Senin, 21 Mei 2012 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
Daftar LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet

RSS Feeder





Login Intranet



Online Support

 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Pemanggilan Peserta Bimtek Hakim PA Angkatan IV | (21/5)
BUKU ELEKTRONIK : Sebuah Penilaian atas Website Pengadilan tahun 2011 (e-book version) | (14/05)
PENGUMUMAN : SE Pembinaan Hisab Rukyat April 2012 | (10/5)
PENGUMUMAN : Publikasi Informasi Perkara | (23/04)
PENGUMUMAN : Hasil Diskusi Forum Bahasa Arab (MLA Episode III) | (20/4)
PENGUMUMAN : Laporan Realisasi Anggaran DIPA 005.04 Triwulan I Tahun Anggaran 2012 | (3/4)




Harga Sebuah Surat KMA | (25/11/2011) PDF Cetak E-mail
Jumat, 25 November 2011 07:58

 

Harga Sebuah Surat KMA

*

Ketika saya menggantikan Pak Syamsuhadi, sebagai Direktur Pembinaan Peradilan Agama Departemen Agama, tahun 2000, anggaran peradilan agama masih sangat memprihatinkan. Bahkan, bukan hanya tahun 2000 itu saja, namun juga tahun-tahun sebelumnya.

Beliau mengatakan bahwa anggaran pembangunan untuk tahun 2000  hanya 3,5 milyar.Dua setengah milyar untuk pembangunan di 25 wilayah PTA dan satu milyar  untuk pengadaan-pengadaan melalui Direktorat.  Ketika itu, jumlah PTA ada 25, belum 29 seperti sekarang ini. Jadi, kalau dirata-ratakan,  setiap wilayah PTA hanya kebagian 100 juta rupiah.

Dana sebesar itu, hanya cukup untuk membangun gedung sederhana seluas 100 m2. Tapi ya, alhamdulillah.

Saya masih ingat, di tahun itu, diminta KPA Kajen, Dr. Arsyad Mawardi, untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung PA Kajen.  PA baru yang terletak di ibu kota Kabupaten Pekalongan ini mendapat anggaran 75 juta. Dana itu hanya cukup untuk membangun gedung seluas 100 m2.

Pak Arsyad mengistilahkan pembangunan gedung itu sebagai pembangunan ruang sidang utama, bukan pembangunan gedung PA, walaupun gedung PAnya  belum ada. Nampaknya Pak Arsyad berstrategi agar pembangunan berikutnya cepat dilakukan lagi. Atau, hanya untuk menutup “malu” kalau ada pertanyaan usil, kok pembangunan gedung baru hanya 100 m2?

Itulah keadaan peradilan agama di masa-masa sulit.

**

Para Direktur Pembinaan Peradilan Agama di Departemen Agama, sejak dulu, berjuang sangat gigih dalam meningkatkan anggaran pembangunan peradilan agama. Katakanlah, sejak saya masuk Direktorat Peradilan Agama, tahun 1978, Direkturnya Pak Wasit Aulawi, lalu Pak Ichtijanto, Pak Muchtar Zarkasyi, Pak Taufiq, Pak Zainal Abidin dan Pak Syamsuhadi. Semuanya melakukan upaya optimal agar anggaran dan sarana prasarana peradilan agama meningkat sesuai standar yang diperlukan. Namun kemajuannya sangat seret.

Setelah saya pindah ke lingkungan Sekretariat Jenderal, tahun 1996, sebagai Kabag Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri, lalu Kabag TU Pimpinan, saya menjadi tahu persoalannya. Apalagi, walaupun jabatan-jabatan struktural itu saya pegang secara resmi, namun sehari-harinya saya bertugas sebagai Sekretaris Menteri.

Berada pada “ring satu” di Departemen Agama, walaupun tidak mempunyai kebijakan, saya bisa dengan mudah untuk mendapat akses informasi dari unit kerja manapun.  Jadi saya tahu persis mengapa anggaran peradilan agama dari tahun ke tahun tidak mengalami kenaikan signifikan.

Di antara penyebab seretnya anggaran itu ternyata karena di Departemen Agama, sektor yang utama adalah sektor kehidupan beragama lalu sektor pendidikan. Peradilan agama mestinya merupakan bagian dari sektor hukum. Tapi karena berada di Departemen Agama, Peradilan agama masuk  sektor kehidupan beragama. Akibatnya, anggaran dari sektor hukum tidak dapat sama sekali, sedangkan anggaran dari sektor kehidupan beragama se”dikasih”nya, sebab jumlah anggaran kehidupan beragamapun sangat terbatas.

Penyebab lainnya adalah apa yang oleh orang-orang, biasa disebut sebagai “political will”. Besarnya anggaran tergantung pada kesediaan pihak atau orang-orang yang mempunyai otoritas dalam membagi “kue” pembangunan, baik di tingkat departemen, Bappenas atau DPR.  Sudah barang tentu, orang-orang  yang punya otoritas ini harus diyakinkan dengan data,  argumen atau lainnya, yang saya sendiri tidak tahu persis.

Pak Hariri sangat piawai dalam melakukan trik-trik untuk penyusunan anggaran ini. Pak Hariri banyak memberikan masukan, lalu dibahas, kemudian disimpulkan dan dilakukan langkah-langkah pelaksanaannya.  Banyak langkah yang telah kami lakukan, seperti kampanye peradilan agama, pamer kemiskinan, membuat renstra dan lobi-lobi.

Karena kecerdikan Pak Hariri, sejak sebelum masuk ke Mahkamah Agung, peradilan agama sudah berhasil bisa masuk anggaran sektor hukum. Dr. Diani Sediawati, pejabat eselon 2 Bappenas yang menangani perencanaan sektor hukum berhasil diyakinkan. Kemudian   peradilan agama masuk sektor hukum, sama dengan peradilan umum yang sudah sejak awal berada di sektor hukum. Akibatnya anggaran peradilan agama tidak lagi diambil dari sektor kehidupan beragama.  Ini modal besar untuk peningkatan anggaran pada tahun-tahun berikutnya.

***

Karena ide Pak Hariri pula, kami di Direktorat sepakat agar Ketua Mahkamah Agung diminta bantuannya  untuk melakukan upaya peningkatan anggaran peradilan agama, walaupun ketika itu peradilan agama belum berada di bawah Mahkamah Agung. Saya menceriterakannya kepada Pak Syamsuhadi, yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama. Beliau setuju agar saya bicara langsung kepada Ketua MA, Pak Bagir Manan ketika itu.

Kami sudah kenal dengan Pak Bagir karena beliau sudah sejak lama terlibat dalam seminar-seminar pengembangan peradilan agama dan pembahasan draf RUU Peradilan Agama, yang belakangan menjadi UU 7/1989. Saya dan Pak Hariri optimis Pak Bagir akan sangat membantunya, mengingat selama itu peran Pak Bagir sangat besar dalam pengembangan peradilan agama.

Sebelum saya dijadwalkan beraudiensi dengan Pak Bagir di kantornya, secara tidak sengaja, saya, Pak Syamsu dan Pak Bagir bertemu dalam resepsi jamuan makan malam Hari Kemerdekaan Malaysia, di Hotel Borobudur.

Dalam pertemuan itu, Pak Syamsuhadi menceriterakan kepada Pak Bagir tentang maksud saya untuk mohon bantuan Ketua MA. Lalu saya ceriterakan sedikit panjang lebar kepada Pak Bagir tentang kondisi peradilan agama yang sebetulnya beliau juga sudah sejak lama mengetahuinya.

“Jadi apa yang perlu saya lakukan?”, kata Pak Bagir dengan suara halus. “Kami mohon ada surat dari Bapak yang ditujukan kepada Kepala Bappenas, Menteri Agama dan Menteri Keuangan”, jawab saya.

“Kapan itu diperlukan?”, pertanyaan beliau lagi, datar. “Secepatnya Pak, soalnya sekarang sedang berlangsung penyusunan anggaran, bahkan untuk tingkat departemen sudah hampir selesai”, jawab saya penuh semangat. “Kalau begitu, besok selesai. Ambil di kantor saya sore-sore”, tegas Pak Bagir.  Wah, saya senang sekali. Pak Bagir demikian memahami dan sangat membantu.

Besok sorenya, dengan hati berbunga-bunga saya datang ke kantor Pak Bagir. Dan benar, surat-surat  itu telah jadi. Konon, Pak Rum Nessa yang mengonsep surat dan berperan dalam cepatnya keluar surat dari Ketua MA ini.  Saya, Pak Hariri dan kawan-kawan di Direktorat  semuanya senang. Hari itu juga, suratpun segera diantar ke alamat-alamat dimaksud.

****

Besoknya, di Departemen Agama geger. Surat Ketua Mahkamah Agung agar Menteri Agama lebih memperhatikan pembangunan peradilan agama, nampaknya, ditanggapi positif oleh Menteri. Lalu Menteri mendisposisi surat itu ke Sekjen.

Sekjen dan Biro Perencanaan melakukan kordinasi dengan saya sebagai Direktur Peradilan Agama. Saya sempat mendengar Sekjen menyatakan bahwa anggaran peradilan agama harus naik sesuai disposisi Menteri.

Kepala Biro Perencanaan sibuk sekali mengutak-atik anggaran dari pos  mana yang dapat disisihkan untuk peradilan agama. Kesibukan ini terjadi, sebab nampaknya perencanaan tiap unit kerja sudah selesai disusun, hanya belum diserahkan ke Bappenas. Sementara disposisi Menteri harus diamankan. Artinya, anggaran peradilan agama harus dinaikkan dari perencanaan awal, walaupun harus merubah perencanaan secara keseluruhan di Departemen. Saya hanya diam saja, sambil senyum-senyum di hati.

“Ini mesti gara-gara Pak Wahyu, sehingga Ketua Mahkamah Agung mengirim surat kepada Menteri”, kata Sekretaris Menteri yang menggantikan saya. Saya memang sempat menduduki posisi Sekretaris Menteri itu sejak Pak Tarmizi, Pak Quraish Shihab, Pak Malik Fajar dan Pak Tolhah Hasan.

“Lho, sampeyan ini gimana, masa saya yang hanya Direktur bisa mempengaruhi Ketua Lembaga Tinggi Negara”, jawab saya sambil mesem-mesem.

Akhirnya, Kepala Biro Perencanaan berhasil menyisihkan anggaran dari berbagai pos kegiatan di departemen, lalu diusulkan kepada Sekjen dan Sekjen menyetujuinya. Belakangan diketahui bahwa jumlah anggaran tambahan itu sebesar 5 milyar. Alhamdulillah.

Saya bicara ke Pak Hariri sambil bercanda, bahwa surat Ketua Mahkamah Agung dihargai 5 milyar. Jumlah yang sangat besar untuk tambahan anggaran peradilan agama saat itu.  Pak Hariri dan kawan-kawan di Direktorat merasa senang.

Keuntungan lain dari surat KMA itu, ditambah oleh berpindahnya dari Sektor Kehidupan Beragama ke Sektor Hukum, setiap tahun anggaran peradilan agama selalu diperhatikan, sehingga selama empat tahun sampai tahun 2005, kenaikan anggaran pembangunan  peradilan agama sangat signifikan, untuk ukuran saat itu. Dari 3,5 milyar sampai menjadi sekitar 50 milyar.

Alhamdulillah, sejak itu setiap tahun di peradilan agama menjadi ada tambahan “kehidupan”. Pembangunan gedung bisa lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Demikian juga, pembelian mobil  untuk PTA-PTA dapat dilakukan.

Melihat fasilitas dan anggaran peradilan agama masa-masa lalu, kita digiring kepada suatu pembenaran pendapat bahwa sudah lama peradilan agama diterlantarkan oleh negara. Kita melihat betapa para tokoh, baik dari lingkungan peradilan agama atau dari departemen agama pada umumnya, demikian gigihnya berupaya untuk menyiapkan  anggaran, sarana prasarana dan fasilitas lainnya yang layak untuk peradilan agama.

Namun karena keterbatasan anggaran dan karena sistem yang sedemikian rupa, sehingga perjuangan para tokoh itu belum menghasilkan seperti apa  yang diharapkan oleh kita. Mudah-mudahan setelah berlakunya sistem peradilan satu atap di bawah Mahkamah Agung, peradilan agama dapat sejajar dengan peradilan lainnya, baik dari segi status, posisi dan fasilitas, dengan tetap berpegang kepada khiththah peradilan agama seperti yang diharapkan oleh para ulama dahulu. Adagium “Hakim di mata hukum dan ulama di mata umat”, secara hakiki tetap kita pertahankan tanpa melanggar etika dan norma yang berlaku. (WW).

 

TanggalViewsComments
Total141663
Sen. 2110
Ming. 2020
Sab. 1910
Sel. 1530
Sen. 1410
Ming. 1320
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Djulia H-Sgm 2011-11-25 08:31
Segala sesuatu perlu kegigihan dan kesabaran disertai ketulusan tanpa unsur kepentingan pribadi atau golongan, terbukti dengan itu semua, Bapak Dirjen dapat melalui kerikil-kerikil dalam perjalanan menuju PA yang sedang dirancang. Perencanaan matang dan keseriusan bekerja juga sebagai hal penting. Smoga dpt tertularkan bagi generasi selanjurnya. Amiiiin
Reply
 
 
# Alimuddin,M.Mataram 2011-11-25 09:03
alhamdulillah, setiap niat baik yang disertai ikhtiar yang maksimal insya Allah akan berhasil. Yang banyak terjadi di negara kita sekarang, ada niat baik tapi ikhtiarnya minim. Padahal mestinya usaha, doa dan tawakal harus selalu berjalan seiring.
Reply
 
 
# madi 2011-11-25 09:11
benar-benar butuh perjuangan yang panjang untuk meningkatkan anggaran Pengadilan Agama...semoga apa yang telah dicapai oleh bapak-bapak kita di Mahkamah Agung dan Dirjen Badilag...mampu diteruskan oleh generasi-generasi mendatang..amiinn..
Reply
 
 
# Abdul Halim Borne 2011-11-25 09:12
sekarang surat KMA itu harganya ratusan milyar...perjuangan yg harus kita dilanjutkan!
Reply
 
 
# Abdoerrahman 2011-11-25 09:17
Insya' Allah ini menjadikan amal jariah bagi beliau dan tak akan terlupakan dalam sejarah Peradilan Agama ...
Reply
 
 
# Masrinedi-PA. Painan 2011-11-25 09:22
Subhanallah, begitu gigih dan bersemangatnya pak Wahyu memperjuangkan 'kehidupan PA'. Kami begitu terkesima dan terpesona atas perjuangan bapak untuk memajukan PA. Semoga segala perjuangan bapak bersama kawan-kawan Allah jadikan sebagai pemberat timbangan amal bapak nantinya di yaumil Mahsyar. Amin ! Semoga pula kami warga Badilag bisa bercermin kepada pengalaman dan sikap bapak tersebut. Kita berharap segala kemajuan ini tidak membuat kita lupa diri, tapi malahan terus berbuat yang terbaik untuk kepentingan Umat dan menegakkan keadilan, terutama buat masyarakat marjinal (J4A). Lanjutkan terus untuk menulis episode perjuangan dan kisah bapak 'memajukan badilag' sehingga bagi kami sebagai pelajaran yang sangat berharga dan bermanfaat tentunya. Kami tunggu epsiode berikutnya pak, semoga bapak terus bahagia berbagi pengalaman lewat 'Pojok pak dirjen' ini. Amin !
Reply
 
 
# KAUSAR ANHAR@PA.CJR 2011-11-25 09:28
Saya sulit membayangkan seberapa banyaknya keringat yg telah membasahi dan mengguyur seluruh tubuh bapak-bapak para "Pejuang" itu dan pikiran yang terkuras habis untuk memperjuangkan anggaran demi eksistensi Peradilan Agama. Sama sulitnya ketika saya membayangkan spt apa kegigihan bapak-bapak itu. Namun yg pasti karena kegigihan bapak-bapak, kini Peradilan Agama telah berhasil memiliki sarana prasarana dan sejumlah fasilitas yg cukup memadai. Lalu bagaimana sekarang, mau diapakan sarana prasarana dan sejumlah fasilatas tadi ? Jawabannya tentu ada pada para generasi penerus sang pengemban amanah, kita semua warga Peradilan Agama masa kini dan masa mendatang. Tentu kita sepakat tidak ingin disebut "Penghianat" bapak-bapak para Pejuang tadi. Maju terus Peradilan Agama, perjuangkan masa depanmu yang lebih cerah....
Reply
 
 
# KAUSAR ANHAR@PA.CJR 2011-11-25 09:34
Terima kasih bapak WW yang telah berbagi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Kegigihan bapak dan bapak-bapak para Pejuang itu, telah menginspirasi kami untuk terus berbuat yang terbaik bagi Peradilan Agama.
Reply
 
 
# H.Makka A 2011-11-25 09:41
.... perjuangan yang panjang dan gigih untuk meningkatkan anggaran Pengadilan Agama...semoga apa yang telah dicapai oleh bapak-bapak kita di Mahkamah Agung khususnya Dirjen Badilag...mampu lanjutkan oleh generasi-generasi mendatang..aminn..
Reply
 
 
# adang sholihin-pa ciamis 2011-11-25 10:05
"sejarah membuktikan bawa siapapun yang terlantar dan atau diterlantarkan sehingga teraniyaya pada gilirannya doanya akan terkabulsebagaimana usaha pa dirjen dkk lewat surat MA menggetarkan aras mengangkat peradilan agama dari garis kemiskinan ke garis yang sewajarnya,semoga usaha-uasaha tersebut menjadi buah amal yang nyata.amin
Reply
 
 
# alisyarif_Sala3 2011-11-25 10:07
Alhamdulillah wa syukru lillah, keprihatinan yang menbawa hikmah lebih besar untuk masa depan PA....
Reply
 
 
# M.Yusuf.wk PA Kendari 2011-11-25 10:17
Alhamdulillah ya sesuatu banget.Kalau ada pertanyaan sekarang siapa yg dimaksud Pahlawan? Jawabnya adalah orang yang dapat mencairkan kebuntuan dan selalu berusaha menyenangkan orang lain.Saya kira Pak Dirjen ada di dalamnya,karenanya,terucap terima kasih pahlawanku,semoga tidak berhenti sampai 5 Milyar kalau perlu lebih baik lagi dimasa yang akan datang.Amin
Reply
 
 
# nel PTA Padang 2011-11-25 10:21
Semoga perjuangan Bapak ini diresapi oleh temen-temen yang telah menikmatinya dan dijadikan pemicu diri untuk bisa berbuat/berjuang sebagaimana perjuangan Bapak selama ini untuk mengangkat nama Peradilan Agama di Indonesia, kiranya tenaga, pikiran yang disumbangkan menjadi amal shaleh.
minnnnnnn......
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2011-11-25 10:30
Pengalaman2 seperti itu memang perlu ditularkan kpd yg lainnya, agar kt tahu, bgmn lobby2 sangat diperlukan utk meraih sesuatu yg di dambakan.
Reply
 
 
# lies rufaida 2011-11-25 10:44
sy mengalami sendiri ketika pnh jd bendahara dpt UYHD / UP tiap bln hanya dpt sedikit & hrs menghidupi kntr yg mana mis utk listrik leideng telpon apabila pertengahan thn mk anggaran d pos tsb pasti sdh habis yg akhirnya spy kntr jln terus utk menutupi kekurangan ambil sana sini dr pos lain smp utang segala ke koperasi blm lg utk kebutuhan yg lain mk hidup kntr jd kembang kempis hrs hemat, kala itu sdh rahasia umum kntr d akhir tahun pasti ada utang d koperasi d mn nanti pd anggaran thn depan d bayar begitu seterusnya tiap thn gali lubang tutup lubang. Perasaan wkt itu jd bendahara bukannya nikmat tp pusing mikirin utang sana sini ttp mendekati thn2 kt seatap MA mk sy merasakan sendiri tiap thn tambah anggaran yg besarnya signifikan, malah kata bendahara pengganti sy sekarang tidak pernah ada lg yg namanya utang di koperasi krn anggaran meningkat terus. Trims pak tnyt ini perjuangan bpk dkk, smg bpk dpt amal jariah ats kenaikan anggaran yg berakibat kemajuan PA2 skrg ini.. amin
Reply
 
 
# iing sihabudin 2011-11-25 11:41
subhanallooh, menyimak tulisan perjuangan perjalanan peradilan agama tersebut di atas, hati saya menjadi tergetar. betapa gigihnya mereka dalam memperjuangkan peningkatan nasib peradilan agama. Semoga Allah tetap selalu meridloi mereka sehingga menjadikan berkah bagi semuanya, berkah dunia dan berkah di akhirat, amien.
Reply
 
 
# Azuar PA Plg 2011-11-25 11:42
Sangat takjub sekali atas perjuangan bapak untuk peradilan agama ini. Perjuangan yang dengan sepenuh hati itu kini telah berhasil membawa peradilan agama ke martabat yang lebih tinggi. Sebagai pegawai baru memang tidak pernah saya mengalami masa-masa itu. Namun sudah saya buktikan sendiri tulisan di artikel ini dengan apa yang dikatakan oleh pegawai yang sudah senior dikantor saya. Mereka mengatakan "kalian (pegawai baru) enak sekarang ini karena kini peradilan agama sudah sangat maju dibandingkan dahulu". Terima kasih banyak untuk pak Wahyu Widiana.
Reply
 
 
# Lily Ahmad 2011-11-25 11:53
meruntut masa lalu untuk menggapai masa depan yang gemilang. Terima kasih pak... inspirasi yang tak berujung..... Btw, sepertinya ada direktur yang terlewatkan, bapak Bachtiar Ilyas.. Allahuyarham.
Reply
 
 
# Ratu Ayu 2011-11-25 13:03
Edisi 'Pojokan' kali ini buka tulisan ringan. Ini tulisan yang 'berat ora rawuh'. bukan sekedar obrolan, tapi pengungkapan fakta historis dari The Man behind The Gun dan saksi nyata sejarah itu sendiri, merangkap pelaku sejarah. Terima kasih untuk para pejuang Peradilan Agama, ternyata hasilnya Kami yang merasakan. Alhmdlh. Smg bisa dirasakan oleh generasi kita sesuai perkembangan zaman yang berjalan, sekarang, dan di masa yang akan datang.
Reply
 
 
# Rahmat Arijaya 2011-11-25 13:22
Ini sebuah perjuangan yang luar biasa, tinggi nilai ibadahnya.Dari cerita ini dapat merasakan betapa susahnya peradilan agama di masa lalu. Sekarang kemajuan begitu pesat dan menakjubkan. Alhamdulillah. Maju terus Pengadilan Agama.
Reply
 
 
# atifa hasan . 2011-11-25 13:32
Ikhtiar dan doa yang istiqomah serta sabar dan ikhlas untuk mencapai yang lebih baik pasti hasilnya akan dirasakan oleh anak cucu penerus kita dan saat ini kita warga peradilan agama sedang dan telah merasakan hasil perjuangan pak dirjen ,semoga generasi penerus pak dirjen meniru langkah pak dirjen yang tantangannya kedepan pasti lebih berat. bisakah ??? harus bisa !! siapa ya ???
Reply
 
 
# Kamali Singarajapa. 2011-11-25 13:37
Terima kasih pak Direktur Bapak Drs.H. Wahyu Widiana, SH. MH. yang telah dengan gigih tanpa lelah memperjuangkan peradilan agama sehingga anggaran bagi peradilan agama saat ini (terutama sejak satu atap) menjadi lebih bisa diatur untuk kebutuhan rumah tangga kantor Pengadilan, saya masih ingat betul ketika kami menjadi BENDAHARAWAN RUTIN sebelum tahun 2000 di PENGADILAN AGAMA SURABAYA Klas I A yang di Ibu kota Propinsi, setiap pencairan rutin tidak lebih dari 2 ((dua) juta rupiah.
sekarang kita warga peradilan sudah saatnya harus bersyukur dengan MENINGKATKAN Etos Kerja serta mengedepankan Kedisiplinan demi untuk mensyukuri hasil PERJUANGAN PAK Direktur. Selamat kepada pak Direktur atas keberhasilannya.
Syukron wal'afwu Minnaa.
Reply
 
 
# alhamidi, PA Palembang 2011-11-25 13:59
Alhamdulillah ya kita patut bersyukur, setiap tahun anggran Peradilan Agama selalu meningkat yang besarnya cukup signifikan, tapi marilah anggran yang besar itu kita pergunakan dan menfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab, jujur dan tepat sasaran, karena saya menilai dan yakin masih ada yang memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi, atau mendapatkan haknya dari uang negara dengan cara yang tidak benar/jujur. Ingat, kata "jujur" adalah kata yang mudah diungkapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Untuk pak Dirjen, orang-orang yang seperti Bapak yang diperlukan di Peradilan Agama. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kemampuan kepada Bapak untuk terus memajukan Peradilan Agama. Amin.
Reply
 
 
# Azuar 2011-11-25 14:38
Amin yarobb,
Benar sekali kata bpk. saat ini kejujuran itu sangat mahal harganya..
Reply
 
 
# Djabir Sasole PA Ternate 2011-11-25 14:33
Betul....sebuah perjuangan yang "bukan main". Meyakinkan orang itu pekerjaan yang tidak mudah, apalagi yang harus diyakinkan bukan orang sembarang. Ini tentu juga sangat tergantung pada siapa yang 'bekerja' untuk meyakinkan. Luar biasa pak Dirjen. Dan sekarang kita menikmatinya... Saya berdoa, semoga besok ada penerus "yang meyakinkan"...dan semoga besok masih ada "Bagir Manan" yang bisa memberikan surat seharga kebutuhan kita. amien....
Reply
 
 
# dedeh PTA Banten 2011-11-25 15:04
'untold stories' dari perjuangan panjang untuk menjadikan peradilan agama seperti sekarang. Tanpa cerita-cerita segar ini, mungkin kita tidak pernah tahu bagaimana usaha keras sesepuh dan tokoh-tokoh penting untuk menempatkan peradilan agama 'layak' dan terhormat sebagaimana seharusnya. Apresiasi dan salut kepada Bapak Dirjen cs atas semua perannya untuk Peradilan Agama.
Reply
 
 
# Heru s-PA Sidoarjo 2011-11-25 15:22
kami sampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Dirjen dan juga tak lupa kami sampaikan terima kasih kepada para Direktur Peradilan di masa Departemen Agama atas karya-karya Beliau meletakkan dasar-dasar peningkatan anggaran peradilan agama sejak dari 2 atap hingga 1 atap, perjuangan pak dirjen ini masih panjang hingga setidaknya kita mendapat anggaran mengikuti jejak saudara tertua (peradilan umum).
Reply
 
 
# lutfi Al Krui... 2011-11-25 15:39
Luarrr Biasa... begitu menggugah dan mengharu biru perjuangan para tetua kita dalam memperjuangkan peradilan agama... saya teringat akan cerita prof Bustanul Arifin dalam sesi kuliah dengan beliau tentang hukum Islam di Indonesia di Pasca UIN Jkt tahun 2003 bahwa ketika memperjuangkan Undang-undang peradilan Agama tahun 1989 beliau dan temen2 begitu getol dan luar biasanya dengan melobi dan usaha kesana kemari agar Undang-Undang yang menurut beliau loncatan 100 tahun itu gol dan sukses... dari cerita pak dirjen di atas kita bisa melihat bahwa spirit orang peradilan agama hingga saat ini untuk berjuang dengan instansinya masih tetap menyala walau rintangan datang silih berganti.. Semoga spirit itu bisa kita aplikasikan terus sepanjang hayat...
Reply
 
 
# Abdul Halim PTA Mataram 2011-11-25 15:53
Alhamdulillah skrg Pengadilan Agama tidak dipandang sebelah mata ,padahal dengan penduduk mayoritas muslim,seharus pengadilan agama menjadi "tuan rumah"...Insya Allah semua perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para Pemimpin memacu kita semua untuk melakukan yang terbaik
Reply
 
