Senin, 21 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Hakim PA Angkatan IV | (21/5)
BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




Jadilah “Pemalu”, Tapi Tidak Bikin Malu | (24/1/2012) PDF Cetak E-mail
Selasa, 24 Januari 2012 09:06

 

Jadilah “Pemalu”, Tapi Tidak Bikin Malu

*

Tiga hari perjalanan saya ke wilayah Lampung di medio Januari 2012 ini sungguh sangat menyenangkan. Bukan hanya sangat senang, tapi juga sangat puas.

Yang membuat senang dan puas adalah jadwal padat, perjalanan jauh, banyak pengadilan yang sempat dikunjungi, banyak ketemu dan mendengar suara kawan-kawan di PA, sempat mampir ke PN, dan sempat pula ngobrol dengan petugas Posbakum dan bahkan dengan pencari keadilan. Ditambah lagi, bisa bicara dan dialog dengan semua pimpinan PTA dan PA se provinsi serta para hakim tinggi, dalam forum Rakerda di Bandar Lampung.

**

Selasa (17 Jan) sebelum pukul 4.00 pagi, saya dan isteri sudah bangun. Berkemas, lalu pergi ke  Cengkareng mengejar Garuda yang berangkat ke Bandar Lampung pukul 6.20.  Keberangkatan agak terlambat, sehingga sampai di Bandar Lampung pukul 8 lebih.

Kawan-kawan dari PTA sudah menunggu di Bandara. Langsung saya dibawa ke PA Kalianda, Lampung Selatan dengan perjalanan sekitar 2 jam. Di sana ada acara peresmian Mushola dan melihat sistem pelayanan yang dikenal dengan istilah “one stop service”. Selesai acara di Kalianda, lalu berangkat menuju Liwa lewat Lampung Utara, mampir di PA Gunung Sugih. Sampai di penginapan di Danau Ranau, Liwa, pukul 10, langsung ramah tamah. Lebih tengah malam baru bisa tidur.

Esoknya, hari Rabu, sekitar pukul 9, setelah sejenak berendam kaki di air panas di seberang danau yang indah itu, rombongan menuju PA Liwa, meresmikan musholla dan pertemuan. Sempat pula mampir di PN Liwa, jumpa Ketua PN dan melihat-lihat suasana kantornya. Siangnya, rombongan berangkat menuju PA Kotabumi, melihat-lihat suasana kantor dan sistem pelayanannya. Setelah dialog dalam suatu pertemuan, rombongan menuju Bandar Lampung. Tiba pukul 20 lebih, istirahat sejenak, lalu membuka Rakerda dan mengisi diskusi. Lagi, baru bisa tidur setelah pukul 12 malam.

Hari Kamis pagi, ada waktu untuk berleha-leha sebentar di hotel. Sementara Rakerda berlangsung, saya minta diantar untuk keluar hotel, alasan untuk jalan-jalan melihat kota. Lalu saya minta supir secara diam-diam untuk menuju PA Tanjung Karang. Sengaja saya tidak memberi tahu kawan-kawan di PA Tanjung Karang sebelumnya. Saya ingin melihat keadaan dan pelayanan di PA apa adanya. Sekitar pukul 2 saya kembali ke Jakarta dengan rasa senang, dan langsung menuju Cisarua untuk membahas bahan Laporan Tahunan MA-RI, bersama para eselon I dan Pak Tuada Pembinaan.

Cape, memang. Perjalanan ratusan kilometer lewat darat cukup membosankan. Tapi rasa cape dan bosan, berjam-jam di dalam mobil, hilang begitu bertemu dengan seluruh hakim dan aparat di PA yang dikunjungi. Mereka dengan antusias, ramah dan penuh kekeluargaan menyambut saya dan rombongan. Saya senang bukan karena merasa dielu-elukan, namun karena begitu besarnya perhatian mereka kepada Dirjennya. Mereka nampak ingin mendengar  apa yang akan disampaikan saya, ingin dilihat suasana kantor dan pelayanannya, sekaligus ingin didengar juga masukannya, curhatnya dan bahkan keluhannya.

Mereka, terutama di daerah “terpencil” seperti Liwa, sangat mengharapkan dikunjungi oleh para pimpinannya, baik yang dari provinsi maupun Jakarta. Sekretaris Daerah yang mengatas namakan Bupati dan pimpinan daerah di Liwa, ketika menyambut kedatangan saya di PA Liwa mengatakan bahwa selama melaksanakan tugasnya beberapa tahun ini baru kali ini kedatangan seorang Dirjen.

***

Banyak hasil yang saya peroleh dari perjalanan ini. Banyak kreasi yang saya lihat, yang dilakukan kawan-kawan di daerah dalam melakukan pelayanan kepada pencari keadilan. Apa yang saya lihat dan apa yang  terjadi di PA Kalianda, PA Gunung Sugih, PA Liwa, PA Kotabumi dan PA Tanjung Karang banyak menginspirasi saya dalam melakukan pembinaan peradilan agama se Indonesia.

Yang pertama,  saya merasakan betapa kekeluargaan di kalangan peradilan agama begitu tinggi. Mereka nampak senang begitu saya tiba di suatu PA, walaupun kadang terlambat karena perjalanan jauh. Rasa kekeluargaan dan  persaudaraan yang tinggi akan menimbulkan soliditas yang tinggi pula. Dan ini, merupakan modal utama dalam melaksanakan tugas kita sehari-hari.

Kesan lainnya yang saya rasakan adalah sampainya pesan-pesan atau kebijakan Badilag kepada mereka. Walaupun tidak 100%, tapi saya menangkap mayoritas pesan itu sampai dan difahami mereka. Mereka, bahkan nampak sudah merasa akrab dengan saya, walaupun mungkin baru pertama kali jumpa. Saya yakin mereka selalu membuka badilag.net, sehingga “akrab” dengan saya dan mengenal program-program badilag.

Sampainya pesan-pesan Badilag, terlihat dari adanya upaya untuk melaksanakan “one stop service”, pelayanan meja informasi, sistem penerimaan tamu dan pencari keadilan, pengembangan website, SIADPA, SIMPEG dan program-program prioritas reformasi lainnya.

Saya juga sering bicara dengan menyelipkan kata, istilah atau ceritera yang populer disebutkan pada badilag.net, baik pada kolom berita, pojok dirjen atau suara pembaca. Ketika saya nyinggung soal “baso”, “pamer miskin”, bicara di Kejagung, “kado tahun baru” dan lainnya, mereka nyambung bahkan nampak tersenyum, tanda merekapun mengikutinya melalui badilag.net.  Bahkan seringkali mereka nyeletuk atau komentar sedikit panjang tentang isu-isu yang dipublikasikan melalui badilag.net itu.

Ini jelas membuat saya senang. Dan ini menggambarkan bahwa komunikasi kita berjalan dengan baik. Kini, kita tinggal meningkatkan intensitas komunikasi tersebut, misal dengan cara memberikan komentar atau masukan dari kawan-kawan di daerah terhadap kebijakan yang dimuat di Badilag.net. Atau, komentar dan masukan dari kawan-kawan di Badilag sesuai tupoksinya masing-masing terhadap apa yang dikerjakan di daerah. Komentar itu bisa melalui situs badilag.net atau situs masing-masing PA. Tidak kurang pentingnya adalah konsistensi dan perhatian para pimpinan.

Hal lain yang saya senangi dari kunjungan ini adalah munculnya banyak kreasi yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan. Di PA-PA yang saya kunjungi, misalnya, saya selalu melihat adanya penyediaan air minum gratis bagi para pencari keadilan. Air minum itu ada yang disajikan pada galon dengan  gelas-gelas bersihnya. Namun ada pula yang disajikan dalam kemasan gelas-gelas kecil.

Selain air minum gratis, di banyak PA yang saya kunjungi, saya melihat ada sajian permen-permen di meja-meja pelayanan.  Ini bukan main. Hal kecil tapi sangat signifikan dalam upaya pelayanan. Nampak seperti pelayanan di resepsionis hotel atau konter bank.

Ketika saya tanya apakah air minum dan permen itu disajikan karena ada kunjungan Dirjen. Sudah pasti mereka jawab tidak. “Kami sehari-hari seperti ini Pak”, kata mereka. Alhamdulillah. Memang harus demikian. Saya katakan, kita harus mulai dari hal-hal yang kecil lalu meningkat dan meningkat.

Kreasi lainnya dalam peningkatan pelayanan adalah adanya tulisan-tulisan yang indah, mencolok dan mudah dibaca oleh para pencari keadilan, yang ditempel di dinding-dinding kantor.  Tulisan-tulisan itu semuanya mengarah kepada peningkatan transparansi, pelayanan dan penghindaran terhadap upaya penyelewengan, baik yang dilakukan oleh para pencari keadilan maupun aparat pengadilan. Bukan main.

***

Di antara tulisan indah dan mudah terbaca oleh para pencari keadilan, atau oleh siapa saja yang datang ke PA adalah pamlet yang berjudul “10 Budaya Malu”.  Ini saya lihat, antara lain di PA Gunung Sugih. Konon “10 Budaya Malu” ini kini sedang dibudayakan di wilayah PTA Bandar Lampung yang mewilayahi 9 PA.

Coba kita simak “10 Budaya Malu” ini: (1) Malu Datang Terlambat, (2) Malu Tidak Ikut Apel, (3) Malu Pulang Lebih Awal, (4) Malu Tidak Masuk Kerja, (5) Malu Sering Izin (6) Malu Bekerja Tidak Terprogram/Asal-asalan, (7) Malu Pekerjaan Terbengkalai, (8) Malu Bekerja Tanpa Pertanggungan Jawab, (9) Malu Tugas-tugas Pokok Tidak Dikerjakan, (10) Malu Tak Bertata Krama dan Tidak Sopan Santun.

Subhanalloh. Bagus sekali substansi pamlet ini. Jika 10 hal tersebut dilaksanakan dengan baik oleh seluruh aparat peradilan agama, maka insya Allah tugas pokok peradilan agama akan dapat dilaksanakan dengan baik dan pelayanan kepada pencari keadilan akan dijamin memuaskan.

Saya berpikir, di zaman seperti sekarang, di mana banyak hal yang memalukan sudah tidak dianggap malu lagi, hal-hal tabu sudah tidak menjadi tabu lagi, aparat dan masyarakat sudah sangat “permissive”, maka budaya malu haruslah dikembangkan. Di zaman sekarang, pembudayaan rasa malu haruslah kembali digalakkan. Makanya saya salut kepada kawan-kawan di Lampung, terutama Gunung Sugih ini.

Tidak apa-apa, kita dianggap “pemalu” juga. Bukankah malu itu bagian dari iman? Bukankah menjadi pemalu tidak melaksanakan hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya adalah hal yang baik? Saya setuju sekali dalam hal ini. Makanya, ayo kita ramai-ramai untuk menjadi “pemalu”.

Namun demikian, janganlah kita menjadi “pemalu”, tapi masih sering kali kita melakukan hal-hal yang memalukan.  Misal, kita masih menyampaikan panggilan di kantor kita namun masih membebani para pihak dengan biaya panggilan, kita masih terlambat dalam memberikan salinan putusan atau akte cerai, kita masih tidak memberikan sisa uang panjar, kita masih melakukan pungutan liar, kita masih “gaptek”, kita –apalagi pimpinan- masih belum bisa membuka internet, kita masih belum tahu atau belum faham SIADPA dan sebagainya.

Memang “10 Budaya Malu” itu sudah bagus, hanya mungkin perlu ditambah atau lebih dipertajam dengan, misalnya, “Malu Melakukan Penyelewengan Sekecil Apapun” dan “Malu Gagap Teknologi”.

Saya tidak berpretensi bahwa kawan-kawan di wilayah Lampung atau di manapun di Indonesia masih suka melakukan penyelewengan atau tidak peduli terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi. Namun saya juga merasa bahwa penyelewengan yang dilakukan oknum itu mungkin masih ada walaupun dalam skala yang tidak besar. Saya juga yakin, masih banyak aparat, bahkan pimpinan pengadilan, yang tidak begitu peduli terhadap pemanfaatan Teknologi. Mereka merasa urusan TI adalah urusan tehnis operator komputer.

Oleh karena itu, dengan dibudayakannya "malu melakukan penyelewengan" dan "malu gaptek”, ditambah monitoring yang konsisten dari para pimpinannya, insya Allah visi kita: “Terciptanya Peradilan Yang Agung” akan segera tercapai.

 

Dengan demikian, marilah kita jadi “pemalu”, tapi jangan lupa, kita tidak boleh “memalukan”. (WW).

 

TanggalViewsComments
Total128287
Sen. 2110
Ming. 2020
Sab. 1930
Kam. 1710
Rab. 1610
Sel. 1520
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# ABY 2012-01-24 09:36
"Al-hayaau minal i'eman",rujukan substansi bagian dari kehidupan kita semua untuk mengelola hidup ini dari segala aktivitas duniawi dan ukhrowi.
Reply
 
 
# endang m, pta mataram 2012-01-24 10:34
Tak usah malu untuk memulai belajar TI, tak usah minder karena gaptek, tapi mulailah dari sekarang, dan mulailah dari diri kita sendiri untuk segera menjadi melek teknologi dlm rangka pengabdian thd umat.....
Reply
 
 
# Subai PA. Tsm 2012-01-24 10:35
saya menambahkan satu lagi "malu menjadi calo perkara" walaupun dengan dalih menolong orang...terima kasih..
Reply
 
 
# Atiqoh-PA.Probolinggo 2012-01-24 10:37
Malu yang bermanfaat dan membangun.....
Reply
 
 
# Herman Hasyim 2012-01-24 10:38
Sebuah reportase perjalanan yang asyik dibaca dan inspiratif. Meski mengalun dengan nada datar, pesan moral tulisan ini begitu nyaring.

Good job, Sir!
Reply
 
 
# Syafii Thoyib, PA Bantul 2012-01-24 10:48
Malu merupakan akhlak mulia yang selalu mendorong seseorang untuk meninggalkan segala bentuk keburukan dan melanggar hak orang lain, banyak hadist yang menyebutkan tentang itu, salah satunya seperti sabda Rasulullah Shallallahi Alaihi wa Sallam “Malu itu tidak datang melainkan dengan kebaikan” (Muttafaqun Alaih)

Read more: http://blogmediarobbani.blogspot.com/2011/10/kenapa-harus-memiliki-rasa-malu.html#ixzz1kLNGPFRu
Reply
 
 
# Ibrahim Lubis 2012-01-24 10:50
:-) kiat..kiat menuju profesionalisme yg sebenarnya..diinventarisir saja pk..kmdian diwujudkan dlm bentuk sistem
Reply
 
 
# Alamsyah PA Sengeti 2012-01-24 10:50
Ya sebenarnya kalau orang memaknai malu secara benar dalam hidupnya....maka akan lebih mudah ia berjalan lurus dan tidak membuat keruwetan disekitarnya
Reply
 
 
# Senang Palu 2012-01-24 10:52
Alangkah senangnya tamu dan pencari keadilan kalau setiap PA menyiapkan air galon gratis ditempat yang tepat,khususnya hari2 sidang.Pansek atau bidang pengadaan sebaiknya memperhatikan hal ini dan menjaga keamanan dan kebersihannya.
Reply
 
 
# Fahrurrozi Zawawi 2012-01-24 10:53
Sependapat dg Pak Dirjen. Sebagai aparatur Pengadilan Agama, seharusnya kita malu untuk mengambil uang yang bukan hak kita. Mungkin Bawas atau KY tidak tahu, tapi tidakkah kita sadar bahwa Tuhan selalu mengawasi gerak-gerik kita. Terkadang saya melihat seolah-olah Pak Dirjen hidup di satu bukit dan pejabat-pejabat PA lainnya (tentu tidak semuanya) berada di bukit yang lain.
Reply
 
 
# Asti PTA Jakarta 2012-01-24 10:53
Hasil kunjungan Pak Dirjen yang membuahkan hikmah dan langsung dibagikan kepada seluruh warga peradilan. Terima kasih Pak. 10 Budaya Malu dari Gunung Sugih untuk warga PA se-Indonesia.
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2012-01-24 10:57
“Malu Melakukan Penyelewengan Sekecil Apapun” dan “Malu Gagap Teknologi”. mudah-mudahan kalimat ini bisa dijadikan motto untuk tetap semangat berkreasi, sehingga tidak ketinggalan untuk berbuat baik dan benar. juga untuk mengembangkan bakat-bakat terpendam. kalau bukan sekarang mau kapan lagi kita berinovasi. jangan malu untuk mengambangkan kemampuan dan kemauan yang ada. jangan malu mendukung dan mengarahkan kawan-kawan yang punya potensi.
Reply
 
 
# Asni Falah PTA BDL 2012-01-24 11:03
memang benar datangnya pak Dirjen membawa angin segar dan motivasi tinggi bagi aparat di daerah, meski hal itu membuat pak Dirjen menjadi capek. Alhamdulillah pesan via badilag.net semakin efektif dan lancar, masalahnya budaya menulis cepat(komentar) masih terdapat kendala. Insya Allah kita semakin solid untuk menjadikan peradilan agama sebagai peradilan Islam yang Islami.
Reply
 
 
# dini-lampung 2012-01-24 11:40
ada redaksi yang kurang enak dari berita ini yaitu masih adanya penyelewengan walau pun skalanya kecil. yang saya takutkan penyelewangan itu atas sepengetahuan pimpinan dan adanya pembiaran karena adanya interes...naudzubillah.
Reply
 
 
# Adli MR 2012-01-24 20:49
Setuju agar penyelewengan skala kecilpun tidak boleh ditolerir, apalagi atas sepengetahuan pimpinan atau adanya pembiaran. Na'udzubillah.
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jayapura 2012-01-24 11:17
Pak Dirjen.., ada ya, pamflet seperti itu (10 Budaya Malu )di PA...!? Wah hebat, luar biasa. Amat patut untuk dicontoh, karena budaya malu ini sudah mulai gersang di tengah masyarakat kita. Setahu kita, dulu kucing kalau mau buang hajat dia menjauh/memojok, digalinya tanah, setelah selesai ditimbunnya lagi tempat itu, lalu diciumnya kalau2 masih tercium baunya. Tapi kini sikap kucing telah berubah sudah tidak punya malu lagi. Mungkinkah insan peradilan akan bersaing dengan sikap si-meong yang sudah tidak punya malu...!???
Reply
 
 
# Mukti Ali-PA Bks 2012-01-24 11:30
"marilah kita jadi “pemalu”, tapi jangan lupa, kita tidak boleh “memalukan” pesan moral dari pak Dirjen yang sarat dengan makna,.. ini kita terapkan, insya Allah tugas pokok peradilan agama akan dapat dilaksanakan dengan baik dan pelayanan kepada pencari keadilan akan dijamin memuaskan...
Reply
 
 
# H. Abd.Rasyid A., MH. PA-Mojokerto 2012-01-24 11:33
Mengelola "Malu" dengan baik akan menjadi energi untuk meraih kesuksesan. Ketika kita malu tertinggal, maka kita akan berusaha untuk maju. Kalau kita malu bodoh, maka kita akan berusaha untuk pinter. Malu Gaptek, maka kita akan berusaha sedikit demi sedikit untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi. Karena itulah, tidak heran kalau Nabi pernah bersabda : "Al-Haya'u syu'batun mninal Iman". Rasa malu itu adalah cabang dari Imam. Semoga kunjungan P. Dirjen Badilag ke beberapa PA ci Porovinsi Lampung akan menjadi penyemangat kepada yg dikunjungi untuk terus bersemangat untuk maju...
Reply
 
 
# AFIF 2012-01-24 11:42
Terima kasih atas pesan yang tersirat pada tulisan PAK DIRJEN ini, semoga bisa menjadikan perbaikan kami dalam menjalankan tupoksi di Peradilan Agama.
Maju Terus Peradilan Agama....
Reply
 
 
# Alimuddin M. Mataram 2012-01-24 11:44
saya tambahkan: jangan suka mempermalukan orang. sebenarnya kalau kita sudah mengamalkan bahwa malu bagian dari iman, maka bukan terhadap yang 10 itu saja yang malu kita melakukannya, tetapi terhadap semua bentuk pelanggaran aturan positif maupun aturan agama.
Reply
 
 
# A.Saprudin@PAME 2012-01-24 11:57
Apa yg dilakukan Pak Dirjen di wilayah Bandar Lampung merupakan model dan ciri khasnya saat melakukan kunjungan ke beberapa daerah lain di Indonesia, setidaknya ingin melihat secara langsung gambaran yang sebenarnya mengenai kondisi Pengadilan Agama di daerah, sehingga bisa menjadi masukan dan kesan yang begitu berarti dalam menjalan tugas dan kewenangan yang diembannya juga menjadi motivasi bagi aparat PA di selindo.... Bravo Pak Dirjen.... ;-)
Reply
 
 
# Nursal-PA Muara Bungo 2012-01-24 11:57
memang , sifat malu perlu dibudayakan, apabila tidak ada malu lagi, maka orang bisa berbuat semaunya
Reply
 
 
# Asyrof - PA Manna 2012-01-24 12:04
Setuju dengan pak Dirjen, "Malu kalo gaptek" menjadi sangat penting sekarang ini, sehingga diharapkan ada pengarahan-pengarahan dari pak Dirjen secara langsung terhadap Pimpinan PA yang "awareless" terhadap IT (ay SIADPA), karena kurang tegasnya kebijakan pimpinan berkenaan dengan IT sangat mempengaruhi perjalanan pelayanan publik di satkernya... Bisa-bisa pegawai seperti robot yang bekerja hanya sesuai program, tapi baterai tidak pernah di"charge" dengan perhatian pimpinan, akhirnya... berhenti.
Reply
 
 
# itna- PA.Gng Sugih 2012-01-24 12:05
Alahamdulillag...senang skali rasanya mendapat apresiasi yg tulus n bermotivasi Pak Dirjen pada kunjungan di PA Gunung Sugih, InsyaAllah kami akan terus berusaha menjadi lebih baik n apa yg menjadi saran bapak akan kami tindak lanjuti....trimakasih n semoga bapak slalu sehat serta dalam Lindungan Allah SWT...amiiiin..
Reply
 
 
# h.masruri, plk 2012-01-24 12:23
Saya sangat setuju bahwa budaya malu haruslah dikembangkan, rasa malu haruslah kembali digalakkan zaman sekarang , di mana banyak hal yang memalukan sudah tidak dianggap malu lagi, hal-hal tabu sudah tidak menjadi tabu lagi, aparat dan masyarakat sudah sangat “permissive”, sangat strategis bila PA yang memulainya dan mengembangkannya, sukses Badilag.
Reply
 
 
# Chrisnayeti, Badilag 2012-01-24 12:44
Pak..PA memang sangat senang dan bangga bila didatangi teman-teman Badilag karena mereka bisa dengar informasi dan curhat secara langsung, apa lagi Dirjen yang datang wah....bisa sampaikan sesuatu langsung ke tempat yang tepat. Sikap budaya malu kayanya harus dipupuk dan disirami lagi agar bisa berakar dan tumbuh subur pada keluarga Peradilan Agama dalam jalankan tugas dan menjadi contoh Peradilan lainnya. Yo rame-rame tumbuhkan rasa malu yang bukan malu-maluin.
Reply
 
 
# Masrinedi- PA.Painan 2012-01-24 13:02
"Alhayaau minal iman."
Semoga rasa malu tetap bersemayam di hati masing-masing kita pegawai Badilag, terlebih malu kepada Sang Pencipta Alah SWT yang telah banyak memberikan rezki kepada kita termasuk yang namanya REMUNERASI. Malu sama Allah yang terutama kita dahulukan, Insya Allah malu kepada yang lain yang tidak sesuai dengan koridor semoga mengikut. Amin !
Reply
 
 
# Hardini Tawangsari 2012-01-24 13:03
Terbiasa punya rasa malu dan denger 10 budaya malu setiap apel semoga membuat saya semakin malu kepada Allah jika melakukan hal-hal yang tidak semestinya.
Reply
 
 
# umi 2012-01-24 13:09
Budaya malu perlu dikembangkan, apalagi malu sebahagian dari Iman.Salut untuk pak Dirjen walaupun lelah tetap bersemangat
Reply
 
 
# Muh.Alwi PA.Kendari 2012-01-24 13:13
malu bertanya sesat dijalan, pepatah itu memberi pelajaran kepada kita bahwa kita harus melakukan perubahan sikap kalau tidak mau tersesat, hal itu juga bermakna bahwa dalam era IT yg dilakukan Badilag, maka jangan kita malu untuk mencontoh PA-PA yg lebih dahulu maju ITnya, amin
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jayapura 2012-01-24 13:15
Asni Falah BDL nama aslinya Dr. H. Ahmad Fathoni, SH., MH, adalah sahabat saya ketika di Kalimantan Barat dulu. Saya ingin memiliki nomor kontaknya dan ingin membaca disertasinya. Bisakah saya dibantu?
Reply
 
 
# Ibrahim Ahmad Harun-PA Masohi 2012-01-24 13:27
Tidak apa-apa, kita dianggap “pemalu” juga. Bukankah malu itu bagian dari iman? Bukankah menjadi pemalu tidak melaksanakan hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya adalah hal yang baik? Saya setuju sekali dalam hal ini. Makanya, ayo kita ramai-ramai untuk menjadi “pemalu”.
Sangat setuju.................
Reply
 
 
# Mame Sadafal - PA sidoarjo 2012-01-24 13:36
Malu sebagai pendorong bagi warga Pengadilan Agama untuk lebih bekerja secara profesional. sehingga semua bentuk pelayanan tehradap para pencari keadilan tidak ada yang terbengkalai dan tertunda. sebab semua warga Pengailan Agama bekerja atas dasar iman, karena malu adalah sebagian dari iman
Reply
 
 
# Bunda _ Bitung 2012-01-24 13:50
10 budaya malu, Moga bisa jd acuan buat PA2 lain... Malu & gak malu2in...
Reply
 
 
# Mangudin PA Krui 2012-01-24 14:00
Ya Allah Ya Rabb smg warga peradilan agama termasuk org2 yg mempunyai budaya malu dan tdk malu2in. Amin
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA Kendari 2012-01-24 14:02
Setuju pak.Sekecil apapun bentuknya tulisan yang mengandung ajakan untuk berbuat baik seperti ajakan untuk menjadi pemalu dalam arti positif (tidak malau-malui)perlu ditumbuh-suburkan dikalangan warga PA.Semoga rasa malu itu tdk ternodai hanya dengan kepentigan2 sesaat.Kunjungan pak Dirjen ke daerah memberi manfaat timbal balik,diteruskan pak Dirjen kunjungannya...
Reply
 
 
# dewi oke. pa.kla 2012-01-24 14:21
Alhamdulillah pak DirJen... kamipun di kalianda merasa senang dng kedatangan bpk kmrn.. smg kami selaku aparat peradilan bisa menjalankan tugas2 kami dng lebih baik dihari2 mendatang yg lebih utama lagi smg kami di daerah memang benar2 Pemalu bukan bikin malu.... amien...
Reply
 
 
# Firdawati .PA t.Bawang 2012-01-24 14:23
Setuju Pak Dirjen....Harus malu dan wajib malu kalau masih mengambil yang bukan hak kita,...semoga kita semua terhindar dari dosa yg kecil sampai..................;
Reply
 
 
# ISMAIL. PA Batusangkar 2012-01-24 14:33
الاحياء من الايمان.....barang kali itulah yang dimaksudkan pak dirjen ketika mendeskripsikan perjalanan beliau saat mengunjungi daerah-daerah...smoga menjadi motivator buat jajaran PA didaerah....
Reply
 
 
# Erlan Naofal-PA.Sidikalang 2012-01-24 14:52
Malu untuk kebaikan adalah baik. malu untuk berbuat baik itu tidak baik. Malu untuk melakukan yang tidak baik adalah baik. Malu baik-baik juga tidak baik. Pandai-pandailah menggunakan rasa malu supaya malu bermanfaat dan bernilai ibadah. 10 budaya malu akan coba disosialisasikan di PA. Sidikalang. Njuah-njuah kita karina.
Reply
 
 
# nawa 2012-01-24 15:12
However, the director will always know what the actors have done behind the scene. Go ahead Sir...
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya 2012-01-24 20:34
Wah benar pak dirjen, selama bapak genjot, PA semakin harum dan berwibawa, sudah ditunjang dengan gedung yang megah, pelayanan ramah, apalagi ada cemilan dan minuman, insya Allah semakin maju, namun itu masih ada pencari keadilan yang merasa lembat dengan pelayanan kita, karena segelintir orang yang acuh, karena itu budaya malu perlu ditularkan, dan kinerja juga seyogyanya seperti di bank, belum tuntas pekerjaan hari itu, jangan dulu pulang biar sampai subuh, mudah-mudahan mendorong untuk naik gaji, remun dan PJN Amiin !
Reply
 
 
# yanto PTA Jogya 2012-01-24 20:41
Marilah kita dukung Ide yang sangat baik dari PA Gunung Sugih dengan mensosialisasikan 10 budaya malu dilingkungan warga peradilan agama di Bandar Lampung.Dengan menambahkan saran pak Dirjen malu untuk melakukan penyelewengan dan malu gaptek.Dan kita juga tidak perlu malu untuk membudayakan ide tersebut dilingkungan masing-masing untuk terwujudnya peradilan yang agung
Reply
 
 
# M.Daud PA Negara Kalsel 2012-01-24 21:29
Apakah masih PA yang memanggil pihak di tempat?, tdk mengembalikan sisa panjar ? segeralah bertobat dan kembalilah ke jalan yang lurus, karena kata orang Manado "jang bekeng malu doe"
Reply
 
 
# lukman PA Takalar 2012-01-24 22:51
Sangat setuju jika Pak Dirjen melalukan Sidak dalam kunjungan ke daerah dan tidak menyebutkan pa mana yg akan dikunjungi dalam satu PTA agar meminimalisir pekerjaan malu yaitu mugkin masih adanya pimpinan yg gaptek dan tidak paham Siadpa sehingga jangan hanya berpacu ketika ada lomba setelah itu dingin lagi.
Reply
 
 
# Misbah-PA.Purwakarta 2012-01-25 05:43
Tidak dipungkiri budaya "memalukan" seperti pungli, sisa panjar tidak dikembalikan dengan berbagai alasan, menaikan PNBP pengambilan Akta Cerai, dll. masih ada di daerah, tapi kita harus optimis dan berusaha sekuat tenaga untuk memusnahkannya, demi menuju Pengadilan Agama sebagai Peradilan yang AGUNG.
Reply
 
 
# Djabir Sasole PA Ternate 2012-01-25 06:56
Memang betul...rasa malu itu harus mendarah daging di setiap diri kita. Tidak adanya rasa malu, membuat orang seenaknya keluar dari rel.Apalagi jika tidak malu dan takut kepada YME. Seyogyanya setiap PA membuat "instrumen pengingat" untuk malu, agar kita tidak suenaknya memperbesar kemaluan... (maksudnya...rasa malu). he he
Reply
 
 
# Tatang Std PA Smrda 2012-01-25 07:12
Malu itu merupakan kekuatan preventif (pencegahan) guna menghindarkan diri dalam kehinaan atau terulangnya kesalahan serupa. Akan tetapi, rasa malu itu bisa luntur dan pudar, hingga akhirnya lenyap (mati) karena berbagai sebab. Jika malu sudah mati dalam diri seseorang, berarti sudah tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan dari dirinya. Ibarat kendaraan, remnya sudah blong atau tidak dapat berfungsi lagi. "Jika engkau tidak tahu malu lagi, perbuatlah apa saja yang engkau kehendaki." (HR Bukhari dan Muslim).
Reply
 
 
# Ali Mhtrm @PA- Tj. Redeb 2012-01-25 08:35
Menggunakan istilah "Malu", dalam sebuah larangan; jelas lebih menyentuh ke lubuk hati yang terdalam daripada menggunakan kata-kata larangan langsung. Sehingga meninggalkan kebiasaan karena malu, lebih baik dari pada karena takut.

Badingkan:
Istilah "Malu Datang Terlambat", lebih enak daripada menggunakan istilah "Jangan Datang Terlambat..!".
Istilah "Malu Tidak Ikut Apel", lebih ke hati dari pada istilah, "Wajib Ikut Apel..!" dan seterusnya.

Terima Kasih...
Reply
 
 
# # Zaenal Badilag 2012-01-25 08:40
sami'na wa ato'na,,atas apa yg disampaikan pak dirjen dlm tulisan diatas, bahwa betul skali kita hars tanamkn didlm diri kita dan seluruh warga peradilan budaya malu dalam hal yg buruk(tercela) walau sekecil apapun namun kita jngn pernah jadi pemalu dlm hal yg baik(terpuji) apalagi untuk kemajuan lembaga kita kita tercinta,,memang ini sngt mdh untuk di ucap tp sngt sulit untuk direalisasikan,,untuk itu marilah kita mulai dr sekarang dan mulai dari yg paling kecil,,dan yg terpenting dr diri kita terlebih dahulu,,,,
Reply
 
 
# Misbah-PA.Purwakarta 2012-01-25 09:12
Ini salah satu tulisan Pak Dirjen yang paling saya suka, berulang ulang saya baca, tapi sayang belum bisa di share memalui facebook ya pak.??? saya mau rekomendasikan kepada semua teman. Dan saya print out, dan bagikan kepada teman teman yang selama ini tidak pernah menyentuh internet.
Reply
 
 
# misran - medan 2012-01-25 09:34
lebih memalukan lagi sekiranya "yang tidak punya malu tsb" tidak pernah diberikan sanksi oleh yang berwenang memberikan sanksi padanya ( ? )
Reply
 
 
# Basyirun Maha-PA.Sidikalang 2012-01-26 09:04
Yang lebih-lebih memalukan lagi adalah orang menjatuhkan sanksi kepada yang melanggar dan dia sendiri melakukan pelanggaran
Reply
 
 
# # Fathurrizqi PA.Prm 2012-01-31 10:04
Laa tanha 'an khuluqin wa taktiya mitslahu,
'aarun 'alaik idza fa'alta "azhiiman... :lol:
Reply
 
 
# djazril darwis pta babel 2012-01-25 09:35
djazril darwis pta babel. semoga semua yang diungkapkan Pak Dirjend dapat memacu dan sumber inspirasi bati PTA dan PA lainnya untuk meniru.Jangan malu meniru yang baik.Semoga
Reply
 
 
# Hasanuddin Hamzah, S.Ag. 2012-01-25 09:36
Sebenarnya 10 budaya malu itu perlu para ketua PA atau Pansek agar memaparkan di dinding setiap ruangan agar semua Pegawai sering melihat....jagan cuma komentar.....!
oyo kita sama-sama punya rasa malu dari 10 rasa malu....
Reply
 
 
# Derr PA Tgm 2012-01-25 09:43
Bila cahaya wajah berkurang, maka berkurang pula rasa malunya. Tidak ada keindahan pada wajah, bila cahayanya berkurang. Rasa malumu peliharalah selalu, sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang adalah rasa malunya (Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi)
Reply
 
 
# yuniati faizah PA Gunung Sugih 2012-01-25 10:24
Terimakasih pak Dirjen yang super, atas tambahan 2 budaya malu yang memang semestinya ada "malu melakukan penyelewengan dan malu gaptek".. Insya Allah kami akan lebih berbenah diri lagi untuk mencapai tujuan "peradilan modern yang agung"..
Reply
 
 
# Muhammad Amin/WKPA Kabanjahe 2012-01-25 10:42
Saat ini, banyak "URAT SARAF MALU" manusia yang tercerabut dari badannya, sehingga masih banyak yang tidak tahu dan tidak punya MALU berbuat penyelewengan. Mungkin masih ada slogan yang hanya untuk 'menutupi penyelewengan itu'. Untuk itu, kampanye 'Budaya Malu' tetap relevan digaungkan. PA Gunung Sugih, Selamat!...
Reply
 
 
# Bang Dir. PTA B.Lampung. 2012-01-25 11:01
Terima kasih Pak Dirjen, atas safari ttugas secara maraton di PTA Lampung. Atas tulisan ini, terbukti pesan pesa tulus Pak Dirjen dari Jakarta dapat diserap dengan cermat oleh pengadilan Agama di Daerah. Alhamdulillah, kini tinggal menyempurnakan yang tercecer sembari secara konstisten melakasanakan capaian dengan teratur. Saya berdoa semoga Pak Dirjen dan seluruh Satker satker yang ada di seluruh Indonesia dapat menjemput sedikit kerja kita yang masih tertinggal dan digabungkan dengan capaian yang lalu sehingga hari hari kita menjadi begitu Sempurna dalam konsistensi yg tinggi.Amin
Reply
 
 
# Orba Susilawati PAJT 2012-01-25 12:22
malumu.....maluku.....malu kita semua, karena itu jangan bikin malu....makasih pak Dirjen....
:zzz
Reply
 
 
# SALMAN, MA., PA GN SUGIH 2012-01-25 13:49
Terima kasih banyak Pak Dirjen. Insya Allah, kami akan terus meningkatkan performance kami sebagai pelayan para pencari keadilan. Mohon doakan juga kami dalam doa-doa, Bapak. JAZAKUMULLAH KHAIRAN KATSIRA.
Reply
 
 
# aisyah 2012-01-25 14:10
sebagai warga Peradilan Marilah sama2 kita galakkan Program Budaya Malu dan bukan Malu2in.......demi untuk kebaikan dan kamujuan bersama khususnya dilingkungan Badilag....
Acungkan jempol tuk pak Dirjen yg selalu memberikan Motivasi kepada Warga Peradilan.....
Reply
 
 
# Abu Zenita Kalianda 2012-01-25 15:16
Ass. Sy sepakat dg sdr Dini-Lampung dan Bpk Hardinal-Jayapura yg tlah mengilustrasikan konsep malu dg kontek karakteristik Kucing alias Meong. Tetapi sebagai tambahan sy melihatnya dr sisi lain bahwa justru jangan sampai "main kucing-kucingan". Artinya ketika ada info Badilag I mau turun ke PA semua disulap seolah-olah mengikuti 8 program Badilag yg sdh disepakati, tetapi giliran Badilag I sdh balik ke Ibu Kota semua kembali ke budaya lama....kan lucu...!!!(mdh2an tdk ada PA yg demikian). Budaya malu tdk sepenuh hati tetapi malu masih bercampur takut, takut A, takut B, takut C bahkan sampai takut Z saat ada Badilag I sj. pdhl "al-Hayaau min al-Iimaan".Salam.Tks.
Reply
 
 
# Yayuk Afiyanah PA-Sengeti 2012-01-25 15:17
Terima kasih Pak Dirjen atas semangat dan motivasinya,semoga kita dapat mencontoh dan mengamalkannya.sehat dan sukses selalu buat pak Dirjen.amin....
Reply
 
 
# Iskhaq PA Pekalongan 2012-01-25 16:13
Kehadiran bapak-bapak pejabat ke PA wilyah terpencil khususnya pak Dirjen adalah ibarat rahmat yng turun dari langit sehingga membuat kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi teman-teman yang dikunjunginya, kenapa demikian karena keluhan dan harapan dapat diterima dan didengar langsung oleh pak Dirjen terutama keluhan soal mutasi, sedangkan soal budaya malu berbuat negatif meskipun pada umumnya sudah dilaksanakan teman-taman PA tetapi dorongan dan motivasi bapak masih sangat diperlukan.
Reply
 
 
# Hatta Chano_PA Sidoarjo 2012-01-25 17:34
Malu harus dipertahankan dalam budaya pelayanan kita. Kesuksesan suatu lembaga karena mereka menempatkan malu pada tempatnya. Makasih Pa Dirjen atas pengalaman dan motifasinya.
Reply
 
 
# Muhdi Kholil Waka PA Kangean 2012-01-25 19:29
KITA MEMANG HARUS MEMPUNYAI BUDAYA MALU JIKA MELAKUKAN PELANGGARAN SERTA TIDAK PROFESIONAL DALAM MELAKUKAN PEKERJAAN, BERLAKU IFFAH DAN WIRA'I KATA GURU NGAJI,TAPI JANGAN MALU MALUIN KATA ORANG BETAWI.HAL INI BUKAN BERARTI KITA MENJADI ORANG YANG PEMALU, TETAPI KITA HARUS BERANI DAN PERCAYA DIRI DALAM MENEGAKKAN VISI & MISI PERADILAN YANG AGUNG, SETUJU !
Reply
 
 
# Nanang MR PA Tj. Redeb 2012-01-26 07:04
Benar-benar malu terlambat baca info badilag ....
Reply
 
 
# Mahmudah PA Surabaya 2012-01-26 08:10
Betul dan terimakasih Pak Dirjen, budaya malu wajib di aplikasikan khususnya bagi warga Peradilan Agama.
Reply
 
 
# Muh. Irfan Husaeni/PA Painan 2012-01-26 08:54
Senada dengan Pak Nanang MR dari PA Tj.Redeb, saya malu rasanya kalau tidak mengikuti kabar terkini badilag.net, karena saya pasti akan ketinggalan informasi aktual tajam dan terpercaya.
Reply
 
 
# MROISAR PAKDR 2012-01-26 09:28
Budaya malu memang mudah ducapkan tapi terkadang terasa berat untuk melaksanakan. Sebenarnya menurut sy kunci budaya malu itu ada dua yakni "malu pada Alloh SWT" dan "malu pada diri sendiri" Kalau sdh bisa melaksanakan keduanya itu, Insyaalloh akan terbebas dari perbuatan memalukan walau sekecil apapun. Semoga kita bisa menggunakan dua kunci tersebut.Amiin.
Reply
 
 
# ahid,Lampung 2012-01-26 10:44
Ketika malu sudah menjadi budaya, maka insya allah segala sesuatu yang kita lakukan akan sejalan dengan aturan-aturan baik aturan Allah SWT maupun aturan duniawi. Mudah-mudahan budaya malu menjadi budaya aparat Peradilan Agama khususnya dan keluarga besar Mahkamah Agung. sukses buat pak dirjen yang sudah meng-inspirasi kita semua.
Reply
 
 
# Andi M. Akll, PA. Subang 2012-01-26 11:33
10 malu yang ditonjolkan, sebagai budaya di Lampung, khususnya Gunung Sugih, sudah cukup bagus, ada hal barangkali yang kurang lazim yaitu: Apel, seolah-olah budaya ini miliknya tentara saja, sebenarnya, apel ini juga dapat dijadikan sarana untuk mengecek kehadiran personil pada jam datang dan jam pulang,Bravo untuk Pengadilan Agama yang melaksanakan Apel
Reply
 
 
# insan badilag 2012-01-26 15:00
Benar-benar malu kalo tidak shalat berjamaah....
Reply
 
 
# Boedy _Bdlg 2012-01-27 08:29
Memang kita harus tetap mempunyai rasa malu, karna itu sebagai syarat lengkapnya iman seseorang. Salut kpd pak Dirjen yg mempunyai stamina dan semangat yg hebat, sukses selalu untuk kita semua dlm segala hal,..Amin..
Reply
 
 
# abdul halim-PA gunung sugih 2012-01-27 09:35
saya sebagai warga PA gunung sugih merasa bangga sekali karena pimpinan saya yaitu pak Dirjen memberikan apresiasi secara khusus ttg PA gunung sugih dengan jargon 10 budaya malu. Jika Allah memberikan penghargaaan kpd Mesir dgn menyebut kata "mesir" bbrp kali, maka sy bangga pak dirjen bbrp kali menyebut kata "PA gunung sugih" dalam tulisan beliau.
Reply
 
 
# Saefudin T - Arga Makmur 2012-01-27 11:46
Pak, saya iri nih. Kapan PTA Bengkulu dikunjungi. Kami juga ingin sekali diberi wejangan secara langsung dari Pak Dirjen untuk memberi semangat dan motifasi kami.
Reply
 
 
# Syarifah aini-PA Bulian 2012-01-27 14:50
Saya sangat setuju dengan ajakan P Dirjen "Mari kita semua jadi Pemalu" sudah barang tentu klu kita semua menerapkan dan melaksanakan 10 budaya malu sebagaimana yg diterapkan di PA Gunung Sungih ditambah dg ajakan pak Dirjen untuk menambah 2 malu lagi yaitu malu melakukan penyelewengan sekecil apapun dan malu gagap teknologi, insyaallah Peradilan Yang Agung akan segera tercapai, amin...
Reply
 
 
# Andi Nany Hasyim 2012-01-27 18:00
12 Budaya Malu ......” termasuk “Malu Melakukan Penyelewengan Sekecil Apapun” dan “Malu Gagap Teknologi” tapi jangan malu bertanya, kita bertanya Pak Dirjen siap memberikan solusi, sukses selalu pak
Reply
 
 
# maharnis PTA Jayapura 2012-01-30 06:31
apa yang dilakukan pak dirjen badilag dalam kunjungannya ke berbagai daerah, persis seperti yang dilakukan khalifah umar bin Khatab semasa kepemimpinannya yaitu turun kampung masuk kampung, memperhatikan dan menjaring serta merespon aspirasi dari rakyatnya agar mendapatr solusi, demikian yang dilakukan pak dirjen mendapat berbagi masukan sekaligus mensosialisasikan program badilag antara lain penggunaan TI dalam tugas kita di PA, untuk itu yuk mari kita sukseskan dak malu-malu, tapi jangan bikin malu
Reply
 
 
# asep ridwan PA Kalianda 2012-01-30 09:15
"Tak perlu malu untuk tahu, tak perlu ragu untuk mencoba, harus tahu sedikit tentang banyak dan tahu banyak tentang sedikit".
jadikanlah hal tersebut motto dan motivasi kita agar menjadi Hakim yang benar-benar "Hakim".
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2012-01-30 09:21
" Luar Biasa" capeknya. "sang Pejuang" Beberapa tahun telah menanam dan merawat kini sangat wajar memetik buahnya, walau terkadang masih ada buah yg kurang sempurna. besar harapan kami PA selalu dirawat,di pupuk dan disirami agar berkembang subur.sehingga bunganya semerbak wangi. Ingin rasanya saya mengkritik, tapi apanya yg kurang??? yg terbersit hanya doa semoga selalu, sehat panjang umur, bahagia damai sentosa dg Kelaurga dan terus berjuang demi PA.
Reply
 
 
# Darul Fadli - PA Muara Sabak 2012-01-30 11:40
ada istilah Turba (turun ke bawah), memang turun ya ke bawah, tetapi turun ke bawah yang dilakukan Pak Dirjend tercinta ini, berdampak luar biasa. semoga Pak Dirjend selalu sehat agar bisa mencapai "PA - PA di pulau terdepan dari Indonesia ini.
Reply
 
 
# Imas-Pandeglang 2012-01-31 10:21
sekian waktu lalu kita jadi "Bonek", gak apa-apa yang penting positif dan hasilnya luar biasa. sekarang gak apa-apa kita jadi "PEMALU" tapi tidak "Bikin Malu" dan bukan untuk MALU-MALUIN"
Reply
 
 
# mukti-pa.manokwari 2012-01-31 14:05
kembali ke khittah...cita, citra dan cinta pendahulu kita kepada pengadilan agama... agar harkat dan martabat peradilan agama tetap terjunjung tinggi....
Reply
 
 
# Herman , PA Krui 2012-01-31 15:50
Alangkah indahnya apabila 10 budaya malu seperti yang tertulis dapat dilaksanakan dilingkungan peradilan agama, ditambah lagi dengan Malu Gaptek tidak dapat kemajuan yg akan dialami oleh kita..semoga tulisan budaya malu tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk memajuka peradilan agama
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS