Pak Ali ‘hanya’ Tenaga Honorer dan Ia Pandai Bersyukur
*
Setiap saya masuk kantor pagi hari, keadaan ruangan saya sudah serba bersih dan rapi. Meja kerja sudah mengkilap lagi, tak ada bekas-bekas tangan yang mengotori meja yang terbuat dari kayu jati itu. Berkas-berkas dan buku-bukupun telah ditata dengan rapi. Demikian pula alat tulis dan peralatan lainnya yang selalu ada di meja, sudah tersimpan rapi pada tempatnya.
Di toilet juga sudah serba tertata dan wangi. Di lantai, di closet dan di meja wastafel tidak tampak ada lagi tetesan air, apalagi kotoran. Kelengkapan seperti tissu, sabun, handuk, sikat dan pasta gigi serta lain-lainnya sudah selalu siap.
Di ruang istirahatpun, yang letaknya ada di antara ruang kerja dan toilet, semuanya sudah rapi nan wangi. Sajadah, sandal-sandal, lemari baju, meja kecil dan kursinya, dan peralatan lainnya yang ada di situ semuanya sudah tertata dengan baik.
Jam berapapun saya masuk kantor, jam setengah delapan atau kadang jam tujuh pagi, kalau lalu lintas sedang lengang misalnya, keadaan ruangan selalu begitu. Tidak pernah saya mendapat ruangan acak-acakan ketika saya masuk kantor.
Lalu, siapakah yang selalu rajin melakukan semua ini? Dialah Pak Ali.
**
Nama lengkapnya Ali Abdul Kholid. Sudah enam tahun ia mengabdi sebagai pegawai honorer di Badilag. Ia orang Betawi asli, kelahiran Kampung Melayu, sekitar 5 km dari kantor Badilag. Ia, isteri dan anak semata wayangnya yang berusia 4 tahun juga tinggal di tempat kelahirannya itu.
Dengan menggunakan bis umum, setelah selesai shalat Shubuh, setiap hari Pak Ali berangkat ke Badilag. Sekitar pukul 6 ia sudah tiba di kantor. Saya tidak pernah datang ke kantor sebelum pukul 7. Maka pantaslah kalau keadaan ruangan saya selalu sudah rapi saat saya datang ke kantor.
Pak Ali, yang mempunyai tugas membersihkan ruangan kantor Badilag di lantai 6 dan melayani keperluan sehari-hari saya ini, tampak lugu. Ia tidak banyak bicara apalagi banyak menuntut. Walaupun demikian, ia nampak rajin bekerja dan menikmatinya.
Ketika saya tanya, Pak Ali mengungkapkan rasa senangnya bekerja di Badilag, walaupun sebagai tenaga honorer. Mungkin karena umurnya yang sudah mencapai 46 tahun, Pak Ali tidak mengharapkan untuk menjadi PNS. Sepertinya ia tahu, tidak mungkin lagi dirinya bisa diangkat menjadi PNS di umur setua itu.
“Saya bisa bekerja seperti ini saja sudah Alhamdulillah, Pak,” tuturnya, “Saya sangat bersyukur dibandingkan dulu-dulu. Saya pernah bekerja di swasta, sebagai kuli bangunan, sebagai satpam, bahkan sebagai penjual baju. Saya lebih enak sekarang. Di sini tenang, penghasilan tetap, jumlahnya lumayan jika dibanding dulu-dulu dan yang lebih penting lagi suasana kerjanya enak.”
Lalu, ketika saya singgung tentang jumlah penghasilannya yang hanya Rp 1.350.000 sebulan, dengan polos Pak Ali menjawab, “Alhamdulillah, itu lebih besar dibandingkan dulu-dulu. Yang penting kita syukuri dan jalani hidup ini apa adanya. Saya berusaha selalu jujur, agar hidup tenang dan barokah.”
***
Saya sempat termenung, mendengar jawaban Pak Ali yang penuh dengan keikhlasan dan kepasrahan menjalani hidup ini. Dengan penghasilan yang kecil, Pak Ali selalu semangat, ceria, dan bersyukur. Betapa mulianya Pak Ali ini.
Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari hidup Pak Ali. Pak Ali yang penghasilannya seperti itu namun tetap rajin dan gembira, sementara kita yang penghasilannya jauh di atas Pak Ali, kadang kala menyesali, ngedumel dan malas. Rasanya ironis. Malu juga.
