Kamis, 24 April 2014 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Kegiatan Rapat Konsultasi Evaluasi Realisasi Anggaran Triwulan I tahun 2014 dan Penyusunan Renja 2015 | (23/4)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 5 | (17/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Diklat Hakim Ekonomi Syari'ah Tahun 2014 | (16/4)
PENGUMUMAN : Ralat Perubahan Tempat Kegiatan Bimbingan Teknis Administrasi Peradilan Agama Angkatan II tahun 2014 | (15/04)
PENGUMUMAN : Permohonan Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun 2014|(14/04)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Administrasi Peradilan Agama Angkatan II | (11/4)

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Pelatihan Pemantapan Kode Etik dan Perilaku Hakim Dari Komisi Yudisial | (11/4)
PENGUMUMAN : Format BAS dan Putusan | (8/4)

PENGUMUMAN : Hasil Rapat Pimpinan dan TPM Mahkamah Agung RI | (8/4)
PENGUMUMAN : Penulisan Nama, NIP dan Tempat/Tanggal Lahir dalam Aplikasi SIMPEG Online | (1/4)
PENGUMUMAN : Optimalisasi Aplikasi SIADPTA Plus | (27/3)

PENGUMUMAN : Verifikasi dan Validasi Data Kepegawaian 2014 | (21/03)
VIDEO : Kuliah Berseri Peradilan Agama -- Seri 4 | (21/03)
PENGUMUMAN : Usulan Rencana Kinerja Tahunan DIPA 04 Ditjen Badilag | (21/03)
VIDEO: Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 3 | (17/3)
PENGUMUMAN :
Pemanggilan Peserta Sosialisasi Hukum Acara Ekonomi Syariah (KHAES) | (17/3)
PENGUMUMAN : Pembaharuan Data SDM Berbahasa Asing | (17/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Workshop Bagi Hakim Pengadilan Agama | (14/3)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Peningkatan Tenaga Teknis Pemberkasan Perkara Kasasi/PK di Bandar Lampung | (14/3)
SURAT EDARAN : Pemberitahuan (PENIPUAN) | (14/3)




Tambahkan ke Google Reader
Marhaban Ya Remunerasi (oleh : Asep Parhanil Ibad) PDF Cetak E-mail
Oleh wahyu setiyawan   
Selasa, 08 Juli 2008 00:45

Marhaban Ya Remunerasi

AHLAN WASAHLAN BIMUQODDAMI HADROTIK !

(Selamat datang Remunerasi,

Kami menyambut baik kehadiranmu)

Oleh : Asep Farhanil Ibad

 


 

 

ولكل درجات مما عملوا وليوفيهم اعمالهم وهم لايظلمون

“Dan setiap orang memperoleh tingkatan derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan mereka, dan mereka tidak dirugikan”. (Q.S. 46 (Al-Ahqaf) : 19)

Sejak keluarnya Peraturan Menteri Keuangan RI. Nomor 73/PMK.05/2007 tanggal 28 Juni 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan RI. Nomor 10/PMK.02/2006 tanggal 16 Februari 2006 tentang Pedoman Penetapan Remunerasi Bagi Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas dan Pegawai Badan Layanan Umum serta Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan itu, Remunerasi menjadi topik utama diberbagai media massa, menjadi buah bibir dikalangan Pegawai Negeri tidak ketinggalan pegawai dilingkungan Mahkamah Agung RI. dan boleh dikatakan hal tersebut ibarat angin syorga yang menyenangkan dan memberi sejuta harapan akan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan.

Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dengan berbagai pertarungan alot, pro dan kontra dikalangan legislatif, akhirnya payung hukum yang ditunggu-tunggu dan cukup membuat lega hati Pegawai Negeri dilingkungan Mahkamah Agung RI. lahir juga yaitu berupa Peraturan Presiden RI. Nomor 19 Tahun 2008 tanggal 10 Maret 2008 tentang Tunjangan Khusus Kinerja Hakim dan Pegawai Negeri Dilingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan Yang Berada di Bawahnya.

Namun demikian, lahirnya Peraturan Presiden RI. Nomor 19 Tahun 2008 tersebut sedikit menimbulkan kecemasan dikalangan sebagian pegawai (Non Hakim khususnya), tetapi kecemasan itu sedikit menghilang setelah keluarnya Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI. Nomor 070/KMA/SK/V/2008 tanggal 14 Mei 2008 tentang Tunjangan Khusus Kinerja Pegawai Negeri Dilingkungan Mahkamah Agung dan Badan Peradilan Yang Berada di Bawahnya, kemudian disusul dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI. Nomor 071/KMA/SK/V/2008 tanggal 14 Mei 2008 tentang Ketentuan Penegakan Disiplin Kerja Dalam Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Khusus Kinerja Hakim Dan Pegawai Negeri Pada Mahkamah Agung Dan Badan Peradilan Yang Berada Di Bawahnya serta  ditindaklanjuti dengan Surat Sekretaris Mahkamah Agung RI. Nomor 315/Sek/01/V/2008 tanggal 19 Mei 2008 sehingga rasa optimis pegawai akan segera cairnya Remunerasi semakin mendekati kenyataan.

Akhirnya, setelah cukup lama menunggu dengan H2C (harap-harap cemas), hari Jum’at tanggal 4 Juli 2008 pada hari ke 4 tahun ke 4 satu atapnya Peradilan Agama berada di bawah Mahkamah Agung RI. pegawai dilingkungan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA-RI. telah menerima Remunerasi.

 

Remunerasi dalam pandangan Islam

Ketika Rasulullah SAW. mengangkat Itab bin Usaid sebagai pemimpin di Makkah, di atas mimbar Itab bin Usaid berkhutbah dan berkata :

”Wahai manusia ! Allah adalah dzat yang memberikan rasa lapar pada lambung seorang hamba atas uang satu dirham; Rasulullah SAW. telah memberikan rizki kepadaku satu dirham setiap hari, dan saya tidak lagi membutuhkan bantuan dari orang lain”. 

Inilah sebenarnya penggajian pegawai pertamakali yang menerapkan sistem Remunerasi.

Rasulullah SAW. dan Khulafaur Rasyidin menetapkan upah seorang pegawai berdasarkan jenis dan tingkat pekerjaan. Oleh karena itu, upah yang diterima oleh masing-masing pegawai tidak sama dan bisa berbeda-beda berdasarkan jenis pekerjaan serta tanggung jawab yang dipikulnya, sebagaimana penegasan Rasulullah SAW. : ”Al-Ujrah biqadril Masyaqqah (Upah diberikan kepada seseorang berdasarkan berat ringannya pekerjaan”.

Ketentuan tersebut merupakan asas pemberian upah sesuai dengan ketentuan Allah yang terkandung dalam firman-Nya :

 ولكل درجات مما عملوا وليوفيهم اعمالهم وهم لايظلمون

“Dan setiap orang memperoleh tingkatan derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan mereka, dan mereka tidak dirugikan”. (Q.S. 46 (Al-Ahqaf) : 19)

Prinsip dasar pemberian upah yang dilakukan Rasulullah SAW. beserta Khulafaur Rasyidin adalah sangat moderat dan proporsional, artinya tidak berlebihan dan tidak pula terlalu sedikit. Bagi pegawai yang sudah berkeluarga, gajinya 2 (dua) kali lebih besar dari pegawai yang masih lajang; dengan tujuan utama pemberian gaji secara moderat dan proporsional itu adalah agar para pegawai mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya yang pokok dengan layak sehingga hanya dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya mereka tidak terdorong melakukan tindakan yang menyimpang dan tidak dibenarkan (melakukan pungutan liar, korupsi, kolusi, manipulasi dan sebagainya).

Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib berwasiat kepada para gubernur dimasa ke-Khalifahannya dengan berkata :

“Sempurnakanlah gaji yang mereka terima, karena upah itu akan memberikan kekuatan bagi mereka untuk memperbaiki diri, menjauhkan diri mereka untuk melakukan tindakan korupsi dengan kekuasaan yang dimilikinya, dan bisa dijadikan sebagai argument jika mereka melakukan perlawanan (pelanggaran) dan berkhianat terhadap amanahmu”.

Remunerasi, bagaimana kita menyikapinya ?

Remunerasi merupakan nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada kita, dan supaya nikmat tersebut menjadi rahmat maka seorang muslim apabila mendapatkan nikmat yang kecil maupun yang besar harus menyikapinya dengan penuh rasa syukur sesuai dengan tuntunan Allah sebagaimana dalam firman-Nya :

وإذ تأذّنَ ربّكمْ لِئن شكرتم لأزيْدَ نكمْ وَلئِنْ كفرتمْ إنَّ عَذابىْ لشَديْد

Dan ingatlah tatkala Tuhannu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. 14 : 7).

Kata Syukur dan kata Nikmat keduanya berasal dari bahasa Arab. Syukur artinya berterima kasih, dan nikmat berarti enak, sedap, lezat, karunia atau anugrah.

Adapun pengertian syukur secara luas adalah menggunakan nikmat, anugerah sesuai dengan tujuan nikmat, anugerah itu diberikan. Misalnya kita diberi peci, maka mensyukurinya adalah dengan cara memakai peci tersebut, diletakkan atau dipakai di kepala, bukan di kaki dan bukan untuk menggosok sepatu.

Kita bersyukur bukan hanya dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ tapi harus dibarengi pula dengan bekerja keras, bekerja  dengan giat memanfaatkan semua nikmat sesuai dengan fungsinya dan menggali potensi-potensi nikmat yang belum tergali dan termanfaatkan.

Pada prinsipnya kita menyikapi kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan ini adalah dengan dua hal, yaitu sabar dan syukur; karena Allah senantiasa akan menguji kita dengan kesusahan dan kesenangan.

Sabar berarti menahan diri dari membenci atas Takdir Allah, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota badan melakukan perbuatan maksiat. Sedangkan syukur berarti menempatkan seluruh pemberian Allah pada diri kita sesuai dengan kehendak/keinginan Allah.

Ada ulama yang mengatakan bahwa sabar lebih utama daripada syukur, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa syukur lebih utama daripada sabar. Hal itu tidak perlu kita permasalahkan, yang perlu kita fahami adalah bahwa kedudukan sabar dan syukur keduanya sama pentingnya meskipun dalam Al-Qur’an lebih banyak ditemukan ayat-ayat tentang sabar daripada ayat-ayat tentang syukur.

Rasulullah SAW. bersabda : ”Pemberi makan yang bersyukur derajatnya setingkat dengan orang berpuasa yang bersabar.” (H.R. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Majjah).

Khalifah Umar bin Khattab berkata : “Seandainya sabar dan syukur itu berupa 2 (dua) ekor unta, maka aku tidak peduli mana diantara keduanya yang akan aku naiki”.

Bersyukur atas segala nikmat dan anugrah Allah merupakan salahsatu bukti lurusnya keimanan dalam jiwa manusia, karena bersyukur kepada Allah akan melahirkan dan mendorong sikap selalu Muroqobah Ilallah (dekat kepada Allah) dalam mendayagunakan nikmatan-Nya dengan tidak disertai pengingkaran, perasaan menang dan unggul atas makhluk lainnya, dan penyalahgunaan nikmat.

Cara mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah itu paling tidak harus mengandung 3 hal mendasar, yaitu :

1.       Mengakui di dalam bathin (hati);

2.       Mengucapkannya dengan lisan;

3.       Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberi nikmat. 

Manfaat syukur:

1.       Mensucikan jiwa;

2.       Mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan nikmat secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuhkembangkan nikmat tersebut;

3.       Menjadikan orang lain ridho dan senang kepada jiwa itu dan kepada pemiliknya, sehingga mereka mau membantu dan menolongnya;

4.       Memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam sosial masyarakat, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindung dengan aman.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur atas segala nikmat pemberian Allah SWT. Amiin.

TanggalViewsComments
Total45101
Kam. 2430
Rab. 2310
Sel. 2220
Sab. 1910
Kam. 1730
Rab. 1620
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Plaignlit 2009-06-09 18:26
aladdin's palace casino the gamble above gamble house casino .What is .as a result of sirenis resort casino and spa inside kings beach casino Links baden-baden casino .The .too .should not also chumash casino entertainment catskills casino or again casinos .
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 819 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS