Laskar SIADPA Plus, Pak Wahyu dan Desakralisasi Birokrasi - (oleh: Ahsan Dawi Mansur) | (3/2/2012) - Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama
  1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Laskar SIADPA Plus, Pak Wahyu dan Desakralisasi Birokrasi

Oleh: Ahsan Dawi Mansur

 

Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 22.33 WIB ketika para pegiat SIADPA Plus sedang asyik berkomunikasi melalui akun jejaring sosial facebook, Laskar SIADPA Plus. Saat itu (16/11/2011) Tim Implementasi SIADPA Plus Tingkat Nasional atau yang lebih dikenal dengan Timnas SIADPA Plus sedang memantau secara langsung uji coba aplikasi baru, layanan informasi perkara dan pelaporan online serta standarisasi variable.

Para petugas uji coba di 10 PA di Indonesia silih berganti memberikan informasinya secara bertahap. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh sebuah komentar singkat pada status di Laskar SIADPA Plus. “Tkasih ‘tuk semuanya. Uji coba harus sukses…! Maju terus…!”.

Tentu kami kaget dan tidak menyangka karena pengirim komentar tersebut adalah pemilik akun facebook Wahyu Widiana, Dirjen Badilag MARI yang biasa disapa Pak Wahyu. Komentar balik dari para laskar SIADPA Plus pun bermunculan dengan menyampaikan ucapan terima kasih atas support orang nomor 1 di Ditjen Badilag ini.

Dukungan riil Pak Wahyu melalui komentarnya membuat para laskar SIADPA semakin semangat, bahkan ada yang nervous. Salah seorang anggota laskar SIADPA malah bingung harus komentar apa. Kondisi ini Nampak dari PM (private massage) yang dikirim ke inbox saya, “mangstabbbbbbbbb.......comment beliau yg terakhir dibales pak, saya bingung mo jawabnya... hehehehehe”.

Anggota laskar SIADPA yang lain berkata, “wah…luar biasa. Jam segini Pak Dirjen masih sempat memantau aktivitas kita. Ternyata apa yang kita kerjakan dimonitor juga oleh Pak Dirjen”.

Dalam memberikan motivasi Pak Wahyu juga menggunakan istilah-istilah yang familiar, seperti menggunakan sapaan agan/aganwati yang merupakan sapaan sehari-hari Laskar SIADPA Plus. Simak status Pak Wahyu di Laskar SIADPA Plus berikut ini:

“Untuk seluruh dan calon agan/aganwati LASKAR SIADPA PLUS se Indonesia, ayo maju terus, semangat terus, gempur terus ketidakpedulian terhadap pemanfaatan teknologi untuk kepentingan kemudahan proses administrasi perkara. Kalian telah "on the right track" dalam menggali, mengembangkan dan mensosialisasikan SIADPA PLUS. Tahun ini penganugerahan terhadap "The Best Religious Court Award in SIADPA PLUS", telah ditekadkan Badilag untuk dilaksanakan. Mudah2an tengah tahunan. Terima kasih atas semangat dan kekompakannya. Salam Badilag....!”.

Sapaan hangat Pak Wahyu ternyata tidak hanya terdapat dalam tulisan. Ketika Kami bertemu dalam acara penyempurnaan pengembangan aplikasi SIADPA Plus di Bandung akhir tahun 2011 yang lalu. Dengan senyum khasnya Pak Wahyu menyapa, “bagaimana kabarnya gan?”.  Sapaan yang tentu membuat kami tersenyum.

Bagi sebagian orang, jabatan dalam dunia birokrasi identik dengan sesuatu yang angker, eksklusif, jaim (jaga image), harus selalu benar dan tidak boleh dibantah, dan lain-lain. Namun kesan tersebut tidak nampak pada diri Pak Wahyu.

Komunikasi Pak Wahyu dengan anggota Laskar SIADPA Plus di atas merupakan bagian dari upaya membangun pola hubungan (relasi) atasan dan bawahan yang menekankan pada nilai kekeluargaan, sehingga jauh dari kesan kesenjangan tanpa mengurangi kewibawaan beliau sedikit pun. Sebuah upaya membangun pola hubungan yang “menghilangkan” kesakralan sebuah jabatan birokratis (desakralisasi birokrasi).

Membaur dalam komunitas jejaring sosial seperti Laskar SIADPA Plus merupakan upaya mendobrak sekat-sekat birokratis yang menjadikan Pak Wahyu lebih dekat dan dapat menyelami secara langsung akan suka duka para administrator SIADPA yang notabene adalah salah satu komponen penting dalam membangun peradilan modern berbasis teknologi informasi.

Desakralisasi birokrasi ala Pak Wahyu terlihat juga dalam berbagai aktivitas. Ketika menjawab pertanyaan peserta diskusi di Kejaksaan Agung RI tentang relasi atasan dan bawahan beberapa saat yang lalu, Pak Wahyu menuturkan dengan gamblang, “kuncinya adalah keteladanan.

Pimpinan tak perlu jaga imej. Kita harus dekat dengan bawahan, tapi tetap proporsional. Kalau kita bisa menjadi teladan, bawahan nggak akan ngelunjak”.

Justru dengan model kepemimpinan inilah Pak Wahyu bisa lebih dekat dengan warga peradilan di semua level, dari bawah hingga atas, dari honorer sampai pejabat eselon. Pemimpin yang visioner, populis, cerdas dan rendah hati (mungkin) tanpa kita sadari ada di sekitar kita.

Jika demikian, upaya mewujudkan peradilan yang agung bukan hanya mimpi belaka namun harapan yang ada di depan mata, semoga.

 

 

Pembaruan MA