Tampak sekali, Pak Ali berupaya bekerja sebaik-baiknya, rajin dan tekun. Dalam hal kebaikan dan prestasi ini, ia tidak mau kalah dari orang lain. Ia selalu melihat kepada yang ada di atasnya, yang lebih rajin dan lebih giat. Sedangkan dalam hal penghasilan, ia selalu melihat dan membandingkan dengan yang berada di bawahnya. Paling tidak, ia membandingkan penghasilannya yang sekarang dengan penghasilannya ketika ia bekerja di tempat-tempat sebelumnya. Lalu ia bersyukur dan bertekad untuk berbuat jujur terus. Subhanallah...
Pantaslah apa yang disabdakan Nabi kita SAW, “Lihatlah apa yang diucapkannya—atau bisa saja, apa yang dilakukannya—dan janganlah engkau melihat siapa yang mengucapkannya”. Terima kasih Pak Ali, meski anda ‘hanya’ seorang pegawai honorer dengan penghasilan kecil, tapi sikap dan ucapan anda sangatlah menjadi teladan bagi orang lain, setidaknya bagi saya.
Saya tahu, betapa banyaknya tenaga-tenaga honorer di lingkungan peradilan agama yang penghasilannya seperti Pak Ali, atau bahkan kalau di daerah, jauh di bawah penghasilan Pak Ali. Mereka sangat berjasa membantu peradilan agama dalam memberikan pelayanan kepada para pencari keadilan. Bahkan selain itu, merekapun mengambil peran yang sangat besar dalam keberhasilan pelaksanaan Reformasi Birokrasi di lingkungan peradilan agama.
Di bidang Teknologi Informasi (TI) saja, yang merupakan ikon dalam program-program reformasi peradilan, banyak sekali tenaga honorer yang sangat berperan dan sangat menentukan.
Sebut saja Helmi Indra Mahyuddin. Ia adalah jagonya TI di Badilag bahkan di lingkungan peradilan agama secara nasional. Ia memegang tanggung jawab dan peran sangat besar dalam pengembangan TI. Ia sudah bermasa bakti selama lebih dari 5 tahun dan mempunyai andil besar dalam mengharumkan nama peradilan agama. Tapi, sungguh sayang, nasibnya masih memprihatinkan.
Kita sudah mengusahakan yang bersangkutan untuk dapat diangkat menjadi PNS, dengan mengikuti test CPNS, tapi keberuntungan masih belum sempat diraihnya. Belum lagi Ridwan dan Iwan—rekan kerja Helmi Indra Mahyudin—serta tenaga-tenaga honorer lainnya di Badilag dan di lingkungan peradilan agama seluruh Indonesia. Sayapun ikut sedih dan prihatin.
Di bidang lainnyapun, tenaga-tenaga honorer sangat banyak dan sangat membantu pelaksanaan tugas peradilan agama. Nasibnyapun masih belum menggembirakan.
Memang, beberapa waktu lalu telah ada proses pengangkatan tenaga honorer, tapi itu jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah yang ada. Mudah-mudahan pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS ini terus berlanjut dari tahun ke tahun.
****
Melihat keadaan seperti itu, sepantasnya kalau kita memberikan penghargaan kepada Pak Ali dan tenaga honorer lainnya di seluruh Indonesia sebaik-baiknya. Penghargaan itu dapat berupa upaya kita agar mereka dapat diangkat menjadi CPNS.
Janganlah, kalau ada kesempatan mengajukan data mereka untuk dipertimbangkan sebagai PNS, lalu karena ada kepentingan tertentu yang tidak sehat, kita ajukan data tenaga honorer yang fiktif, sehingga terjadi kedholiman terhadap mereka yang betul-betul sudah mengabdi bertahun-tahun.
Atau, setelah mereka mendapat keberuntungan diangkat sebagai CPNS, lalu di antara kita ada yang meminta imbalan uang yang sangat besar bagi ukuran mereka, dengan dalih untuk diberikan kepada pihak-pihak tertentu yang berjasa, sebagai bentuk syukuran. Masya Allah! Saya sangat marah mendengar ada indikasi seperti itu.
Penghargaan lainnya yang patut diberikan kepada mereka adalah kesejahteraan mereka. Janganlah ada tindakan pemotongan honor-honor mereka yang sudah sangat kecil itu. Malah kalau bisa dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, ajaklah mereka dalam kegiatan-kegiatan kantor yang berdampak adanya tambahan penghasilan bagi mereka selain honor bulanan.
Lalu, penghargaan lain yang tak kalah pentingnya adalah perlakukan kita kepada mereka. Perlakukanlah mereka sebagaimana kita memperlakukan pejabat dan pegawai lainnya. Kita perlakukan mereka dengan sewajarnya dan tidak menganggap remeh status kepegawaian mereka. Kita bersikap kepada mereka sebagaimana kita bersikap kepada pejabat dan pegawai lainnya. Kita wajib meng-uwong-kan, meng-‘orang’-kan dan menghormati mereka.
Kita tanamkan rasa saling menghormati, saling memahami dan saling mengasihi di antara kita, termasuk tenaga-tenaga honorer yang ada di lingkungan kita. Masing-masing kita, termasuk tenaga honorer, perlu mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Dengan demikian, tidak ada lagi perlakuan dan tuntutan yang tidak proporsional. Kita semua menjadi tenang, tentram dan damai dalam bergaul dan bekerja.
Kalau semua itu sudah kita lakukan bersama, insya Allah hidup yang barokah seperti diharapkan oleh Pak Ali akan dapat kita raih secara bersama pula.
Terima kasih, Pak Ali. Terima kasih, kawan-kawan semua. (WW). | Tanggal | Views | Comments |
|---|
| Total | 20600 | 212 | | Sab. 18 | 15 | 0 | | Jum. 17 | 5 | 0 | | Kam. 16 | 3 | 0 | | Rab. 15 | 4 | 0 | | Sel. 14 | 8 | 0 | | Sen. 13 | 20 | 0 |
|
Comments
Maju Terus !
Semoga Allah senantiasa melapangkan hati kita, dunia tempatnya bekerja diakhirat kita menikmati. Insya Allah
Sosok semacam Pak Ali ini, karena keikhlasan dan pandai bersyukurnya, tentu juga tidak butuh reward dunia, tidak pingin demo, tidak pingin jadi pejabat negara, tidak menunggu remunerasi 100%, tidak menunggu pengumuman TPM serta "tidak-tidak" yang lain, dan yang diharap hanyalah ridlo Allah SWT. Semoga.
DEMI ALLAH,,,INGATLAH BETAPA ALLAH MENGUJI KITA DENGAN KEKURANGAN DAN KELEBIHAN DIRI KITA SENDIRI
Pak Ali yg "hanya" sebagai nonorer di Badilag mungkin lebih terhomat dan mulia daripada seorang pejabat yg menyalahagunakan jabatannya. Karena Pak. Ali telah melaksanakan tugasnya sebagai cleaning secive dg tulus dan ikhlas serta tidak akan pernah melakukan korupsi yg merugikan.
Karena itu, janganlah merasa hina karena jabatan yg rendah dan jangan sombong dan angkuh dengan jabatan yg tinggi. Hargai dan hormatilah seseorang karena personalnya bukan karena jabatannya...
patut kita acung jempol sama bapak Ali yang telah bekerja dengan tekun, dan tetap bekerja dengan semangat, pasti akan diperhatikan oleh atasan yang bersangkutan dan akan diberikan reward/ penghargaan. tunggu saja.
semoga Alloh memudahkan jalan kawan2 honorer d PA2 lainnya. amin
Di baliak pulau angso Duo
Hancur luluah di kandung tanah
Budi baik takana juo
Bagaimana dg kita (hakim, pejabat & PNS lainnya di lingkungan peradilan agama) semoga dpt mengambil pelajaran, sehingga tdk banyak tuntutan dan tetap melaksana kan tugas dg penuh rasa tanggungjawab, istiqomah dan qonaah. Semoga menjadi barokah. Amin!
Mari kita banyak belajar dari BELIAU.
Sukses pak Ali, saya dulu juga pernah JADI TENAGA HONOR selama 7 tahun.
Tapi memang 'penghargaan' kita kepada mereka terasa masih sangat kurang, khususnya di segi gaji. Bahkan dengan gaji 1,3 juta terasa kurang pantas dengan gelar sarjana (S.Kom umumnya) yang mereka sandang.
Namun, kalau mereka pandai bersyukur, seperti Pak Ali ini, Insya Allah, akan berkah. Keberkahan inilah yang harus dicari. Penghasilan besar, kalau tidak berkah, tak ada gunanya. Ludes semua dimakan waktu dan nafsu.
USUL : Mungkin di acara Peringatan 130 Tahun Peradilan Agama nanti, perlu ada award khusus untuk para tenaga honorer ini.
Pak Ali dapat bekerja seperti itu pasti karena Pak Ali sudah banyak pengalaman bekerja di tempat lain, tetapi suasana kerja dan penghasilannya sungguh sangat berbeda dari menjadi tenaga honor di Badilag. Pak Ali dan teman-teman menyenangi pekerjaan, menikmatinya, tulus, ikhlas serta mensyukuri apa yang didapatnya. Pak Ali orang biasa , bukan anak atau kerabat pejabat yang suka mentang-mentang bahwa dia anak atau kerabat pejabat. Pak Ali dan kawan-kawan (ini yang paling penting) mendapat perlakuan yang baik dan selayaknya dari lingkungannya terutama pimpinan. Lihat ! bagaimana dalam foto ilustrasi, bapak Dirjen tidak segan-segan berfoto sambil merangkul/memegang bahu Pak Ali.
Akhirnya, mari kita sikapi himbauan bapak Dirjen dengan sebaik-baiknya dan kita ambil pelajaran dari apa yang disampaikan beliau sehingga tercipta suasana kerja yang kondusif dan harmonis. Jangan sampai, sopir terlambat menjemput sehingga si bos telat masuk kerja atau petugas kebersihan lupa membersihkan sesuatu lalu dicacimaki atau dipotong gajinya yang tidak seberapa itu. Atau sebaliknya Pegawai (Honorer) malah tidak peduli dengan tugas dan kewajibannya. Ini sungguh suatu pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, mulai dari pegawai dan pejabat sampai kepada semua pegawai honorer. Allahu a’lamu bishshawab.
Salute to Pak Ali
Reply
Marilah kita mencari rizki yang halal, tidak melakukan manipulasi data karena itu bentuk kebohongan, apalagi itu bisa mendholimi saudara2 yang lain.
Bayangkan kalau tidak ada tenaga honorer. PA tidak akan bisa bersaing dengan kantor lain.
PA Kota Tasikmalaya sangat terbantu sekali oleh tenaga honorer.
Terima kasih tenaga honorer !!!
takabbal du'a ana ya karim..
Berkenaan mas Helmi Indra Mahyuddin yang pernah dijuluki filosof IT Badilag.net beta ikut prihatin bila benar dia bercita cita jadi PNS tapi belum berhasil diperjuangkan pak Dirjen meskipun sudah honorer 5 tahun. Beta berdoa mudah-mudahan mas Helmi berhasil diangkat jadi CPNS sebelum pak Dirjen Husnul Khatimah. Kalau pak Dirjen sudah masukkan dalam program prioritas Insya Allah berhasil berkat ketekunan upaya dan perjuangannya. Semoga !!!
Kedua rasa salut saya buat Pak Ali tenaga honorer badilag yang bekerja dengan semangat penuh rasa tanggung jawab walaupun dengan penghasilan yang minim tapi diterima penuh dengan rasa syukur sehinggan pak Ali betul-betul menikmatinyha.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir batin buat pak Ali sehat selalu dan dimurahkan rezkinya serta dapat menjadi contoh bagi kita-kita yang punya penghasilan lebih ini. untuk itu Ya Allah lapangkanlah kehidupan Pak Ahl;i sejahterakanlah keluarganya Amin
Yang eronis lagi banyak PNS yang tidak memiliki kemampuan melakukan pekerjaannya kadang saya berpikir mungkin salah pilih mestinya yang tenaga honorer yang pantas jadi PNS karena kemampuannya jauh lebih baik dibandingkan yang PNS.
Semoga kisah pak Ali menjadi inspirasi bagi kita untuk selalu bersyukur dan bekerja lebih baik lagi.
semoga ini jadi inspirasi kita semua
paling tidak ketika hendak memerintahkan sesautu kerjaan tetap dengan etika yg benar dan sopan
Perlakuan terhadap tenaga honorer kita memang sering jadi masalah. Ada dari kita yang memperlakukan mereka seperti babu/orang kelas dua. Semestinyalah mereka dihargai sama dengan semua orang. Dengan demikian, mereka pasti termotivasi dan bekerja dengan baik. Semoga!
Kalaulah kita semua bisa seperti Pak Ali Saya rasa tidak ada gejolak disana sini, baik mengenai jumlah penghasilan sampai penempatan tempat tugas.
Pak Ali patut diacungkan jempol karena saat ini sulit mencari orang seperti dia, malu rasa bila saya pribadi tidak bisa seperti PAk ALI.....
"belajar lah hidup dari orang dibawahmu.dan bersyukurlah dengan hidup yang kamu nikmati sekarang"
Luar biasa sikap Pa Ali ini;
Qta dapat belajar dari sikap hidup beliau,
apapun posisi dan jabatan kita di Kantor, semoga bisa meniru dan meneladani sikapnya.
Semoga Sikap Bapak Dirjen bisa jadi tauladan bagi PIMPINAN SELURUH Instansi di Indonesia KHUSUSNYA di Lingkungan Peradilan Agama. Semoga sikap Bapak Ali dijadikan tauladan juga bagi seluruh rekan-rekan Honorer seperjuangan di lingkungan Peradilan Agama...
SETUJU Bapak Dirjen, KITA SEMUA SAMA.........ALLOHU AKBAR.
Gaji pak Ali Rp.1.300.000,- tpi kalo penghasilan brapa ya Pak Ali?
Saya kagum terhadap pengabdian dan Pak Ali, yang begitu tulus dan ikhlas menjalani pekerjaan sebagai tenaga honorer dan bertanggungjawab, semoga Pak Ali diberi rahmah dan diberkati oleh Allah SWT. amiin.......
Semangat Pk Ali...!
Tapi kalau kita kenang lagi data-data TPM bulan Juni ini...apa seperti itu juga yah..pimpinan-pimpinan kita di Badilag...di PTA dan di PA...?????????
semoga kisah nyata di atas, juga sgt terinpirasi buat pimpinan Badilag, pimpinan PTA, Pimpinan PA....mengikut bawahan pasti...!!!!
klau bisa ada Teman Badilag yang mau buka rekening peduli Pak Ali, Mari kawan2 yang budiman kita berpartisipasi...
sungguh teladan yang baik untuk kita semua...
untuk teman2 honor di PASS jangan berkecil hati, tetap semangat dlm bkerja... intinya tetap bersyukur dngan apa yang ada....
BerikanLah kekuatan buat pemimpin-pemimpin bagi kami untuk memperjuangan nasib seluruh aparat di lingkungan Peradilan Agama khususnya dan di Mahkamah Agung umumnya. Amiiiinn...!!!
Masih banyak pejabat yang menganggap jabatan sebagai kekuasaan terutama kepada para pegawai honorer yang sangat berharap bisa bekerja.
Semoga dengan tulisan Pak Dirjen ini bisa memberikan suatu perubahan bagi para pejabat kita yg suka semena-mena, liatlah bagaimana pak Dirjen memperlakukan Pak Ali yg hanya tenaga honorer Badilag dengan penuh pengayoman, bukan penindasan. Terima kasih Pak Dirjen.
sunguh mulianya pak ali.
semoga kami (honorer) peradilan bisa mencontoh prilaku pak ali.
amin..
Utk Pak Ali,Insya Allah apapun yg kita lakukan dgn ikhlas,melakukan yg trbaik...kebaikan & keberkahan pasti ada.
Amin Ya Rabb...
Slalu lakukan yg terbaik ya Pak Ali...
Terimakasih skali lg utk Pak Dirjen,smoga Bpk slalu dberkahi Allah SWT.Amin..
salam hangat dari honorer Pemda DKI Jakarta
MUNGKIN NASIB PAK ALI TIDAK JAUH BERBEDA DENGAN PAK AMIN, BELIAU ADALAH TENAGA HONOR YANG SUDAH MENGABDI SELAMA KURANG LEBIH 20 TAHUN DI SALAH SATU PENGADILAN AGAMA DI WILAYAH PENGADILAN TINGGI AGAMA MATARAM. AKAN TETAPI MUNGKIN PAK ALI BISA LEBIH MERASA ADIL KARENA PENGHASILAN ATAU GAJI YANG DIBERIKAN SESUAI DENGAN APBN YG DITETAPKAN, SEDANGKAN PAK AMIN HARUS BERLAPANG DADA KARENA SETIAP BULANNYA DIA HANYA MENERIMA GAJI SEBESAR RP. 850.000 DAN HARUS MENANDATANGI KWITANSI PEMBAYARAN GAJI SEBESAR RP. 1.200.000.
HAL ITU PUN SAMA TERJADI PADA SEMUA TENAGA HONORER DIPA YANG HARUS MENERIMA GAJI BERKISAR ANTARA RP. 750.000 - RP. 850.000 DAN HARUS MENANDATANGANI GAJI RP. 1.200.000-RP. 1.300.000 TIAP BULANNYA. SUNGGUH IRONIS
YANG INGIN SAYA TANYAKAN, APAKAH GAJI YANG DITERIMA OLEH TENAGA HONORER DIPA MERUPAKAN KEBIJAKAN DARI MASING2 INSTANSI PERADILAN?? TERIMAKASIH