Kamis, 21 Agustus 2014 Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama 



English Version | العربية
 
 
Informasi Umum
Home
Profil
Organisasi
Yurisdiksi
Hisab Rukyat
Peraturan Perundangan
Artikel
Hikmah Badilag
Dapur Redaksi
e-Dokumen
Kumpulan Video
Pustaka Badilag
Arsip Berita
Raker Badilag 2012
130th Peradilan Agama
Transparansi Peradilan
Putusan PTA
Putusan Perkara Kasasi
Transparansi Anggaran
Statistik Perkara
Info Perkara Kasasi
Justice for All
Pengawasan
Pengumuman Lelang
Laporan Aset
Cek Akta Cerai
LHKPN
Prosedur Standar
Prosedur Berperkara
Pedoman Perilaku Hakim
Legalisasi Akta Cerai
Internal Badilag
e-Mail
Direktori Dirjen
Setditjen
Dit. Bin. Tenaga Teknis
Dit. Bin. Administrasi PA
Dit. Pratalak
Login Intranet



RSS Feeder

Get our toolbar!








Login Intranet



Online Support
 
 
 
 



FOKUS BADILAG

PENGUMUMAN : Naskah Pidato Ketua MA dalam Rangka Peringatan HUT ke-69 MA [Revisi]
PENGUMUMAN : Undangan Mengikuti Profile Assessment
| (18/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 19 | (18/8)
PENGUMUMAN : Kenaikan Pangkat Tenaga Teknis Peradilan Agama Periode 1 Oktober 2014
| (15/8)
PENGUMUMAN : Kelengkapan Berkas Usul Kenaikan Pangkat (KP) Dengan Pencantuman Gelar Pendidikan | (11/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 18 | (8/8)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 17 | (7/8)
VIDEO : Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H | (28/7)
PENGUMUMAN : Pemberitahuan Kenaikan Pangkat Reguler Tenaga Teknis Periode Oktober 2014
| (25/7)
PENGUMUMAN : Penetapan Hak Akses dan Admin SIMPEG Online di Lingkungan Peradilan Agama | (25/7)
VIDEO : Kuliah Berseri Hukum Acara Peradilan Agama -- Seri 16 | (24/7)
PENGUMUMAN : Contoh Pembuatan SKP | (24/7)
PENGUMUMAN : Pengiriman Softcopy Berkas Perkara/Putusan Untuk Lomba Pemberkasan Perkara | (23/7)
PENGUMUMAN : Ralat Laporan Sidang Keliling, Prodeo, Posbakum dan pelayanan terpadu | (21/7)
PENGUMUMAN : Petunjuk Teknis Pedoman Pelayanan Hukum | (21/7)




Tambahkan ke Google Reader
Hakim Tinggi : Pemikir dan Pelaku Pembaruan | (5/2/2012) PDF Cetak E-mail
Minggu, 05 Februari 2012 21:13

Hakim Tinggi: Pemikir dan Pelaku Pembaruan

*

Di mobil, dalam perjalanan pulang dari Merak, menghadiri Rakerda PTA dan PA-PA se Provinsi Banten, Senin (30/1/2012) malam, saya berpikir tentang apa yang telah saya sampaikan dalam acara Rakerda itu.

Ketika mengisi acara, setelah Pembukaan Rakerda yang juga berbasis TI ini, saya bicara agak “kenceng” tentang peran hakim tinggi. Setelah memberi materi, saya merasa kurang enak, sampai-sampai ketika ramah tamah, kepada Pak Thahir Hasan dan Pak Muwahhidin, saya bertanya apakah penyampaian saya terlalu keras. Pak KPTA dan WKPTA itu menyatakan tidak. Bahkan setuju dengan cara dan apa yang saya sampaikan.

Kedua pimpinan PTA Banten yang sudah senior ini akan menindak lanjuti dan menjadikannya sebagai rumusan hasil Rakerda. Lalu akan mengontrol pelaksanaannya nanti.Saya senang juga.

Memang benar, untuk meningkatkan peran pengadilan tingkat banding sebagai kawal depan Mahkamah Agung, tidak boleh tidak, kita harus memfungsikan dan meningkatkan peran para hakim tinggi.

Hakim tinggi, yang mempunyai tugas utama menangani perkara banding, harus juga diikut sertakan dalam pembinaan PA-PA yang berada di bawahnya. Sejalan dengan itu, sangat pantas kalau para hakim tinggi menjadi “think-tank” pada MSA/PTA masing-masing. Think-tank, sebagai pemikir dan inovator, dapat memberikan masukan yang brilian kepada pimpinan, baik berkaitan dengan penyelesaian perkara atau masalah lainnya. Di samping itu, para hakim tinggi ini juga perlu menjadi pembina, yang langsung memberikan bimbingan, arahan dan pengawasan berkaitan dengan jalannya pengadilan dan kualitas SDM di PA/MS.

Selama ini di banyak tempat, saya dan Pak Tuada Uldilag sering menekankan hal seperti itu. Namun kali ini, saya ingin sekali terus menggaungkan masalah peningkatan pelaksanaan fungsi hakim tinggi, sesuai dengan tema Rakernas Mahkamah Agung tahun 2011: “Meningkatkan Peran Pengadilan Tingkat Banding Sebagai Kawal Depan Mahkamah Agung”. Saya juga ingin agar semua pimpinan PTA dan MSA banyak melakukan langkah ke arah pemberdayaan hakim tinggi.

**

Dulu, posisi hakim tinggi dikesankan sebagai suatu jabatan yang kurang bergengsi dan tidak diminati. Seorang hakim cenderung untuk memilih menjadi Ketua PA/MS dari pada menjadi hakim tinggi. Kalau bisa, para Ketua PA/MS menolak untuk dihakim-tinggikan.

Ada juga kesan untuk kasus-kasus tertentu, dihakim-tinggikan berarti diberi hukuman. Ini karena sering terjadi, untuk menempatkan Ketua PA/MS yang bermasalah, solusinya adalah yang bersangkutan dihakim-tinggikan.

Ketua PA/MS kalau dihakim-tinggikan akan banyak kehilangan. Kehilangan jabatan (struktural), kehilangan kekuasaan, kehilangan fasilitas, dan bahkan kehilangan pendapatan, di samping mungkin merasa kehilangan prestise alias gengsi.

Sekali lagi, itu dulu. Sistem dulu memang dapat memungkinkan keadaan seperti itu. Sekarang, saya yakin, tidaklah demikian. Sistem kepegawaian, penggajian dan pembinaan karir, kini jelas, hakim tinggi lebih tinggi dari pada Ketua PA. Hanya mungkin, masalah fasilitas, negara masih belum mampu memberikannya lebih baik kepada para hakim tinggi.

Namun demikian, upaya ke arah itu sudah mulai dilakukan dan sedikit demi sedikit sudah memperlihatkan hasil. Sehingga, sekarang banyak Ketua PA/MS yang mengharapkan jadi hakim tinggi.