 
# S. Husain Bafadhal. KPA Masamba 2011-11-25 15:55
Alhamdulillah... legalah perasaan kita sekarang ini dengan semakin bertambahnya anggaran, memang disadari masih banyaknya kebutuhan primer kita di Peradilan Agama antara lain Rumah Dinas yang sekarang prosentasenya masih kecil sehingga banyak Ketua dan Pansek tinggal dirumah kontrakan. semoga dimasa mendatang menjadi prioritas utama, sehingga mutasi tidak lagi menjadi beban fsikologis. selamat buat pak Wahyu, pak Hariri dan bapak-bapak yang telah berjuang untuk kemajuan Peradilan Agama semoga bapak-bapak diberi kesehatan oleh Allah SWT, Amin....... :-|
Reply
 
 
# nurmadi rasyid pa bengkulu 2011-11-25 16:00
perjuangan itu perlu diconto dan dijadikan pedoman bagi pimpinan pinan badan peradilan agama semoga dapat dijadikan conto buat perjuanan pengadilan agama kemasa yang akan datang terima kasih bapak Amin
Reply
 
 
# Abd. Rasyid A@PA Krs 2011-11-25 16:21
Alhamdulillah...berkat perjuangan dan dedikasi pak Dirjen Badilag (Drs. H. Wahyu Widiana, MA) Pengadilan Agama tidak lg dipandang sebelah mata oleh "orang lain" karena gedung2nya sdh mewah, bahkan di beberapa daerah kantor PA menjadi kantor yg paling mewah, termasuk PA Kraksaan. Alhamdulillah hari ini (Jum'at, 25/11/2011) Ketua PTA Surabaya meresmikan Gedung pertemuan dan ruang tunggu PA Krasaan, dan konon PA Krs. PA yg pertama di wilayah PTA Jawa Timur yg memiliki gedung pertemuan dan ruang tunggu. Ini jg berkat perjuangan dan perhatian Dirjen Badilag terhadap kemajuan Pengadilan Agama.... Sukses buat P. Wahyu Widiana, Semoga Allah SWT selalu melindungi....Amin...
Reply
 
 
# Saefuddin T - Arga Makmur 2011-11-25 16:24
Setelah mengikuti catatan-catatan pak Dirjen yang dimuat dalam"Pojok Pak Dirjen", isinya sangat memberi motifasi, inspiratif, inovatif dan kaya akan nilai spiritual dan tentu keteladan bagi warga Badilag. Saya usul jangan menggunakan rubrik "Pojok Pak Dirjen", kesannya marginal gitu, masak Pak Dirjen "dipojokkan". Saya usul kepada redaktur Badilag net agar diganti dengan "Teras Pak Dirjen" atau "Kolom Pak Dirjen".
Reply
 
 
# Subai, PA Tasikmalaya 2011-11-25 17:02
Alhamdulilah...itulah yang d namakan suskses..kegigihan, keuletan..slamat ats kerja kerasnya...
Reply
 
 
# syarif hidayatullah 2011-11-25 17:05
wlau sekarang anggaran tuk PA sudah cukup lumayan, perjuangan terus dilanjutkan. dan aparat PA harus terus meningkatkan kinerjanya, sbgai rasa syukur
Reply
 
 
# Syaifuddin KPA Stabat 2011-11-25 20:35
Terima kasih Pak Dirjen, informasi ini sangat berharga bagi kami. semoga perjuangan Bapak menjadi amal jariyah dan cerita ini semoga dapat menjadi cambuk bagi kami untuk berjuang lebih gigih untuk mencapai cita-cita Peradilan Agama ke depan, yaitu sebagai Peradilan Agama Yang Agung.
Reply
 
 
# AFIF 2011-11-26 01:40
Alhamdulilah prasarana dan sarana di PA, makin hari semakin baik, hal tersebut tidak akan berarti apa-apa bila tidak diimbangi dengan kinerja dan pelayanan yang baik kepada Masyarakat. Maju terus Peradilan Agama. Dan Terima Kasih Banyak buat Bapak-bapak pimpinan kami yang telah membawa perubahan positif untuk Peradilan Agama. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan bagi kemajuan dunia peradilan aaamiiieeen.....
Reply
 
 
# Nanang MR @ Tj Redeb 2011-11-26 10:54
..................... bingung kata apa yg bisa mengungkapkan betapa perjuangan petinggi-petinggi BADILAG dalam meng'HURIP-HIRUP'kan peradilan agama, sementara saya baru bisa numpang urip di peradilan agama...
Reply
 
 
# Agfa 2011-11-26 12:32
Dulu pernah sepintas sy dengar sepak terjang bapak2 Peradilan Agama, sy takjub akan kepiawaian, keberanian dan terutama bertindak scr taktis; dlm hati kuberkata "hebat taktik tgkt tinggi yang halus dan mulus". Ternyata benar, bapak2 adalah pemimpin dan ksatria2 peradilan agama, trima kasih banyak dan mdh2an sdh dipersiapkan pula para penerusnya.
Reply
 
 
# Suryadi PA. Sengeti 2011-11-26 16:35
Mmbaca tulisan ini sy sangat trharu skaligus bangga. Trharu karena bginilah sjarah pnjang prkmbngan PA di Indonesia, dr mulai terseok-seok, dipndang sbelah mata, krg bnyak mndapat perhatian namun pd akhirnya bs diknal dan trkenal spt skarang. Bangga krna memiliki orang2 spt pak Wahyu, hariry, zuffran dkk yg meskipun dulu PA ini miskin brbagai fasilitas dan kurang mndapat prhatian, namun keadaan PA saat itu tidak mmbuat beliau2 patah arang dan khilangan smangat bekerja, namun sbaliknya ide2 kreatif dan imajinatif justru muncul dari keadaan spti itu. Alhamdulillah idealisme dan karya2 yang beliau2 sumbangkan untuk kemajuan PA, saat ini telah terbukti dan dapat kita nikmati. Yg jd prtanyaan sy ke depan, stelah bliau2 pensiun, akankah muncul sosok skaliber pak wahyu, hariry, Zuffran. Wallohu a’lam bis showab. Tp insya Alloh kt tetap hrs optimis.
Reply
 
 
# Khoiriyah 2011-11-27 09:06
Wah begitu gigih perjuangan Bapak-bapak di atas, semoga kiprahnya dalam penglihatan Allah menjadi nilai ibadah dalam mempertahankan Dienul Islam.. Amiiin..
Melalui ini saya mohon kepada Bapak Dirjen.. kiranga dengan besarnya anggaran semoga dapat memperjuangkan sistem mutasi yang lebih "peradilan agama" bukan lebih "peradilan umum" artinya mutasi punya konsep sendiri,atau barangkali anggaran mutasi sekarang untuk menata perekrutan calon pimpinan PA/PTA agar berkwalitas.... sebagaimana harapan bapak pada akhir tulisan ini, kita "tetap berpegang kepada khiththah peradilan agama seperti yang diharapkan oleh para ulama dahulu. Adagium 'Hakim di mata hukum dan ulama di mata umat', secara hakiki tetap kita pertahankan tanpa melanggar etika dan norma yang berlaku"
Reply
 
 
# samsul bahri 2011-11-27 10:43
kami orang pa, hanya bisa mengucapkan terima kasih, dengan iringan doa jazakumullah kepada pada pejuang PA.
tetapi kepada mereka dan kita semua harus menghadapi medan perjuangan lagi. sistem kamar dan pembatasan kasasi harus diwaspadai karena boleh jadi ada efek negatif untuk PA. coba simak sambutan Ketua MA pada rakernas... semoga ALLAH SWT selalu menolong para penolong pejuang dan penegak hukum-NYA. amien
Reply
 
 
# Ali Mhtrm @PA Tj Redeb 2011-11-28 08:32
Setiap langkah baik, Isyallah mndapatkan hasil yg baik...
Jazakumullah....!
Reply
 
 
# Adhien@Pame 2011-11-28 09:00
Sungguh besar kiprah serta jasa-jasa para pendahulu kita teruma Pak.Dirjen dalam meningkatkan anggaran Peradilan Agama. Mudah2an semangat dan kegigihan beliau dapat menginspirasi kita untuk senantiasa membuat karya nyata dan berusaha meningkatkan performa serta citra peradilan agama......
Reply
 
 
# Abu Hazm/Hamzah Kalianda 2011-11-28 09:08
Ketika awal kerasulan Rasulullah, betapa berat perjuangan beliau dan para sahabatnya dalam menegakan kalimah2 Allah di muka bumi ini, tetapi akhirnya berjayalah Islam di muka bumi ini dg perjuangan bercucur keringat,pikiran, bahkan darah sekalipun. begitulah setting sosial pak Dirjen dan kawan2nya dalam memperjuangkan Peradilan Agama. semoga kualitas pahala yg dicurahkan Allah SWT kpd pak Dirjen dan kawan2nya senilai perjuangan Rasululah dan para sahabatnya dlm memperjuangkan Islam,karena peradilan agama adalah salah satu bagian dari Islam itu sendiri. Amiiin.
Reply
 
 
# rohimahpagrt 2011-11-28 09:27
trimakasih atas perjuangannya yang bisa dinikmati insan2 husus pradilan agama.tidak berhenti untuk berjuang untuk kemaslahatan umat semoga sukses slalu.amin
Reply
 
 
# M. Sukri Baidowi PA. Sumenep 2011-11-28 09:48
Sungguh apa yang telah dilakukan pak Dirjen dalam memperjuangkan peningkatan anggaran telah mengajarkan kami dalam memanfaatkan tantangan menjadi peluang, kegigihannya telah membangkitkan semangat kami, kepiawaiannya dalam menemukan masalah dan kecerdasannya dalam mencari solusi telah menginspirasi kami, kesungguhan dan ketulusannya patut diteladani. Kini hasil perjuangan bapak-bapak pimpinan telah kita rasakan. Terimakasih pak Dirjen, perjuangan bapak dan para pimpinan tidak akan sia-sia.Perjuangan selanjutnya menjadi tugas kita para generasi penerus. Semoga kita senantiasa dalam lindungan dan ridlo Allah SWT. Amin
Reply
 
 
# liliasyari@yahoo.com 2011-11-28 10:06
lilik muliana PA Probolinggo
Tkans pak Dirjend atas segala perjuangandan keberhasilannya membawa PA lebih bermartabat smg kt dan penerus aparat peradilan ttp menjunjung tinggi perjuangan bpk dg dedikasi dan motifasi dlm mencapai peradilan yg agung.......
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2011-11-28 12:41
Tulisan ini membuat kita mengerti, dan tahu betapa gigihnya bapak-bapak kita berjuang untuk kemajuan PA, baik sarana maupun prasarananya. mudah-mudahan dengan tulisan ini bisa memberikan motivasi kepada pemegang amanah, agar betul-betul bisa mengoptimalkan DIPA yang ada sesuai aturan hukum. alangkah naifnya apabila tidak amanah, sama saja menghianati perjuangan bapak-bapak yang ada di Pusat. semoga ke depan kita lebih baik dalam segala-galanya.
Reply
 
 
# Abdurrahman Alwi_pa_sengeti 2011-11-28 12:46
it's " The Right Man On The Right Place "
yang membedakan seorang pemimpin yang sukses adalah kemapuannya untuk melakukan hal yang tepat, kepada orang yang tepat, disaat yang tepat,...... buktinya tidak perlu dipertanyakan lagi, Selamat Menikmati namun Jangan Lupa Untuk Mensyukuri....Thanks for All....
Reply
 
 
# yuniati F @Pa Gunung Sugih 2011-11-28 14:45
Subhanallah.. sebuah perjalanan yang gigih, sebelum akhirnya bisa seperti sekarang ini. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas terobosan2 dan kegigihan agar tidak jauh ketinggalan dengan badan peradilan yang lain. Jazakumullah katsiraa..
Reply
 
 
# Drs. Salinri _Pansek PA Masamba 2011-11-28 15:23
setelah membaca sebuah tulisan beliau yang berjudul Harga sebuah KMA, saya sangat terharu dan meneteskan air mata sebagaimana mendengar perjalanan Peradilan Agama dimasa lampau dan dimasa sekarang. adanya keseriusan beliau memperjuangkan Peradilan Agama untuk mensejajarkan dengan Peradilan lainnya, maka terbuktilah perjuangan beliau tidak sia-sia karena kenyataan sekarang Peradilan Agama sudah masuk sistim Peradilan satu atap,,. Semoga kegigihan dan keuletan beliau memperjuangkan Peradilan Agama bernilai ibadah dan mendapat pahala disisi Allah SWT. Amin...
Reply
 
 
# Darman, PA.ME 2011-11-29 05:17
Kita sangat bangga mempunyai pemimpin yang memikirkan kepentingan orang banyak dari keperluan pribadi, kami kagum hasil perjuangan yang dirintis begitu berliku-liku, sehingga dapat membuahkan hasil yang manis. Mudah2an Peradilan Agama ke depan dapat memberikan yang terbaik buat bangsa dan negara Indonesia serta eksistensinya diakui diluar negeri.
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-29 07:50
Pak Dirjen Para tokoh yang memperjuangkan kemajuan PA ini harus terukir manis dalam Buku Bapak PA Serambi Dunia.Doa saja tidak cukup, berbuat dan perjuangan harus tertanam pada warga PA. ini resiko.
Reply
 
 
# Ali Fikri Wk.PA.Tasik 2011-11-29 10:19
Salut atas perjuangan Pak Dirjen memperjuangkan Lembaga Peradilan Agama, Mudah-mudahan Allah SWT selelu memberikan bimbingan dan kesehatan..mudah-mudahan Para Petinggi Peradilan Agama tidak melupakan perjuangan tersebut.. :cry:
Reply
 
 
# Suhadak Mataram 2011-11-29 12:35
Terkadang emosi meluap-luap tanpa kontrol, terima kasih Tim Editor. Saya sangat bangga dengan pak Dirjen dan para pejuang PA, sebuah cambuk buat saya untuk bangkit berbuat untuk kemajuan PA kelak, teladan yg sangat besar telah pak Dirjen lakukan demi PA dg tanpa pamrih dan hanya berharap ridho Allah swt. Semoga para pejuang PA senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang dan dicatat sebagai amal jariah.
Reply
 
 
# bambang s. toto pa ngawi 2011-11-29 12:45
Subhanallah betul hati saya terharu mendengar cerita ini,krn jujur saya baru tahu cerita ini,kita tahunya sdh seperti sekarang. Sugguh mulia dan gigih perjuangan para pendahulu kita terutama pak dirjen,pak Hariri dkk.Sudah sepantasnya kita sbg generasi penerus bersyukur kpd Allah SWT dan terimakasih kpd Beliau-Beliau serta meniru dan meneladani perjuangan mereka, semoga amal perjuangan Beliau-Beliau diterima Allah SWT Amien.
Reply
 
 
# HM.NASKA - pa.pekanbaru 2011-11-29 15:50
ALHAMDULILLAH, sebuah matarantai sejarah perjuangan yg sgt fenomenal dg hasil yg fantastis spt kita nikmati skrg.Ada nilai yg perlu dicatat, betapa 'kepiawaian/kelihaian' dlm membangun KOMUNIKASI EKSTERNAL yg produktif, PERLU TERUS DIASAH. Perjuangan belum selesai, 'musabaqah/rivalitas' sll menuntut warga PA utk pandai2 bermain citra (game of immage)dg meningkatkan semangat keilmuan, mengasah skill dan kemampuan serta snts menjaga integritas moral, berbekal SPIRIT HIJRATURRASUL. Jayalah PA-q' PA-mu' PA kita semua...
Reply
 
 
# Herman 2011-11-29 16:17
man jadda wa jada.....:-), "Our Founding Father" Peradilan Agama,telah memberikan begitu banyak sumbangsih yang tidak ternilai untuk generasi berikutnya!!! Lanjutkan!!!
Reply
 
 
# suhartono PA.Gresik 2011-11-30 08:39
thanks Pak Dirjen .......sungguh tulisan-tulisan Bapak selalu memberikan inspirasi dan energi lebih .........
Reply
 
 
# A. Muhtarom-PA. Sidoarjo 2011-12-02 11:31
Perjuangan yang luar biasa akan menghasilkan yang luar biasa biasa pula.
Itulah sosok Pak Dirjen kita, yang telah berjuang tak kenal lelah untuk kemajuan dan kemapanan Peradilan Agama.
Reply
 
 
# sri rantau 2011-12-05 07:38
alhamdulilah...sekarang tugas kita melanjutkan perjuangan para pendahulu kita yang telah memperjuangkan PA..semoga kesuksesan selalu mengiringi PA amiiin...
Reply
 
 
# Mahfudin PA Rengat 2012-01-12 09:00
Memang untuk menampilkan profil PA yang dapat dibanggakan membutuhkan perjuangan yang sangat keras para pemimpin dan segenap warga peradilan agama, alhamdulillah atas usaha yang maksimal dan sungguh-sungguh tersebut kini dapatlah kita rasakan hasilnya. terimakasih yang seluas-luasnya kepada pak Dirjen dan para pendahulunya semoga PA tetap diperhitungkan.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 















Pembaruan MA















Pencarian
Polling
Setujukah apabila setiap putusan pengadilan ditampilkan di website
 
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS