Selasa, 21 Mei 2013 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!






Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG


SURAT EDARAN : Pendaftaran Calon Peserta Program Beasiswa S3 Sudan Tahun 2013 | (20/5) Laughing
SURAT EDARAN : Permintaan Persyaratan Biaya Mutasi Pindah Pejabat Kepaniteraan & Kejurusitaan PA | (10/5)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Kompetensi Panitera Pengganti PA (Angkatan II) Tahun 2013 | (8/5)
PENGUMUMAN : Ralat Pemanggilan Peserta Bimtek  Administrasi Angkatan III | (7/5)

PENGUMUMAN
: Input data Output Program 04 Ditjen Badilag T.A. 2012 Pada Aplikasi Monev Anggaran Kementrian Keuangan RI | (25/4)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Perkara Kasasi dan PK | (22/4)
PENGUMUMAN : Klarifikasi Akun Facebook "Purwo Susilo" | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I tahun Anggaran 2013 | (8/4)
PENGUMUMAN : Pelaporan Perkara Mediasi, Sidang Keliling dan Prodeo | (8/4)











Tambahkan ke Google Reader
Kiat Menjadi Pemimpin yang Sukses ala Dirjen Badilag (5/7) PDF Cetak E-mail
Oleh Hermansyah   
Kamis, 05 Juli 2012 08:05

Kiat Menjadi Pemimpin yang Sukses ala Dirjen Badilag

Ini kisah nyata. Di satu pengadilan terdapat figur yang sangat pintar. Kepintarannya diakui oleh banyak orang, baik bawahan maupun atasan. Selaku ketua pengadilan, orang ini sukses mengembangkan teknologi informasi di satuan kerjanya. Ia juga sering menyampaikan ide-ide yang cerdas bila diberi kesempatan bicara. Tetapi di sisi lain ia tidak gampang percaya pada bawahannya. Sering ia mengerjakan pekerjaan yang mestinya dikerjakan oleh bawahannya. Ia juga hobi menjadikan satuan kerjanya sebagai ‘kebun binatang’.

“Kalau sudah marah, nama-nama binatang yang aneh-aneh dia sebut. Lama-lama bawahannya tidak kuat, lalu lapor ke atasan, hingga laporan itu sampai ke saya.”


Demikian ujar Dirjen Badilag Wahyu Widiana ketika memberi pengarahan dalam kegiatan Orientasi peningkatan Wawasan Kepemimpinan yang diselenggarakan Bagian Kepegawaian Ditjen Badilag di Bogor, Rabu malam (4/7/2012). Kegiatan yang diikuti 40-an pegawai dari empat unit kerja di Badilag ini berlangsung hingga Jumat (6/7).

Figur seperti ketua pengadilan di atas, menurut Dirjen, tidak memiliki sifat sincere. “Menjadi pemimpin itu kuncinya adalah sincere yang berarti baik, jujur, benar. Ini sesuai dengan sifat-sifat Rasulullah yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah,” tandas Dirjen.

Kalau seorang pemimpin memiliki sifat siddiq dan amanah, kata Dirjen, ia tidak akan melakukan penyelewengan apa saja. “Sebaik atau sepintar apapun kalau tidak amanah akan jadi masalah,” ujarnya.

Yang sering diabaikan, sepengamatan Dirjen, adalah sifat  tabligh. Seorang pemimpin mesti seorang “informer” sekaligus “well informed”.

“Informer itu berarti suka berbagi informasi. Kalau pimpinan tidak mau berbagi, diam saja, sudah pasti insititusi yang dipimpinnya tidak akan maju,” imbuhnya.

Dalam memberikan informasi, termasuk memberikan instruksi kepada bawahan, sambung Dirjen, seorang pemimpin juga perlu memakai kata-kata yang santun, tanpa harus kehilangan ketegasan. Suasana lingkungan kerja yang menyerupai 'kebun binatang' itu menunjukkan sang pemimpin kurang santun.

Sementara itu, “well informed” berarti gemar mencari informasi, baik dengan cara membaca, mendengarkan, maupun dengan cara-cara lain.

Nah, soal “well informed” ini, menurut Dirjen, para pemimpin di lingkungan peradilan  agama—khususnya yang sehari-hari mengantor di Ditjen Badilag—‘wajib’ hukumnya membaca tulisan-tulisan di Pojok Pak Dirjen. Di situlah Dirjen Badilag menuangkan pemikiran mengenai kebijakan strategis yang dijalankannya.

Selain berkarakteristik “informer” dan “well informed”, seorang pemimpin juga harus pintar dan cekatan. Ini sesuai sifat fathonah yang dimiliki Rasulullah.

“Untuk menjadi pintar itu harus belajar. Dan kalau sudah pintar, tidak boleh pintar sendiri. Kepintaran itu harus di-share,” serunya.

Seorang pemimpin, imbuh Dirjen Badilag, mesti memiliki dua kemampuan: technical ability dan managerial ability. Makin tinggi seseorang jadi pimpinan, managerial ability-nya harus makin tinggi. Begitupun sebaliknya.

Meski seorang pemipin dituntut lebih mahir dalam hal menajerial ketimbang dalam hal yang sifatnya teknis, bukan berarti seorang pemimpin tidak boleh mengerjakan hal-hal kecil.

“Dalam hal-hal tertentu, pimpinan boleh melakukan hal-hal yang kecil tapi strategis. Tujuannya untuk memberi motivasi. Tentu itu tidak dilakukan setiap hari,” tuturnya.

Dirjen Badilag memberi contoh. Pada kesempatan pertukaran informasi, yang di Badilag digelar tiap Selasa, Dirjen kadang-kadang mengecek langsung siapa saja yang hadir dan tidak hadir. Dirjen juga tidak bosan-bosannya mengingatkan agar Bagian Kepegawaian selain membuat absensi juga membikin notulen dan data statistik mengenai kehadiran dan keaktifan peserta.

Jadi, untuk menjadi seorang pimpinan yang sukses, menurut alumni Universitas Michigan ini, seseorang tidak harus mengerti teori-teori yang muluk mengenai leadership. Mengetahui dan mengaplikasikan sifat-sifat Rasulullah SAW saja sudah bagus.

Dirjen pun bertanya: “Siapa sih di antara kita yang nggak tahu sifat-sifat Nabi?”

(hermansyah)

TanggalViewsComments
Total2159898
Sel. 2120
Sen. 20140
Ming. 19280
Sab. 18220
Jum. 1780
Kam. 16180
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Abdul Malik - PA.SoE 2012-07-05 08:31
Kritikan yang pedas dari Pak Dirjen bagi pemimpin yang menjadikan kantor sebagai "kebun binatang". Pepatah Jawa mengatakan "Sing biso ya kudu rumongso, tapi ojo rumongso biso".
Reply
 
 
# badriyah badruddin 2012-07-10 09:30
Setuju, Type pemimpin yang dicontohkan oleh Pak Dirjen sebaiknya mengaplikasikan sifat-sifat Rasulullah SAW, punya karakteristik informer, dan well informed, serta dapat mengawinkan dua kemampuan, technical ability, dan managerial ability, mudah-mudahan pemimpin-pemimpin kita dapat menjalankan tugas kepempimpinan seperti tersebut, amin.
Reply
 
 
# FAUZI. PA.SUNGAILIAT 2012-07-05 09:02
Posisi pimpinan merpakan dambaan bagi setiap orang yang kreatif dibalik itu ternyata pemimpin dituntut agar bisa menjalankankan tugas kepemimpinan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Reply
 
 
# A.Topurudin, PA Banyumas 2012-07-05 09:04
Kritik yang bagus pak! Banyak lho Ketua PA yang mau ketemu dan berbicara dengan hakim-hakim dan bawahannya paling satu kali dalam seminggu, jangankan mau berbagi, mereka malah lebih senang bersemedi di ruangannya sendiri.

Betul sekali pak Dirjen, tidak perlu mencari teori yang macam-macam perihal kepemimpinan, Rasulullah SAW adalah tauladan yang sempurna dengan sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathonahnya. Kepemimpinan tidak cukup dengan kecerdasan intelektual saja, tetapi perlu kecerdasan emosional dan spiritualnya.
Reply
 
 
# #Gusmen Yefri-PA.SJjung# 2012-07-05 09:11
Saya sangat setuju bget dg pa' Dirjen, tpi Pemimpin yg kayak di contohkan oleh Bpk eta sering muncul karena euh pakeuh bin
ABS, dan saya pernah dengar Pemimpin yg bi lang " tidak punya otak " pada Pemimpin yg di bawahnya, jdi kedepan yg untuk dijadikan Pemimpin ya jangan asal comot tapi perlu dilidik dulu rekam jejak moral sang calon pemimpin tersebut
Reply
 
 
# UMI PA-JB 2012-07-05 09:22
Di tengah maraknya isu-isu di negara kita , dibutuhkan pemimpin yang kriterianya memiliki sifat=sifat junjungan kita Nabi Muhammad SAW.Dalam bahasa ksehariaanya kita membutuhkan pemimpin yang memimpin dengan hati. Sehingga proses bekerja dilakukan dengan senang hati dan hasil akhir pekerjaan akan memuaskan hati
Reply
 
 
# Cholidul Azhar PTA Makassar 2012-07-05 09:28
Yang dicontohkan oleh Pak Dirjen adalah kriteria pemimpin yang paripurna dan ideal. Rype tersebut tetap harus jadi acuan para pemimpin khususnya di peradilan agama. Namun contoh pemimpin yang mengganggap bawahan sebagai penghuni kebun binatang saya kira terlalu ekstrim. Tapi perlu juga diketahui agar para pemimpin tidak terjerumus kesitu. Saya kira semua pemimpin ingin memimpin dengan baik, hanya tantangan di lapangan dan kemampuan yang dimiliki yang akan menentukan apakah seorang pemimpin berhasil atau tidak dalam memimpin .
Reply
 
 
# masri.PA.Ktmbagu 2012-07-05 09:28
maa syaa Allah, kalau mulutnya penuh kebun binatang, gimana jadinya...kedepan perlu kiranya dalam rekrutmen pimpinan untuk memperioritaskan akhlaknya, makasih pak dirjen
Reply
 
 
# masri.PA.Ktmbagu 2012-07-05 09:31
masyaaAllah kalau seorang pemimpin mulutnya penuh kebun binatang, akan jadi apa pelayanan kita.....kedepaan untuk rekrutmen pimpinan perlu kiranyanya diperhatikan aspek akhlak bagi para calon pimpinan, makasih Pak Dirjen,..
Reply
 
 
# Drs.H.A.Musa hsb,Mh.PA Sidikalang 2012-07-05 09:33
sifat rasulullah saw yang 4 itu, memang pasti harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin semoga nasehat pak Dirjen itu dapat dilaksanakan oleh setiap yang merasa pemimpin, serta mencermati sindiran pak dirjen yang sangat menusuk qalbu itu, yang mengumpamakan kantor jadi "kebun binatang" karena seringnya nama binaTANG DISEBUT OLEH SANG PEMIMPIN ITU.(CARUT MARUT-CACI MAKI) SEMOGA KITA TERHINDAR DARI PADANYA, AMIN
Reply
 
 
# masri.PA.Ktmbagu 2012-07-05 09:33
,makasih pak dirjen, kedepan harus selektif meniilai untuk rekrutmen pimpinan dari segi akhlak.
Reply
 
 
# hermansyah Bkl 2012-07-05 09:37
Insya-Allah kita semua faham sifat-sifat Nabi itu, semoga saja kita semua juga mampu meneladaninya, amiiiin...!
Reply
 
 
# mwiaty@msaceh 2012-07-05 09:40
Semoga pemimpin kita khususnya KPTA/KMSY dan KPA/KMSY membaca kiat menjadi pemimpin yg sukses ala Dirjen Badilag ini, sehingga tidak ada lagi kantor di jadikan kebun binatang, saya yaqin masih ada diantara pemimpin kita yg berkarakter buruk Insyaallah setelah membaca kiat pak Dirjen berubah menjadi baik. AMIN
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jypura 2012-07-05 09:41
Kiat Menjadi Pemimpin yang Sukses ala Dirjen Badilag,disamping mengerti ilmu managemen ala Barat (managerial skill dan technical skill), namun wajib untuk dipadukan dengan sifat kepemimpinan Rasulullah (siddiq, amanah, tablig dan fathanah)
Reply
 
 
# KAUSAR ANHAR@PA.SMI 2012-07-05 09:42
"Kebun Binatang" biasanya terdapat di kota-kota besar, di Ragunan Jakarta atau kota-kota lain misalnya.Kebun binatang yang disebut Bpk Dirjen adanya di kantor, kantor Pengadilan Agama."Kalau sudah marah, nama-nama binatang yang aneh-aneh dia sebut" Astaghfirullah..... Apa ada yang salah dalam kaderisasi kepemimpinan Pak..???
Reply
 
 
# Indra Suhardi - MS Sabang 2012-07-05 09:58
Memang banyak gaya-gaya kepemimpinan seperti yg disampaikan Pak Dirjen itu, terkadang pimpinan itu sdh berlebihan dlm bertindak lupa daratan, yang parahnya sifat pemimpin yaitu suka mendengar fitnah sepihak tanpa konfirmasi ke pihak lain ini menurut saya sifat dhalim. karena tanpa cek dan rechek seseorg bs di hukum sepihak krn pimpinan menelan habis-habisan pitnah2 itu...sifat spt ini tidk fathonah dan tidk amanah buat dirinya sendiri...
Reply
 
 
# M.Yusuf wk PA Kendari 2012-07-05 10:05
Kisah nyata yang disampaikan pak Dirjen harus kita sebut aneh tapi nyata(Kantor dijadikan kebun)sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi yang merasa pimpinan dan yang akan menjadi pemimpin.

Setuju dengan pak Dirjen bahwa seorang pemimpin harus mampu mengkombinasikan antara Technical ability dan Managaerial ability.Falsafah orang bugis mengatakan:-Rebba sipatokkong(saling menopang)-Malilu sipakainge(Saling mengingatkan)-Mali siparappe(saling menyelamatkan),kalau prinsip2 seperti ini diimplementasikan dalam menjalankan proses manajmen, insya'Allah dunia akhirat selamat.
Reply
 
 
# Suhardi, PA. Sumenep 2012-07-05 10:25
Tantangan bagi seorang pemimpin untuk dapat menggerakkan anak buahnya tanpa harus mengeluarkan kata-kata yang tidak elegant. Meskipun berat bukan berarti tidak bisa. Belajar dan terus belajar, mudah-mudahan diberi kesabaran!!
Reply
 
 
# Moh. Jatim, PA. Plhri 2012-07-05 10:27
ingin jadi pemimpin sukses tirulah pola dan tingkah laku serta pemikiran Pak Dirjen
Reply
 
 
# Mansur Muda Nst PTA Bkl 2012-07-05 10:40
Seorang pimpinan di Peradilan Agama disamping pintar, cerdas juga harus siddiq, amanah, tabligh dan fathonah juga harus santun, karena kalau kita ibaratkan pada permainan bola, pelatih yg bertengan dinginlah yg selalu berhasil mengalahkan lawan-lawannya.
Reply
 
 
# husni syam pta babael 2012-07-05 10:53
Setuju... dg arahan pak Dirjen spy dapat mencontoh pimpinan ala pimpinan rasulullah Seorang pemimpin harus pintar dan cekatan, untuk menjadi pintar hrs belajar dan kalau sudah pintar jangan pintar sendiri haruslah berbagi dg bawahan spy bawahan juga bisa pintar, ilmu akan bertambah kalau dibagi bukan berkurang, betul kan...
Reply
 
 
# Nadimah PA Bkl 2012-07-05 10:54
Idialnya seorang pimpinan harus memiliki kecerdasan intelektual dan spritual serta kematangan emosional,seperti kepemimpinan yang telah dicontohkan Rosullah SAW dengan sipat siddik,amanah, tablegh dan fathonahNya, harapan dan do'a semoga pimpinan kita senantiasa memiliki kemanpuan dan sipat-sipat yg dicontohkan Rasullah SWA tersebut.aniin.
Reply
 
 
# furqonyunus, pametro 2012-07-05 10:56
Kalau yang dikatakan p dirjen tentang seorang ketua yang sedang marah menyebut nama binatang yang aneh-aneh, kita perlu prihatin dan beristighfar.... yang mengantre pengin jadi ketua masih banyak,sebaiknya beliau istirahat saja.
Reply
 
 
# # stb_PA.Grt 2012-07-05 11:10
saat ini dan kedepan Peradilan Agama tidak perlu pimp.yang amtenaristik. jadilah pimp. yang bisa mengaplikasikan sifat-sifat Rasulullah SAW dan menguasi technical ability dan managerial ability insya allah jadi teladan bawahan.
Reply
 
 
# YB.DLMT MS-Aceh 2012-07-05 11:13
ana sangat setuju dengan pendapat pak Dirjen tersebut, untuk jadi Pimpinan itu tidak usah pakai teori yang muluk muluk segala, dengan istilah yang beraneka ragam, yang kadang-kadang membingungkan.Semua kita tanpa terkecuali pemimpin wajib kita contoh sifat Rosul yang 4 itu. Khusus bagi Pimpinan lebih ditekankan menontoh sifat "Sidiq " dan " Tabligh " ( Jujur dan transparan ).
Reply
 
 
# Jasman, PA. Kabanjahe 2012-07-05 11:16
Banyak sedikitnya bagi orang yang sudah sampai pada jenjang kepemimpinan dalam suatu lembaga atau organisasi, sudah barang tentu mengetahui bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Setidak-tidaknya mengetahui sifat-sifat Rasulullah yaitu siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Kejadian seperti tersebut di atas bisa saja terjadi karena Masing masing orang memiliki kepribadian alias watak yang berbeda antara satu sama yang lain. Ada yang pendiam , ada yang banyak bicara, ada yang penyabar dan ada pula yang mudah marah. Konon ada sebagian orang berpendapat bahwa watak seseorang tidak bisa berubah, sementara itu sebagian orang meyakini bahwa waktulah yang akan merubah keadaan pada dirinya. Kesabaran seseorang dinilai dari ketenangan mereka dalam menghadapi setiap persoalan, Mereka tidak memperlihatkan raut wajah yang kusam dan marah, perilakunya tidak memperlihatkan kemarahan.

Bagi yang emosinya labil atau gampang marah dianjurkan ketika sedang marah agar bersegera mengambil air wudhlu biar amarahnya reda. Semoga kita bisa mengontrol emosi, sehingga para pemimpin betul dapat menyejukan suasana di mana ia berada. Amin.
Reply
 
 
# Masrinedi-PA.Painan 2012-07-05 11:18
Ya, Pak Dirjen. Terima kasih atas nasehat bapak ini yang sangat bagus untuk dilaksanakan. Semoga para pimpinan di lingkungan Badilag dapat meneladani sifat Rasul tersebut. Amin !
Reply
 
 
# ahmad 2012-07-05 11:32
disamping itu masih banyak peminpin yang menganggap kantor punya nenek moyangnya dianggap semuanya halal tanpa memperdulikan hak-hak anak buahnya, inilah yang menghambat reformasi birokrasi
Reply
 
 
# Dalih Effenedy, PA Krw. 2012-07-05 11:33
" USUL KE PAK DIRJEN "
Kami para kader dan penerus pak Dirjen di lingkungan Peradiloan Agama telah banyak mendapat ilmu tentang bagaimana menjadi pemimpin yang sukses, sayangnyanya ilmu itu kami dapati masih secara berserakan tidak utuh, baik dari web site, dari artikel, dari ceramah dan dari prilaku pak dirjen sendiri.

Alangkah baiknya jika itu dihimpun dalam satu buku yang berjudul " KIAT MENJADI PEMIMPIN PENGADILAN YANG SUKSES " Kami selalu berdoa semoga Pak Dirjen diberi kesehatan dan kekuatan serta kemauan untuk menulis buku tersebut sebagai " Ilmu Yuntafa'u bihi " yang terus memberi manfaat sepanjang masa meski Pak Wahyu kelak sudah tidak jadi Dirjen lagi. Amin.
Reply
 
 
# Muchlis.PA.Kayuagung 2012-07-05 11:33
pimpinan Pengadilan semestinya kualitas pikir dan kualitas kerja serta kualitas karyanya terukur dengan jelas.keteladanan yang disampaikan pak Dirjen sangat meng inspirasi untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas tugas keseharian para pimpinan Pengadilan Agam.
Reply
 
 
# syafiuddin.uddin@yahoo.co.id 2012-07-05 11:35
Syafiuddi.PA.Blora
"Kritik yang bagus dari pak Dirjen" Pemimpin tindakannya tidak harus betul semua, sekali waktu mesti ada salahnya, yang paling berat adalah bagaimana mengakui kesalahan yang diperbuat apalagi terhadap bawahan. semoga kita dapat megambil pelajaran.
Reply
 
 
# Aminuddin Ms-Lskn 2012-07-05 11:41
sudah suharusnya para pimpinan PA/MS menteladani kepemimpinan Rasulullah, sedangkan gaya kepemimpinan yg di gambarkan oleh Pak Dirjen tersebut termasuk Pimpinan yg Jaim yg digambarkan pada tulisan terdahulu tidak seharusnya ada, meskipun kenyataannya masih banyak ditemukan di sekitar kita. semoga tulisan Pak Dirjen dibaca oleh para pimpinan di lingkungan PA/MS.
Reply
 
 
# Lskn- ach utara 2012-07-05 12:00
Pak Dirjen! ada juga pimpinan yang selain jaim, juga malas bersidang, karena Pimpinan kami selama beliau dilantik Desember 2010 sampai sekarang, jumlah perkara masuk mencapai 800 perkara, tapi perkara yang di tangani baru tiga perkara, satu perkara cerai Talak, satu Cerai Gugat dan satu perkara Jinayat.
Reply
 
 
# Daswir Tanjung PTA Bdg 2012-07-05 12:16
Sebenarnya pola kepemimpinan ala bapak Dirjen Badilag yaang sudah seharusnya dikembangkan sekarang, pemimpin yang mau bekerja keras, sering melihat keadaan yang dialami oleh bawahannya,dan tidak senang pemimpin yang hanya duduk dikursi kebesaran,atau tinggal dibelakang meja. ala pemimpin bapak dirjen hampir sama dengan bapak Dahlan Iskan, sudah tidak saatnya lagi pemimpin yang gila hormat, semua kebutuhan selalu disiapkan oleh orang lain.apabila melihat sesuatu yang tidak baik segera melakukan perbaikan dan mencarikan jalan keluarga.
Reply
 
 
# Muh. Irfan Husaeni/PA Painan 2012-07-05 12:21
Kalau 4 sifat Nabi bisa dicontoh amanlah kantor kita. Tapi yang mencontoh tidak hanya Ketua saja, melainkan seluruh pegawai. Semua harus amanah, jujur, tabligh dan fatonah. Tks Pak Dirjen atas resep hari ini.
Reply
 
 
# Nanu-Kotamobagu 2012-07-05 13:15
seorang pemimpin yang hanya bersemedi dalam ruangannya dan menunggu laporan dari org2 kepercayaannya itu baahayyya.... trims pak Dirjen smoga semua pimpinan dan calon pimpinan membaca tulisan2 Bapak
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-07-05 13:17
malah ada juga di PA pemimpinnya ngak mau diajak maju... pembatasan pemakaian internet, selalu usul jika ad bawahannya mau mempegunakauahnya main facebon internet takut anak buahnya hanya main facebook,
Reply
 
 
# Ridhuan Santoso MSy.Aceh 2012-07-05 13:52
Semua yang dikatakan oleh Pak Dirjen itu ada benarnya, kerena dasarnya beliau sering turun kebawah atau kedaerah-daerah untuk memantau kenirja bawahannya, sehingga beliau memahami betul bentuk pola kepemimpinan bawahannya tersebut, Memang kalau kita becermin pada Rasulullah SAW, semua kita dapat dipercaya, jujur,selalu benar dan menyampaikan informasi yang baik.
Reply
 
 
# Rusliansyah - PA Nunukan 2012-07-05 14:02
Pemimpin (KPA) seperti yang diceritakan Pak Dirjen, memang masih 'banyak' di PA.
Ini tidak lepas dari sifat dan watak seseorang sebelum jadi pemimpin.
Pemimpin yang dapat mencontoh sifat Rasulullah yang 4 itulah pemimpin ideal yang diharapkan dapat menjadi KPA. Semoga!!!
Reply
 
 
# rohimah pagrt 2012-07-05 14:17
RASULULLAH SAW MERUPAKAN SURI TELADAN YG SEMPURNA SEMOGA KITA BISA .
Reply
 
 
# Tie_dz.PTA. Bdg 2012-07-06 11:39
Amin
Reply
 
 
# Ahmad P, PA Manokwari 2012-07-05 14:29
Sungguh cerdas pemikiran Pak Dirjen, me ngingatkan kita kembali falsafah bugis mengatakan: Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu menjaga budaya Tudang sipulung (selalu berembuk/musyawarah)dan memegang teguh prinsip: Sipakatau (saling menghargai), Sipakainge (saling mengingatkan) dan Sipakalebbi(saling memuliakan).
Reply
 
 
# MAME SADAFAL - PA SIDOARJO 2012-07-05 15:54
Sifat-sifat Rasulullah SAW yang siddiq, amanah, fathonah dan tabligh idealnya menginspirasi bagi setiap pimpinan di pengadilan agama untuk menggerakkan staf/jajarannya dalam melaksanakan tupoksi masing-masing. Dengan demikian tujuan organisasi akan lebih cepat tercapai, karena pemimpin dalam Islam tidak harus ditakuti, namun diguguh dari ucapannya maupun sikapnya.
Reply
 
 
# Syahrial Anas, Lubuk Pakam 2012-07-05 16:00
Kisah nyata tentang pimpinan yang disampaikan oleh pak Dirjen ini kayaknya masih kerabat atau malah mungkin bersaudara kandung dengan si ‘JAIM’ dalam (PPD 4/6). Padahal kalau si” sangat pintar” ini memang pintar (benaran) dan masih mau membaca dan belajar, tentu tidak akan dilaporkan oleh bawahannya (Untung Cuma dilaporkan, bayangkan kalau bawahannya jadi gelap mata, singkat pikiran pula, bagaimana jadinya. (bukan nakut-nakuti ya..). Dengan belajar dan selalu belajar,kita yakin kita mampu membuat bawahan seperti Pak Ali yang pegawai honor itu (PPD 11/6) atau bawahan yang setia dan baik lainnya bahkan tidak akan sungkan untuk bekerja 25 jam sehari.(PPD 18/1). Ilmu dan pendidikan tinggi, kemampuan mumpuni (termasuk kemampuan berkomunikasi) dan akhlak terpuji. Inilah kunci sukses yang dapat disimpulkan dari topik tulisan pak Dirjen kali ini.

Kesan terhadap PPD (yang sampai sekarang kalau tidak salah sudah 42 judul): Bagus yang disampaikan, bagus penyampaian, santun dan lugas dalam penyampaian. Semoga bermanfaat tentunya bagi kita semua Amin !
Reply
 
 
# izzuddin.hm@gmail.com 2012-07-05 16:22
Apabila empat sifat RASULULLAH yang disampaikan oleh Pak DIRJEN dapat dilaksanakan dalam kehidupan baik dalam kedinasan maupun diluar dinas, maka akan tercapai sasaran dan tujuan organisasi.amien.
Reply
 
 
# imas-Pdg 2012-07-05 16:45
"kata-kata binatang" Astagfirullah semoga beliau yang merasa seperti yang diungkapkan pak Dirjen bisa merubah. Subhanalloh untuk pak Dirjen dengan pesan-pesan moralnya.... Semoga bisa membuka mata hati kami walaupun secara ilmiah hampir semua aparat peradilan agama tahu dan mengerti tapi praktek dan perilaku "suka lupa" .
Reply
 
 
# Tamim PA Linggau 2012-07-05 20:47
Kalau disimpulkan kata Pak dirjen itu, KPA seyogyanya mengamalkan sifat sifat seperti nabi Insya Allah satuan/PA yang dipimpinnya akan sukses
Reply
 
 
# Iskhaq - PA Pekalongan 2012-07-05 20:52
Ilustirasi yang di paparkan oleh pak Dirjen adalah pelajaran penting yang harus dipedomani,kata-kata kasar dan tidak baik yang terucap dari mulut kita adalah akan menjatuhkan martabat yang bersangkutan itu sendiri karena pimpinan secara tidak langsung akan menjadi figur yang dijadikan panutan dan contoh bagi bawahannya, kalau ada pimpinan yang seperti itu sesungguhnya belumlah layak jadi pimpinan.
Reply
 
 
# Muhdi Kholil Kangean 2012-07-05 22:19
Transformasional Leadership adalah kata kunci dari sebuah keberhasilan kepemimpi - nan ala Dirjen Badilag MA RI bapak W W, ini dibuktikan dengan kemampuan Beliau dalam " managerial ability " maupun " technical abiity " nya,dalam menahkodai Badilag. Jika para pimpinan Peradilan Agama yaitu Ketua PTA dan Ketua PA nya, dapat meneladaninya, maka InsyaaAlloh , Peradilan Agama kedepan sangat membanggakan dan bisa menjadi tauladan bagi pembaharuan Peradilan "Court Reform " di Indonesia. Semoga lahir Pemimpin Peradilan Agama yang transformatif ala pak WW dan bahkan bisa melebihi pak WW.Semoga . Amin
Reply
 
 
# Andi Suardi PA. Mamuju 2012-07-06 06:44
Seandainya Pemimpin Pengadilan Agama sudah mengaplikasikan kepemimpinan Nabi seperti yg diuraikan pak Dirjen yakni: Siddiq, Amanah, Tabligh & Fathonah, maka Insya Allah Visi Badilag "Terwujudnya Badan Peradilan Agama Yang Agung" akan tercapai, namun masih ada pemimpin Pengadilan Agama yang hanya menghafal teori kepemimpinan sehingga kepemimpinannya sudah bagus dari segi retorika, masih terjadi perbedaan antara pernyataan dan kenyataan, akibatnya harapan bawahan masih jauh dari kenyataan.
Reply
 
 
# Faizal Kamil,KPA.Bengkalis 2012-07-06 07:01
Pak Dirjen. (Drs.H.Wahyu Widiana, MA) YM. adalah figur yang memiliki kemampuan komprehensif, lengkap disemua lini, Spt. Bahasa, pengkaderan, intelektual, santun, IT (motivator) dls. Selamat atas perjuangan pak dirjen yg. juga telah mempertahankan POSBAKUM !
Reply
 
 
# A.Topurudin, PA Banyumas 2012-07-06 07:18
Saya mendukung sekali usul pak Dalih Effendy dari Karawang, kiranya pak Dirjen berkenan menyusun buku tentang kepemimpinan, misalnya dengan judul "KIAT MENJADI PEMIMPIN PENGADILAN YANG SUKSES" tersebut, sebab memang hal mendesak yang perlu segera dibenahi di lingkungan Peradilan Agama adalah masalah kepemimpinan, jika kita ingin mewujudkan visi menuju Badan Peradilan yang Agung, yakni peradilan modern, berwibawa, dihormati, mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Pimpinan ibarat pemilik kendaraan yang mampu memelihara seluruh komponen kendaraan, semua elemen berfungsi dengan baik, sehingga sukses menempuh perjalanan sampai ke tujuan. Pimpinan yang berkualitas mampu menciptakan iklim kerja yg kondusif, memiliki rasa kebersamaan, semua elemen merasa terayomi, kaya inisiatif, penuh inovasi, sehingga mampu mengukir prestasi. Kami tunggu warisan karya agung pak Dirjen selanjutnya.
Reply
 
 
# # Sakdullah, PA Labuan Bajo NTT 2012-07-06 08:40
MEMANG BERAT DAN TIDAK MUDAH MENJADI PEMIMPIN YG IDEAL DAN....KALAU JADI PIMPINAN MUNGKIN SEMUA ORANG BISA....
Reply
 
 
# ike_pa smi 2012-07-06 12:08
Kalau yang dikatakan pak Dirjen tentang seorang ketua yang sedang marah menyebut nama binatang yang aneh-aneh yang harusnya ada dikebun binatang dan jadi tontonan bisa-bisa ketua tersebut akan menjadi tontonan di PA-nya sendiri.....perlu di tes dulu kepribadian dan sopan santun dalan bertutur sapa sebelum diangkat jadi ketua jangan semena-mena mentang-mentang sedang diatas...roda selalu berputar tidak selamanya berkuasa harus banyak-banyak beristighfar..
Reply
 
 
# Nyong Amboina 2012-07-06 13:22
Benar Bapak Dirjen ! Rasulullah adalah contoh teladan yang baik, bukan hanya sifat-sifat dan tingkah lakunya melainkan semua perkataan dan perbuatannya. Dan itu adalah salah satu dari rukun iman kita yang enam.
Yang berat bagi seorang pemimpin adalah adanya godaan / tantangan dari dalam dan luar dirinya. Maka diperlukan usaha dan upaya pengendalian diri.
Pemimpin juga manusia yang terbatas (baharu) maka memerlukan pembinaan, contoh teladan dan kiat-kiat jitu sebagaimana telah disampaikan oleh Bapak Dirjen dengan harapan menjadi sukses.
Reply
 
 
# Taufiq R - PA Tabanan 2012-07-06 13:44
Memang sangat tepat apa yang disampaikan Pak Dirjen, mungkin baik juga diingat satu lagi pesan Rasulullah ttg kepemimpinan, "Jangan berikan jabatan/kepemimpinan kepada orang yang meminta jabatan"
Reply
 
 
# Ali Hamdi, PA Lombok Barat 2012-07-06 14:14
Uraian yang bagus, mengaktualkan ajaran agama masuk dalam dunia kantor, inofatif sekali pak Dirjen paparan motifasinya, kita tunggu nasehat inovanya diwaktu yg lain,
Reply
 
 
# Sutikno-PA Donggala 2012-07-06 14:27
pimpinan setidaknya hrs proporsional dan profesional, mampu menempatkan diri, menyesuaikan diri dan memposisikan diri, yang jls ya hrs STAF (Sidiq, Tabligh, Amanah, Fathonah).....
Reply
 
 
# Sunardi PA Jambi 2012-07-06 15:39
Pemimpin yang ideal adalah yg siddiq, tabligh, amanah,dan fathonah (STAF)kalau keempat sifat ini dapat diaflikasikan oleh seorang pemimpin, insya'allah ia akan sukses dalam mengemban tugas sebagai pemimpin, semoga........
Reply
 
 
# DH PTA Banten 2012-07-06 16:35
Terkadang 'jabatan' pemimpin itu sangat diminati, diinginkan hingga berbagai cara sering ditempuh...tapi di sisi lain, tidak sedikit orang jika sudah menjadi pemimpin 'lupa' akan konsekwensinya (tanggung jawab) amanahnya; sebagai suri teladan, pengayom, membimbing dan menjadi orang yang paling pantas diikuti. Maka tepat kiranya apa yang disampaikan p Dirjen bahwa cukup bagi pemimpin itu mengamalkan sifat-sifat Rasulullah sekalipun tidak belajar ilmu leadership modern termasuk ilmu manajerial yang berkiblat dari Barat.
Reply
 
 
# ahid Lampung 2012-07-06 23:58
yang terdengar dari pak Dirjen mungkin hanya sebuah kasus, mungkin banyak kasus-kasus lain yang tidak disampaikan ke pak Dirjen. Tetapi apapun bentuknya jika kepemimpinan dilaksanakan dengan tidak menggunakan teori kepemimpinan yang benar maka akibatnya bawahannya selalu merasa tidak nyaman, suasana kantor menjadi tidak kondusif. Oleh karena itu tepat sekali jika seorang pemimpin selain mahir dalam manajerial bahkan skill sekalipun harus ada nilai tambahnya adalah sifat orangtua terhadap anaknya yaitu : membimbing, membina dan mengayomi. Rasulullah sebagai panutan dapat diambill sebagai rujukannya.
Reply
 
 
# akangjajangs/ PA Tnk 2012-07-07 08:07
Ya, kalau kembali kpd Rasulullah SAW semua masalah akan menjadi maslahah. Masalahnya bagaimana kita untuk terus komited dengan Rasulullah SAW?. semoga kita benar2 sbg umat Rasulullah SAW. amiin.
Reply
 
 
# Mumu-Cakim PA Cianjur 2012-07-07 09:02
Pemimpin yang ideal merupakan figur yang ditunggu-tunggu di instansi dan tempat manapun. karena di tangan nya maju mundurnya instansi yang dia pimpin.
Reply
 
 
# Syamsulbahri PA Mks 2012-07-07 10:42
Salut dan sependapat tentang kiat menjadi seorang pemimpin yang sukses... secara filosofi tentu terlebih dahulu meneladani kiat Rasulullah SAW dalam memimpin... kemudian berpedoman kepada "inngarso suntulodo ...dst lalu berpedoman kepada pepatah bugis yang dikemukakan oleh Pak Yusuf WK PA Kendari... lalu kemampuan mengaflikasimakn atau mengimplementasikan dalam melaksanakan tugas... sosok pemimpin yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang jujur dalam segala hal, sebab dengan kejujuran semua program2 yang dicanangkan Insya Allah akan terlaksana... jadi yang satu ini aja dapat terjadi transparansi, keadilan, kebijakan tertentu dari seorang pemimpin... pokoknya jujur aja... penjahat aja kalau jujur, akan berhenti jadi penjahat... ayo mari kita coba...
Reply
 
 
# mudzakkir-tebuireng-jombang 2012-07-08 07:48
refreshing semacam ini perlu terus digemakan, setiap kita yang merindukan situasi kelembagaan yang sejuk, kondusif dan mertabat mesti menlembagakan pencerehan pak dirjen ini, masalahnya dalam kondisi sekarang ini merubah stigma yang berorintasi keduniaan ansich, seprti mengejar jabatan, tuntutan peningkatan pendapatan dll. sering mengabaikan eksistensi kita sebagai potret pemimpin umat meskipun dalam skala kecil, dan menjelang akhir pengabdiannya, kiranya pak dirjen sudah NANDUR tokoh yang akan dipersiapkan untuk masa mendatang, sehingga gagasan-gagasannya tidak mandeg, nuwun pak dirjen :zzz
Reply
 
 
# Muslih - PA Medan 2012-07-08 10:16
Jika ingin menjadi pemimpin, harus siap kembali belajar banyak hal, utamanya kesantunan. Sesuai maksud Bapak Dirjen.
Reply
 
 
# Hn-MS Blangkejeren 2012-07-08 10:17
Mudah-mudahan kepemimpinan nabi Muhammad saw. menjadi suri tauladan bagi pemimpin-pemimpin kita di daerah
Reply
 
 
# suhartono #pa gresik 2012-07-08 10:43
alhamdulillah dapat ilmu lagi, terima kasih Pak Dirjen semoga menjadi amal jariyah, amien..
Reply
 
 
# Abu Amar, PTA Kendari 2012-07-08 13:05
Rasulullah saw, sebagai pemimpin spiritual dan pemimpin umat dalam sejarah kehidupannya lebih banyak menunjukkan keteladanan, memberikan motivasi dan mengikuti kehendak para sahabatnya selama berada dalam koridor syar'iy. Itulah yang kemudian diterjemahkan dalam konsep kepemimpinan Jawa : "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani". Kalau kita sekalian mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak hanya "itupun sudah bagus" sebagaimana kata Pak Dirjen, tetapi lebih dari bagus, karena Rasulullah saw adalah uswatun hasanah bagi seluruh umatnya. Insya Allah.
Reply
 
 
# Wahyu Widiana 2012-07-10 23:43
Ya, maksud saya begitu Pak. Terima kasih.
Reply
 
 
# Mohammad H. Daud PA Negara Kalsel 2012-07-08 19:09
Siddiq, amanah, tabligh, fathonah sudah cukup menjadi pegangan setiap pimpinan, tapi seberapa banyak pimpinan yg menerapkan sifat Rasulullah SAW tsb ?
Reply
 
 
# Naffi PA Mempawah 2012-07-08 20:21
- Apabila kita hanya melakukan dengan menunggu orang lain katakan maka kita akan menjadi orang gila, lakukan sekarang sekalipun hal itu kecil, maka kita akan menemukan jati diri kita yanga sebenarnya.
- Santun adalah kekuatan yang dahsyat, lelbut tidak berarti santun, keras tidak sepenuhnya kasar, sejatinya kebenaran juga kelembutan hati.
Reply
 
 
# Abdullah-PA Merauke 2012-07-09 04:36
Salut atas keritikan Pak Dirjen, yg jd persoalan apakah semua pimpinan di PA, PTA gemar membaca tulisan Pak Dirjen khususnya Pojok Pak Dirjen, sy berharap Pak Dirjen memberikan instruksi kepada seluruh KPTA n KPA membaca pojok Pak Dirjen u selanjutnya disosialisasikan kepada seluruh bawahannya, sy khawatir tulisan yg sangat bermanfaat ini hy diserap oleh sebagian org saja smtr menurut hemat sy semua tulisan pak Dirjen sangat bermanfaat jd rugi apabila tdk membuka Pojok Pak Dirjen setipa hari, klu perlu wajibkan seluruh pimpinan PTA N PA memberikan komentar yg bisa diberi penilaian dr Pak Dirjen, thks, kami tunggu tulisan berikutnya salam sukses selalu u kita semua Amin
Reply
 
 
# Nina PA. Marisa 2012-07-09 06:23
MOga jadi i'tibar untuk setiap qita Amin....tks to every science is always full benefits dari Bapak Dirjen....
Reply
 
 
# H. Barmula PTA Ambon 2012-07-09 06:38
Sindiran yg halus tp pedas, hendak dpt kita ambil hikmahnx, tetapi untuk seorang pegawai Peradilan Agama walaupun bukan seorang pimpinan pada unitnya namun harus menjunjjung Tinggi 4 sipat2 Rasulullah SAW, karena kami semua pemimpin yg harus mempertanggung jawabkan apa yg kita pimpin/kerja. Rejeki yg kita dapat karena hasil dari bekerja, jiwa malas dibuang jauh2 itulah mungkin pemiikran Pak Dirjen, tetapi kkita semua didalam bekerja harus dan selalu Berirtiqfar banyak2 dari pada sering marah.
Reply
 
 
# Heru PTA Palu 2012-07-09 07:04
Semoga ini bisa menjadi kaca bagi kita.....sudahkah kita berkaca dan mengetahui siapa kita???? mirror ...mirror on the wall...
Reply
 
 
# Ismail Paisuly, PA Masohi 2012-07-09 07:35
Sebagai umat Islam wajib kita mengikuti keteladanan/kepemimpinan Rasulullah SAW, sedangkan sebagai aparat Badilag sangatlah patut kita teladani kepemimpinan Pak Dirjen (Pak Wahyu), Insya Allah kita sukses !
Reply
 
 
# wachid yunarto@PA Smg 2012-07-09 08:19
Siapa sih yang tidak tahu sifat wajib Nabi dan Rasul? Saya kira semua pimpinan PA yang alumni IAIN pasti tahu itu! Masalahnya TIDAK SEMUA MAU mengimplementasikan pengetahuannya dalam memimpin. Latar belakang pengalaman. pendidikan,lingkungan dan kebiasaannya telah membentuk karakter yang jauh dari akhlaqul karimah yang dicontohkan Nabi SAW. Terima kasih pak Dirjen sudah mengingatkan kita semua untuk tetap berada "on the right track" :-)
Reply
 
 
# Syafri Amrul PA Bkl 2012-07-09 08:23
Alhamdulillah, terimakasih Pak Dirjen ini adalah pelajaran yang diberikan oleh seorang pemimpin kepada pemimpin agar mampu menjadi pemimpin yang baik, tapi kita harus ingat pula bahwa menurut Rasulullah setiap kita ini adalah pemimpin...., apabila kita mampu memimpin diri siendiri, insya Allah diberi pula kemampuan untuk memimpin orang lain
Reply
 
 
# asep ridwan.pa kalianda 2012-07-09 08:26
ada kalanya seseorang bisa menjadi pemimpin yang baik, tapi tidak piawai menjadi seorang bawahan yang baik, seorang pimpinan yang baik adalah dia yang pernah menjadi bawahan yang baik..
Reply
 
 
# M. Slamet Turhamun 2012-07-09 08:51
"...Mengetahui dan mengaplikasikan sifat-sifat Rasulullah SAW saja sudah bagus" itulah kutipan alenia terahir di atas, perasaan dapat mengundang salah memaknai looh.. :-)
Reply
 
 
# Achmad Edy Rawidy 2012-07-09 09:05
pemimpin yang amanah itu artinya tidak pendendam , mementingkan diri dan kelompok, insyaAllah dg sistem kepemimpinan yang di punyai Rosullah kita akan mempunyai kaderr terbaik bukan kader karbitan, bravo pak dirjen you are the best...
Reply
 
 
# Irwandi, KPA. Ruteng 2012-07-09 09:15
Seorang pemimpin menjadi tauladan bagi bawahanya, makanya dituntut untuk berbuat dan bersikap yang baik, perkataan mauoun perbuatan.
Reply
 
 
# #as ad PTA Surabaya 2012-07-09 09:39
Tulisan yang bagus, pak dirjen aja bisa, tapi implementasinya bagi seorang pimpinan baik ketua maupun pansek masih banyak yang belum bisa, meskipun mereka orang islam dan sudah haji pun, kata-kata nya masih kebun binatangan, Subhanallah....??
Reply
 
 
# Aris PA Ruteng 2012-07-09 09:41
Sediakan cermin besar di hadapan kita...apakah sudah seperti kriteria yang disebut pak Dirjen...semoga kita bisa, karena banyak di sekeliling kita pemimpin yang Fathonah dan Tabligh akan tetapi jauh dari sifat Siddiq dan Amanah...akhirnya kita hanya menjadikan pemimpin macam itu sebagai "referensi" dan pelajaran bahwa pemimpin yang tidak Siddiq dan Amanah itu akan mendapat balasannya baik di dunia maupun di akhirat kelak..na'udzubillah min dzalik...
Reply
 
 
# Mawardi Lingga PA Sidikalang 2012-07-09 09:58
Kepemimpinan type Rasulullah saw yang pak Dirjen contohkan adalah kepemipinan yg paripurna dan memang itulah yang mestinya kita contoh bila ingin sukses dunia akhirat, namun kita masih jauh dari itu karena diri kita mungkin masih penuh dengan noda dan dosa, buktinya kita yang tidak mampu menyadarkan bawahan utk bekerja dengan tertib, cermat dan semangat, maka nama-nama binatang yang dibawa-bawa kan aneh ..... semoga untuk menjaring pemimpin ke depan tidak hanya berdasarkan faktor pangkat dan kedekatan ybs dengan Pejabat.
Reply
 
 
# bs Maninjau 2012-07-09 11:16
Kalau 4 sifat Nabi bisa dicontoh amanlah kantor kita. Tapi yang mencontoh tidak hanya Ketua saja, melainkan seluruh pegawai. Semua harus amanah, jujur, tabligh dan fatonah. Tks Pak Dirjen atas resep hari ini.
Reply
Reply
 
 
# Nurdin PA Subang 2012-07-09 11:46
KALAU baca apa yang Yth, Pak DIRJEN sampaikan bahwa di PA ada Ketua PA yang memarahi bawahannya dengan kata2 binatang,apalagi kalau langsung mendengar, saya merasa miris, kenapa orang yang punya sifat buruk seperti itu bisa dipilih jadi Ketua ? apakah hanya karena kecerdasannya ? sedangkan faktor moral dan akhlakul karimah tidak diperhatikan ? atau kah keliru memilih ? Karena seorang Ketua dipilih dari Hakim,yang mempunyai akhlakul karimah, yang paling tidak sebagai orang muslim ya tidak pantaslah di kantor berbuat seperti itu, mungkin kebiasaan dirumah bgt, Oleh karena itu kalau mau mengangkat seseorang untuk dijadikan Ketua tidak hanya dilihat dari segi kecerdasannya saja ( IQ ) sebab keberhasilan dari kecersasan hanya 15%justru harus lebih memperhatikan kecerdasan emosional (EQ ) dari ke-Cerdasar Emosionl inilah sesorang mencapai keberhasilan sampai 80% lebih kenapa Rasul SAW berhasil berda'wah, sebab ke-Cerdasan Emosionalnya sangat luar biasa, salah satu contoh; ketika Rasul sedang ada di mesjid dengan para sahabat, tiba2 ada seorang laki2 baduy datang dan langsung kencing di dalam mesjid sambil berdiri, melihat begitu spontan para sahabat Nabi merasa dilecehkan dan berdiri ingin mengejar orang itu, tapi Nabi melarang sambil berkata; "biarkan saja orang itu kencing sampai selesai" smabil menahan marah sahabat terdiam, kemudian orang itu pergi setelah selesai kencing, begitulah sifat Rasul,dan ternyata lararanag Rasul itu mengandung hikmah yang begitu dalam. Dengan ceritera pak DIRJEN mudah2n kedepan memngangkat seorang ketua tidak cukup hanya dengan memperhatikan kecerdasannya saja, melainkan ke-Cerdasan Emosional( EQ ) juga supaya diperhatikan, sebab sifat seprti itu sulit dihilangkan, apalagi sudah menjadi karakter seseorang,sulit untuk dirubah. juga tidak cukup hanya ndengan pertimbanagan BAPERJAKAT /TPM melainkan bila perlu survei ke PA tempat calon2 Pimpinan bekerja dan tanyakan kpd temen2 ditempat dia bekerja, supaya tahu kelakuan dan keadaan calon pimpinan yang akan diangkat menjadi pemimpin, yang dianggap mempunyai ide2 yang cerdas itu, sebab jadi seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kecerdasan, melainkan kematangan nemosional juga harus / mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin, ini skedar saran,,,semoga kedepan tidak ada lagi Ketua PA yang bgt,,,,,
Reply
 
 
# Arek sby 2012-07-09 11:54
Suatu kritik konstruktif dan edukatif dari bpk Dirjend Badilag sebab semua pemimpin PA harus berusaha mencontoh pola kepemimpinan Rasulullah sebagai uswatun hasanah.
Reply
 
 
# anwar- pa.sentani 2012-07-09 14:01
semoga aparat peradilan agama dapat meneladani kepemimpinan rasulullah saw dengan menanamkan nilai2 sifat rasulullah pada diri masing2 dan mengaplikasikannya seperti yang disampaikan Pak Dirjen
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya / Singaparna 2012-07-09 14:57
semoga saya bisa mengikuti jejaknya, ya minimalnya jujur dan tidak membedakan orang.
Reply
 
 
# A.Sayuti PA.Pk.Baru 2012-07-09 16:17
setiap orang ada kelemahan dan kelebihan, tidak ada orang sempurna, media ini tentunya menjadi media pembelajaran bagi warga peradilan utk belajar dan mengambil pelajaran dari berbagai tulisan dan kisah yang dismpaikan pak dirjen, belajar manejemen dengan pola pak dirjen terasa berkesan karena didasarkan pada kondisi riel, tidak monoton pada teori-teori menajemen tetapi sarat dengan pesan moral dan ilmu manajemen.
Reply
 
 
# Anung S. PA. P.Bun 2012-07-10 08:41
Sebenarnya sudah cukup jika dalam memimpin, mengikuti sifat-sifat Rasulullah Saw. Namun tidak ada salahnya jika juga mempelajari teori kepemimpinan modern ala barat, Juga tidak salah jika meneladani Pola kepemimpinan Pak Dirjen. Terimakasih Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-07-10 09:01
Kita paham bhw al-Quran adalah Hudan (Pedoman) Hidup bagi manusia, tetapi sedikit sekali orang yg hidupnya berpedomankan al-Quran...
Kita tahu bahwa Nabi Muhammad adalah sbg Uswatun khasanah (contoh tauladan yg baik), tetapi sedikit sekali orang mencontoh keteladanan Rasulullah...
Inilah kenyataan ummat Islam di dunia sekarang...
Reply
 
 
# Suhadak PA Mataram 2012-07-10 11:11
Empat sifat Rasul, Sidiq, amanah, tabliq, Fatonah sejak MI sudah kita hafal. tapi aplikasinya masih sulit kita laksanakan, walau demikian kita harus berusaha semaksimal mungkin. sifat itu aja kita amalkan akan membuat kinerja kita akan nyaman. Tanpa saya sadari ternyata Pak Dirjen telah lama mengamalkan sifat ini. Subhanallah.
Reply
 
 
# Jimmy PA Cianjur 2012-07-10 13:56
Sesungguh telah ada dalam pribadi Rasulullah contoh yang baik untuk diteladani, tinggal bagaimana kita untuk mencontoh dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi pemimpin yang telah di contohkan Rasululah.. Semoga kita bisa mengikutinya.. Amin..
Reply
 
 
# itna- PA.Gs 2012-07-11 09:52
Kiat2 yang disampaikan oleh Bapak Dirjen tsb sangat baik untuk dibaca dan di implementasikan oleh seluruh pegawai Peradilan Agama karena kedepan insya Allah akan menjadi seorang pemimpin juga...Amiiin..Trimakasih Pak Dirjen..
Reply
 
 
# TUTI KAB MADIUN 2012-07-11 09:59
ALHAMDULILLAH PAK SEMOGA SEMUA ITU BISA DITIRU OLEH SEMUA PARA PIMPINANKHUSUSNYA DILINGKUNGAN PERADILAN AGAMA DAN YG DI CONTOHKANBPK BENER SEKALI AMIN
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1596 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS