Kamis, 20 Juni 2013 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!






Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Pemberkasan Perkara Kasasi/PK wilayah PTA Padang | (18/6)
PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Orientasi Hisab Rukyat wilayah PTA Semarang | (18/6)
PENGUMUMAN : Penunjukan Peserta Semiloka Pengintegrasian UU PKDRT & UU Perlindungan Anak | (27/5) 
PENGUMUMAN : Surat Permintaan Berkas Kelengkapan Usul Pengangkatan Hakim dan Biaya Pindah | (24/5)
SURAT EDARAN : Pendaftaran Calon Peserta Program Beasiswa S3 Sudan Tahun 2013 | (20/5) 
SURAT EDARAN : Permintaan Persyaratan Biaya Mutasi Pindah Pejabat Kepaniteraan & Kejurusitaan PA | (10/5) 
PENGUMUMANInput data Output Program 04 Ditjen Badilag T.A. 2012 Pada Aplikasi Monev Anggaran Kementrian Keuangan RI | (25/4)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Perkara Kasasi dan PK | (22/4)




Tambahkan ke Google Reader
“Peradilan Agama, dari Serambi Mesjid ke Serambi Dunia”, dan Peran Cate Sumner | (6/11) PDF Cetak E-mail
Minggu, 06 November 2011 19:40
“Peradilan Agama, dari Serambi Mesjid ke Serambi Dunia”,

dan
Peran Cate Sumner

*

Kata-kata “Peradilan Agama: dari serambi mesjid ke serambi dunia” adalah kata-kata Asep Nursobah yang disampaikan kepada saya, ketika kami berjumpa pada acara Bimtek SIADPA Plus Modern, di Makassar, akhir Oktober 2011. Sebelumnya, saya memang pernah mengutarakan kepada Asep keinginan untuk membukukan pengalaman atau tulisan saya selama saya jadi Dirjen. “Kira-kira judul bukunya apa ya Sep?”, tanya saya.

Begitu ketemu di Makassar, Asep langsung mengusulkan kalimat seperti di atas. Asep beralasan bahwa peradilan agama dulu dikenal sebagai pengadilan serambi mesjid, sebab banyak tempat sidang pengadilan agama di serambi atau di emper masjid. Sementara sekarang, pengadilan agama sudah jauh lebih maju, bahkan sudah mendunia.

Sebetulnya, saya sendiri merasa bangga, dikaitkannya pengadilan agama dengan mesjid. Mesjid adalah tempat mulia bagi umat Islam, untuk melakukan ibadah dan berbagai kegiatan kemasyarakatan, bahkan pemberdayaan ekonomi umat. Namun  karena penyebutan “pengadilan serambi mesjid” itu ada konotasi negatif, yang menggambarkan kekurang-profesonalan dan keformalan pengadilan agama, apalagi dibandingkan dengan “raad van justice”nya peradilan umum yang demikian mentereng, maka betul juga, kita perlu merubah image masyarakat.

Kitapun perlu menunjukkan kepada masyarakat bahwa pengadilan agama adalah juga pelaku kekuasaan kehakiman yang profesional, independen dan sederajat dengan pengadilan-pengadilan lainnya di Indonesia.

Julukan pengadilan agama sebagai pengadilan serambi mesjid, kini sudah tidak relevan lagi. Pengadilan agama kini tidak ada lagi yang menjalankan tugasnya di emper-emper mesjid. Bahkan Pengadilan agama yang selama ini banyak berlokasi di “jalan tikus” dengan bangunan alakadarnya, kini telah mulai banyak berpindah ke daerah tengahan kota, dengan gedung baru yang megah dan membanggakan.

Penampilan para hakim dan pegawainyapun sudah jauh berubah. Kini, tidak lagi kita lihat hakim atau pegawai pengadilan agama yang berpakaian lusuh dan kotor. Pendidikannyapun tidak hanya pesantren, kini pada umumnya mereka berpendidikan S1 Syari’ah atau Hukum, namun tetap masih banyak yang dibarengi dengan pendidikan pesantren. Atau paling tidak, hakim dan aparat pengadilan agama tetap berkomitmen dengan  tradisi pesantren, yaitu ikhlas, tawadhu dan haus ilmu.  Lebih jauh dari itu, banyak pula dari mereka yang sudah menyelesaikan S2 atau S3nya.

Saya setuju dengan Asep, dan saya yakin, juga dengan seluruh warga peradilan agama, bahwa dalam banyak hal pengadilan agama kini sudah jauh berubah dan maju. Bahkan dalam tingkatan tertentu pengadilan agama sudah “go international”.

Banyak tokoh dan masyarakat internasional, kini, sudah  mengenal pengadilan agama, baik melalui tulisan, buku, seminar, konferensi internasional, kegiatan LSM, atau melalui putusan yang dipublikasikan di www.asianlii.org , mahkamahagung.go.id,  badilag.net, atau website pengadilan agama itu sendiri. Ini semua memperlihatkan bahwa kini peradilan agama telah, sedang dan akan bergerak terus dari “serambi mesjid ke serambi dunia”, menuju pengadilan yang agung, sebagaimana visi Mahkamah Agung yang kita cintai .

**

Cate Sumner adalah salah satu tokoh luar negeri yang sangat menonjol perannya dalam meng-go internasional-kan pengadilan agama. Tokoh-tokoh lain yang ikut berperan, di antaranya, Chief Justice Diana Bryant, Justice Naum Mushin, Richard Forter dan Leisha  dari Family Court of Australia (FCoA), Prof Tim Lindsey dari the University of Melbourne, Prof. Graham Greenleaf dan Dr. Philip Chung dari Asianlii, University of New South Wales, Prof. Mark Cammack dari Southwestern Law School, Los Angeles, Amerika Serikat, Stewart Fenwick dari IALDF (Indonesia-Australia Legal Development Facility), dan Dr. Sebastian Pompe dari Belanda.

Presiden pertama sekaligus pendiri International Accosiation for Court Administration (IACA), Markus Zimmer, dari Amerika Serikat, yang kini bekerja sebagai Principal Justice System Advisors of USA, sudah mulai mengenal dan tertarik dengan peradilan agama. Demikian pula David Anderson, tokoh Change for Justice (C4J) Amerika Serikat, yang bertugas di Jakarta, sudah lama bergaul dengan peradilan agama, walaupun tugasnya tidak berkaitan langsung dengan peradilan agama. Tokoh-tokoh dari World Bank seperti Sonja Litz dan lainnya juga banyak berkomunikasi dengan peradilan agama.

Di antara tokoh-tokoh international itu, Bu Cate  -demikian panggilan saya padanya-  merupakan  salah satu tokoh yang paling akrab dan banyak mengenal peradilan agama. Asep Nursobah yang sejak lama kenal Bu Cate menyebutnya sebagai “duta Badilag di dunia international”, sementara kawan lainnya menyebut Bu Cate sebagai “ ’PR’nya peradlian agama untuk urusan international”.

Bu Cate adalah tokoh LSM berkebangsaan Australia. Ia pernah 20 tahun bekerja pada organisasi internasional di negara-negara Timur Tengah  dan Asia, dalam bidang akses kepada keadilan, hak-hak asasi manusia dan reformasi peradilan. Bu Cate juga lama bekerja sebagai ketua penasihat pada IALDF AUSaid dan Indonesia-Australia Pathership for Justice (IAPJ). Kini Bu Cate bekerja pada C4J (Change for Justice) yang berada di bawah USAid, yang kegiatannya juga banyak berkaitan dengan Mahkamah Agung, khususnya dalam pengembangan peradilan umum.

Bu Cate banyak menulis buku yang memfokuskan pada reformasi peradilan dan akses kepada keadilan bagi perempuan dan orang miskin. Salah satu bukunya, yang ditulis bersama dengan Prof. Tim Lindsey dan  diluncurkan oleh Ketua MA-RI dan Chief Justice Family Court of Australia adalah “Courting Reform”. Buku ini sudah banyak dikupas pada “Pojok” kita Selasa lalu.

Bagi saya, Bu Cate mempunyai kesan tersendiri. Bukan hanya karena tanggal kelahiran kami sama, sehingga kami selalu saling mengucapkan “Happy Birthday to you” pada hari yang sama,  -itu hanya kebetulan saja-, namun lebih jauh dari itu, ada kecocokan dalam berfikir dan bertindak, terutama berkaitan dengan pengembangan peradilan agama.

Bu Cate sangat smart dan lincah. Dia adalah pemikir yang brilian tapi juga sekaligus sebagai pekerja  keras yang tak kenal lelah. Terus terang, saya sangat terbantu dan “terangkat” oleh pemikiran dan langkah-langkah Bu Cate.

Begitu saya diangkat sebagai Dirjen pada tahun 2005, begitu dimulai secara intens kerjasama antara Mahkamah Agung, khususnya lingkungan peradilan agama di bawah kepemimpinan Pak Syamsu saat itu, dengan Family Court of Australia yang difasilitasi oleh IALDF, dengan Bu Cate sebagai Lead Advisernya.

Sudah banyak amal sholeh yang dilakukan Bu Cate yang sangat mengangkat peradilan agama, baik di tingkat nasional maupun internasional. Walaupun fasilitasnya disediakan oleh AUSaid, namun peran Bu Cate sangat menentukan.

Coba kita lihat. Ada berkali-kali seminar, workshop dan pelatihan yang diikuti hakim atau tenaga administratif, baik di Indonesia maupun di Australia sejak 2005 sampai sekarang. Ini sangat membuka wawasan dan menginspirasi peradilan agama untuk lebih maju lagi di masa depan.

Kunjungan timbal balikpun antara peradilan agama dengan Family Court kerap dilakukan. Pengembangan Teknologi Informasi, termasuk pengadaan dan penerapan SMS Gateway, yang sangat membantu sistem pelaporan perkara dan kegiatan prodeo, sidang keliling dan posbakum dilakukan dan banyak dimanfaatkan oleh peradilan agama.

Penyusunan guidelines pelaksanaan bantuan hukum, diawali dengan diskusi-diskusi, studi banding ke pengadilan dan lembaga-lembaga bantuan hukum di Australia, dan diakhiri dengan penyusunan draft SEMA tentang Pedoman Bantuan Hukum, peran Bu Catepun tidak dapat dianggap enteng.

Belum lagi, pelaksanaan survey-survey tentang kepuasan pengguna pengadilan, pengenalan peradilan agama kepada LSM-LSM terkait, di dalam dan luar negeri, dan publikasi putusan melalui www.asianlii.org University of New South Wales, Bu Cate dan kolega-koleganya dari Australia sangatlah berperan.

Demikian pula, publikasi buku-bukunya, baik tulisan sendiri seperti “Provide Justice to Justice Seekers”,  maupun bersama Prof. Tim Lindsey, seperti  buku “Courting Reform”, mengantarkan peradilan agama dikenal lebih luas oleh dunia internasional.

Tidak kalah pentingnya, pengenalan peradilan agama ke dunia internasional melalui International Association for Court Administration (IACA) sangat menguntungkan peradilan agama. Apalagi setelah Richard Foster, Chief Excecutive Officer dari FCoA, yang sangat dekat dengan peradilan agama, tahun lalu diangkat sebagai Elected President of IACA. Bu Cate dan Richard tambah leluasa mempromosikan peradilan agama ke dunia international.

Kaitan dengan itu, saya sendiri telah beberapa kali diminta untuk “mempromosikan” peradilan agama ke dunia internasional melalui Bu Cate dan IACA.  Pada bulan Maret 2009, di kampus the University of Technology of Sydney (UTS) dan kampus the University of New South Wales (UNSW) di Sydney, saya beruntung dapat mempresentasikan makalah “Publication of PTA’s Judgment at Asianlii Website”, dalam “First AsianLII Conference” yang dihadiri oleh sekitar 20 negara Asia Pasifik.

Kemudian pada bulan November 2009, saya bicara tentang “Access to Justice: Badilag Experience” di depan para peserta International Conference of IACA di Istanbul Turki. Lalu bulan Maret 2011 lalu, saya juga diminta mempresentaikan “Justice for the Poor Program: Badilag Experience”, pada Konferensi Regional Asia Pasifik IACA di Bogor.

Dan akhir bulan November 2011 ini saya juga diundang oleh Lowy Institute Australia, penerbit buku ‘Courting Reform’, untuk mempresentasikan “Court Reform, undertaken by Indonesian Religious Courts” dalam suatu seminar khusus antara para ahli hukum dan peradilan Pakistan dan Australia, di Sydney, Australia. Setelah dari Sydney, sayapun diundang Prof. Tim untuk bincang-bincang dengan koleganya di Faculty of Law, the University of Melbourne, tentang reformasi peradilan.   Di Faculty of Law inilah, kawan kita, Achmad Cholil, hakim PA Bekasi dan anggota redaksi Badilag.net, kini sedang ngambil S2 Hukumnya.

Semua ini, kapasitas saya sudah barang tentu, bukan atas nama perorangan, tetapi  mewakili peradilan agama Indonesia. Dan semua itu menguntungkan peradilan agama. Di samping promosi agar “go international”, juga kita bergaul dan belajar dari banyak peserta berbagai negara dalam mengembangkan berbagai aspek penyelenggaraan peradilan.  Peran Bu Cate sangatlah besar.

***

Mungkin banyak lagi amal sholeh Bu Cate lainnya berkaitan dengan pengembangan peradilan agama, yang tidak sempat dikemukakan di sini. Kita bersyukur punya tokoh seperti Bu Cate dan kolega-koleganya yang begitu peduli terhadap peradilan agama. Kita patut berterima kasih dan apresiasi kepada Bu Cate dan kolega-kolaganya.

Namun bersamaan dengan itu, muncul suatu pertanyaan, apakah kita dapat memanfaatkan hubungan dan gaul internasional yang sudah terbina baik selama ini, untuk kepentingan peradilan agama dan dunia peradilan lainnya di Indonesia?

Kuncinya tergantung pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita mau dan mampu memanfaatkan kesempatan berinteraksi internasional ini. Sebesar apa komitmen kita agar peradilan agama sukses menuju serambi dunia. Kini, globalisasi dalam bidang apapun tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mampukah kita?

Saya yakin, kita pasti bisa. Hanya memang, perlu waktu dan proses. Kesabaran, keuletan, semangat dan komitmen kita bersama dalam hal ini sangat diperlukan. Wallohu ‘alam. (WW).

TanggalViewsComments
Total222735
Rab. 1910
Sen. 1730
Sab. 1520
Jum. 1430
Kam. 1320
Sel. 1120
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Masrinedi-PA .Painan 2011-11-07 00:46
Memang di setiap momen sejarah ada Tokohnya yang memainkan peran penting di dalam melakoni sejarah itu sendiri. Dan menurut saya sendiri di Badilag ini Tokoh penting dan sentralnya jelas "Pak Dirjen Badilag" tanpa menganggap yang lainnya tidak penting. Karena di dalam suatu organisasi keberhasilan dan kesuksesan ditentukan oleh Top Manejernya sejauh mana dia bisa memenej dan memimpin organisasinya dan bisa diikuti pula oleh sub-sub organisasinya. Kita berharap dan berdo'a kepada Allah SWT kemajuan Badilag ke depannya tetap berlanjut meskipun bukan Pak Wahyu yang menahkodainya karena nanti beliau telah purnabhakti. Amin !
Reply
 
 
# PTA. Surabaya 2011-11-07 01:25
Semoga Buku yang ditulis Pak Dirjen dapat menjadi motivasi dan inspirasi seluruh PNS dilingkungan Peradilan Agama dalam bekerja dan beribadah. Salut untuk Pak Dirjen, Kami tunggu Bukunya
Reply
 
 
# mathe08 2011-11-07 17:27
Tergantung DIRI KITA, kata penutup yg indah dari pak dirjen, but what next badilag ?. PR besar bagi yg meneruskan, bravo..bravo...bravo pak wahyu
Reply
 
 
# Ahmad, PA.MTR 2011-11-07 17:50
kami bangga dengan Penampilan PA Sekarang, dan memang Pengadilan Agama harus modern dan go internasional, baik penampilan fisik maupun elemen-elemen yang ada di dalamnya,..............TAPI Kita jangan Lupa sampai kapanpun RUHNYA Pengadilan Agama adalah Masjid...., selamat dan sukses untuk Pak Dirjen..
Reply
 
 
# yustin, PA Pkp 2011-11-07 18:20
Sudah bnyk yg dilakukan pak Dirjen utk mengangkat Peradilan Agama baik ditingkat nasional maupun internasional, tapi tak selamanya beliau akan bersama kita tentunya untuk melanjutkan semangat beliau dalam meningkatkan PA diperlukan kader2 PA dngn SDM yg berkualitas, dan untk kami yg didaerah2 yg ingin melnjtkan ke jenjang pendidikan yg lbh tinggi sprtnya jarak maksimal 50km perlu dipertimbangkan lagi, Syukron....
Reply
 
 
# Herman 2011-11-07 18:40
Semoga Kerjasama Internasional yang telah terjalin saat ini dengan pihak2 luar negeri memberikan keuntungan dan kebaikan untuk kita dalam mengembangkan Peradilan Agama..,semoga muncul Ibu Cate lainnya yang bisa membantu memajukan peradilan Agama di Indonesia....
Reply
 
 
# MK.Zaman PA.Pkc 2011-11-07 20:48
semakin mengena pak Dirjen, semakin salut atas dedikasinya terhadap peradilan Agama... semoga apa yg telah bapak perbuat menjadi bekal amalan yg baik bagi bapak ...
Reply
 
 
# nyong amboina 2011-11-07 20:48
BERSAMA KITA BISA, LANJUTKAN !!!
MAN JADDA WAJADA
Reply
 
 
# Anhar-KPA .Painan 2011-11-07 20:59
Semoga buku yang ditulis Pak Dirjen ini dapat mempromosikan Pengadilan Agama ke dunia maya,dengan tidak menghilangkan azasnya yang istimewa dan ciri ciri khas Pengadilan Agama, karena yang mempromosikan PA itu dari Negara maju dibidang hukum,apalagi pribadi dari Negara maju itu tertera dengan jelas. Amiiin !
Reply
 
 
# itna-PA.Gs 2011-11-07 22:18
semoga kita sebagai warga peradilan tetap mengingat sejarah masa lalu..sebagai pemicu keberhasilan serta kebesaran peradilan agama saat ini dg terus mengembangkan diri bersama ilmu pengetahuan dan keimanan yg tetap terjaga dg baik, bekerja dg niatan yg tulus ikhlas sbg citra diri warga peradilan agama...bravo pak Dirjen..
Reply
 
 
# slamet bisri 2011-11-07 22:27
INSYALLAH KITA PASTI BISA GO INTERNASIONAL, MARI KITA PERSIAPKAN DIRI UNTUK TINGGAL LANDAS KALU TIDAK MAU KETINGGALAN DILANDASAN, OK SELAMA BERJUANG !!!!!!
Reply
 
 
# Ratu Ayu 2011-11-07 23:32
Satu yang sangat penting ditakeover dari sikap Pak Dirjen bagi saya adalah beliau jeli dan mampu melihat dan tidak membuang sia-sia berbagai kesempatan bergaul dengan wong2 internasional untuk kemajuan badan peradilan yang dibawahinya. Hebat!!! Kita tunggu bukunya, semoga buku itu bisa melawan dampak teori in complexu yang miring untuk peradilan agama. Sukses selalu untuk kreatifitas yang ada dan akan tumbuh. Fighting!!!
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2011-11-08 19:10
Kata Sukarno "Jas Merah", jgn sekali-kali melupakan sejarah, warga PA mmg hrs senantiasa dekat dgn Mesjid, dan tdk masalah Diskusi2 di serambi Mesjid...
Utk menghilangkan image dan demi menjaga gengsi tdk perlu dihilangkan kata2 "Mesjid", biarlah tetap menjadi serambi Mesjid, toh mesjid skrg jg banyak yg tdk kalah megahnya dgn Istiqlal, dan PA sndri jg skrg banyak juga banyak yg megah.
Reply
 
 
# Asni Falah PTA BDL 2011-11-08 19:55
pengalaman dan ulasan tentang peradilan agama sebagai peradilan serambi mesjid menjadi peradilan dunia selama bapak sebagai dirjen sangat menarik, perlu dibahas secara sistematis dan bisa dipertanggung jawabkan dalam disertasi. Kami berdoa semoga pak Wahyu dapat menuliskannya sehingga segera memperoleh doktor ilmu hukum di UIN Bandung secepatnya.
Reply
 
 
# PA.Probolinggo 2011-11-08 21:17
terimakasih bu cate......
Reply
 
 
# m.syukri 2011-11-09 01:15
Salut buat Pak Dirjen yang telah mengangkat nama peradilan agama serambi masjid ke serambi dunia, yang secara otomatis adalah bagian dari da'wah bil hal kepada dunia. Yakinlah mengangkat nama baik institusi peradilan agama adalah bagian dari jihad, Bravo Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Iwan Kartiwan 2011-11-09 02:19
Terima kasih bu cate, semoga apa yang telah dan akan bu cate beserta timnya lakukan benar-benar membawa kemajuan bagi peradilan agama.
Reply
 
 
# asfri 2011-11-09 14:30
Semoga berbagai upaya Bapak Dirjen kita untuk mengangkat harakat dan martabat PA hingga go internasional benar-benar didukung para Ketua PA/PTA di seluruh indonesia. Kalau boleh usul, Ketua yang tidak tahu / tidak mau tahu masalah IT supaya diganti saja, karena IT sudah menjadi cirikhas PA modern saat ini. Masih banyak Calon-calon Pemimpin PA lain yang berpikiran modern seperti Bapak Dirjen.Bagaimana Pak?
Reply
 
 
# MAME SADAFAL-/PA SIDOARJO 2011-11-09 17:48
Salut kepada bpk dirjen atas perjuangannya selama ini menjadikan pengadilan agama dari lingkup tradisional (diserambi masjid) menuju lingkup internasional. Perjuangan yang yang cukup panjang dan melelahkan dengan promote yang serius ke kancah mendunia. Terima kasih juga kepada bu Cate Sumner yang berperan aktif atas promote-nya. Semoga pengadilan agama semakin eksis dan strategis menuju peradilan indonesia yang agung .
Reply
 
 
# peradilan 2011-11-09 19:05
Semangat Bapak Dirjen dalam mengangkat derajat Peradilan Agama dimata dunia harus kita acungi jempol. Apalagi Kita yang notabene adalah bagian dari Warga Peradilan Agama harus sangat bangga akan langkah dan pemikiran Bapak Dirjen, apalagi didukung oleh "Amal Sholeh Ibu Cate". Disini saya bisa ambil kesimpulan positiv bahwa "Ibu Cate saja bisa beramal sholeh terhadap Peradilan Agama masa sih kita yang memang bagian dari Peradilan Agama tidak bisa"
Reply
 
 
# Zulkifli Siregar, Kabanjahe 2011-11-09 20:09
Memang itu yang kita inginkan bersama, Penampilan dan otak mendunia, namun hati tetap Masjid, alias berfikir Barat berperilaku Makkah. Go..,go..,.., Master!
Reply
 
 
# Korik .PA.Ka Tungkal 2011-11-09 20:34
:-) Sy sepakat jika Peradilan Agama skg menjadi Peradilan yg Modern dlm segala hal (TI, SDM dan fasilitas), namun jati diri kita dgn basich agama tdk kt lupakan, Ilmu dan amal hrs balance. Kemajuan PA skg tdk lepas dari kerja keras Pak Dirjen dan jajarannya yg solid, shngga bisa go internasional, smga dpt diikuti oleh generasi berikutnya amiin.
Reply
 
 
# Yefferson WK.PA.Lubuk Basung 2011-11-09 20:54
Salut dengan semangat Pak Dirjen untuk mengembalikan fikiran kita kepada sejarah masa lalu Peradilan Agama, untuk lebih menyadarkan kita diera sekarang dan janganlah ada diantara kita timbul sikap sombong walau berada di era sekarang, kemajuan masa sekarang adalah karena ada masa lalu...
Reply
 
 
# ajum 2011-11-09 22:38
masih ada kok hakim yang tinggal di mesjid karena mutasi sebagi rumah dinas, ada juga yang ngambil doktor (mondok dikantor)
Reply
 
 
# dikkie.SHI-PA.MIN 2011-11-10 02:15
"orang yang tidak punya harapan lebih baik mati saja" sebuah motivasi yang saya ingat ketika Menteri ESDM Dahlan Iskan ditanya soal keinginannya menata kembali seluruh BUMN yang ada di indonesia serta korelasi dengan komitmennya ketika memimpin PLN. sekarang motivasi ini sepertinya sudah diaplikasikan oleh Pak Dirjen, sebab dengan harapan dan usaha PAk dirjen serta seluruh aparat Badilag ikut menyokong impian tersebut, walaupun Bu Cate ikut menginternasionalkan Pengadilan Agama jika bukan impian dan semangat untuk kemajuan dari kita tidaklah akan kita nikmati perkembangan hingga sekarang ini.

sepertinya pola pikir untuk maju dan kerja keras pak Dirjen ini perlu ditransfer kepada seluruh aparatur Badilag mulai dari eselon-I hingga staf kecil di Pengadilan Pertama. "tanpa semangat lebih baik mati saja," kata Bapak Dahlan Iskan.
Reply
 
 
# choliluna achmad 2011-11-10 04:14
kita sangat apresiasi peran aktif 'outsiders' seperti bu Cate, pak Tim, bu Leisha, bu YM. Diana Bryant, dan yang lain2nya dalam memajukan peradilan agama yg kita cintai ini. peran mereka tidak bisa dianggap enteng terkait dg posisi PA skrng ini. Apresiasi setinggi2nya buat bu Cate dkk.

Satu hal yg ingin sy highlight, seaktif apapun peran mereka, tp jika lembaga kita i.e. pimpinannya tidak terbuka menerima perubahan, tidak welcome dg ide2 baru, tidak responsif thd tuntutan kemajuan, dan tdk visioner, maka semuanya akan mandeg dan jalan di tempat.

dalam konteks PA, peran aktif outsiders bertemu dg pimpinan yg brilliant, inovatif, open minded, multi talenta, dan pekerja keras dan cerdas akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.

A million thanks to pak Wahyu Widiana, 'Bapak Pembaharu/modernisasi Peradilan Agama'.
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-10 17:33
Judul Buku PA dari serambi Masjid ke Serambi Dunia sangat pas dan cocok, suatu gambaran perjalanan PA dari waktu ke waktu sandungan batu terjal talah mampu terlewati barkat kelincahan kerja keras tak mengenal waktu yang terbayang PA harus maju mendunia. usulan pak batu terjalnya perlu dikisahkan semoga sukses terus.
Reply
 
 
# M.Yusuf.wk PA Kendari 2011-11-10 23:04
Ucapan terima kasih disertai penghargaan setinggi-tingginya atas kepedulian bu cate dkk an Bpk Dirjen Badilag yg saya banggakan atas kerja kerasnya memajukan PA Kami siap mendukung dan maju terus Pengadilan Agama,
Reply
 
 
# Ali Fikri Wk.PA.Tasik 2011-11-11 00:30
Kami menunggu Buku yang akan Pak Dirjen terbitkan, untuk bekal dan mengikuti jejak yang telah dilakukan sekaligus untuk bekal kami sebagai penerus untuk lebih meningkatkan di lingkungan Peradilan Agama..saya yakin Buku itu akan sangat bermanfaat bagi kami...
Reply
 
 
# erlan naofal/PA. Sidikalang. 2011-11-13 17:56
Apa yang telah dicapai dan diraih oleh Badilag merupakan buah dari kerja keras dan semangat tak kenal lelah dari semua orang yang mempunyai concert terhadap kemajuan lembaga peradilan agama terutama bu cate dan pak dirjen semoga langkah-langkah itu terus berlanjut sehingga badilag menjadi lokomotif perubahan lembaga peradilan di Indonesia
Reply
 
 
# lies rufaida 2011-11-15 00:39
maaf pak,artikel yg ini sy bosan membacanya krn byk bahasa Inggrisnya he2 jd spt membaca buku ilmiah saja, kalau artikel2 bapak yg lain enak santai membaca dan mengena di hati.. Tlg pa ya artikelnya lebih santai lg jgn terlalu byk kata ilmiah spy spt setetes embun kena di hati
Reply
 
 
# atifa hasan . pa sidoarjo. 2011-11-16 18:50
Alhamdulillah, berkat perjuangan pak dirjen yang tak kenal lelah peradilan Agama dengan TI nya telah dikenal diantero dunia, dengan TI masayarakat bisa mendapatkan informasi dengan mudah sehingga masyarakat mengerti akan hak haknya, kepercayaan kepada Pengadilan Agama semakin tinggi,walau demikian saya yakin kita semua warga peradilan agama tidak pernah akan meninggalkan masjid dan bersama TI kami siap mewujudkan pelayanan yang prima dan penyelesaian perkara tepat waktu. sukses selalu untuk pak Dirjen semoga pak Dirjen sehat selalu dan tetap dalam lindungan Allah Swt.Amiiin.
Reply
 
 
# Bunyamin Alamsyah 2011-11-24 13:14
Peradilan Serambi Masjid yang telah mendunia ,hal ini berkat perjuangan Warga Peradilan Agama, Pa Dirjen bersama jajarannya terutama penggunaan Teknologi Informasi yang terus diperjuangkan. Ini perlu ditunjang pula semangat membangun Peradilan Agama dengan kejujuran, adil dan mengangkat moralita sesuai dengan nurani. Selamat Peradilan Serambi yaqng mendunia a
Reply
 
 
# Mahfudin PA Rengat 2011-12-13 14:16
Kita do'akan semoga pak Dirjen sehat selalu dan terus berinovasi untuk kemajuan PA diseluruh Indonesia dan diteruskan oleh generasi berikutnya amin maju dan jayalah PA...
Reply
 
 
# Drs. Mamat S, MH WKPA Pandeglang 2012-02-28 11:55
Saya setuju dg judul buku tsb Pak, smg cpat selesai penulisannya dan PA-PA kebagian. Apa yang diungkapkan Bp. memang betul,dulu kesan PA tsb di pojok Masjid, gang sempit, ruanganya kecil, hakimnya banyak yang honor, putusannya hrs dikukuhkan dahulu oleh PN dsb. Itukan dulu, kini PA menjelma menjadi Pengadilan yg sesunggughya berkat perjuangan kita semua.Semoga Allah meridhoi dan meretui cita-cita Bp,Amiiin.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 1197 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS