan-coretan tangan saya.
Reply
 
 
# Anis PA Krs 2011-12-20 14:47
Kalo P.Dirjen aja dah memuji ke mahiran berbahasa para stafnya, maka tentu saja para staf itu memang benar-benar handal... Salut... bahasa adalah kunci membuka dunia. salam kenal buat P.Herman, P.Rahmat dan mbak Reni.. Teruslah menjadi penyemangat dan pendorong "rasa Malu" bukan hanya pada P.Dirjen tp juga pada kami... Thanks
Reply
 
 
# Sayuruddin Daulay/PA Stabat 2011-12-20 15:45
Saya kira kita semua mestinya mengikuti jejak beliau untuk berupaya menguasai ilmu alat bahasa baik Bahasa Inggiris atau Arab tanpa merasa malu belajar kepada siapa saja bahkan sekalipun kepada anak kita yang masih SD kalau dia mampu, sebab bahasa asing bukian bahasa ibu kita, wajar jika pada awalnya bahasa kita terbatah-batah, sama ketika kita dulu belajar bicara waktu kecil. Oke. Thanks for your attantion
Reply
 
 
# Djabir Sasole PA Ternate 2011-12-21 08:34
Itulah nikmatnya berada di dekat orang-orang yang punya inovasi yang kreatif. Lingkungan itu bisa membuat suatu budaya jika orang-orangnya punya kemauan dan keinginan untuk maju. Mari ciptakan lingkungan yang berbudaya. Apa yang kini dikembangkan di Badilag sangat mungkin diadopsi di daerah. Kreasi, perhatian dan dukungan pimpinan juga sangat menentukan. fastabiqul khaerat
Reply
 
 
# misran pa-medan 2011-12-21 08:54
Tidak ada rumus putus asa untuk menggapai sesuatu, termasuk menggapai berbahasa inggris, belajar dan coba terus dengan modal tanpa malu
Reply
 
 
# Ali Mhtrm @PA-Tj. Redeb 2011-12-21 09:02
It is good idea and inspiration for us. I'll try to practice my English.
Thank you very much.. Mr Wahyu...! Good luck Badilag...
Reply
 
 
# Rahmat Arijaya 2011-12-21 13:15
Thank you very much for your comment Mr. Ali. Please visit our English website at http://www.badilag.net/english/. It will be very beneficial for you.
Reply
 
 
# M.ROISAR PAKDR 2011-12-21 09:48
By this training, we hope all participants will be able to spread their knowledge to others.
Reply
 
 
# Siti Salbiah PA Subang 2011-12-21 11:03
Saya jadi makin malu sama diri sendiri pak...
saya yang terlanjur merasa termakan sumpah yang diucapkan setiap tanggal 28 Oktober waktu sekolah dulu, jadi gak mahir-mahir berbahasa inggris maupun arab, padahal saya ingin sekali bisa.
semoga saja setelah membaca artikel bapak ada teman seruangan yang mau menemani saya mengikuti kiat bapak n staf :-)
Reply
 
 
# Itna-PA.Gs 2011-12-21 11:31
Bangga sekali dg Pak Dirjen...tdk ada hentinya memberi motivasi baik langsung maupun tdk langsung kepada seluruh jajaran PA..untuk lebih maju dan berkualitas dalam kinerjanya...Sukses buat Pak Dirjen krn dg Bahasa kita bisa menjelajah Dunia...
Reply
 
 
# Iskhaq hk PA pekalongan 2011-12-21 14:16
Bahasa adalah merupakan kunci untuk membuka ilmu atau cakrawala komunikasi yang lebih luas namun tatkala kita belajar dan menghadapi kendala biasanya langsung mlempem, kalau sudah begini tinggal malunya namun tiada kata terlambat insya Allah pak Dirjen kami akan tetap berusaha sampai dapat.
Reply
 
 
# Tatang Std PA Smrda 2011-12-21 15:13
Istiqamah kunci sukses dalam segala hal..... Selamat dan Sikses selalu buat Yth. bapak Dirjen
Reply
 
 
# nyong amboina 2011-12-21 17:34
Beta makin tercengang sehingga tidak ada lagi kata kata yang keluar dari mulut beta. Rasa kanggaku kepada pak Wahyu menjadi jadi. Hatiku berbisik Alhamdulillahi Rabbil Alamin ... Sembari menadahkan tanganku memanjatkan doa Ya Allah berkahilah segala usaha yang telah dipejuangkan oleh pak Wahyu dengan suatu perencanaan ( bukan kebetulan ) demi memajukan peradialan Agama "Islam".
Reply
 
 
# darmansyah PA Tarutung 2011-12-21 18:25
Saya termasuk orang yang sulit bisa berbahasa asing....
ketika sy mencoba berbahasa Ingris, sering keluar bhs arab, dan ketika sy coba bahsa arab terjadi juga sebaliknya..(keluar bhs Inggris)
tolong pak Dirjen beri saya resep jitu....
Reply
 
 
# Zulkifli Siregar, Kabanjahe 2011-12-22 08:19
Where there is a will there is a way.
Reply
 
 
# Drs. Lisman,SH,MH PA. Tebing Tinggi Medan 2011-12-28 10:57
Alham dulilah bapak Dirjen .lebih bagus malu karena tidak tahu dari pada pura2 mengetahui, semoga dapat kami ambil sebagai alat memicu keberhasilan Pengadilan agama masa depan.amiin
Reply
 
 
# Agus Triyogo - PA. Jakut 2012-02-15 09:09
That's a better way to take a li'l pushed in learning something. We should appreciate for everyone who try to "give" us something different than ussualy. Isn't it ? Congratulation , Sir ! You've got your own daily Sparing....ooopss! I mean Learning Partner...hehehe. I hope we'll follows your way too. Wassalam.
Reply
 
 
# Bintang Alvita Wahyuningtyas - Pusdiklat Menpim 2012-02-22 13:41
we would be very pleased if we get invited on the next EMC as an english translator.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1744 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS