Kiat Menjadi Pemimpin yang Sukses ala Dirjen Badilag
Ini kisah nyata. Di satu pengadilan terdapat figur yang sangat pintar. Kepintarannya diakui oleh banyak orang, baik bawahan maupun atasan. Selaku ketua pengadilan, orang ini sukses mengembangkan teknologi informasi di satuan kerjanya. Ia juga sering menyampaikan ide-ide yang cerdas bila diberi kesempatan bicara. Tetapi di sisi lain ia tidak gampang percaya pada bawahannya. Sering ia mengerjakan pekerjaan yang mestinya dikerjakan oleh bawahannya. Ia juga hobi menjadikan satuan kerjanya sebagai ‘kebun binatang’.
“Kalau sudah marah, nama-nama binatang yang aneh-aneh dia sebut. Lama-lama bawahannya tidak kuat, lalu lapor ke atasan, hingga laporan itu sampai ke saya.”

Demikian ujar Dirjen Badilag Wahyu Widiana ketika memberi pengarahan dalam kegiatan Orientasi peningkatan Wawasan Kepemimpinan yang diselenggarakan Bagian Kepegawaian Ditjen Badilag di Bogor, Rabu malam (4/7/2012). Kegiatan yang diikuti 40-an pegawai dari empat unit kerja di Badilag ini berlangsung hingga Jumat (6/7).
Figur seperti ketua pengadilan di atas, menurut Dirjen, tidak memiliki sifat sincere. “Menjadi pemimpin itu kuncinya adalah sincere yang berarti baik, jujur, benar. Ini sesuai dengan sifat-sifat Rasulullah yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah,” tandas Dirjen.
Kalau seorang pemimpin memiliki sifat siddiq dan amanah, kata Dirjen, ia tidak akan melakukan penyelewengan apa saja. “Sebaik atau sepintar apapun kalau tidak amanah akan jadi masalah,” ujarnya.
Yang sering diabaikan, sepengamatan Dirjen, adalah sifat tabligh. Seorang pemimpin mesti seorang “informer” sekaligus “well informed”.
“Informer itu berarti suka berbagi informasi. Kalau pimpinan tidak mau berbagi, diam saja, sudah pasti insititusi yang dipimpinnya tidak akan maju,” imbuhnya.
Dalam memberikan informasi, termasuk memberikan instruksi kepada bawahan, sambung Dirjen, seorang pemimpin juga perlu memakai kata-kata yang santun, tanpa harus kehilangan ketegasan. Suasana lingkungan kerja yang menyerupai 'kebun binatang' itu menunjukkan sang pemimpin kurang santun.
Sementara itu, “well informed” berarti gemar mencari informasi, baik dengan cara membaca, mendengarkan, maupun dengan cara-cara lain.
Nah, soal “well informed” ini, menurut Dirjen, para pemimpin di lingkungan peradilan agama—khususnya yang sehari-hari mengantor di Ditjen Badilag—‘wajib’ hukumnya membaca tulisan-tulisan di Pojok Pak Dirjen. Di situlah Dirjen Badilag menuangkan pemikiran mengenai kebijakan strategis yang dijalankannya.
Selain berkarakteristik “informer” dan “well informed”, seorang pemimpin juga harus pintar dan cekatan. Ini sesuai sifat fathonah yang dimiliki Rasulullah.
“Untuk menjadi pintar itu harus belajar. Dan kalau sudah pintar, tidak boleh pintar sendiri. Kepintaran itu harus di-share,” serunya.
Seorang pemimpin, imbuh Dirjen Badilag, mesti memiliki dua kemampuan: technical ability dan managerial ability. Makin tinggi seseorang jadi pimpinan, managerial ability-nya harus makin tinggi. Begitupun sebaliknya.
Meski seorang pemipin dituntut lebih mahir dalam hal menajerial ketimbang dalam hal yang sifatnya teknis, bukan berarti seorang pemimpin tidak boleh mengerjakan hal-hal kecil.
“Dalam hal-hal tertentu, pimpinan boleh melakukan hal-hal yang kecil tapi strategis. Tujuannya untuk memberi motivasi. Tentu itu tidak dilakukan setiap hari,” tuturnya.
Dirjen Badilag memberi contoh. Pada kesempatan pertukaran informasi, yang di Badilag digelar tiap Selasa, Dirjen kadang-kadang mengecek langsung siapa saja yang hadir dan tidak hadir. Dirjen juga tidak bosan-bosannya mengingatkan agar Bagian Kepegawaian selain membuat absensi juga membikin notulen dan data statistik mengenai kehadiran dan keaktifan peserta.
Jadi, untuk menjadi seorang pimpinan yang sukses, menurut alumni Universitas Michigan ini, seseorang tidak harus mengerti teori-teori yang muluk mengenai leadership. Mengetahui dan mengaplikasikan sifat-sifat Rasulullah SAW saja sudah bagus.
Dirjen pun bertanya: “Siapa sih di antara kita yang nggak tahu sifat-sifat Nabi?”
(hermansyah) | Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 21598 | 98 | | Sel. 21 | 2 | 0 | | Sen. 20 | 14 | 0 | | Ming. 19 | 28 | 0 | | Sab. 18 | 22 | 0 | | Jum. 17 | 8 | 0 | | Kam. 16 | 18 | 0 |
|
Comments
Betul sekali pak Dirjen, tidak perlu mencari teori yang macam-macam perihal kepemimpinan, Rasulullah SAW adalah tauladan yang sempurna dengan sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathonahnya. Kepemimpinan tidak cukup dengan kecerdasan intelektual saja, tetapi perlu kecerdasan emosional dan spiritualnya.
ABS, dan saya pernah dengar Pemimpin yg bi lang " tidak punya otak " pada Pemimpin yg di bawahnya, jdi kedepan yg untuk dijadikan Pemimpin ya jangan asal comot tapi perlu dilidik dulu rekam jejak moral sang calon pemimpin tersebut
Setuju dengan pak Dirjen bahwa seorang pemimpin harus mampu mengkombinasikan antara Technical ability dan Managaerial ability.Falsafah orang bugis mengatakan:-Rebba sipatokkong(saling menopang)-Malilu sipakainge(Saling mengingatkan)-Mali siparappe(saling menyelamatkan),kalau prinsip2 seperti ini diimplementasikan dalam menjalankan proses manajmen, insya'Allah dunia akhirat selamat.
Kejadian seperti tersebut di atas bisa saja terjadi karena Masing masing orang memiliki kepribadian alias watak yang berbeda antara satu sama yang lain. Ada yang pendiam , ada yang banyak bicara, ada yang penyabar dan ada pula yang mudah marah. Konon ada sebagian orang berpendapat bahwa watak seseorang tidak bisa berubah, sementara itu sebagian orang meyakini bahwa waktulah yang akan merubah keadaan pada dirinya. Kesabaran seseorang dinilai dari ketenangan mereka dalam menghadapi setiap persoalan, Mereka tidak memperlihatkan raut wajah yang kusam dan marah, perilakunya tidak memperlihatkan kemarahan.
Bagi yang emosinya labil atau gampang marah dianjurkan ketika sedang marah agar bersegera mengambil air wudhlu biar amarahnya reda. Semoga kita bisa mengontrol emosi, sehingga para pemimpin betul dapat menyejukan suasana di mana ia berada. Amin.
Kami para kader dan penerus pak Dirjen di lingkungan Peradiloan Agama telah banyak mendapat ilmu tentang bagaimana menjadi pemimpin yang sukses, sayangnyanya ilmu itu kami dapati masih secara berserakan tidak utuh, baik dari web site, dari artikel, dari ceramah dan dari prilaku pak dirjen sendiri.
Alangkah baiknya jika itu dihimpun dalam satu buku yang berjudul " KIAT MENJADI PEMIMPIN PENGADILAN YANG SUKSES " Kami selalu berdoa semoga Pak Dirjen diberi kesehatan dan kekuatan serta kemauan untuk menulis buku tersebut sebagai " Ilmu Yuntafa'u bihi " yang terus memberi manfaat sepanjang masa meski Pak Wahyu kelak sudah tidak jadi Dirjen lagi. Amin.
"Kritik yang bagus dari pak Dirjen" Pemimpin tindakannya tidak harus betul semua, sekali waktu mesti ada salahnya, yang paling berat adalah bagaimana mengakui kesalahan yang diperbuat apalagi terhadap bawahan. semoga kita dapat megambil pelajaran.
Ini tidak lepas dari sifat dan watak seseorang sebelum jadi pemimpin.
Pemimpin yang dapat mencontoh sifat Rasulullah yang 4 itulah pemimpin ideal yang diharapkan dapat menjadi KPA. Semoga!!!
Kesan terhadap PPD (yang sampai sekarang kalau tidak salah sudah 42 judul): Bagus yang disampaikan, bagus penyampaian, santun dan lugas dalam penyampaian. Semoga bermanfaat tentunya bagi kita semua Amin !
Yang berat bagi seorang pemimpin adalah adanya godaan / tantangan dari dalam dan luar dirinya. Maka diperlukan usaha dan upaya pengendalian diri.
Pemimpin juga manusia yang terbatas (baharu) maka memerlukan pembinaan, contoh teladan dan kiat-kiat jitu sebagaimana telah disampaikan oleh Bapak Dirjen dengan harapan menjadi sukses.
- Santun adalah kekuatan yang dahsyat, lelbut tidak berarti santun, keras tidak sepenuhnya kasar, sejatinya kebenaran juga kelembutan hati.
Reply
Kita tahu bahwa Nabi Muhammad adalah sbg Uswatun khasanah (contoh tauladan yg baik), tetapi sedikit sekali orang mencontoh keteladanan Rasulullah...
Inilah kenyataan ummat Islam di dunia sekarang...