***

Saya senang, posisi hakim tinggi sekarang sudah diminati oleh para Ketua PA/MS atau oleh hakim-hakim tingkat pertama secara umum. Prestise hakim tinggi kini juga merayap naik. Apalagi kebijakan Mahkamah Agung yang memberi peran lebih besar terhadap pengadilan tingkat banding, kini mulai diikuti oleh meningkatnya anggaran untuk pembinaan di daerah.

Peningkatan peran pengadilan tingkat banding secara otomatis akan meningkatkan peran hakim tinggi dalam melakukan pembinaan. Tidak mungkin, dalam melakukan pembinaan itu hanya Ketua dan Wakil Ketua saja yang melakukannya. Keterlibatan para hakim tinggi adalah suatu keniscayaan.

Oleh karena itu, dimana-mana dalam kunjungan ke daerah, saya selalu minta kepada para pimpinan PTA agar memfungsikan hakim tinggi, bukan saja di bidang pembinaan tehnis, tapi juga pembinaan secara umum. Saya yakin, secara teoritis para hakim tinggi yang pada umumnya adalah mantan Ketua PA/MS, akan lebih menguasai permasalahan dibanding para Ketu PA/MS itu sendiri, apalagi dibanding hakim-hakim tingkat pertama. Para hakim tinggi adalah senior dari mereka itu.

Namun yang selalu dikeluhkan adalah kini tidak ada lagi diklat hakim senior seperti yang dulu sering kita lakukan. Bahkan orientasi dan sosialisasi isu-isu barupun dianggap kurang melibatkan para hakim tinggi. Kegiatan peningkatan kualitas SDM, terutama mengenai isu-isu baru, dipandang lebih banyak ditujukan kepada para hakim muda atau Ketua PA/MS.

Keluhan lain yang sering terdengar adalah anggaran pembinaan sangatlah terbatas. Kesempatan melakukan pembinaan ke PA/MS yang ada di wilayah PTA/MSA sangatlah kecil, apalagi di daerah-daerah terpencil. Dikatakan, paling banyak setahun hanya 2 kali kesempatan para hakim tinggi dapat melakukan pembinaan ke PA/MS itu.

****

Apa yang dikeluhkan oleh para hakim tinggi, yang sering saya dengar di mana-mana itu, memang benar adanya. Pendidikan hakim senior tidak ada, kegiatan orientasi dan sosialisasi isu-isu baru belum dapat menjangkau seluruh hakim tinggi, kesempatan melakukan pembinaan mendatangi PA/MS sangat kurang. Itu semua benar. Dan yang menjadi kambing hitamnya adalah keterbatasan anggaran.

Saya sering mengatakan dalam berbagai kesempatan di mana-mana, bahwa anggaran bukanlah segala-galanya. Sejak dulu peradilan agama ini selalu diliputi kekurangan dan keterbatasan. Namun, berkat niat kita yang ikhlas dan motivasi kita yang tinggi, sejak dulu sampai sekarang peradilan agama bisa “survive”, bahkan untuk beberapa hal bisa dibanggakan.

Terhadap apa yang saya katakan di atas, banyak pimpinan dan warga peradilan agama yang mengamininya. Kita bisa melihat antara lain dari komentar-komentar yang banyak dipublikasikan pada badilag.net. Ini merupakan sesuatu yang menggembirakan.

Jadi, untuk meningkatkan fungsi dan peran hakim tinggi dalam melakukan pembinaan ke PA/MS tidak harus selalu tergantung kepada anggaran dan kebijakan dari Jakarta saja. Daerah bisa membuat kreativitas dengan memanfaatkan fasilitas dan kondisi yang ada di masing-masing PTA/MSA.

Penggunaan teknologi informasi yang kini sudah digandrungi oleh seluruh PA/MS dapat pula dimanfaatkan untuk peningkatan fungsi hakim tinggi dalam melakukan pembinaan ke daerah. Pembinaan ke daerah tidak harus selalu bertemu secara fisik.

Pembinaan dalam hal pengembangan website, SIADPA, SIMPEG, penilaian terhadap materi putusan, transparansi, sistem pelaporan dan lain-lainnya dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi jarak jauh. Dan ini sudah banyak PTA yang melakukannya.

Hal lain yang perlu kita manfaatkan adalah waktu yang sangat banyak dipunyai oleh para hakim tinggi. Kalau kita melihat sekilas jumlah hakim tinggi dan jumlah perkara banding, betapa para hakim tinggi akan mempunyai banyak waktu untuk melakukan kajian, orientasi, sosialisasi dan pembinaan.

Sebagai contoh sederhana saja. Kita menerima perkara banding tahun 2011 secara nasional hanya sekitar 2.000 perkara, sementara jumlah hakim tinggi sekitar 500. Kita bisa melihat, seberapa besar beban kerja dari tiap hakim tinggi itu. Bandingkan dengan jumlah perkara yang diterima oleh PA yang mencapai 340.000an.

Jumlah perkara banding yang tertinggi adalah di PTA-PTA Surabaya, Semarang dan Bandung. Itupun “hanya” sekitar 300. Sementara di PTA-PTA lainnya jauh di bawah itu. Bahkan di banyak PTA , jumlah hakim tingginya lebih besar dari jumlah perkara setiap tahunnya. Pak Tuada Uldilag beberapa tahun lalu menyatakan perlunya memperbanyak jumlah hakim tinggi, walaupun jumlah perkara banding relatif kecil. Tujuannya, untuk meningkatkan pembinaan PA/MS.

Oleh karena itu, sangat tepat jika peningkatan peran hakim tinggi dalam melakukan pembinaan kepada PA/MS perlu terus ditingkatkan. Tugas hakim tinggi bukan hanya melakukan penanganan perkara banding saja.

*****

Saya optimis, peningkatan peran hakim tinggi akan berhasil dengan baik. Syaratnya adalah komitmen, alias tekad kita bersama. Saya sangat sering dalam tulisan di pojok ini atau dalam berbagai kesempatan di daerah menyatakan komitmen adalah faktor yang sangat menentukan. Saya tidak bosan atau malu untuk menyatakan itu berkali-kali. Sebab memang benar, komitmen atau tekad, terutama dari para pimpinan, adalah hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan suatu organisasi.

Setelah kita memiliki komitmen yang kuat, kita perlu melakukan langkah-langkah strategis. Misal, membagi jumlah hakim tinggi yang ada dan menentukannya sebagai pembina atau pengawas dari PA/MS tertentu. Ketua dan Wakil Ketua PTA/MSA harus secara konsisten memonitor pelaksanaan pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh para hakim tinggi itu. Kalau perlu, para Ketua dan Wakil Ketua ini harus berani mengingatkan (kata halus dari menegor) para hakim tinggi tentang pelaksanaan pembinaan dan pengawasannya.

Selain itu, dan ini adalah langkah yang sangat penting, perlu diadakan DDTK, orientasi atau sosialisasi untuk kalangan para hakim tinggi, mengenai isu-isu terkini. Sudah barang tentu metoda yang digunakan harus disesuaikan dengan posisi dan kehormatan para hakim tinggi itu sendiri.

Yang jelas, keterampilan menggunakan komputer, mengakses internet, menggunakan email, mempraktekkan dan menguasai SIADPA, SIMPEG dan mengetahui isu-isu terkini lainnya, mutlak harus dimiliki oleh seorang hakim tinggi sebagai pembina dan pengawas PA/MS.

Saya sering menyatakan, bagaimana hakim tinggi bisa membina PA/MS untuk lebih maju, jika para hakim tinggi itu sendiri tidak menguasai keterampilan dan isu-isu terkini. Saya juga sering memotivasi bahwa hakim tinggi tidak boleh kalah dari Ketua dan hakim-hakim PA/MS.

Barangkali pernyataan-pernyataan seperti itu mungkin membuat para hakim tinggi merasa kurang enak. Saya sendiri sering merasa, pernyataan-pernyataan seperti itu khawatir dianggap terlalu keras dan menyinggungnya.

Ya, kalau memang terlalu keras dan cara penyampaian saya dinilai menyinggung perasaan, saya mohon maaf. Tapi secara substansi, saya merasa pernyataan itu tidak salah. Saya tidak mengatakan bahwa kini para hakim tinggi kalah dari para Ketua PA/MS. Sebab memang kenyataannya banyak juga hakim tinggi yang sangat berkualitas. Saya hanya berharap, semoga pernyataan-pernyataan itu dapat memotivasi hakim tinggi untuk terus meningkatkan kualitas diri.

Saya yakin, kalau tekad kita sama dan langkah kita terarah serta konsisten, kebijakan Mahkamah Agung untuk meningkatkan peran pengadilan tingkat banding sebagai kawal depan, akan berhasil dilaksanakan. Salah satu syarat adalah keberhasilan pemberdayaan para hakim tinggi sebagai pemikir sekaligus pelaku pembaruan menuju keadaan yang lebih baik. Saya optimis, kita akan berhasil.(WW).

TanggalViewsComments
Total272166
Rab. 2010
Sen. 1810
Ming. 1710
Jum. 1520
Kam. 1410
Sel. 1210
LAST_UPDATED2
 

Comments 

 
# Masrinedi-PA Painan 2012-02-05 23:55
Kita sama-sama berharap pembinaan dan pengarahan dari YM bapak/Ibu Hakim Tinggi terus berkelanjutan dengan adanya penataan sistem yang integral, planning yang matang dan adanya evaluasi yang intensif sehingga 'peran pengadilan tingkat banding sebagai kawal depan Mahkamah Agung' akan terwujud dan Program Prioritas RBPP MA.RI sukses. Amin Yaa Rabbal'alamin !!!
Reply
 
 
# Hardinal PTA Jayapura 2012-02-06 01:09
Bila dipahami secara literally, bisa dikatakan Pak Dirjen berbicara KERAS, karena kata yang dipilih adalah "think" (berfikirlah), "tank" (tangki). Namun secara idiomatis bermakna pemikir dan inovator yang cendekia dan bernuansa kekinian. Layaknya memang demikian.Ke depan : 1). HT memang setiap tahun perlu diikutsertakan dalam kegiatan pelatihan secara merata. 2). Komitmen top-down YANG TULUS (BUKAN SETENGAH2)suatu keniscayaan dan tuntutan, dengan memaksimalkan penggunaan anggaran yang accountable. 3). Kemauan untuk bermesra dengan "isteri kedua" (TI/Laptop)menjadi sunnah muakadah. Okey ...!!! Semoga semua kita bisa. Terimakasih Pak Dirjen atas motivasinya yang amat bernas.
Reply
 
 
# ayep sm PA Tasikmalaya 2012-02-06 05:37
Ba'da rakernas MARI 2011, memaqng mau tidak mau PTA merupakan kawal terdepan, yang harus berkerja ekstra keras, tanpa itu yakin akan memble, karena itu modal rekerda tersebut merupakan awal bekerja kita, sangat setuju, mekipun ada yang bilang keras, memang sekali-kali kita harus keras. Teruskan.
Reply
 
 
# maharnis PTA Jayapura 2012-02-06 05:50
saya setuju dengan apa yang disampaikan pak wahyu (pak dirjen) sebagai hakim tinggi harus punya tekat dan semangat yang kuat untuk lebih maju, apalagi fungsi pengawasan dan pembinaan sekarang berada dipundak Hakim tinggi dibawah kordinasi Wakil KPTA yang merupakan perpanjangan (kawal depan) Mahkamah agung RI . untuk itu saya berharap skil dan kemampuan Hakim tinggi harus ditingkatkan baik melalui pelatihan-pelatihan maupun melaui kreatifitas sendiri, terima kasih pak wahyu atas suntikan semangatnya.
Reply
 
 
# Tatang Std PA Smrda 2012-02-06 07:21
Hakim Tinggi yg memiliki level lebih tinggi dari hakim tingkat pertama sudah selayaknya memiliki kemampuan lebih, sehingga bisa memberikan pencerahan dan wawasan serta panutan dalam teknis peradilan sekaligus sebagai kreator dan inovator dalam rangka mewujudkan peradilan yg mandiri dan profesional
Reply
 
 
# Hermanto 2012-02-06 07:27
Semoga para Hakim Tinggi lebih "wise" dalam menyikapi pernyataan Bapak Dirjen, melihat dari data2 yg disampaikan Pak Dirjen, bahwa wku luang HT memang cukup tersedia banyak untuk selalu memberikan pembinaan "andai" dapat memaksimalkan kemajuan TI yang ada, setiap HT kiranya harus memiliki laptop atau perangkat untuk browsing internet, dengan begitu dapat memudahkan akses masuk situs2 PA dalam wilayah Yurisdiksinya,memantau putusan2, masuk SIADPA dll. Semoga budaya ber "TI" dapat memaksimalkan peran HT sebagai pembina2 terbaik di wilayahnya.
Reply
 
 
# Alimuddin M.Mataram 2012-02-06 07:34
Memberi motivasi kepada bawahan itu sudah menjadi kewajiban atasan. jadi tidak ada alasan merasa digurui dan semacamnya. Bahkan motivasi itu seharusnya dianggap sebagai penghargaan, karena berarti kita masih diperhatikan. menfungsikan kualitas SDM itulah yang menentukan kinerja.
Reply
 
 
# udinmyxtr 2012-02-06 07:45
salah satu kendala utama bagi hakim tinggi adalah kesehatan,rata-rata usia mereka sudah uzur sehingga rentan sakit. untuk pembinaan ke daerah yang menguras tenaga tidak hanya pikiran yang harus dibawa, persiapan pisik pun sangat perlu.
Reply
 
 
# subhan PA Kuningan 2012-02-06 08:00
betul.... pak dirjen, kan hakim tinggi mantan-mantan ketua, jadi tahu seluk beluk PA. PA-PA perlu mendapat pembinaan secara teratur dan terukur
Reply
 
 
# M.Yusuf Waka PA Kendari 2012-02-06 08:28
Setuju pak Dirjen. Meningkatkan peran Para Hakim Tinggi sehingga pengawasan dan pembinaan benar2 bisa berjalan secara maksimal.Terkesan selama ini (mohon maaf) para Hakim Tinggi baru melaksanakan tugas sebagai pengawas sementara pembinaanya belum begitu tersentuh.Memberikan pelatihan Hakim Tinggi dengan memberikan issu2 terkini saya pikir hal yang tidak bisa diabaikan.Semoga bisa berjalan... Amin
Reply
 
 
# Suhadak PA Mataram 2012-02-06 08:40
Keterlibatan Hakim Tinggi untuk memberikan ide brelian demi kemajuan MSy/PA adalah suatu keniscayaan. Sebagai kawal depan MA, Hakim Tinggi sebagai Pengawas sekaligus pembinaan bagi Msy/PA harus benar2 matang dalam penguasaan Bindalmin Hukum Acara plus TI, dah tidak zamannya lagi bagi hakim tinggi bak air mengalir menunggu batas sampai pensiun. Niat baik akan membawa berkah.
Reply
 
 
# ahid Lampung 2012-02-06 08:57
Hakim Tinggi pemikir dan Pelaku Pembaharuan yes!, statment yang ideal karena fungsinya sebagai pembina maka sudah saatnya YM bapak/ibu hakim tinggi untuk terus berbuat untuk meningkatkan kinerja diwilayah binaannya. Untuk pak Dirjen hal yang wajar jika bapak merasa terlalu keras hingga membuat ketersinggungan, tetapi senyatanya ini cara yang tepat untuk memulai sesuatu yang baik., terima kasih
Reply
 
 
# basirun .PA.PAniai 2012-02-06 08:58
THINK -THANK = INTELETUAL ORGANIK ?
jika yang dimaksud hakim tinggi adalh berperan sebagai tangki pemikir bagi pengembangan PA-PA di wilayah. maka bukan saja HT menyelesaikan putusan-putusan banding yang secara umum tidak merata antara PTA satu dengan lainnya. tetapi HT juga memiliki potensi untuk megembangkan pemikiran hukum dll. yang secara sitematis dituang dalam bentuk kertas kerja dan dipublis. sehingga pemikirannya tidak mandek layaknya inteletual menara gading.
ketika HT diposisikan Tink tank layaknya intelktual organik maka kerja-kerja PTA sungguh akan menjadi jembatan emas bagi pengembangan SDM dan kelembagaan.
saya kira gerakan pemikiran di tubuh badan peradilan bukan lagi gerakan individual(harakah fardiyah) tapi gerakan bersama yang idealnya terus didorong menjadi inteletual organis( meminjam istilahnya antonio gramci)
kapan kelompok kecil ini akan terwujud ?
Reply
 
 
# Nursal-PA Muara Bungo 2012-02-06 09:13
Perobahan , pembaharuan dan pencerahan kearah yang lebih baik merupakan dinamika kehidupan dan sunnatullah, memang peran Hakim Tinggi hari ini sangat menentukan untuk memotivasi dan sekaligus pembinaan di PA-PA di Wil. Hakim tinggi tsb. semoga Pak Dirjen Sampaikan terwujud hendaknya. amn
Reply
 
 
# M. Muzhaffar, PTA Jakarta 2012-02-06 09:28
Setuju 100 %, bila hakim tinggi hanya sekedar menyelesaikan perkara, sungguh kita rugi, padahal banyak hal yang dapat dilakukan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan sebagai bagian dalam mewujudkan peradilan yang agung, tinggal bagaimana kita memobilisasinya, sebab bagaimanapun para hakim tinggi tentu tidak dapat bergerak sendiri-sendiri dan dalam hal ini peran pimpinan sangat menentukan, apakah potensi yang ada dapat didaya-gunakan atau dibiarkan begitu saja. Semoga apa yang diharapkan dapat terwujud.
Reply
 
 
# Djulia Herjanara, Sungguminasa 2012-02-06 11:34
Sangat setuju dan sependapat dengan bapak M Muzhaffar, karena tentunya tiap wilayah mempunyai Sasaran yang berbeda dlm setiap tahunnya sehingga Peran Pimpinan akan banyak mempngaruhi kemana wilayahnya akan dibawa. Usul dan Saran, semoga di tiap PTA ada tenaga2 ahli khusus yang akan diandalkan utk membina wilayahnya
Reply
 
 
# Sudiman PTA Lampung 2012-02-06 09:59
MUDAH MUDAHAN DENGAN PEMBINAAN YANG TERUS MENERUS AKAN MENJADI LEBIH BAIK,,, TETAPI KALAU MENURUT PRIBADI SAYA PEMBINAAN TIDAK AKAN BERHASIL MAKSIMAL KALAU SISTEM ADMINISTRASI KEPEGAWAIANNYA BELOM DI BENAHI TERLEBIH DAHULU, CONTOH KECIL BAHWA UNTUK MEMFOKUSKAN HASIL MAKA HARUS ADA PEMISAHAN ANTARA PANITERA DAN SEKRETARIS DARI TINGKAT MAHKAMAH AGUNG SAMPAI DI TINGKAT PERADILAN TINGKAT PERTAMA, DARI SITULAH AKAN TERLIHAT DAN BERMUNCULAN ILMUWA ILMUWAN TENTANG PERADILAN SECARA FUNGSIONAL DAN ILMUWA ILMUWAN TENTANG PERADILAN SECARA STRUKTURAL, YANG PADA AHIRNYA MENDAPATKAN HASIL YANG LEBIH BAIK ,,,
Reply
 
 
# Chrisnayeti, Badilag 2012-02-06 10:00
Betul banget, hakim tinggi seharusnya bukan hanya sebagai senior dari hakim lain yang ada di PA tapi juga sebagai tenaga ahli/tutor,motifator,dan sebagai pengawas. Karena itu hakim tinggi juga harus bisa IT dan SIADPA biar tidak kalah sama hakim PA. Tapi juga jangan karena hakim tinggi jadi terlalu banyak menuntut fasilitas, karena pasti itu juga tetap difikirkan oleh pimpinan di atasnya.
Reply
 
 
# Sudiman PTA Lampung 2012-02-06 10:13
PEMIKIR,,,???
Reply
 
 
# endang m, pta mataram 2012-02-06 10:35
Hakim Tinggi sbg Pemikir dan Pelaku Pembaruan, kalimat ini pas betul bagi para HT yg bertekad ingin maju, baik di bidang teknis maupun di bidang non teknis. Para HT mari kita berlomba untuk melek IT, meskipun usia telah senior tapi tak usah kalah dg keadaan zaman yg serba modern.
Reply
 
 
# Marzuqi PTA.Bjm 2012-02-06 10:56
Setuju Pak Dirjen Peran hakim tinggi tidak hanya memutus perkara baanding, tapi pembinaan ditempat dan kebawah sangat perlu, hanya saja peran itu akan terlaksna tergantung komitmen atasan masing-masing. mungkin perlu evaluasi Pak Dirjen Terima kasih. Wassalam.
Reply
 
 
# adi pata 2012-02-06 11:25
Memang betul, bagi ketua PA merasa takut yang luar biasa, jika di hakim tinggikan, yang jelas ke luar jawa, jauh keluarga, rumah dan kendaran dinas tiada. Demikian yang sering kami dengar....
Reply
 
 
# wan.usman BDL 2012-02-06 11:32
Apa yang disampaikan pak Dirjen, bahwa Hakim tinggi itu bukan hanya memeriksa dan memutus perkara saja, tetapi juga masalah pembinaan ke PA-PA di daerah sangatlah penting, itu sangat setuju, sehingga hakim tinggi perlu meningkatkan wawasan dan intlektual agar menjadi pembina yang baik serta mengusai teknis dan non teknis
Reply
 
 
# MAME SADAFAL PA SIDOARJO 2012-02-06 11:37
HAKIM TINGGI MEMEGANG PERANAN PENTING SEIRING HASIL RAKERNAS MAHKAMAH AGUNG TAHUN 2011 DIMANA PERAN PEGADILAN TINGKAT BANDING SEBAGAI KAWAL DEPAN MA, HAKIM TINGGI SEBAGIAN BESAR ADALAH MANTAN KPA/MSY. YANG DIHARAPKAN SELAIN MELAKUKAN TUGAS PENGAWASAN JUGA DAPAT MEMBINA SEKALIGUS DAPAT MENULARKAN/BERBAGI PENGALAMANNYA DAN MAMPU MERESPON ISSU-ISSU BARU DAN AKTUAL TENTANG PERKEMBANGAN DUNIA PADA UMUMNYA DAN PERADILAN PADA KHUSUSNYA, NAMUN KEADAAN SAAT INI MASIH AKAN TERKENDALA SEIRING KEBIJAKAN REKRUTMEN HT. BELUM SELARAS MAKSUD PASAL 14 huruf (b)UU 7 THN 1989.UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS BERAT INI PERLU DIDUKUNG KONDISI FISIK YANG SEHAT, DAYA FIKIR YANG TAJAM STAMINA YANG PRIMA SEHINGGA TIDAK ADA KESAN JABATAN HT TINGGI ADALAH "TEMPAT ISTIRAHAT SAMBIL MENUNGGU USIA PENSIUN"SEHINGGA TERKESAN MASIH KURANG DIMINATI PADAHAL JABATAN INI SUKA TIDAK SUKA SEORANG HAKIM KARIER YANG PROFESIONAL HARUS SIAP SEDIA DIANGAT KAPAN DAN DIMANAPUN. SEMOGA.
Reply
 
 
# itna- PA.Gng Sugih 2012-02-06 11:49
Semoga apa yg disampaikan oleh Pak Dirjen dlm tulisan ini menjadi penyemangat bagi para Yang Mulia Hakim Tinggi untuk lebih konsisten membina satker2 dibawah PTA yg menjadi naungannya...
Reply
 
 
# NURDIN PA SUBANG 2012-02-06 11:49
memang HT hrs mempunyai nilai lebih dari hakim.hakim di PA-PA, beliau-beliau sbg nara sumber ktka mengadakan pengawasan ke daerah-daerah, sehingga mampu memberikan penjelasan ( solusi ) dari permasalah yang dihadapi oleh aparat PA, yang dianggap perlu penjelasan dari HT, atau dai PTA yg besifat ilmu terapan, bukan hanya teoritiskarena pd umumnya HT adalah mantan2 Ka PA.......
Reply
 
 
# Asni Falah PTA BDL 2012-02-06 11:57
motivasi dan idealisme pak dirjen mesti kita dukung, tetapi hal ini mungkin akan bisa berjalan 5-10 tahun yad apabila rekrutmen Hakim Tinggi telah berjalan sesuai sistem, karena banyak hakim tinggi yang belum berpengalaman jadi pimpinan PA, banyak yang masih gaptek IT (buka komputer aja belum pernah apalagi Laptop), pemahaman SIADPA/PTA banyak yang belum, apalagi memahami kesekretariatan/umum (keuangan, proyek, dll) sebagai bahan pengawasan.
Reply
 
 
# S. Hariadi 2012-02-06 17:10
Terlebih terkait pengawasan pada kesekretariatan/umum (keuangan, proyek, dll) jelas perlu dukungan staf pelaksana yang handal pula. Jika rekruitmen Hakim Tinggi sudah jelas, melalui TPM yang ketat, bagaimana dengan Staf/Pegawai 'Tinggi'-nya? Belum teruji belum terbukti staf di tingkat banding lebih pintar atau lebih baik kinerjanya dari staf di tingkat pertama. Padahal, bukan rahasia jika ada promosi jabatan di PA, staf PTA lebih diutamakan. Kebijakan Mahkamah Agung yang memberi peran lebih besar terhadap pengadilan tingkat banding sebagai kawal depan MA seharusnya ditindaklanjuti, dalam hal ini oleh PTA, dengan melakukan mekanisme penataan di tingkat staf juga sehingga di tingkat staf juga sudah dimulai sistem karir yang akan memacu produktivitas pengadilan dari tiap lini. Semisal, CPNS yang 'ditakdirkan' ditempatkan di PTA tidak otomatis menjadi PNS PTA jika tidak lebih baik dari rekan CPNS yang lain. Atau PNS di PA dapat ditarik ke PTA karena berprestasi kinerja berdasar penilaian tim penilai. Hal ini tampak nyata jika dianalogikan di bidang IT yang dikelola admin pilihan, satu PTA yang sudah baik kinerjanya akan dengan mudah membina PA-PA di bawahnya. Namun tidak demikian halnya jika PA-nya saja yang baik yang tidak diimbangi kinerja IT PTA-nya sendiri, akan sulit mengangkat kinerja PA yang lain untuk maju bersama-sama. Insya Allah, peng-karir-an staf yang transparan juga akan menambah wibawa PTA di daerah sebagai kawal depan MA.
Reply
 
 
# Abd.Rahman Salam /PA Banggai 2012-02-06 12:14
Soal IT untuk warga PA skrg sudah Wajib Hukumnya, bkn sj untuk Haki Tinggi ttp semua warga PA, manfaatnya La Raeba Fiha....
Reply
 
 
# Trubus W. PTA Matrm 2012-02-06 13:07
Penyampaian Pak Dirjen Badilag bhw Hakim Tinggi , Pemikir dan pelaku pembaharuan adalah merupakn warning dan suplemen yg sangat berguna bagi HT untuk memacu agar exis tentunya..,
Reply
 
 
# Mulyadi Pamili, Gorontalo 2012-02-06 13:33
Setuju sekali dengan Pak Dirjen untuk memanfaatkan tenaga Hakim Tinggi dalam hal pengawasan, karena mereka sebagai mantan pimpinan, tentu banyak mengetahui seluk beluk pelaksanaan tugas di Pengadilan Agama.
Reply
 
 
# umi jak-bar 2012-02-06 13:51
Komitmen yang konsisten serta keteladanan pemimpin dapat menyemangati dan memacu kita untuk menyatukan langkah menuju Peradilan Agama yang Agung
Reply
 
 
# Mangudin PA Krui 2012-02-06 13:54
Wah-wah sungguh luar biasa "Sentilan Sentilun Pak Dirjen" buat para Hakim Tinggi selaku Pemikir dan Pelaku Pembaharuan di lingkungan Peradilan, smg upaya Pak Dirjen disikapi secara positif shg 7 program prioritas RB Dirjen Badilag yg telah diimpikan segera membumi, eh jadi kenyataan untuk seluruh lingkungan peradilan, khususnya Peradilan Agama.
Reply
 
 
# Asti PTA Jakarta 2012-02-06 14:08
Dulu jadi hakim tinggi seperti dapat hukuman, tetapi sekarang tidak. Dulu jadi panitera pengganti "tinggi" seperti dapat hukuman, sekarang tidak. Untuk menjaga komitmen tetap tinggi, pendidikan hakim senior perlu digalakkan lagi, begitu juga agar niat tetap teguh, pendidikan bagi panitera pengganti "tinggi" perlu diadakan....
Reply
 
 
# Ali Mhtrm@PA Tj. Redeb 2012-02-06 14:33
Perlu digagas ulang: tanggung jawab & tugas kerja, Hakim Tinggi, dalam rangka memaksimalkan peran & kinerjanya.
Reply
 
 
# muh. hasbi 2012-02-06 15:12
Hakim Tinggi Pengawas, lebih banyak sekedar mencari-cari kesalahan tanpa memberi solusi yang pasti. Tidak sedikit hakim tinggi memiliki pendapat berbeda dalam satu persoalan, padahal mestinya mereka satu kata. Akibatnya para hakim tingkat pertama tak pernah benar. Untuk pembinaan, mestinya para hakim tinggi tidak melupakan aparat yang berkualitas, baik keilmuan maupun moral, padahal mereka butuh perhatian dari atas sehingga dalam program mutasi dan promosi benar-benar bisa menempatkan pejabat sesuai kemampuan.
Reply
 
 
# Asep Saefudin M,SQ pa kab. kediri 2012-02-06 15:52
Setuju sekali dg gagasan dan sentilan Pak Dirjen. Memang saya rasakan selama ini pembinaan HT atas PA yang ada diwilayahnya sangat tergantung pada anggaran negara, rasanya saya belum banyak yg memanfaatkan IT utk menyampaikan pembinaan dari HT/PTA, padahal sangat efektif jika dimanfaatkan, sebab hampir semua PA sudah punya wabsite, kenapa nggak dimanfaatkan.
Reply
 
 
# h.masruri, plk 2012-02-06 19:19
Setuju sekali dg pernyataan Pak Dirjen bhw Hakim Tinggi , Pemikir dan pelaku pembaharuan, ini adalah merupakn warning dan suplemen yg sangat berguna bagi HT untuk memacu agar tetap exis, ketika HT diposisikan Tink tank layaknya intelktual organik maka kerja-kerja PTA sungguh akan menjadi jembatan emas bagi pengembangan SDM dan kelembagaan, Para HT mari kita berlomba untuk melek IT, meskipun usia telah senior tapi tak usah kalah dg keadaan zaman yg serba modern.
Reply
 
 
# MarikluZ MS.di - Aceh 2012-02-07 08:29
Hakim PA/MS : Hakim dimata hukum, Ulama didalam masyarakat, jadi Hakim tinggi adalah ulama tinggi pula, maka hendaknya hakim tinggi mempunyai ilmu yang tinggi tentang Islam, semoga tidak ada hakim tinggi yang tidak pandai mengaji Al-Qur`an dan tidak mengerti bahasa arab. Bahasa arab adalah bahasa Rasulullah SAW, bahasa Al-Qur`an dan bahsa penduduk Surga (Hadits)
Reply
 
 
# MarikluZ MS.di - Aceh 2012-02-07 08:32
MS Aceh / PTA sudah lama sebagai kawal depan MARI, semoga kedepan HT sedikit menghindari pakai celana Lee waktu silaturrahmi ke PA Tk.pertama alias ke Hakim rendah.
Reply
 
 
# Muhdi Kholil Waka PA Kangean 2012-02-07 08:50
KEBIJAKAN DEMIKIAN INILAH YANG KITA NANTI,SELAMAT PAK DIRJEN SEMOGA SUKSES. KATA ORANG BIJAK PERUBAHAN ITU HARUS DIMULAI DARI ORANG-ORANG YANG BERWENANG MENGAMBIL KEBIJAKAN DALAM MERUBAH WAJAH PERADILAN AGAMA KITA DARI HULU HINGGA HILIRNYA.BUKANKAH KETELADANAN YANG PALING EFEKTIF DAN BAIK ITU HARUS DIMULAI DARI ATASAN DAN PARA PEMIMPINNYA , DAN INILAH YANG RASULULLAH SAW IMPLEMENTASIKAN DALAM KEPEMIMPINANNNYA SEHINGGA BELIAU MENJADI SALAH SATU PEMIMPIN YANG PALING BERPENGARUH DI DUNIA DALAM MEREKYASA SOSIAL? SEMOGA DIRIDHOI ALLAOH SWT.AMIN
Reply
 
 
# Soleh-PA Manna 2012-02-07 10:39
perjalanan karir sampai menjadi hakim tinggi sarat dengan pengalaman dan pembelajaran, semakin banyak pengalaman, tentunya akan semakin banyak hikmah yang didapat, karenanya sangat tepat kalau hakim tinggi sebagai bagian dari unsur pengadilan tinggi menjadi kawal depan MA bagi PA2 di bawahnya dalam proses pembinaan, pengawasan, transfer ilmu, ide, gagasan dan trasnsformasi attitude. sukses selalu buat peradilan agama...
Reply
 
 
# m.Tobri-PA Kuningan 2012-02-07 12:12
Setelah memberi materi, saya merasa kurang enak... katakan saja apa adanya Pak, dan itu semua benar, bicara berdasar fakta di lapangan, bukan berdasar laporan. insya allah yang membaca uraian ini, akan mengatakan setuju, dan kenyataannya begitu. mudah-mudahhan dengan uraian singkat ini, akan menjadi motivator untuk kita semua, sehingga menjadi hakim tinggi bukan sesuatu yang ditakutkan, tapi justru sesuatu yang diharapkan, sebab untuk saat ini karier yang tertinggi bagi para hakim, salah satunya menjadi Hakim Tinggi. sukses buat kita semua. maju terus Pak Dirjen.
Reply
 
 
# Abu Alma. PA solo 2012-02-07 14:16
sangat ironis bila ada hakim/Ketua PA/MS enggan dipromosikan sebagai hakim tingg. warga baru PA saja sangat berharap.
Menjadi PEMBAHARU identik dengan tradisi ilmiah dan berpikir progresif. Tapi sayang tidak banyak HAkim Tinggi yang getol mentransformasikan gagasan progresif dan ilmiah(menulis). Smoga ke depan Para Hakim Tinggi bisa menularkan virus2 ilmiah dan pembaharu. Amiiin!!!!
Reply
 
 
# Siti Salbiah, PA Subang 2012-02-07 17:11
pak Dirjen yang terhormat...saya rasa tidak perlu merasa kurang enak untuk menyampaikan kebenaran..bukankah Rosulullah SAW pernah berpesan Katakanlah yang benar walaupun terasa pahit?? benar yang bapak katakan bahwa sudah seharusnya para Hakim tinggi mampu tampil sebagai pemikir dan inovator karena secara teoritis para hakim tinggi yang nota bene adalah mantan Ketua PA/MS, akan lebih menguasai permasalahan dibanding para Ketua PA/MS itu sendiri. oleh karena itu yang penting digaris bawahi adalah bahwa untuk kedepannya jangan ampun bagi Ketua PA/MS yang bermasalah, mengangkat yang bersangkutan menjadi Hakim-Tinggi.karena tidak ada gunanya atau bahkan berbahaya memfungsikan hakim tinggi dengan latar belakang yang seperti itu untuk melakukan pembinaan.

Kepada beliau-beliau yang saat ini sedang memangku jabatan mulia sebagai Ketua/wakil/Hakim Senior di PA maupun MS yang sudah melaksanakan tugas dengan jujur baik.. dan cerdas mohon jangan tersinggung yaa...ini bukan ditujukan kepada anda...

Good Luck pak Dirjen...semmoga Allah SWT selalu melindungi kita semua..amin..YRA :P
Reply
 
 
# irihermansyah@yahoo.co.id 2012-02-08 09:15
Kami selaku hakim tinggi sangat berterima kasih atas berbagai arahan dan motivasi yang sering disampaikan oleh Pak Dirjen dalam berbagai kesempatan. Memang setiap kali kita menginginkan sesuatu yang lebih baik pasti ada sesuatu yang harus diperbuat meski dirasa kurang bahkan tidak enak sama sekali. Ibarat orang yang ingin sembuh dari sakit maka ia harus memakan obat meski dirasa pahit. oleh karena itu seorang tua tidak boleh sungkan memaksa anaknya yang sedang sakit untuk meminum obat meski ia tahu bahwa anaknya akan kepahitan.Pak Dirjen yang terhormat, apa yang bapak lakukan selama ini ibarat seorang tua yang memberi obat mujarab kepada anaknya yang sedang sakit,oleh karena itu tidak boleh sungkan apalagi merasa tidak enak, lanjutkan pak....... terima kasih.
Reply
 
 
# Yayuk Afiyanah PA-Sengeti 2012-02-08 14:38
Tidak salah apa yang disampaikan Pak Dirjen,justru itu salah satu bentuk rasa sayang dan perhatian besar dari seorang pemimpin. Semoga menjadi perhatian.terima kasih
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-02-08 17:31
Sekali lagi hakim tinggi sebagai kawal depan peradilan... :-x
Reply
 
 
# Al Fitri - PA Tanjungpandan 2012-02-08 17:44
Setuju bahwa hakim tinggi adalah pelaku dan sekaligus berbuat yang terbaik untuk pembaharuan peradilan... :cry: :cry:
Reply
 
 
# umi jak-bar 2012-02-09 09:13
Pengawasan Hakim Tinggi kepada peradilan dibawahnya karena kasih sayangnya kepada anaknya, mereka ingin agar anaknya tetap pada track recordnya
Reply
 
 
# M.Chanif. PTA Makassar 2012-02-09 11:02
Apa yang disampaikan oleh Bapak Dirjen kita, memang benar begitu adanya, sehigga dengan hasil rakernas 2011, seharusnya para pembuat kebijakan di atas ( MARI )mengubah sistem yang selama ini kurang berpihak kepada Hakim Tinggi contoh : Rakernas tidak diikutkan, peningkatan SDM melalui pelatihan,jarang dikutkan atau tidak merata tergantung pimpinan, fasiltas semua tahu sangat kurang. Jadi ya maklum hasilnya kaya yang kita lihat sekarang, sangat jauh darinyang diharapkan oleh Bapak Dirjend kita. Untuk kedepan agar supaya harapan Bapak Dirjend yang merupakan harapan kita semua itu tercapai, kami mempunyai usul/saran agar porsi pelatihan, dan fasilitas yang dapat meningkatkan SDM Hakim Tinggi itu dioptimalkan, agar informasi yang berkembang terkini, yang akan dijadikan dasar pemikirannya dalam menjalankan tugas senagai pembina dan pengwas aparat peradilan tingkat pertama. Tanpa hal tersebut, harapan tinggal harapan jauh dari kenyataan.
Reply
 
 
# Syamsul Bahri, PA Sidoarjo 2012-02-09 19:38
Sebaiknya bukan Hanya Pengawasan yg dilakukan dari Pengadilan Tingkat Banding tapi jg diperlukan adanya suatu pembinaan yg berkesinambungan kepada Pengadilan tingkat pertama guna tercapainya hasil kerja yg profesional, evaluasi kerja melalui sistem pendekatan Pembinaan yg berkesinambungan jauh lebih bermanfaat dibanding pengawasan tiba-tiba yg seakan (tidak semua) mencari-cari kesalahan.
Reply
 
 
# lukman PA Takalar 2012-02-10 00:37
Tidak sepenuhnya benar klau Jabatan hakim Tinggi bukan lagi tempat istirahat, krn masih banyak juga sebagai pengawas tidak cukup bekal dan cendrung memberi perbedaan dengan pengawas lainya atw sebelumnya sehingga membuat bingun orang2 di peradilan tingkat pertama, untuk itu agar para ...... yang kebetulan melakukan pembinaan seharusnya PTA punya SOP nya, agar nantinya sesuatu yang seharusnya bukan temuan tetapi oleh yang lain justru menjadi temuan akhirnya timbul pertanyaan kapan yah... kami tidak punya kesalahan lagi, terlebih lagi kalau tidak mengerti SIADPA, jadi sebaiknya perlu diberi bekal ttg cara kerja aplikasi baik di sekeretariatan maupun dikepaniteraan (siadpa).
Reply
 
 
# Suhadak PA Mataram 2012-02-16 13:43
Mengingat pentingnya peran Hakim Tinggi sebagai kawal depan MA, Rekrutmen Hakim tinggi sudah seharusnya bukan lagi karena senior atau usia diatas 53 th, perlu rekrutmen Hakim tinggi yg usia 45 th keatas tapi punya kemampuan Menegerial, Penguasaan Hukum Acara dan Matriil dan Administrasi serta TI.sebab Kalau semua hakim Tinggi sudah diatas 54 apalagi sakit-sakitan sudah tidak produktif lagi. untuk Prospek Generasi PA perlu yg usia diatas 45 tapi energik.
Reply
 
 
# Mazharuddin_Balige 2012-02-16 14:47
Betul kata Pak Dirjen...
Seorang Hakim Tinggi hrs bisa sbg Pemikir dan Pelaku Pembaruan...,
Shg tdk terkesan sbg tempat buangan bg Ketua2 yg bermasalah...
Saatnya Hakim Tinggi menjawab tantangan Pak Dirjen tsb...
Bersama kita Bisaaa...
Reply
 
 
# Dra. Erlis, Sh PA Muara Bulian 2012-02-16 16:40
Harapan Pak Dirjen adalah juga harapan kami di Peradilan Agama Tingkat Pertama. Ada dua hal yang telah kami rasakan dan akan selalu kami dambakan dari bapak/ibu Hakim Tinggi yaitu sebagai sumber informasi karena ilmu dankemampuan yang jauh lebih baik, sebagai motivator kerena pengalaman yang jauh lebih lama. Kita semua yakin kedepan Pengadilan Tingkat Banding benar-benar sebagai kawal depan MA. Amin
Reply
 
 
# M.FAKHRUDDIN.SIREGAR,SH 2012-02-26 09:23
kpn ya pak di sumut buka penerimaan cakim
Reply
 
 
# Drs.H.Fathur Rohman Ms.MH. 2012-02-27 04:46
Alhamdulillah bila Hatim Tinggi sudah mulai difikirkan untuk diberdayakan dalam arti alur fikirian hakim tinggi lebih dikembangkan karena selama ini barangkali macet atau tidak berkembang utamanya dalam dunia TI... kecuali bagi beliau yg sedang mengalami semacam Disabilitas namun jiwa dan semangat hidupnya masih fisabilillah...
Reply
 
 
# Ayip-PA.Tasikmalaya 2012-02-27 16:29
Senyatanya buah pikir para hakim tinggi dalam kontek pembaharuan (hukum) sangat dinantikan oleh para hakim dibawahnya.
Reply
 
 
# Ali Fikri PA.Tasikmalaya 2012-02-28 07:11
Mudah2an semangat dan harapan pak Dirjen tersebut akan sama dengan semangat para Hakim Tinggi, karenanya akan lebih mantap lagi apabila para Hakim Tinggi masih berumur 45 tahun, karena lagi semangat-semangatnya dalam mengenbangkan kreativitasnya (terutama bidang TI).. kalau sudah berumur 50 tahun keatas apa masih ada semangat ?...
Reply
 
 
# Drs. Mamat S, MH WKPA Pandeglang 2012-02-28 12:55
Salah satu hasil Rakernas MA yg lalu yi menempatkan Pengadilan Tingkat Banding sebagai kawal depan MA. Amanat tersebut membawa efek domino bagi Hakim-Hakim Tinggi dan aparat PTA untuk bekerja lebih maksimal dalam membina peradilan dibawhnya. Hakim-Hakim Tinggi dituntut untuk lebih meningkatkan mutunya, baik segi ilmiyahnya, profesionalitasnya, integritasnya, bahkan dituntut untuk menjadi pelopor hakim progresif dikalangan PA, karena banyak kaidah-kaidah hukum lama yang seharusnya sudah memerlukan penelitian, penelaahan, kajian lanjutan, untuk sekarang ini demi menegakan hukum berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa. Semoga tugas berat ini dapat dilaksanakan dan berhasil, Amiiin.
Reply
 
 
# Cece Rukmana WKPA. Tigaraksa 2012-02-28 13:12
Sangat penting pemberdayaan Hakim Tinggi dalam rangka pembinaan ke PA-PA, hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kinerja aparat Peradilan Agama demi terlaksananya pelayan kepada masyarkat dengan sebaik-baik, karena dengan seringnya pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh para Hakim Tinggi (PTA), akan memacu Pengadilan Agama yang ada di bawahnya untuk memperbaiki Administrasi baik Perkara maupun Yustisial.
Reply
 
 
# Hj.Umriyati Nur_Bondowoso 2012-03-07 06:47
Semoga para hakim tinggi kita diberi kesehatan lahir batin dan kecerdasan untuk menjadikan atau mencapai "Mahkamah Agung sebagai Peradilan yang Agung".
Reply
 
 
# DH PTA Banten 2012-03-08 08:58
Apa yang disampaikan p Dirjen direspon dengan positif oleh Bapak/Ibu Hakim Tinggi di wilayah Banten. P Dirjen tidak perlu khawatir dengan 'kencang'nya motivasi yang Bapak berikan saat Rakerda, karena itu semua untuk kebaikan. Pasca Rakerda, selain menghasilkan berbagai rumusan yang akan dijadikan komitmen bersama, khususnya Bapak/Ibu Hakim Tinggi lebih bersemangat untuk mempelajari berbagai hal yang sekiranya bermanfaat sebagai bekal pembinaan dan pengawasan ke daerah, salah satunya tadarus SIADPA/SIADPTA Plus'.
Reply
 
 
# Ridwan Alimunir PTA Jambi 2012-03-09 11:00
Kami sangat senang dengar langsung bahwa Hakim Tinggi akan mendapat prioritas bintek. Tidak lucu kalau yang akan dibina lebih banyak dapat masukan (diklat bintak nasional)sedangkan yang akan membina boleh dikatakan kurang up dated, kecuali self learning. Semoga
Reply
 
 
# Agus Triyogo-PA.Jakut 2012-03-20 18:31
Ada satu pepatah jawa yang mungkin relevan dengan hal ini ; "ING NGARSO SING TULODO, ING MADYO MANGUN KARYO, TUTWURI HANDAYANI"...tapiii dengan usia yang sudah rata-rata (maaf) sepuh, apakah betul beliau2 masih mampu, Pak? Lha wong ruang sidang di PTA aja jarang dipakai sidang perkara karena penat? coba aja sidak ke PTA, lihat apa ada hakim yang sidang disana? Maaf, ini mungkin sebuah dilema yang harus kita akui ada di depan kita.
Reply
 

Add comment

Security code
Refresh


 
 
 







Pembaruan MA





Pengunjung
Terdapat 582 Tamu online
Jumlah Pengunjung Sejak 13-Okt-11

Lihat Statistik Pengunjung
Seputar Peradilan Agama

Lihat Index Berita
----------------------------->

 

  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
  • Berita Keluarga
Term & Condition Peta Situs | Kontak
Copyright © 2006 Ditjen Badilag MA-RI all right reserved.
e-mail : dirjen[at]badilag[dot]net
Website ini terlihat lebih sempurna pada resolusi 1024x768 pixel
dengan memakai Mozilla Firefox browser dan Linux OS